NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PACAR KAK VHIREL

​"Kak Vhirel!"

​Seru Dea sembari mengetuk daun pintu kayu di hadapannya. Hening. Tak ada sahutan, bahkan suara gesekan kain atau langkah kaki pun tak terdengar dari dalam. Dea mengerutkan kening, tangannya yang berniat mengetuk sekali lagi justru tanpa sengaja mendorong pintu yang ternyata tidak rapat itu.

​Krieeet...

​Engsel pintu berderit pelan, seolah menyambut kedatangannya dengan nada peringatan. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi cahaya mentari pagi yang menyelinap lewat celah gorden. Sejenak, Dea mematung di ambang pintu, sedangkan bulat bola matanya membaur ke segala penjuru kamar.

Langkah Dea terasa berat, seolah setiap inci lantai kayu di bawah kakinya menyimpan rahasia yang enggan terungkap. Namun, rasa penasaran itu jauh lebih kuat daripada peringatan dari derit pintu tadi. Perlahan, ia pun melangkah masuk, membiarkan dirinya ditelan oleh atmosfer privat milik Vhirel.

Kamar itu jauh dari kesan berantakan yang biasanya melekat pada citra pria lajang. Sebaliknya, ruangan ini adalah perwujudan dari ketenangan yang teratur—luas, lapang, dan terasa sangat "laki-laki" dengan cara yang elegan.

Dea terpaku pada betapa bersihnya setiap permukaan. Udara di dalamnya pun terasa sejuk, membawa jejak wangi cedarwood dan citrus yang tajam namun menenangkan.

"Ini kamar Kak Vhirel... atau kamar hotel?" Gumam Dea. "Nyaman banget!"

Upaya Dea untuk menemukan sosok Vhirel di penjuru ruangan itu perlahan memudar, berganti dengan rasa kagum yang tertahan. Kamar ini bukan sekadar tempat beristirahat, ini adalah museum pribadi dari perjalanan hidup seorang pria yang selama ini tampak tertutup. Batinnya.

​Jemari lembut Dea mulai menyusuri permukaan lemari kaca yang memanjang di salah satu sisi dinding. Di baliknya, cahaya mentari pagi yang hangat memantul pada deretan trofi berlapis perak dan emas—jejak kejayaan Vhirel sejak masa sekolah. Ada medali basket yang pitanya mulai sedikit memudar, piagam kejuaraan debat, hingga beberapa plakat penghargaan akademik yang tersusun sangat simetris. Di antara benda-benda logam yang dingin itu, terselip beberapa barang berharga lainnyaa seperti sebuah kamera analog tua yang tampak dirawat dengan apik serta sebuah jam tangan saku peninggalan yang diletakkan di atas bantalan beludru.

​Ada kehangatan yang merayap di hati Dea saat menyadari bahwa di balik sikap cuek dan usil Vhirel, pria itu adalah sosok yang menghargai setiap kenangan dan kerja kerasnya.

​Langkah Dea berlanjut hingga ia tiba di depan sebuah nakas berbahan kayu jati yang terletak tepat di samping ranjang. Namun, baru saja ia hendak menyentuh permukaan kayu yang halus itu, sebuah getaran kuat memecah kesunyian.

​Bzzz... Bzzz...

​Ponsel milik Vhirel yang tergeletak di sana bergetar hebat, lampunya berkedip-kedip kontras di keremangan kamar. Kejutan itu membuat Dea tersentak, bahunya mencuat naik secara refleks dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di layar yang menyala terang itu, sebuah nama muncul, seolah siap membongkar lebih banyak rahasia daripada apa yang baru saja ia lihat di lemari kaca tadi.

Sofia

Begitu nama itu muncul, napas Dea tercekat.

 Bukan karena ia tak mengenal siapa pun bernama demikian—nama itu terlalu umum untuk memantik curiga—melainkan karena ada sesuatu dalam getaran ponsel itu yang terasa terlalu mendesak, seolah panggilan tersebut menuntut jawaban saat itu juga. Dea menelan ludah, matanya terpaku pada layar yang terus berdenyut, menolak padam.

Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar. Sunyi. Vhirel masih tak nampak.

Di saat itu juga, jari Dea terangkat, ragu di udara, sebelum akhirnya ia menariknya kembali. Ia tidak menyentuh ponsel itu, tapi rasa bersalah tetap merayap, seperti ia sudah melakukan pelanggaran hanya dengan melihat nama tersebut.

Kemudian, getaran berhenti dan layar pun meredup. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sepersekian detik.

Ponsel kembali bergetar.

Kali ini lebih lama.

"Siapa si ini cewek?!" Gumam Dea akhirnya lolos dari bibirnya, nadanya rendah namun sarat penasaran. Tanpa pikir panjang, ia meraih ponsel itu, jari-jarinya gemetar saat layar menyala itu berada di telapak tangannya.

Ia tahu ini salah.

Ia tahu batas itu seharusnya tak ia lewati.

Dengan napas tertahan, Dea menggeser layar. Namun detik itu juga, sebuah tangan datang dari belakang dan merampas ponsel tersebut begitu saja.

Dea tersentak, refleks berbalik—dan napasnya langsung tercekat.

Vhirel berdiri tepat di belakangnya.

Bukan hanya karena kemunculannya yang tiba-tiba, melainkan karena kakaknya itu bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk yang melilit rendah di pinggang. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh ke lantai, dan aroma sabun samar menyusup ke udara kamar.

“K-Kak Vhirel!” Ucap Dea tergagap, langkahnya mundur setapak tanpa sadar.

Vhirel tidak menatapnya lama. Wajahnya datar, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memergoki adiknya memegang ponselnya. Ia lantas berbalik, melangkah menuju jendela, lalu menarik tirai sedikit terbuka—membelakangi Dea sepenuhnya.

Sunyi menegang di antara mereka.

Dea menelan ludah. Matanya mengikuti punggung kakaknya, pikirannya masih tertambat pada satu hal yang belum terjawab.

Sofia.

Dari balik tubuh Vhirel, terdengar suara lirih dari ponsel yang kini berada di tangannya—bukan cukup jelas untuk ditangkap kata demi kata, tapi cukup untuk membuat jantung Dea kembali berdegup tak karuan. Ia berdiri kaku, pura-pura merapikan ujung bajunya, sementara telinganya berusaha menangkap setiap nada dari seberang sana.

Ada sesuatu dalam intonasi suara itu—tergesa, manja dan penuh penekanan.

"Aaah... ribet!" Gerutu Vhirel mematikan ponselnya secara sepihak.

Tuuuuut.

Suara sambungan terputus menggantung canggung di udara kamar.

Vhirel berbalik menghadap Dea.

Tatapan mereka bertemu—singkat, tapi cukup untuk membuat Dea refleks berdeham panjang. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura menata napas yang sejak tadi tak beraturan, meski jantungnya masih berdentam keras di dada.

"Kenapa tadi teleponnya gak kamu angkat aja, si?!" Protes Vhirel tiba-tiba, nada suaranya naik seTingkat—lebih terdengar kesal daripada marah.

“Uh?” Dea celongok, alisnya spontan bertaut. Ia menoleh cepat, jelas tak menyangka tudingan itu diarahkan padanya. “Lho, Kak… aku kan—”

"Coba kalau kamu yang angkat dan bilang aku masih mandi di kamar mandi, dia pasti gak akan marah sekarang." Tandas Vhirel. "Cewek emang ribet, si!"

"E-Enggak juga!" Bantah Dea. "Aku juga cewek. Gak ribet, kok!"

"Ya itu karena kamu gak ngerasain di posisi cewek yang minta sesuatunya dari pasangan."

Dea menahan keterkejutannya. "Ja-Jadi... Sofia itu... Pacar Kak Vhirel?"

"Hmmm!" Angguk Vhirel.

Dea mulai menatap Vhirel lama. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—bukan cemburu, bukan pula kecewa, melainkan perasaan asing yang sulit ia beri nama. Kakaknya itu berdiri di hadapannya dengan sikap biasa saja, seolah pengakuan barusan bukan hal besar, padahal bagi Dea, dunia kecilnya baru saja bergeser satu langkah ke samping.

“Pacar…” Dea mengulang pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Vhirel kemudian mengalihkan pandangan, ia berjalan menjauh sedikit sambil meraih kemeja di sandaran kursi. Gerakannya santai, tapi bahunya terlihat kaku. “Kenapa mukanya begitu?” Tanyanya ringan, menatap sang adik yang nampak mematung beku di balik cermin yang memanjang.

"Iri, yaaa.... aku udah punya pacar? Hmm?" Lanjut Vhirel dengan tatapan menggoda.

"E-Enggak!" Geleng Dea segera. "Nga-ngapain iri?!"

Dea membalikan tubuhnya, menghindar dari tatapan sang Kakak yang entah sejak kapan terasa terlalu menelanjanginya. Ia melangkah satu langkah ke samping, berpura-pura merapikan rambut, memberi dirinya alasan untuk tak harus menatap wajah Vhirel lebih lama.

"Lagiaaan... aku udah janji sama diri aku sendiri, kok..." Lanjut Dea. "... kalau aku gak akan pernah dulu yang namanya pacaran sebelum aku sukses meniti karir buat ngelola butik."

Vhirel mendesis pelan. Ia kemudian berbalik dan melangkah mendekat ke arah Dea, hingga jarak di antara mereka menyempit tanpa disadari. Bahkan, samar-samar tercium aroma dari tubuh sang adik—aroma yang sama seperti saat pertama kali mereka kembali bertemu di bandara kemarin.

Wangi bunga lily berpadu sentuhan citrus yang segar.

Entah kenapa, aroma itu terasa begitu khas. Seolah tanpa perlu melihat wajahnya, Vhirel akan tahu kehadiran gadis itu hanya dari jejak wanginya saja. Sebuah penanda yang sederhana, namun melekat—tenang, bersih, dan terlalu familiar untuk diabaikan.

Sedangkan Dea refleks menegang. Bahunya mengeras, langkahnya terhenti seolah terkunci di tempat. Ia bisa merasakan kehadiran Vhirel tepat di belakangnya—terlalu dekat untuk sekadar kebetulan dengan aroma maskulin seorang pria dewasa yang hangat, tenang, dan tanpa sadar memberi rasa perlindungan.

"Oh, ya...?" Bisik Vhirel ke telinga Dea.

Nada suaranya lembut, nyaris datar, lebih menyerupai gumaman penuh perhatian ketimbang desakan. Tak ada sentuhan, tak ada gerak lanjutan—hanya suara yang turun rendah, seperti kebiasaan seorang kakak yang ingin memastikan adiknya baik-baik saja.

"Pacaran itu enak tahu..." Lanjut Vhirel dengan nada semakin menggoda. "... ada orang yang perhatian sama kita, ada yang semangatin kita di setiap harinya, masa kamu nggak penasaran sama hal-hal kayak gitu?”

Vhirel terkekeh pendek. “Kamu kan cantik sekarang… masa, sih, nasib kamu masih sama kayak dulu—nggak pernah ngerasain yang namanya pacaran sejak SMA?!”

Kalimat itu meluncur santai, terlalu santai.

Dea yang tadinya masih menyimpan rasa kagum justru mendengus kecil. Perasaan hangat di dadanya seketika bergeser, berubah menjadi sebal yang menggelitik. Ia lalu memutar badan setengah, menatap Vhirel dengan sorot mata jengkel.

Di sisi lain, Vhirel mendadak beku—bukan karena kemarahan Dea, melainkan karena satu kesadaran yang datang tiba-tiba: kemolekan Dea yang kini tak lagi bisa ia lihat sebagai adik kecil yang dulu selalu berlari di belakangnya.

Bukan dalam arti yang keliru, melainkan sebagai perubahan yang tak terelakkan. Dea telah tumbuh. Dewasa. Mandiri. Dan untuk sesaat, Vhirel tersadar bahwa waktu berjalan lebih cepat dari yang ia sadari.

Ia mengalihkan pandang, berdeham pelan, seolah sedang menertibkan pikirannya sendiri. Vhirel.... ayolah, apa yang ada dalam pikiran lo sekarang?! Dea kan adik, lo! cewek manja dan kekanak-kanakan, tapi perasaan gue... ah! apaan si!

"Kenapa emangnya kalau gak pernah ngerasain yang namanya pacaran?!" Tandas Dea dengan suara meninggi, memecah setengah lamunan Vhirel. "Bagus, dong... kalau cewek gak pernah yang namanya pacaran. Kata Mama... itu namanya cewek baik-baik!"

Vhirel menelan saliva. "I-Iya... iya. Gak usah marah gitu, dong."

Dea berpaling dan mendengus kesal. Kedua lengannya saling melipat di bawah dada, seolah ingin menahan sesuatu agar tak tumpah begitu saja. Matanya perlahan menghangat—perasaan asing meneKan dadanya, membuat tenggorokannya tercekat. Tanpa ia sadari, air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya.

Ia sendiri bingung pada apa yang ia rasakan.

Cemburu?

Terlalu berlebihan untuk seorang adik.

Atau mungkin bukan itu. Mungkin hanya rasa tersisih yang tiba-tiba muncul—perasaan kecil yang lahir dari ledekan Vhirel barusan, dari kenyataan bahwa dunia kakaknya kini punya ruang yang tak lagi ia kenal.

Dea mengusap pipinya cepat, kesal pada dirinya sendiri. “Kenapa sih aku jadi begini…” Gumamnya lirih.

"Ih kok, nangis?!" Kata Vhirel, setengah cemas setengah puas. "Gitu aja kok nangis, si... masa cewek mandiri, cengeng?!"

Dea menghapus kasar air matanya, lalu sekilas menoleh ke arah Vhirel yang sedari tadi mengunci geraknya. "Berisik!" Katanya. "Aku kesini tadi cuma ajak Kak Vhirel sarapan atas perintah Mama! Kalau bukan karena Mama dan tahu Kak Vhirel sekarang nyebelin... aku males ketemu apalagi ngobrol sama Kakak kayak gini!"

Dea berpaling, lalu melangkah pergi.

Namun baru satu langkah, pergelangan tangannya tertahan. Ia refleks berhenti. Sentuhan hangat jemari Vhirel—kokoh, tapi tertahan—mencegahnya menjauh. Tak ada tarikan paksa, hanya genggaman yang jelas ingin menghentikan, bukan menguasai.

“Dea,” Panggil Vhirel pelan.

Tatapannya bertemu dengan mata Dea—bukan tatapan menggoda, melainkan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.

Degup jantung Dea seketika tak beraturan. Ya Tuhan... perasaan apa ini? Sadar Dea... tapi tolong, Kak Vhirel ganteng banget!

Enggak!

Dea membatin menggeleng diri. Please Dea sadar... Vhirel itu kakak kamu!

"Kakak keterlaluan sama kamu..." Lirih Vhirel. "... Kakak minta maaf, ya?"

Di saat yang sama, Dea segera menarik tangannya kembali. "Iya!" Jawabnya singkat. Ia lalu merapikan diri dan melangkah pergi tanpa menoleh—meninggalkan ruangan dengan hati yang masih berisik, yang kini ia bawa sampai bayangnya menghilang dari kamar tersebut. Bukan karena amarah yang masih menguasai dan memilih pergi, melainkan perasaan yang saling bertabrakan di dadanya, entah.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!