Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pernikahan- sebelum badai
Pukul 8 pagi, rumah keluarga Kusumo sudah ramai.
Wedding organizer dan tim dekorator hilir mudik mengecek detail terakhir. Fotografer dan videografer sudah standby dengan peralatan lengkap. Make up artist dan hair stylist sudah tiba dengan koper besar berisi perlengkapan. Florist sedang merapikan hand bouquet terakhir kali.
Semua orang sibuk memastikan pernikahan Mayra Andini Kusumo dan Arman Prasetyo berjalan sempurna.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa pengantin wanita punya rencana yang sangat berbeda.
Mayra duduk di depan meja rias di kamarnya, mengenakan silk robe putih dengan rambutnya masih tergelung di hair roller. Make up artist--seorang wanita bernama Tina yang sudah berkali-kali menangani bride--sedang mempersiapkan palet makeup.
"Mayra sayang, kamu mau makeup natural elegant atau bold?" tanya Tina sambil menyusun brush.
"Bold tapi tetap classy. Aku mau terlihat... unforgettable hari ini," jawab Mayra dengan senyum tipis.
Tina tertawa. "Semua bride ingin terlihat unforgettable di hari pernikahannya, sayang. Tapi kamu sudah cantik alami kok. Aku akan buat kamu stunning."
"Oh, aku akan unforgettable. Tapi bukan dengan cara yang kamu kira," batin Mayra.
Sementara Tina mulai mengaplikasikan primer, pintu kamar terbuka. Siska masuk dengan dress cream mewah, makeup sudah selesai, excited berlebihan.
"Mayra! Oh my God, aku nggak percaya hari ini akhirnya tiba! Kamu akan jadi pengantin tercantik!" seru Siska sambil memeluk Mayra dari belakang, pelukan yang terasa sangat palsu dan mencekik.
"Terima kasih, Mama," jawab Mayra dengan suara setenang mungkin.
"Papa kamu sudah siap di bawah. Dia nggak berhenti senyum-senyum sendiri dari tadi," kata Siska sambil tertawa. "Anak semata wayangnya mau nikah, dia pasti bahagia banget."
Mayra merasakan dadanya sesak mendengar itu. Ayahnya yang polos, yang sangat menyayanginya, yang sudah mempersiapkan pernikahan ini dengan susah payah, tidak tahu bahwa beberapa jam lagi akan ada badai.
"Di mana Kak Zakia?" tanya Mayra sambil melirik jam--pukul 8.30.
"Oh, kakakmu masih di salon. Dia bilang mau sempurna sebagai bridesmaid-mu," jawab Siska dengan nada bangga.
Mayra hampir tertawa sinis. Zakia ingin terlihat sempurna. Tentu saja. Wanita itu pasti berharap bisa menarik perhatian--mungkin berharap ada groomsmen yang tertarik padanya, atau lebih buruk lagi, berharap Arman akan terus meliriknya bahkan di hari pernikahan.
Tapi hari ini, Zakia akan mendapat sesuatu yang sangat berbeda dari ekspektasinya.
Siska akhirnya keluar setelah berkomentar tentang berbagai hal--mulai dari dekorasi, catering, sampai daftar tamu. Mayra menghela napas lega saat pintu tertutup.
"Ibu tirimu... energik ya," komentar Tina sambil mengaplikasikan foundation dengan lembut.
"Itu kata halus untuk annoying," gumam Mayra.
Tina terkekeh pelan. "Sabar ya, sayang. Setelah hari ini kamu akan punya keluarga baru."
Keluarga baru. Kata itu bergema di kepala Mayra.
Ya. Setelah hari ini, dia akan jadi bagian dari keluarga Armando. Istri dari Dev Armando, meski hanya kontrak.
Ponsel Mayra berbunyi. Dia melirik pesan dari Dina.
("MAYRA! HARI INI DIA! AKU UDAH DI JALAN MENUJU GEREJA! AKU NGGAK SABAR LIHAT KAMU JADI PENGANTIN CANTIK! LOVE YOU, BESTIE! ❤️❤️❤️")
Mayra tersenyum kecil. Dina tidak tahu apa-apa tentang rencananya. Sahabatnya itu akan shock nanti. Tapi Mayra akan menjelaskan semuanya setelah badai berlalu.
Dia mengetik balasan:
("Love you too, Din. See you soon. ❤️")
Lalu ada pesan lain, dari Arman.
("Good morning, my beautiful bride. Aku nggak sabar lihat kamu di altar nanti. Aku sudah di gereja, memastikan semuanya sempurna untuk kamu. I love you so much, Mayra. See you soon, calon istriku. ❤️")
Mayra menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Pria itu masih berpura-pura. Masih mengirim pesan manis seolah dia suami yang sempurna.
Tapi sebentar lagi, topeng itu akan robek.
Mayra tidak membalas pesan itu. Untuk apa?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 10 pagi, makeup dan hair sudah setengah selesai. Wajah Mayra sudah di-transformasi--mata dengan smokey eye yang dramatis tapi elegan, pipi dengan contour sempurna, bibir dengan nude pink yang glossy. Rambutnya diurai dengan soft wave yang anggun, beberapa anak rambut dipinned dengan pearl hairpin yang cantik.
Saat Mayra menatap pantulannya di cermin, dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Wanita yang menatap balik terlihat sangat cantik, anggun, seperti putri raja dari dongeng.
Tapi di matanya-- mata itu menyimpan badai.
"Mayra, kamu cantik banget!" seru Tina sambil bertepuk tangan. "Arman pasti akan speechless lihat kamu nanti."
"Arman akan speechless. Tapi bukan karena kecantikanku," batin Mayra dengan senyum tipis.
Pintu kamar terbuka lagi. Kali ini Zakia masuk, ia tampak sudah full makeup dan hair dengan dress bridesmaid pink pastel yang fit sempurna di tubuhnya. Rambutnya di-style dengan elegant updo, makeup flawless dengan pink tone yang matching dengan dressnya.
Kakak tirinya terlihat... stunning.
"Adikku tersayang!" Zakia langsung memeluk Mayra--pelukan yang terlalu erat, terlalu lama, terlalu palsu. "Kamu cantik banget! Oh my God, Arman pasti akan jatuh cinta lagi sama kamu!"
Mayra membalas pelukan itu dengan dingin. "Terima kasih, Kak. Kakak juga cantik."
Zakia melepaskan pelukan dan memutar badannya. "Aku harus cantik dong. Aku kan bridesmaid kamu. Nggak boleh kalah sama bridesmaids lain."
"Kamu akan kalah dari semuanya setelah skandalmu terbongkar," batin Mayra.
"Kak, aku mau ganti gaun dulu. Bisa tolong semua orang keluar sebentar?" pinta Mayra.
"Oh iya, tentu! Aku tunggu di bawah ya. Jangan lama-lama, nanti kita harus berangkat jam 1," kata Zakia sambil keluar bersama Tina dan tim makeup.
Setelah pintu tertutup, Mayra berjalan ke lemari dan membuka pintu besar itu. Di sana, tergantung gaun pengantinnya.
Gaun putih mewah dari desainer Liana Kosasih--custom made, fitting sempurna, dengan detail lace yang sangat rumit di korset, rok ball gown yang mengembang dramatis, dan train sepanjang tiga meter. Veil cathedral length dengan embroidery mutiara di sepanjang tepinya.
Gaun yang berharga ratusan juta rupiah.
Gaun yang seharusnya dia pakai untuk menikah dengan Arman.
Mayra menyentuh kain halus itu dengan perasaan campur aduk. Gaun ini indah. Sangat indah. Dan sayang sekali harus terbuang untuk pernikahan palsu.
Tapi tidak, ini bukan pernikahan palsu. Ini pernikahan yang nyata. Dengan pria yang berbeda.
Dengan Dev.
Mayra mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Dev.
"Beberapa jam lagi. Kamu masih yakin?"
Balasan datang cepat, seperti Dev sudah menunggu pesannya.
"Sangat yakin. Saya sudah dalam perjalanan ke gereja. Jangan nervous, Mayra. Semuanya akan baik-baik saja."
Mayra tersenyum kecil.
"Oke. See you soon... suamiku."
Ada jeda beberapa detik sebelum balasan berikutnya datang:
"See you soon, istriku."
Mayra merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat membaca kata "istriku" itu. Terasa aneh. Tapi juga... tidak sepenuhnya buruk.
Dia meletakkan ponsel dan mulai mengenakan gaun pengantinnya dengan bantuan Bi Ijah yang masuk setelah dia panggil.
"Nona cantik sekali," bisik Bi Ijah dengan mata berkaca-kaca sambil membantu mengancing gaun di punggung Mayra.
"Terima kasih, Bi," jawab Mayra sambil menatap pantulannya di cermin.
Gaun itu fit sempurna. Setiap detail, setiap jahitan, setiap lace tampak sempurna. Mayra terlihat seperti putri dari majalah wedding.
Bi Ijah lalu memasangkan veil dengan hati-hati, lalu melangkah mundur untuk melihat hasil akhir.
"Nona... seperti bidadari," kata Bi Ijah dengan suara bergetar.
Mayra menatap pantulannya. Ya. Dia terlihat seperti bride yang sempurna.
Tapi di balik senyum manisnya, ada rencana yang akan menghancurkan banyak orang.
****
Pukul 12.30 siang, Mayra sudah sepenuhnya ready.
Gaun? Check.
Veil? Check.
Makeup dan hair? Perfect.
Bouquet? Sudah di tangan.
Sepatu? Jimmy Choo putih dengan detail crystal--check.
Something old, something new, something borrowed, something blue? Semua sudah ada.
Mayra berdiri di depan cermin panjang di kamarnya, menatap transformasi dirinya. Dari wanita yang dikhianati menjadi bride yang akan mengubah segalanya.
Pintu terbuka. Bambang masuk, dengan mengenakan tuxedo hitam yang rapi, rambut disisir sempurna, mata berkaca-kaca.
"Mayra..." suara ayahnya bergetar saat melihat putrinya.
Mayra berbalik, dan Bambang langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mulai jatuh.
"Papa... jangan nangis," kata Mayra sambil berjalan menghampiri, hati-hati agar tidak menginjak gaunnya.
"Kamu... kamu cantik sekali, sayang," Bambang menarik Mayra ke dalam pelukan. "Papa sangat bangga sama kamu. Sangat bangga."
Mayra memeluk balik ayahnya, merasakan dadanya sesak. Ayahnya yang polos ini tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa beberapa jam lagi, dunianya akan terbalik.
"Maafkan aku, Pa," bisik Mayra sangat pelan--terlalu pelan untuk didengar.
Bambang melepaskan pelukan dan memegang kedua bahu Mayra. "Papa tahu pernikahan itu nggak mudah. Tapi Papa yakin kamu dan Arman akan bahagia. Kalian pasangan yang sempurna."
Pasangan yang sempurna. Ironi yang menyakitkan.
"Terima kasih, Pa," Mayra tersenyum--senyum yang dipaksakan.
"Sudah waktunya berangkat, sayang. Mobil pengantin sudah siap," kata Bambang sambil mengulurkan lengannya.
Mayra mengaitkan lengannya di lengan ayahnya dan berjalan keluar dari kamar, mungkin untuk terakhir kalinya sebagai Mayra Kusumo yang single.
Saat turun tangga dengan hati-hati, gaun yang berat dan train yang panjang membuatnya harus ekstra waspada, semua orang di rumah berhenti dan menatapnya.
Siska, Zakia, para bridesmaid lain, wedding organizer, fotografer--semua mata tertuju pada Mayra.
"OH MY GOD! MAYRA!" teriak Siska sambil bertepuk tangan. "KAMU CANTIK BANGET!"
Fotografer langsung mengambil ratusan foto-- Mayra di tangga, Mayra dengan ayahnya, Mayra dengan bouquet. Flash kamera menyilaukan, tapi Mayra tetap tersenyum.
Rania menghampiri dengan senyum lebar, senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Adikku tersayang, kamu seperti princess," kata Zakia sambil memeluk Mayra hati-hati agar tidak merusak makeup.
"Terima kasih, Kak," jawab Mayra dingin.
"Arman pasti akan speechless lihat kamu," bisik Zakia di telinga Mayra, dan ada sesuatu di nada suaranya yang membuat Mayra ingin mendorong wanita itu.
Tapi Mayra tahan. Sebentar lagi. Sebentar lagi Zakia akan mendapat balasannya.
...----------------...
Pukul 1 siang, rombongan mobil pengantin berangkat menuju gereja.
Mayra duduk di dalam Rolls Royce putih yang dihias dengan bunga mawar putih dan pita satin. Bambang duduk di sebelahnya, memegang tangannya dengan erat.
"Papa mencintaimu, Mayra. Apapun yang terjadi, Papa akan selalu mencintaimu," kata Bambang tiba-tiba, seolah ada firasat.
Mayra menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga mencintai Papa. Selalu."
Perjalanan ke gereja terasa sangat cepat dan sangat lambat di waktu yang bersamaan. Mayra menatap keluar jendela--Jakarta yang sibuk, orang-orang yang berlalu lalang, kehidupan yang terus berjalan.
Sementara hidupnya akan berubah total dalam beberapa jam.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dev.
"Saya sudah di gereja. Duduk di barisan paling belakang sebelah kanan. Saat waktunya tiba, lakukan. Saya akan langsung datang."
Mayra menarik napas dalam.
"Oke. Aku siap."
"Anda tidak sendirian, Mayra. Ingat itu."
Kata-kata itu memberi Mayra kekuatan yang dia tidak tahu dia butuhkan.
***
Pukul 1.45 siang, rombongan tiba di gereja.
Gereja megah bergaya Gothic dengan arsitektur yang sangat indah, tempat di mana ratusan pasangan telah menikah, dan hari ini akan menjadi saksi dari pernikahan paling dramatis yang pernah terjadi.
Mayra bisa melihat tamu-tamu sudah berdatangan. Mobil-mobil mewah memenuhi parkiran. Orang-orang berpakaian formal--jas, gaun pesta, perhiasan berkilau.
Semua orang datang untuk menyaksikan pernikahan "pasangan sempurna" Mayra dan Arman.
Tapi mereka akan mendapat pertunjukan yang sangat berbeda.
Mayra turun dari mobil dengan bantuan wedding organizer dan dua bridesmaid. Gaun dan train-nya dirapikan, veil diatur sempurna, bouquet dipegang dengan anggun.
Di pintu gereja, bridesmaids sudah berkumpul--lima orang termasuk Zakia, semua mengenakan dress pink pastel yang matching.
Zakia menghampiri dan memegang tangan Mayra. "Ready, dek?"
Mayra menatap mata kakak tirinya, mata yang menyembunyikan rahasia kotor.
"Sangat ready, Kak," jawab Mayra dengan senyum yang membuat Zakia sedikit tertegun.
Ada sesuatu yang berbeda di mata Mayra. Sesuatu yang tajam. Berbahaya.
Tapi Zakia mengabaikannya dan kembali ke barisan bridesmaid.
Wedding organizer menghampiri Mayra dan Bambang. "Okay, semuanya sudah ready di dalam. Groomsmen dan bridesmaids akan masuk duluan, lalu Mayra dengan papa. Music cue sudah diatur. Ready?"
Mayra mengangguk.
Pintu gereja terbuka sedikit, dan musik orkestra mulai mengalun, instrumental dari "A Thousand Years". Satu per satu groomsmen dan bridesmaid masuk berpasangan.
Mayra berdiri di depan pintu besar yang tertutup, lengannya terkait di lengan ayahnya. Jantungnya berdebar kencang.
Ini dia.
Tidak ada jalan kembali setelah ini.
Di balik pintu itu, ratusan tamu menunggu. Arman menunggu di altar. Pastor sudah siap.
Dan Dev-- Laki-laki itu ada di barisan belakang, menunggu untuk mengubah segalanya.
Mayra menarik napas dalam.
Pintu besar gereja perlahan terbuka.
Dan Mayra melangkah masuk, menuju takdirnya yang baru.
********
Bersambung...
menunggu mu update lagi