Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelora dendam
Hari kelima, Ana datang lebih awal tentu dengan penampilan rapi. Tanpa riasan, hanya memakai kemeja polos, rok selutut juga rambut dikuncir tinggi, menyisakan poni yang cukup panjang.
Dia berjalan pelan setelah membayar makan siangnya,
Suasana kantin cukup ramai, beruntung Ana masih mendapat kursi.
"Menurutku dia bukan gadis kompeten. Aku yakin dia masuk ke sini dengan cara licik!" timpal suara gadis di belakang Ana,
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Ana merasa kalau mereka tengah membicarakannya.
Ana berusaha tak peduli, menikmati semangkuk bubur ayam miliknya. Sesekali memandangi sekitar,
"Licik--apa maksudmu?"
"Sebenarnya, undangan magang itu diberikan pada seorang mahasiswa. Tapi lihat sekarang, asisten magangnya malah mahasiswi ingusan!"
"Mana kikuk banget. Pasti kalau ga hasil nyogok...ya hasil ngerayu Pak direktur,"
"Yang benar? Masa sih...bukannya direktur ga suka disentuh-sentuh sembarang orang?" sanggah yang lain menyangkal tuduhan,
"Ya terus, orang bajunya aja bukan baju mahal. Ga mungkin dia nyogok, yang ada dianya yang disogok biar dapet kerja disini."
"Argh...aku ga tahan lagi, pengen rasanya nampar mulut mereka!" Ana menggertakkan gigi,
Tangannya mengepal kuat, membuat sendok ditangannya bengkok.
"Beraninya kalian mengataiku miskin? Argh!!"
Ana yang bergumam geram tanpa sengaja mendepak kotak tisu di depannya. Membuat benda itu menggelinding jatuh, ditangkap oleh karyawan pria yang baru pertama Ana temui.
"Terima kasih," Ana tersenyum ramah.
Kotak tisu tadi diletakkan kembali, bahkan dia duduk menempati kursi sempit di depan Ana.
"Hhh..." pria itu terkekeh,
"Ha? Apaan sih...ngapain coba," batin Ana keheranan
Langsung mengabaikan, segera menghabiskan sisa makanan. Detik berlalu, tapi Ana semakin risih sebab mata yang tak henti menatapnya,
"Ada apa ya?" ucap Ana menerbitkan senyum palsu,
"Sudah berapa lama kamu menyukaiku?"
"Ha? Apa bajingan ini sudah gila." mengumpat dalam hati,
Berusaha tetap tenang, tak ingin menambah kesan buruk pada karyawan lain.
"Kenapa aku baru sadar, kalau ada bidadari anggun sepertimu. Aa...maafkan aku yang terlambat menyadarinya,"
Pria itu terus mengoceh penuh percaya diri. "Selama ini kamu pasti menungguku menyapamu,"
"Haha...permisi," Ana tertawa singkat sambil bersiap pergi,
Tanpa ragu meninggalkan tempat yang nyaris mebuatnya gila. "Hih...merinding banget,"
Kakinya bergegas menuju lift, singkat melihat jam tangan kecil yang dipakai. Memeriksa menit yang tersisa,
"Cepat masuk," lugas Max.
Memandang singkat ke arah pintu. Ana mematung tampak ragu dalam mengambil langkah, berusaha menilai keadaan karena takut menganggu dan dimarahi habis-habisan.
"Nanti malam aku mau menemui klien penting. Apa kamu punya baju bagus buat dipakai nanti?"
"Lho, maksudnya saya ikut ketemu klien?" Ana mengangkat alis,
"Iya, lah. Kamu kan asistenku...punya apa nggak?"
"Punya, Pak."
"Jangan asal jawab. Aku ga mau kamu datang pakai baju lusuh!" imbuh Max dengan ketus,
Merogoh dompet dari dalam sakunya, mengeluarkan kartu kredit berwarna emas.
"Minta Fero mengantarkanmu belanja. Beli semua yang kamu butuhkan, dandani juga wajahmu biar ga kelihatan pucat."
PUKUL 19.00
Di tengah kota,
Di seberang Hotel Wijaya.
Ana berdiri dengan ponsel di tangan,
"Saya ada di seberang jalan, pake baju merah di samping kotak surat."
Gumam Ana melirik sekilas benda yang ada di sampingnya.
Tanpa sahutan, panggilan itu terputus membuatnya cukup lama menunggu kehadiran seseorang.
Sebuah mobil Bugatti berwarna hitam, baru saja terparkir di depannya.
Perlahan kaca mobil terbuka, memperlihatkan Max yang telah siap dengan jas warna coklat favoritnya.
"Kamu merepotkanku! Seharusnya aku--"
Max tertegun, suaranya terhenti, mata yang menoleh asal, seketika dibuat kagum oleh penampilan Ana.
Begitu memukau, berbanding terbalik dari biasanya. Kali ini wajah Ana bersinar terang dengan riasan tipis yang menonjolkan mata almondnya.
Samar-samar Max menghirup aroma bunga persis seperti parfum kesukaan Reta. Bahkan gaun yang Ana pilih tampak serasi dengan setelan jas milik Max,
"Kok ga jadi ngomel?" batin Ana mengangkat bahu,
Langsung berjalan masuk menduduki kursi depan.
"Dari mana, kamu tahu cara membuka mobil ini?"
"Maaf ya, Pak. Saya memang ga sekaya Bapak...tapi saya ga buta! Lagian knop pintunya masih kelihatan jelas," Ana menjawab santai.
Max terdiam, entah kenapa merasakan hal aneh yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sesekali mencuri-curi pandang,
"Siapa yang mengantarmu ke sini?"
"Naik motor," lugas Ana tersenyum lebar, menyodorkan dua kepal tangan seperti mengendarainya.
"Itu, saya nitip parkir di toko kue yang ada di sana."
Max menoleh ke belakang, melihat motor tanpa plat terparkir di luar toko. Lalu kembali mengemudikan mobilnya masuk ke parkiran gedung hotel,
"Sepertinya dia menyukai bajuku. Aku sengaja memilih warna kesukaannya," benak Ana menghela nafas lega.
Mereka sampai, hanya berpindah tempat parkir. Ana melangkah turun dan berdiri menunggu,
"..."
Beberapa detik berlalu, namun pria itu tak kunjung turun. Membuat Ana kebingungan, memandangi wajah datar Max yang asik bersandar di dalam.
"Cih. Manja amat!" gerutu Ana baru menyadari,
Max sedang menunggu dibukakan pintu. Raut angkuhnya tampak puas melihat kesadaran Ana yang bertindak tanpa disuruh,
"Ayo, masuk..." ajak Max berjalan mendahului.
Membuat Ana berjalan satu langkah di belakangnya.
Di sela perjalanan, tiba-tiba Max mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nih, buat uang bensin nanti."
GREP.
Tanpa tunggu lama, Ana langsung menerima. Matanya terasa segar, menatap girang kertas merah di tangan.
"Pft..." Max terkekeh lirih,
"Ehem..." Ana berdiri tegak, berusaha menenangkan diri, jangan sampai dicap sebagai mata duitan.
"Kalau boleh tahu, siapa nama klien yang mau kita temui?"
Rasa penasarannya meningkat, saat memasuki ruang VIP yang telah terhias mewah. Tidak ada siapapun di sana,
Sejenak Ana berpikir, siapa yang berani membuat Max menunggu? Sekaya dan seberkuasa apa orang itu?
"Selamat malam, Tuan Maxime." celetuk suara pria dari belakang,
Terdengar familiar, menarik perhatian Ana. Mendapati pria yang membangkitkan api dendamnya,
Ryan Bimantara, pria berjas merah itu datang menggandeng Syla yang sekarang diangkat menjadi asisten.
"Saya harap anda tidak menunggu lama,"
"Tentu saja, tidak..." Max menjawab dengan lengkungan kecil di mulutnya.
Dengan sombong Ryan berjalan mendahului, menempati kursi yang telah disiapkan, sedangkan Max diam saja bahkan masih bisa mempertahankan senyum.
"Ada apa ini?" Ana berpikir keras,
Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ryan berhasil mengambil alih perusahaan Sidney, lalu Max yang telah lama tinggal di luar negara tiba-tiba kembali dan memulai bisnis di sini.
Mereka berempat menempati kursi masing masing. Tatanan melingkar, membuat Ana berhadapan dengan Syla.
Emosinya nyaris meluap melihat setiap barang miliknya menempel ria di badan orang lain. Gaun, anting, kalung, bahkan cincin pertunangan.
"Hanya demi harta, kamu tega membunuhku."
"Bagaimana tentang kerja sama perusahaan kita?" ujar Max merendahkan suara,
Pertama kali bagi Ana melihat Omnya bersikap merendah pada orang lain.
"Kenapa terburu-buru? Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu? Kebetulan hari ini banyak bos besar yang menemuiku, sampai tidak sempat makan..."
Dengan senyum lebarnya, Ryan berlagak sombong memanggil pelayan yang datang membawa buku menu.
"Wajah mereka membuat nafsu makanku hilang," batin Ana.
Melihat buku menu yang Max rebut darinya. Berpikir jika gadis polos itu tidak tahu jenis makanan dan cara penyebutannya,
"Buat apa repot-repot pesan sendiri. Biarkan saja asisten anda yang pilihkan," ujar Ryan tersenyum remeh.
Ana menggertak membayangkan kenangan buruk di tubuh lamanya. Ryan sok memesan asal nama menu asing, yang ternyata berupa kepala babi kukus,
Pria itu pun berteriak panik bahkan berulang kali muntah karena memaksa memakan pesanannya. Alhasil mereka diusir keluar sebab mengganggu kenyamanan pelanggam lain,
"Beraninya meremehkanku! Apa dia lupa, dulu sikap kampungannya sangat merepotkanku?"
"Tenang saja, saya pernah makan di sini." Ana berbisik,
Mengambil kembali buku menu tadi, batinnya murka tak sudi melihat Max direndahkan.
Dengan santai Ana mebuka buku menu,
Membaca satu persatu daftar makanan, dari harga termurah dan termahal.
"Silahkan pilih sesuka hati. Malam ini, biar saya yang bayar tagihannya..."
Ryan semakin besar kepala, melihat Ana yang tampak bingung memilih, dianggap sedang sibuk membandingkan harga.
Padahal...
"Tenang saja, saya menghormati niat baik Bapak." Ana tersenyum singkat,
"Sayangnya, restoran di sini hanya menjual masakan Tiongkok."
"Kebetulan Pak Maxime alergi bawang putih, jadi sulit untuk memilih menu yang pas."