"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Janji di Bawah Langit Nanshan
[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 11.00 AM]
[Lokasi: Taman Distrik Nanshan, Shenzhen]
Suasana di dalam cafe menjadi sangat canggung setelah pengakuan jujur Gu Jingshen. Lin Xia menatap pena emas dan buku catatan itu bergantian dengan wajah Jingshen. Rasa sakit hati akibat pengusiran semalam masih terlalu segar di ingatannya untuk bisa dihapus hanya dengan sebuah benda mewah.
"Simpan saja hadiahmu, Tuan Gu," ucap Lin Xia pelan namun tegas. "Aku tidak butuh kompensasi atas rasa peduliku yang kau buang semalam."
Tanpa menunggu balasan, Lin Xia meletakkan hadiah itu di atas meja bar dan melangkah keluar dari cafe. Ia butuh oksigen. Paru-parunya terasa sesak jika terus berada di ruangan yang sama dengan pria itu.
Gu Jingshen berdiri mematung sejenak. Ia melihat punggung Lin Xia yang semakin menjauh. Perasaan sebagai pria pengecut menghantam dadanya. Ia yang biasanya bisa memenangkan negosiasi bisnis bernilai miliaran yuan, kini justru kalah telak di hadapan perasaan seorang wanita.
"Jangan hanya diam, bodoh! Kejar dia!" seru Lin Feng dari sudut cafe, merusak keheningan.
Jingshen tersadar. Ia segera berlari keluar, mengikuti Lin Xia dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia melihat Lin Xia berjalan cepat menuju sebuah taman kota yang terletak beberapa blok dari cafe. Matahari Shenzhen yang mulai terik menyinari langkah wanita itu.
Lin Xia sampai di sebuah bangku kayu di bawah pohon beringin besar yang rindang. Ia duduk, menatap riak air di kolam taman dengan pandangan kosong. Ia tahu Jingshen mengikutinya. Suara langkah sepatu pantofel pria itu di atas kerikil taman terlalu khas untuk diabaikan.
"Untuk apa kau masih mengikuti ku?" tanya Lin Xia tanpa menoleh. Suaranya terdengar lelah.
Jingshen perlahan menghampiri dan duduk di ujung bangku yang sama, memberikan jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mendengar napas satu sama lain.
"Aku datang untuk menjadi manusia, Xia. Bukan sebagai CEO," jawab Jingshen lirih.
Lin Xia akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca, memancarkan luka yang selama ini ia sembunyikan di balik naskah-naskahnya. "Kau tahu? Aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia. Aku menciptakan karakter Marsekal Gu Yan di naskahku sebagai sosok yang berwibawa namun mencintai dengan tulus. Dan secara tragis, aku jatuh cinta pada prototipe aslinya di dunia nyata."
Lin Xia tertawa pahit, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Aku sadar aku bodoh karena cinta. Aku terus mencari mu saat kau hilang, aku mengantarkan obat dan makanan saat kau sakit, tapi kau memperlakukanku seperti gangguan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa perasaanku ini nyata, bukan sekadar riset untuk sebuah permainan!"
Jingshen merasakan dadanya seperti diremas. Ia tidak sanggup lagi melihat air mata itu. Saat Lin Xia hendak melanjutkan kata-katanya, Jingshen memotongnya dengan suara yang dalam namun penuh getaran.
"Cukup, Xia... Aku yang bodoh. Aku yang pengecut karena tidak berani jujur padamu."
Jingshen memutar tubuhnya, menghadap Lin Xia sepenuhnya. Ia meraih tangan wanita itu, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar.
"Aku mencintaimu, Lin Xia. Aku mencintaimu lebih dari apa pun yang pernah kumiliki di Gu Corp. Alasan aku mendorongmu menjauh semalam bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku takut. Ayahku... dia adalah monster yang sesungguhnya. Aku takut jika dia tahu kau adalah kelemahanku, dia akan menghancurkan mu untuk menekan ku. Aku mencoba melindungi mu dengan cara yang salah, dan aku minta maaf atas luka yang ku timbulkan."
Lin Xia terdiam. Kalimat "Aku mencintaimu" dari mulut Jingshen terasa seperti guntur di siang hari. Tatapan mata Jingshen kali ini sangat jujur, tanpa ada topeng CEO yang dingin.
Mereka saling menatap dalam keheningan taman. Perlahan, Jingshen mendekat, menghapus air mata di pipi Lin Xia dengan ibu jarinya. Lin Xia tidak menolak. Saat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, Jingshen memiringkan kepalanya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Lin Xia.
Itu adalah ciuman yang penuh dengan permohonan maaf, kerinduan, dan janji. Di bawah naungan pohon beringin taman Nanshan, dunia seolah berhenti berputar bagi mereka berdua. Rasa pahit dari kejadian semalam seolah luruh bersama hembusan angin sepoi-sepoi.
Setelah beberapa saat, Jingshen melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan dahinya ke dahi Lin Xia.
"Aku tidak ingin kau berada di sini lagi, Xia," bisik Jingshen.
Lin Xia mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu? Kau mau mengusirku lagi?"
Jingshen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar hangat. "Bukan begitu. Ayahku punya banyak mata-mata di Shenzhen. Setiap langkahmu di sini akan terpantau olehnya. Aku ingin kau pindah ke Shanghai."
"Shanghai?"
"Ya. Aku punya perusahaan rahasia yang sedang kubangun di sana, 'Sheng-Li Capital'. Aku ingin kau menjadi Chief Script Editor di sana untuk proyek baru kita. Di Shanghai, kau akan berada di bawah perlindungan tim keamananku yang paling tepercaya, jauh dari jangkauan ayahku di Shenzhen. Dengan begitu, aku bisa bertarung habis-habisan di sini tanpa perlu khawatir kau akan dijadikan sandera."
Lin Xia menatap mata Jingshen, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang kuat untuk melindunginya.
"Jadi, ini adalah caramu untuk menjagaku tetap aman?" tanya Lin Xia.
"Ini caraku agar aku bisa memenangkan perang ini dan kembali padamu tanpa ada beban lagi," jawab Jingshen serius. "Maukah kau pergi ke Shanghai untukku?"
Lin Xia terdiam sejenak, memikirkan orang tuanya dan cafenya. Namun, ia menyadari bahwa cintanya pada Jingshen telah membawanya ke dalam pusaran konflik yang besar. Jika ia tetap di Shenzhen, ia hanya akan menjadi beban bagi strategi Jingshen.
Lin Xia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan pergi ke Shanghai. Tapi berjanjilah padaku satu hal, Gu Jingshen."
"Apa pun."
"Jangan biarkan dirimu menjadi monster saat melawan monster itu. Kembalilah padaku sebagai pria yang duduk di taman ini bersamaku hari ini."
Jingshen menarik Lin Xia ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. "Aku berjanji, Xia. Aku berjanji."
[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 13.00 PM]
[Lokasi: Gedung Gu Corp, Shenzhen]
Setelah mengantar Lin Xia kembali ke cafe dengan janji akan segera mengatur keberangkatannya, Jingshen kembali ke kantor dengan aura yang benar-benar baru. Ia melangkah masuk ke ruangannya, di mana Ah Cheng sudah menunggu dengan wajah pucat.
"Tuan! Tuan Besar menelepon berkali-kali! Beliau marah besar karena Anda meninggalkan rapat teknis tadi pagi tanpa alasan yang jelas. Beliau mengancam akan membekukan akses Anda ke departemen keuangan!" lapor Ah Cheng panik.
Jingshen duduk di kursi kebesarannya, menyalakan laptop, dan membuka folder rahasianya. Ia sama sekali tidak tampak takut.
"Biarkan dia bicara, Ah Cheng. Dia hanya sedang menggonggong karena menyadari rantainya mulai melonggar," ucap Jingshen dengan senyum dingin yang mematikan. "Siapkan dokumen transfer Lin Xia ke Shanghai sore ini. Gunakan jalur pribadi, jangan biarkan ada jejak di server Gu Corp."
"Baik, Tuan!"
Jingshen menatap foto Lin Xia di ponselnya sejenak sebelum menyimpannya kembali. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, tapi kali ini, ia tahu persis apa yang ia perjuangkan.