NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 : Di ambang batas.

‎Pagi ini semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Tuan Danu duduk di tempat utama, sedang berbincang ringan dengan Saskia dan Bima.

‎‎"Viona, tolong kamu panggilkan paman Arsen ya. Suruh dia turun untuk sarapan," ucap Tuan Danu dengan senyuman lembut.

‎‎Bima mengerutkan kening sedikit, "Biar pelayan saja yang memanggilnya, Yah. Tidak perlu merepotkan Viona untuk hal seperti itu."

‎‎Namun Tuan Danu menggeleng pelan, tatapannya tenang namun tegas. "Biarkan saja, biar Viona juga bisa mengenal Arsen dengan dekat seperti seorang paman dan keponakan. Mereka belum terlalu akrab kan? Ini kesempatan yang baik."

‎‎Jantung Viona sedikit berdebar mendengarnya. Benaknya langsung terngiang pada kejadian semalam. Meski hanya membantu memasang pengait bra-nya, sentuhan hangat tangan Arsen dan kata-katanya masih membuatnya merasa tidak nyaman.

‎‎"Tidak apa-apa, Paman. Aku akan memanggil Paman Arsen sekarang," jawabnya dengan suara pelan, kemudian berdiri dari kursinya.

‎‎"Kalau begitu jangan lama-lama, selesai sarapan Farel akan mengantar kamu ke hotel untuk menemui ibu dan bibi kamu," beritahu Bima.

‎‎Viona mengangguk dengan senyum kecil, lalu dia berjalan meninggalkan ruang makan dan pergi ke arah tangga yang akan membawanya ke kamar Arsen dilantai dua. Setiap langkahnya terasa semakin berat seiring dengan semakin dekatnya kamar pria itu. Saat sampai di depan pintu kamar, dia mengangkat tangan untuk mengetuk, namun tiba-tiba muncul keraguan hingga dia menarik kembali tangannya.

‎‎"Sudah sampai sini, masa tidak jadi panggil," gumamnya pada diri sendiri.

‎‎Setelah beberapa saat memikirkan, akhirnya dia mengetuk pintu dengan lembut. "Paman Arsen? Kakek memanggil Paman untuk sarapan," ucapnya dengan suara yang cukup jelas agar terdengar sampai ke dalam kamar.

‎‎Hening... tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda pergerakan pintu akan dibuka. Viona mencoba mengetuk lagi namun hasilnya tetap sama.

‎‎"Apa aku periksa kedalam saja ya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya didalam sana,"

‎‎Viona menekan pegangan pintu perlahan, jantungnya hampir melompat keluar karena rasa takut dan penasaran. Ketika pintu terbuka sedikit demi sedikit, sinar matahari pagi yang menerobos melalui tirai menerangi setiap sudut kamar dengan jelas.

‎‎"Wah..." bisiknya takjub, melupakan sejenak kekhawatirannya tentang kemungkinan terburuk.

‎‎Kamar Arsen benar-benar terawat dengan sangat rapi. Tempat tidur yang besar dengan seprai putih bersih, serta bantal dan selimut yang dilipat dengan rapi. Pandangan Viona beralih pada meja kerja yang terletak di sudut kamar, buku-buku dan dokumen disusun rapi berdasarkan ukuran diatas meja, bahkan permukaan meja terlihat mengkilap tanpa sehelai debu pun.

‎‎"Selain mesum, ternyata dia orang yang sangat bersih dan rapi." gumam Viona sambil melangkahkan kakinya mendekat secara perlahan ke arah rak buku besar yang ada di dekat meja kerja. "Sayang sekali pikirannya diisi dengan hal mesum dan kotor, pantas saja dia tidak dapat-dapat jodoh."

‎Viona melihat sekeliling ruangan, namun tidak ada tanda-tanda Arsen ada di dalam kamar. Kamar terasa sepi tanpa ada suara atau gerakan sedikitpun.

‎‎"Siapa yang pikirannya mesum dan kotor?"

‎‎Suara itu membuat Viona terkejut, wajahnya langsung memerah karena ketakutan dan rasa malu yang bercampur. Dia membalikkan badannya dengan cepat dan melihat Arsen sudah berdiri tepat di belakangnya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang.

‎‎"Hah...!" Viona berteriak kecil, dia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat pandangannya tidak sengaja tertuju ke arah dada Arsen yang terbuka.

‎‎"P-paman... apa Paman baru saja mandi?" ucapnya dengan suara gemetar, masih tidak berani membuka jari-jarinya untuk melihat langsung. "Aku disuruh oleh kakek memanggil Paman untuk sarapan."

‎‎Arsen hanya mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang namun ada sedikit senyum di bibirnya. "Memanggilku untuk sarapan atau kamu memang sengaja datang untuk mengintipku mandi,"

‎‎Viona reflek menurunkan tangannya cepat saat mendengar kata-kata Arsen yang seperti tuduhan baginya. Wajahnya semakin merah saat pandangannya kembali bertemu dengan dada Arsen, dia menelan salivanya dengan susah payah.

‎‎"Aku benar-benar disuruh kakek! Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi Paman tidak menjawab, jadi aku pikir Paman..." kalimatnya menggantung saat menyadari tatapan Arsen padanya, dia melangkah mundur secara perlahan sampai punggungnya menyentuh rak buku.

‎‎Arsen melangkah lebih dekat lagi, membuat ruang di antara mereka berdua semakin sempit. Kedua tangan Viona secara refleks terangkat cepat dan menempel di dada Arsen, mencoba menahan tubuhnya agar tidak semakin mendekat.

‎"P-Paman... tolong jangan terlalu dekat,"

‎‎Arsen menatap tangan Viona yang ada di dadanya, lalu mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum, "Sepertinya kamu suka sekali menggodaku gadis kecil. Atau..." dia mendekatkan wajahnya ke telinga Viona dan berbisik, "Atau sebenarnya kamu merindukan suara desahanku,"

Viona langsung menarik kedua tangannya dengan cepat, tatapannya kini berubah kesal. ‎‎"Tolong jaga ucapanmu, aku ini tunangan keponakanmu!" ucapnya dengan tegas dan penuh penekanan.

‎Namun Arsen seolah tak peduli, dia mendekatkan sedikit wajahnya hingga wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Viona. Napas hangatnya menyentuh kulit pipi gadis itu.

‎‎"Bukankah memang kamu yang pertama kali menyentuhku, Viona?" ucapnya dengan nada yang lebih dalam dan pelan, matanya tertuju ke mata gadis itu yang kini sudah menunduk kembali. "Atau mungkin sebenarnya kamu menginginkannya lebih dari yang kamu akui?"

‎Viona mengangkat kepalanya kembali, matanya menatap ke mata Arsen dengan tatapan tegas. Dia sedikit mengangkat dagunya, tidak ingin terlihat lemah di depan pria itu.

‎"Tolong jaga batasanmu, Paman!" ucapnya dengan tegas dan mata yang mulai berkaca-kaca karena kesal. "Aku menghormatimu sebagai salah satu orang yang lebih tua di rumah ini, tapi jangan coba bersikap kurang ajar padaku!"

‎Dia menoleh ke samping, tidak bisa lagi menahan tatapan Arsen yang membuatnya merasa tidak nyaman. "Sekarang tolong berikan aku jalan untuk keluar. Semua orang sudah menunggu, dan aku tidak ingin ada orang lain yang salah paham jika melihat kita seperti ini!"

‎‎Napasnya masih sedikit cepat, namun dia berusaha untuk tetap tenang. Setiap kejadian bersama Arsen sudah cukup membuatnya tertekan.

‎‎Arsen terkesiap, ekspresi tenangnya kini digantikan oleh rasa terkejut serta rasa bersalah. Dia segera mundur beberapa langkah, memberi jarak yang cukup pada Viona.

‎‎"Kamu benar." Arsen menghela napas kasar, memalingkan wajahnya kesamping dengan kedua tangan yang dia letakkan di pinggang. "Sekarang kamu keluarlah, aku tidak akan mengganggu dan membuatmu takut lagi."

‎‎Kali ini Viona yang dibuat terkejut dengan perubahan sikap Arsen yang tiba-tiba, dia menatap Arsen dengan tatapan bingung sekaligus lega. Setelah beberapa detik terpaku, dia segera berjalan melewati Arsen menuju pintu. Saat tangannya menyentuh pegangan pintu dan membuka pintu sedikit lebih lebar, Viona berhenti sejenak dan menoleh sebentar ke arah Arsen. Matanya masih menunjukkan rasa bingung, namun tidak lagi ada ketakutan atau kemarahan seperti tadi.

‎‎"Viona, kenapa kamu lama sekali. Apa yang sedang kamu lakukan di kamar Paman?"

‎‎Suara seseorang membuat Viona dengan cepat menoleh kesamping, jantungnya berdegup kencang saat melihat Farel kini sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan curiga dan rasa penasaran.

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!