Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi gelap Arkanza yang brutal
Ketegangan di belakang gudang itu seolah membekukan waktu. Fariz Haidar, yang biasanya merasa paling berkuasa di jalanan Jakarta, kini tampak seperti kelinci kecil di depan seekor serigala yang sedang marah. Ia mencoba meraih sebuah balok kayu di dekatnya untuk menyerang balik.
"Jangan, Fariz. Jangan lakukan itu kalau kamu masih ingin menggunakan tanganmu untuk menyetir," ucap Arkan pelan, namun nadanya sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Syra meremang.
Fariz tidak peduli. Dengan teriakan frustrasi, ia mengayunkan balok kayu itu ke arah kepala Arkan. Syra menjerit, "ARKAN, AWAS!"
Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah pemandangan yang akan terus menghantui Syra (dan Fariz). Arkan tidak menghindar jauh. Ia justru maju satu langkah, menahan ayunan kayu itu dengan lengan bawahnya yang dilapisi kain baju koko yang tebal, lalu dengan satu gerakan presisi—hasil dari tahunan bela diri dan refleks balapan—ia menghantamkan telapak tangannya ke dagu Fariz.
BRAK!
Fariz tersungkur. Belum sempat ia bernapas, Arkan sudah mencengkeram kerah bajunya dan mengangkatnya hingga kaki Fariz menggantung di udara, punggungnya menempel keras ke dinding gudang.
"Dengar baik-baik, serigala kecil," bisik Arkan tepat di depan wajah Fariz yang sudah berdarah di bagian bibir. "Hutang ayah Syra sudah lunas sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di sini. Dan soal Syra... dia bukan piala, dia bukan aset. Dia adalah seseorang yang harus kamu hormati."
Arkan mengeratkan cengkeramannya. "Jika saya melihat wajahmu lagi, atau mendengar kamu mengirim pesan pada Syra, saya tidak akan memanggil polisi. Saya akan memanggil masa lalu saya di Black Hawk, dan saya pastikan kamu tidak akan pernah punya keberanian untuk memegang kunci motor lagi. Mengerti?!"
Fariz mengangguk dengan gemetar hebat. Ia merasa nyawanya sedang diujung tanduk. Begitu Arkan melepaskannya, Fariz lari terbirit-birit menembus gelapnya kebun jati tanpa berani menoleh ke belakang.
Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar napas Arkan yang memburu. Ia berdiri diam sejenak, mencoba menenangkan sisi "hitam" dalam dirinya yang baru saja meledak. Arkan kemudian berbalik ke arah Syra, matanya perlahan kembali melunak, meski sisa-sisa kemarahan masih ada di sana.
"Syra... kamu nggak apa-apa?" Arkan mendekat, tangannya hendak menyentuh bahu Syra, namun ia ragu. Ia takut Syra takut padanya setelah melihat sisi brutalnya.
Syra tidak takut. Ia justru berdiri dengan kaki yang masih agak lemas, lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Arkan dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada Arkan yang masih naik-turun. "Lo telat lima menit, Ustadz Barbar. Gue hampir aja pingsan kena bau obat bius itu."
Arkan tertegun. Ketegangannya perlahan mencair. Ia membalas pelukan Syra, mengusap rambut cokelat gadis itu dengan lembut. "Maaf. Tadi Abi menahan saya lebih lama di panggung. Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi."
Namun, momen emosional itu terputus oleh suara langkah kaki yang sangat teratur.
Di ambang pintu gudang yang remang-remang, berdiri Sabrina Dhikra Alya. Ia mematung. Di tangannya ada sebuah ponsel yang layarnya masih menyala—tampaknya ia sedang mencari sinyal atau hendak menghubungi seseorang. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap nanar ke arah Fariz yang lari, lalu ke arah Arkan yang berantakan, dan terakhir ke arah pelukan mereka.
"Gus Arkanza...?" suara Sabrina bergetar, hampir tak terdengar. "Apa... apa yang sebenarnya terjadi di sini? Gus... memukul orang? Dan gaya bertarung itu... itu bukan bela diri pesantren."
Arkan melepaskan pelukannya, menatap Sabrina dengan tatapan yang kini dipenuhi keletihan. Rahasia besarnya kini bukan hanya diketahui oleh Syra, tapi juga oleh orang yang paling mungkin untuk menghancurkan posisinya di pesantren.
"Sabrina," ucap Arkan dengan nada peringatan.
"Saya hanya ingin membawakan air minum untuk Gus," Sabrina mundur satu langkah, ponsel di tangannya tampak merekam sesuatu. "Tapi sepertinya, saya baru saja melihat siapa Gus Arkanza yang sebenarnya. Ternyata Mbak Syra benar... kalian memang berasal dari dunia yang sama. Dunia yang penuh kekerasan."
Sabrina berbalik dan lari menuju keramaian jamaah, meninggalkan Arkan dan Syra dalam ketidakpastian yang mencekam.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...