"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
"Ini rumah kita," ucap Dimas saat mereka turun dari mobil. Rumah minimalis, bernuansa modern kini berada di depan Naina. Rumah bercat dominan biru muda itu terlihat sangat asri dan bersih.
Dimas mengeluarkan koper mereka dari bagasi mobil, sedangkan Naina berdiam diri dengan matanya bergerak kesegala arah. Begitu takjub melihat rumah itu. Rumah bercat abu-abu kombinasi dengan warna putih. Cukup besar untuk mereka yang hanya berdua. Halamannya luas serta terdapat beberapa tanaman.
"Ayo masuk." Ajak Dimas sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam diikuti oleh Naina.
"Ini kamar..." Ucapan Dimas terhenti, raut wajahnya agak membingungkan di mata Naina.
Naina pun masuk, disusul oleh Dimas yang membawakan koper Naina.
"Kamu bisa tidur di sini." Ucap Dimas yang sudah dapat di mengerti oleh Naina bahwa pria itu tidak ikut tidur di sana. Tapi Naina hanya diam.
"Di sebelah ada ruang kerjaku. Aku tidur di sana." Sambung Dimas yang sebenarnya tidak membuat kaget Naina.
"Iya, Mas." Naina mengangguk.
"Kamu tidak keberatan, kan?" Tanya Dimas memastikan. Tapi ia hanya mendapat balasan senyum kecil dari Naina.
"Kenapa harus terpisah?" Pertanyaan yang hanya bisa Naina simpan dalam hati.
Kemudian Dimas mengajak Naina melihat-lihat seisi rumah, menjelaskan ruang-ruang yang ada di sana.
"Biar kamu gak capek, nanti aku carikan Asisten rumah tangga buat ngerjain tugas rumah."
"Asisten? Kalau pakai Asisten, nanti aku mengerjakan apa, Mas?"
"Tiduran, atau apa aja sesuka kamu. Karena ini juga rumah kamu."
"Enggak ah, Mas. Aku bisa kok mengerjakan tugas-tugas rumah. Aku sudah biasa dengan semua itu. Lagian, kalau kerjaan ku hanya tiduran pasti sangat membosankan."
"Yasudah. Tapi kalau kamu membutuhkannya, kasih tau aku."
"Baik, Mas."
"Yasudah, kamu istirahat saja. Aku mau membereskan ruang kerjaku."
"Apa Mas mau di bantu?"
"Ah, gak usah. Aku cuma menyusun berkas-berkas."
"Baiklah."
*****
Naina terlihat melipat pakaian dari dalam koper yang mereka bawa untuk di masukan ke lemari. Sedari tadi ia sibuk sendiri mengerjakan apa yang bisa di kerjakan untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang terus saja mengganggunya.
Dimas sendiri duduk di sofa ruang tamu dengan di temani laptopnya. Ia terlihat sibuk dengan benda itu.
Tiba-tiba Naina datang, meletakkan segelas kopi hangat.
"Diminum, Mas."
Dimas sedikit kaget, "i-iya, terimakasih."
"Sedang apa?"
"Ngerjain proposal, biar besok gak terlalu banyak yang harus dikerjakan."
"Oh, iya. Besok Mas sudah mulai kerja, kan?"
"Iya."
Mereka kembali hening. Terdengar Dimas menyeruput kopinya untuk menghilangkan kecanggungan.
"Mas, apa Mas bahagia?" Pertanyaan yang sudah lama sekali ingin Naina tanyakan.
Dimas hanya diam.
"Aku sedang mencoba menerima keadaan. Soal bahagia atau tidak aku juga tidak tau. Aku jalani saja apa yang ada sekarang."
"Maafkan aku..."
"Kenapa kamu minta maaf, aku yang seharusnya minta maaf, karena udah buat kamu jadi terbawa dalam pernikahan ini."
"Jujur saja. Sejak ijab qobul itu di ucapkan, dalam hati aku sudah ikhlas menerima semua takdir ini dan bersedia berbakti padamu, Mas."
"Maaf, Naina... sampai hari ini, hatiku masih belum menerima semua ini. Mungkin akan memerlukan waktu. Dan lagi... aku harap kamu bisa bersabar."
"Iya, Mas."
Naina termenung di sana.
"Pertemuan kita sangat singkat. Dan sekarang kita sudah berstatus suami istri. Jujur aja, aku masih bingung harus memulai dari mana. Yang bisa kita lakukan sekarang ya jalani. Aku tidak akan memaksakan apapun kepadamu, dan aku harap kamu juga begitu."
*****
"Aku harusnya sadar diri. Tidak perlu berharap banyak atas pernikahan ini. Tidak perlu berharap mas Dimas akan mencintaiku. Aku siapa? Hanya gadis desa yang sama sekali tidak sepadan dengan mas Dimas."
"Untuk kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang hanya dengan menatapnya untuk pertama kali."
"Bisakah aku membuat mas Dimas jatuh cinta? Aahhh... itu hanyalah mimpi di siang bolong. Cinta sendirian memang menyakitkan."
"Tapi,"
"Aku adalah istrinya saat ini. Membuatnya jatuh cinta dengan cara seorang istri tentu tidak dosa, bukan?"
"Aku pun bingung. Berada di dekatnya saja membuat aku mati kutu."
*****
Mentari menyapa dengan sinarnya yang lembut. Seisi ruangan tercium aroma kopi yang harum.
Tampak Naina sudah berdiri di depan pintu saat Dimas hendak keluar dari kamarnya.
"Pagi, Mas." Ucap gadis itu tersenyum sumringah.
"Pa-pagi." Dimas merasa sedikit canggung.
"Aku udah buatkan sarapan. Sebelum berangkat, Mas sarapan dulu."
"Iya..."
Dimas yang sudah rapi dengan seragam kerjanya, berjalan mengikuti Naina menuju meja makan. Saat sampai disana, Dimas tertegun melihat banyak sarapan yang sudah di siapkan Naina.
"Sebanyak ini, dia bangun jam berapa?" Batin Dimas.
"Aku gak tau Mas suka makan apa kalau sarapan, jadi aku buatkan semua ini. Mas tinggal pilih mau makan yang mana." Ucap Naina.
"Sebenarnya kopi dan roti saja sudah cukup, kamu gak perlu capek-capek." Jawab Dimas.
"Gak ada capek dari seorang istri yang menyiapkan sarapan untuk suaminya." Jawab Naina disertai senyuman.
Dimas tertegun mendengar jawaban Naina. Kemudian ia memakan nasi goreng yang sudah tersedia di depannya.
"Aku pikir dia akan marah atas obrolan kami semalam." Benak Dimas.