NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: EKSPEDISI MERANGKAK DAN REPUBLIK BALOK

Enam bulan telah berlalu sejak gema aqiqah Nirmala memudar di perbukitan Sentul. Rumah keluarga Arkananta kini tidak lagi hanya berisi keheningan pinus, melainkan orkestra harian yang terdiri dari tawa melengking, suara benturan balok kayu, dan langkah-langkah panik Arlan yang selalu merasa lantai rumahnya kurang steril

.

Nirmala, yang kini berusia delapan bulan, telah bertransformasi dari bayi mungil yang pasif menjadi "penjelajah kecil" dengan tenaga hidrolik.

Ia tidak lagi puas hanya berguling; ia telah menemukan cara untuk mengangkat perutnya dan mulai melakukan navigasi merangkak di atas karpet beludru ruang tengah.

"Arlan, berhenti meletakkan antiseptik di setiap lima langkah," tegur Arumi yang sedang memperhatikan putrinya dari sofa. Arumi tampak jauh lebih segar, meskipun lingkaran hitam tipis di bawah matanya menunjukkan ia baru saja menyelesaikan syif malam virtual dengan tim bedah UMS.

Arlan, yang sedang berlutut sambil mengelap kaki meja kayu jati, mendongak. "Aku hanya memastikan tidak ada bakteri jahat yang menempel di telapak tangan Nirmala, Sayang.

Kau lihat cara dia merangkak? Dia seperti ekskavator kecil. Semua yang ada di lantai akan dia sapu."

"Itu namanya eksplorasi, Arlan. Biarkan dia mengenal tekstur," Arumi terkekeh.

Di sisi lain ruangan, Leon duduk dengan gaya seorang instruktur profesional. Ia telah menyusun rute khusus menggunakan balok-balok kayu berwarna-warni yang ia sebut sebagai "Sirkuit Mala".

"Ayo, Adik! Lewat sini! Ada bonus biskuit di ujung menara!" teriak Leon dengan semangat.

Leon meletakkan sebuah biskuit bayi organik di atas sebuah balok bundar yang ia letakkan sekitar dua meter dari posisi Nirmala. Nirmala, yang melihat "harta karun" itu, mengeluarkan suara babbling yang ceria—sebuah perpaduan antara tawa dan teriakan determinasi.

Dengan gerakan yang masih sedikit goyah, Nirmala meluncurkan serangan merangkaknya.

Tangan kanannya maju, diikuti lutut kirinya. Setiap kali ia berhasil maju sepuluh sentimeter, Leon akan bertepuk tangan dengan sangat keras hingga Dante yang sedang berjaga di dekat pintu harus menahan tawa.

"Paman Dante, lihat! Adik Mala sudah sampai di jembatan kuning!" lapor Leon dengan bangga.

Dante mendekat sedikit, tangannya masih berada di belakang punggung. "Luar biasa, Kapten.

Sepertinya dia akan jadi pelari cepat seperti Ayahnya kalau sedang mengejar jadwal rapat."

Tantangan hari itu muncul saat Arlan tanpa sengaja meletakkan tablet kerjanya di atas meja rendah. Tablet itu berisi data-data sensitif mengenai pengembangan panel surya untuk desa binaan Yayasan Salsabila. Bagi Nirmala yang sedang dalam mode "ambil semua yang berkilau", tablet dengan layar menyala itu adalah target utama.

Dalam hitungan detik, Nirmala sudah berhasil mencapai kaki meja, menarik dirinya untuk berdiri (meskipun masih gemetar), dan—hap!—tangannya yang mungil berhasil meraih sudut tablet.

"Nirmala! Jangan yang itu, Nak!" Arlan melompat dari posisinya, mencoba menyelamatkan perangkat kerjanya sebelum air liur bayi atau benturan lantai menghancurkan data jutaan dolar.

Namun, Nirmala jauh lebih cepat. Ia menjatuhkan tablet itu ke atas karpet tebal (untungnya karpet itu sangat empuk berkat proteksi Arlan sebelumnya). Dengan jari-jarinya yang kecil, ia mulai menekan layar secara acak.

"Ayah, Adik Mala sedang kirim pesan ke siapa?" tanya Leon polos.

Arlan mengambil tablet itu dengan hati-hati. Ia melihat layarnya. "Dia baru saja mengirim rangkaian huruf 'asdfghjkl123' ke grup direksi operasional minyak di Singapura, Leon."

Arumi tertawa terbahak-bahak dari sofa.

"Mungkin itu kode rahasia baru, Arlan. Strategi bisnis dari perspektif bayi delapan bulan."

Arlan hanya bisa menghela napas pasrah sambil melihat foto profil WhatsApp-nya yang kini berubah menjadi gambar lantai rumah yang tidak sengaja terpotret oleh Nirmala. "Baiklah, mulai sekarang, semua gawai harus diletakkan setinggi dua meter. Kita punya peretas kecil di rumah ini."

Sore harinya, saat Arlan dan Arumi sedang berdiskusi via Zoom dengan dewan etik universitas, Dante bertugas menjaga kedua anak itu di taman belakang. Suasananya sejuk, cahaya matahari terbenam menyinari hamparan rumput Jepang yang terawat.

Leon sedang asyik membangun "Republik Balok" di teras, sementara Nirmala duduk di rumput sambil mencoba menarik-nyarik ujung sepatu bot taktis milik Dante.

Dante, yang biasanya memiliki ekspresi sedingin es, perlahan berjongkok. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan bersih dari sakunya, melipatnya menjadi bentuk kelinci kecil, dan menggerak-gerakkannya di depan wajah Nirmala.

Nirmala tertawa terbahak-bahak, tangannya yang mungil mencoba menangkap "kelinci" kain itu.

"Paman Dante, kenapa kelincinya tidak punya telinga panjang?" kritik Leon tanpa mengalihkan pandangan dari menara baloknya.

"Ini kelinci tempur, Leon. Telinganya dilipat supaya tidak ketahuan musuh," jawab Dante asal, namun nada suaranya sangat lembut.

Pada saat itulah, Arlan keluar ke teras dan melihat pemandangan itu. Ia terdiam. Ia ingat sepuluh tahun lalu, Dante adalah pria yang hanya mengenal cara mematahkan leher lawan.

Sekarang, pria yang sama sedang membuat origami kain untuk menghibur bayinya. Arlan menyadari bahwa kebahagiaan yang mereka bangun di Sentul tidak hanya menyembuhkan dirinya dan Arumi, tapi juga menyembuhkan jiwa-jiwa keras yang berada di sekitar mereka.

Malam harinya adalah sesi "MPASI mandiri" bagi Nirmala. Arumi memutuskan untuk membiarkan Nirmala mencoba makan pisang lumat sendiri.

Hasilnya? Kekacauan yang indah. Pisang itu tidak hanya masuk ke mulut Nirmala, tapi juga ke dahi, baju, kursi bayi, dan sedikit di pipi Leon yang duduk di sebelahnya.

"Bunda, Adik Mala makan pakai kepala?" tanya Leon sambil mengelap pipinya yang terkena cipratan pisang.

"Dia sedang belajar koordinasi, Sayang," jawab Arumi sabar.

Arlan, yang biasanya tidak tahan dengan noda, kali ini hanya tertawa. Ia mengambil kamera dan mengabadikan momen itu. Ia tidak lagi memikirkan sterilitas lantai atau noda di kursi mahalnya. Yang ia lihat hanyalah pertumbuhan.

"Besok kita harus beli kursi bayi yang lebih mudah dicuci," gumam Arlan, namun matanya penuh dengan binar kasih sayang.

Setelah kedua anak itu tertidur—Nirmala di boks bayinya yang wangi dan Leon di kamarnya yang dipenuhi prototipe bangunan—Arlan dan Arumi berdiri di balkon.

"Leon sangat menyayangi adiknya, ya?" bisik Arumi.

"Dia pelindung yang baik. Tadi siang dia marah pada seekor semut karena mencoba mendekati kaki Nirmala," jawab Arlan. "Aku rasa kita telah berhasil menanamkan benih yang benar, Arumi."

Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Kadang aku takut, Arlan. Dunia di luar sana tidak selalu selembut karpet di rumah kita. UMS semakin besar, tantangan birokrasi semakin banyak..."

"Kita akan hadapi itu bersama, satu per satu. Seperti Nirmala yang belajar merangkak tadi," Arlan mengeratkan rangkulannya. "Jatuh sedikit tidak apa-apa, asal kita punya tempat untuk kembali."

Di kejauhan, lampu-lampu kampus UMS terlihat berkelap-kelip. Sebuah janji tentang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia, dimulai dari satu keluarga kecil yang tidak lagi takut akan noda pisang di atas karpet mahal.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!