Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Yeye datang memanggilku untuk makan di bawah. Katanya dia sudah memesan nasi goreng. Suaranya terdengar biasa saja, tapi jantungku justru berdebar. Aku tahu di bawah ada teman-temannya.
Kami turun bersama. Meja makan itu terletak di lantai bawah, tak jauh dari televisi yang sedang menyala. Beberapa temannya duduk di sana, tertawa kecil, menonton acara yang entah apa. Begitu melihat mereka, langkah kakiku melambat. Rasa malu tiba-tiba datang begitu saja, menekan dadaku. Aku hampir memilih untuk kembali ke atas.
Mungkin wajahku terbaca olehnya, karena Yeye menoleh dan berkata pelan, seolah hanya untukku,
“Tidak apa-apa. Mereka tidak akan mengganggumu.”
Aku menarik napas panjang dan tetap berjalan. Dan benar saja, begitu aku mendekat, mereka menyapaku dengan ramah. Menanyakan apakah aku tidur dengan baik, menyuruhku duduk, menyuruhku makan. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada pertanyaan berlebihan. Mereka bahkan memberi ruang, seolah paham aku masih canggung.
Mereka semua sudah makan. Tinggal aku dan Yeye yang duduk di meja itu. Aku menunduk sebentar, mencoba menenangkan diri. Mereka baik—sangat baik. Tapi rasa malu itu tetap ada.
Aku sadar, di antara mereka semua, hanya aku satu-satunya perempuan di sana. Hanya Yeye yang membawaku ke vila itu. Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat perasaanku bercampur—antara canggung, hangat, dan sedikit takut—namun juga merasa dipilih.
Aku makan perlahan, dengan Yeye di sampingku. Dan di tengah suara televisi dan obrolan ringan mereka, aku diam-diam merasa aman.
Setelah itu, Yeye bertanya kepadaku tentang rencanaku—apa yang akan kulakukan setelah pulang dari sini. Aku menjawab jujur bahwa aku akan kembali bekerja, karena malam itu aku mendapat shift malam. Yeye mengangguk pelan, seolah memahami, meski ada sesuatu di matanya yang tidak ia ucapkan.
Selesai makan, aku mengemasi barang-barangku satu per satu. Yeye kemudian meminjamkan bajunya kepadaku. Katanya bajuku terlalu seksi untuk naik Gojek. Aku sempat tersenyum kecil, karena sebenarnya di Bali, hal seperti itu sudah biasa. Tapi aku tetap mengenakan bajunya. Rasanya lebih aman—dan entah kenapa, lebih dekat.
Sesampainya di rumah, aku mengganti pakaian dan segera berangkat kerja. Aku sempat berpikir, mungkin setelah ini Yeye tidak akan menghubungiku lagi.
Ternyata aku salah.
Yeye menghubungiku, bertanya apakah aku punya rencana malam itu atau besok. Dia bilang teman-temannya sudah pulang lebih dulu, dan dia akan pindah ke hotel. Aku bilang tidak apa-apa. Aku mengatakan bahwa setelah pulang kerja, aku akan menemuinya. Saat itu aku percaya pada ucapanku sendiri.
Namun aku bekerja sampai pagi.
Dengan rasa lelah dan sedikit bersalah, aku mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa menemaninya malam itu karena pekerjaanku baru selesai pagi hari.
Yeye mengejekku ringan, bercanda seperti biasa, lalu mengatakan bahwa dia sudah pindah hotel.
Dia memintaku menemuinya sekitar jam lima sore.
Kami pergi makan bersama. Yeye mengajakku ke Nook Bali. Katanya tempat itu indah—ada sawah, ada kafe yang nyaman, dan makanan yang enak. Aku mengangguk, meski di dalam hati ada rasa takut. Aku tidak yakin dia benar-benar bisa mengendarai motor dengan baik.
Tapi dengan bangganya, dia mengajakku naik motor.
Sepanjang perjalanan aku berteriak karena ketakutan. Yeye justru mengejekku, pura-pura oleng, seolah ingin membuatku panik. Aku marah, tapi juga tertawa. Jantungku berdebar bukan hanya karena jalanan, tapi karena perasaan yang bercampur aduk.
Kami akhirnya sampai di Nook. Aku masih mengingatnya dengan jelas: Yeye memesan nasi uduk, aku memesan nasi ayam, dan kami memesan kopi. Dia makan dengan lahap. Aku tidak menghabiskan makananku karena rasanya terlalu pedas. Aku sempat live, mengambil foto, sementara Yeye bercerita sedikit tentang dirinya—hal-hal kecil yang membuatku merasa aku sedang benar-benar mengenalnya.
Setelah itu, kami kembali. Yeye lalu mengajakku ke hotelnya. Kami naik ke lantai paling atas. Dari sana, pemandangannya begitu indah, hampir membuatku lupa bahwa segala sesuatu bisa berakhir.
Aku tidak menyangka bahwa keesokan harinya, Yeye akan pulang dan meninggalkanku sendiri.
Dia bilang dia tidak akan melupakanku. Dia terus menghubungiku. Tapi di dalam hatiku, muncul pertanyaan yang tidak pernah benar-benar pergi: dari semua yang dia katakan dan lakukan, mana yang sungguh-sungguh datang dari hatinya, dan mana yang hanya singgah sesaat.