Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Balai Ilmu Beladiri.
Setelah menyelinap kembali ke kamarnya dengan langkah ringan namun penuh kewaspadaan, Lin Zhantian segera mengunci pintu dari dalam. Daun pintu kayu itu mengeluarkan bunyi “klik” pelan, seakan menandai terputusnya dunia luar dari ruang sempit yang kini menjadi tempat rahasia takdirnya berputar. Ia bersandar pada pintu, menghembuskan napas panjang. Pertempuran hari ini, serta keberuntungan tak terduga yang ia peroleh, masih berdenyut hangat di dadanya.
Perlahan ia berjalan menuju meja kayu sederhana di tengah ruangan. Di atasnya, ia meletakkan sebuah kotak brokat yang sejak tadi digenggam erat, seolah khawatir harta di dalamnya akan lenyap bila dilepas terlalu lama. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka penutup kotak itu.
Begitu tutupnya terangkat, terlihatlah lapisan kain sutra merah menyala yang terhampar lembut. Di atas sutra itu terbaring dua batang lingzhi berwarna merah darah. Permukaannya berkilau samar, seolah-olah nyala api kecil bersemayam di dalam daging jamur tersebut. Aroma harum dan hangat pun segera memenuhi ruangan, menggoda indera dan menenangkan jiwa.
“Itulah… Huo Xue Zhi—Jamur Darah Api.”
Tatapan Lin Zhantian memancarkan kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan. Ia bukanlah bocah yang tak mengenal nilai dunia. Ia tahu betul bahwa kedua tanaman obat tingkat tiga ini bukanlah barang sembarangan. Di pasar mana pun, benda semacam ini dapat memicu perebutan sengit.
Ia mendecak pelan. “Dua batang seperti ini… paling tidak bernilai seribu tael perak.” Jumlah sebesar itu belum pernah benar-benar ia sentuh sepanjang hidupnya.
Namun nilai uang bukanlah yang paling mengguncang hatinya.
Tanpa ragu, Lin Zhantian mengeluarkan jimat batu misterius yang selalu ia simpan dekat tubuhnya. Jimat itu tampak kusam dan sederhana, tetapi ia tahu rahasia agung tersembunyi di dalamnya. Dengan napas tertahan, ia menempelkan jimat tersebut pada salah satu Jamur Darah Api.
Seperti yang telah ia duga, perubahan terjadi seketika.
Jamur merah menyala itu mulai mengerut. Warna merah darahnya memudar, tubuhnya mengering dengan cepat, seolah seluruh esensi kehidupannya tersedot tanpa sisa. Dalam hitungan napas, tanaman obat berharga tinggi itu berubah menjadi serpihan rapuh yang tak lagi bernilai.
Dan dari dalam jimat batu itu… jatuh tiga butir pil berwarna merah menyala.
Lin Zhantian segera menangkapnya. Saat pil-pil itu menyentuh telapak tangannya, ia merasakan kehangatan lembut merambat ke dalam kulit. Energi yang terkandung di dalamnya begitu murni, begitu terkondensasi, sehingga bahkan sebelum ditelan pun sudah dapat dirasakan kedahsyatannya.
Kegembiraan di wajahnya semakin dalam. Jika dibandingkan dengan Buah Kristal Merah yang pernah ia peroleh sebelumnya, jelas Jamur Darah Api ini memiliki khasiat yang jauh lebih kuat.
Tanpa menunda, ia mengulangi proses yang sama pada jamur kedua. Hasilnya pun identik—tiga pil lagi terjatuh dari jimat batu.
Enam pil merah menyala kini tergeletak di tangannya.
Ia menyimpannya dengan hati-hati ke dalam botol kecil, lalu mengangguk puas. Namun langkahnya belum berhenti. Ia duduk bersila di atas ranjang, menarik dua botol lain dari bawah bantalnya.
Botol pertama berisi dua pil hasil olahan Buah Kristal Merah. Botol kedua berisi puluhan manik-manik putih pucat—Manik Yin yang ia kumpulkan selama beberapa waktu terakhir, setiap kali hawa dingin dalam tubuh Qing Tan meledak dan ia menyerapnya dengan bantuan jimat batu.
Menurut Lin Xiao, manik-manik Yin itu memiliki nilai luar biasa. Energi Yin Sha yang terkandung di dalamnya sangat penting bagi praktisi tingkat Yuan Bumi. Itu adalah persiapan yang secara diam-diam ia siapkan untuk masa depannya sendiri.
Ia mengambil satu pil dari botol Buah Kristal Merah.
Matanya menyipit. Tanpa ragu, ia memasukkan pil itu ke dalam mulut.
Begitu pil itu meleleh, gelombang energi obat yang murni dan padat meledak di dalam tubuhnya. Seakan-akan bendungan raksasa runtuh, energi tersebut menyebar melalui pembuluh dan meresap ke setiap sudut tubuhnya.
Otot-ototnya, tulang-tulangnya, organ-organ dalamnya—semuanya berubah seperti makhluk lapar yang rakus. Mereka menyerap energi itu tanpa ampun.
Benih Yuan Li yang mengalir di dalam meridian pun bergetar, memancarkan daya tarik yang kuat, menarik sebagian energi untuk memperkuat dirinya.
Selama sepuluh menit penuh, seluruh tubuhnya seolah menjadi tungku penyempurnaan, mengolah energi dengan kecepatan luar biasa. Setelah itu, gelombang energi mulai melemah, dan setengah jam kemudian, Lin Zhantian membuka matanya perlahan.
Kilatan cahaya menyala di kedalaman pupilnya.
“Begitu kuat…”
Ia merasakan kekuatan yang lebih padat di dalam tubuhnya, serta benih Yuan Li yang semakin membesar dan stabil. Ini adalah pertama kalinya ia menelan pil hasil penyempurnaan dari tanaman obat tingkat tiga. Efeknya melampaui perkiraannya.
Biasanya, tanaman obat memiliki energi yang tercampur dan tak sepenuhnya murni. Namun pil yang dihasilkan jimat batu itu benar-benar bersih. Seolah-olah seluruh unsur keruh telah disaring, menyisakan esensi paling murni.
Karena itu, tubuhnya mampu menyerapnya tanpa pemborosan sedikit pun.
Satu pil semacam ini mungkin setara dengan beberapa tanaman obat tingkat tiga yang dikonsumsi orang lain.
“Dengan kecepatan ini… tak lama lagi aku bisa menembus tingkat kedelapan Penempaan Tubuh.”
Namun kegembiraannya bukan tanpa bayangan tekanan.
Ia tahu bahwa dalam kegiatan berburu mendatang, harapan keluarga Lin bertumpu padanya. Keluarga Lei dan Xie memiliki fondasi lebih kuat. Generasi muda mereka pun dipenuhi bakat.
Sebagai putra keluarga Lin, ia tak mungkin berpangku tangan.
Jika keluarga Lin mampu meraih hasil gemilang, reputasi mereka akan meningkat, mungkin bahkan berdiri sejajar dengan Perguruan Pedang Ganas.
“Tinju Tongbei dan Telapak Delapan Kehancuran telah kupahami sepenuhnya. Besok… aku akan pergi ke Balai Ilmu Bela Diri keluarga. Jika bisa mempelajari seni bela diri yang lebih kuat, daya tempurku akan bertambah.”
Keunggulannya terletak pada bayangan cahaya dalam jimat batu—kemampuan untuk memahami dan menyempurnakan seni bela diri hingga batas tertinggi.
Itulah senjata rahasianya.
Dengan keputusan bulat, Lin Zhantian menyimpan semua botol, lalu merebahkan diri. Tak lama kemudian, ia tertidur lelap. Pertempuran hari ini telah menguras tenaganya.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan seluruh latihan fisik rutinnya, Lin Zhantian bergegas menuju kediaman utama keluarga Lin.
Di sepanjang jalan, banyak anggota keluarga yang dulu jarang menyapanya kini tersenyum ramah dan menyapanya lebih dulu. Sikap hangat yang tiba-tiba itu membuatnya agak canggung. Ia membalas seperlunya, lalu mempercepat langkah.
Balai Ilmu Bela Diri terletak di halaman belakang keluarga Lin. Tempat itu merupakan salah satu area terpenting keluarga. Hanya mereka yang mendapat izin yang dapat memasukinya.
Di depan gerbang, beberapa penjaga berdiri tegap. Mereka mengenali Lin Zhantian. Setelah mengangguk ramah, mereka membiarkannya masuk tanpa hambatan.
Begitu melangkah ke dalam, suasana berubah drastis.
Bangunan besar itu dipenuhi rak-rak kayu tinggi yang tertata rapi. Di atasnya tersimpan gulungan-gulungan kitab seni bela diri. Aroma kayu tua dan kertas memenuhi udara, bercampur dengan aura sejarah panjang keluarga.
Beberapa anggota muda keluarga tampak membaca dengan serius, sementara sebagian lain berlatih gerakan di sudut ruangan.
Tatapan Lin Zhantian menyapu seluruh ruangan.
Di tempat inilah fondasi kekuatan keluarga ditempa. Di sinilah warisan bertahun-tahun diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia menarik napas dalam.
Hari ini, langkahnya memasuki balai ini bukan lagi sebagai anak lemah yang terpinggirkan.
Ia datang sebagai harapan keluarga.
Dan di dalam hatinya, tekad membara seperti Jamur Darah Api yang telah ia ubah menjadi kekuatan.
Perjalanannya menuju puncak belumlah dimulai sepenuhnya.
Namun takdir sudah mulai bergetar.
Saat Lin Zhantian melangkahkan kaki memasuki Balai Ilmu Bela Diri keluarga Lin, sebuah aroma khas segera menyambutnya—harum kertas tua dan kayu merah yang telah lama menyerap jejak waktu. Bau itu bukan sekadar wangi buku; ia adalah wangi sejarah, wangi perjuangan generasi demi generasi yang menumpahkan darah dan keringat demi mengumpulkan setiap gulungan kitab yang tersimpan di tempat ini.
Pandangan Lin Zhantian menyapu ke sekeliling.
Balai itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Deretan rak kayu merah berdiri tegak, tersusun silang dan berlapis, membentuk lorong-lorong sunyi yang dipenuhi bayangan lembut cahaya matahari dari jendela tinggi. Di atas rak-rak itu, berjajar kitab-kitab seni bela diri dengan berbagai ukuran dan warna sampul.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Zhantian menyaksikan begitu banyak kitab seni bela diri terkumpul dalam satu tempat.
Di dalam dadanya, api gairah berkobar.
Ia tahu betul—setiap kitab di sini adalah hasil jerih payah keluarga Lin, diperoleh dengan harga yang tidak murah, bahkan mungkin dengan pengorbanan nyawa. Bagi keluarga kecil seperti mereka, mengumpulkan warisan seni bela diri sebanyak ini bukanlah perkara sederhana.
Ia berjalan perlahan menyusuri lorong rak, langkahnya ringan namun penuh rasa hormat. Matanya menyerap setiap judul yang tertera di sampul gulungan.
Seni Bela Diri Tingkat Satu — Tinju Gunung Runtuh.
Seni Bela Diri Tingkat Satu — Tendangan Angin Puyuh.
Seni Bela Diri Tingkat Dua — Telapak Bayangan Mengalir.
……
Beragam nama memenuhi pandangannya, membuatnya hampir pusing oleh kelimpahan pilihan. Namun setelah beberapa saat, ia menyadari satu hal—sebagian besar kitab di bagian depan ini hanyalah tingkat satu. Tingkat dua ada, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit. Adapun tingkat tiga… ia belum menemukan satu pun.
Alisnya sedikit berkerut.
“Tingkat tiga berada di bagian terdalam. Di sini kau tidak akan menemukannya.”
Sebuah suara lembut dan jernih tiba-tiba terdengar dari belakangnya, membawa sedikit nada menggoda.
Lin Zhantian segera menoleh.
Di sana, bersandar santai pada salah satu rak, berdiri seorang gadis dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya cantik dan bersinar oleh senyum samar. Rambutnya yang hitam tergerai lembut di bahu, dan sorot matanya memancarkan kecerdasan serta kelincahan khas seorang praktisi muda berbakat.
Itu adalah Lin Xia.
“Saudari Lin Xia, kau juga di sini,” ujar Lin Zhantian sambil tersenyum.
Gadis itu melangkah mendekat, mendekatkan wajahnya yang ayu dengan ekspresi jenaka. “Adik sepupu Lin Zhantian… sungguh tak kusangka. Selama ini kau menyembunyikan kemampuanmu sedalam itu.”
Mendengar itu, Lin Zhantian hanya bisa tertawa kaku. Ia tidak mungkin menjelaskan tentang jimat batu dan rahasia di balik kemajuannya.
“Baiklah,” ujar Lin Xia sambil mendengus pelan, “ikutlah denganku. Akan kutunjukkan seni bela diri tingkat tiga milik keluarga kita. Tetapi Kakek sudah berkata, jika belum mencapai tingkat Yuan Bumi, sebaiknya jangan memaksakan diri mempelajari seni bela diri tingkat tiga ke atas.”
Setelah berkata demikian, ia berbalik dan melangkah lebih dalam. Tubuhnya yang ramping bergerak luwes di antara rak-rak, bayangan sosoknya tampak anggun di bawah cahaya redup.
Lin Zhantian meletakkan kembali gulungan tingkat dua yang sempat ia pegang, lalu mengikuti.
Mereka berjalan beberapa menit menuju bagian terdalam balai. Rak-rak mulai berkurang jumlahnya, ruang menjadi lebih lapang dan lebih sunyi. Aura di tempat ini terasa berbeda—lebih berat, lebih serius.
Akhirnya, langkah Lin Xia berhenti di depan satu rak khusus yang berdiri terpisah.
“Inilah seluruh seni bela diri tingkat tiga milik keluarga Lin,” katanya.
Lin Zhantian mendekat dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
Di atas rak itu tersusun sepuluh gulungan kitab berwarna kuning tua, masing-masing tampak lebih tebal dan lebih kokoh dibanding kitab di bagian luar. Di samping setiap gulungan berdiri papan kayu kecil yang memuat penjelasan singkat.
“Seni Bela Diri Tingkat Tiga — Tangan Lembut Angin Berputar.”
“Seni Bela Diri Tingkat Tiga — Cakar Tanpa Jejak.”
“……”
Matanya menyapu satu per satu. Hanya dengan membaca namanya saja, ia sudah bisa merasakan aura keagungan dan kekuatan yang jauh melampaui tingkat satu dan dua.
Cahaya di matanya semakin terang.
“Kau tidak benar-benar berniat mempelajari tingkat tiga, bukan?” tanya Lin Xia dengan nada sedikit tak percaya.
Lin Zhantian tertawa pelan, hampir saja ia mengulurkan tangan secara sembarangan untuk mengambil salah satu gulungan.
Namun tepat saat itu, sudut matanya menangkap sesuatu di pojok rak.
Di bagian paling ujung, sedikit tersembunyi dari jajaran utama, terdapat satu gulungan berwarna hitam pudar. Warnanya berbeda, tampak lebih tua, bahkan agak kusam dibanding yang lain.
Alisnya terangkat.
Ia melangkah mendekat.
“Apa ini?”
Pandangan Lin Zhantian tertuju pada papan kayu kecil di samping gulungan hitam itu.
Tulisan di atasnya sederhana, namun cukup untuk membuat napasnya terhenti sejenak.
Seni Bela Diri Tingkat Tiga — Segel Gerbang Ajaib.
Fragmen.
Hanya fragmen.
Hatinya bergetar.
Seni bela diri tingkat tiga saja sudah langka, apalagi sebuah teknik dengan nama seaneh dan semisterius “Segel Gerbang Ajaib.” Dan meskipun hanya fragmen, aura samar yang terpancar darinya seolah lebih dalam daripada sepuluh kitab lainnya.
Seolah-olah… di balik kekurangannya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih agung.
Lin Zhantian perlahan mengulurkan tangan, jemarinya hampir menyentuh gulungan hitam itu.
Di dalam dirinya, jimat batu misterius yang tersembunyi dekat dada seakan berdenyut samar, memancarkan resonansi halus yang hanya bisa ia rasakan sendiri.
Takdir, tanpa suara, mulai menggeser jalurnya.
Balai Ilmu Bela Diri yang sunyi itu tak mengetahui bahwa pada hari ini, sebuah pilihan kecil akan menjadi titik awal perubahan besar. Sebuah fragmen yang dianggap tak lengkap oleh orang lain… mungkin justru menyimpan jalan menuju langit yang tak terjangkau.
Dan Lin Zhantian, dengan mata menyala oleh ambisi serta keyakinan yang perlahan mengeras menjadi baja, berdiri di ambang keputusan yang kelak akan mengguncang dunia kultivasi.
Perjalanan menuju puncak semakin mendekat.
Dan Segel Gerbang Ajaib yang terabaikan itu… mungkin adalah kunci pertama untuk membuka gerbang takdirnya sendiri.
mbosenin thor
gak