NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 — BROKEN SILENCE

Arsenio menatap lampu ruang tamu yang menyala samar. Jalanan malam di luar sepi, tapi pikirannya bergerak cepat, menghitung setiap kemungkinan. Map berisi catatan staf administrasi tergeletak di meja mobil. Ia memutar kunci, menahan langkah impulsifnya.

Siluet di balik pintu tersenyum tipis. “Sudah lama sekali,” suara itu terdengar pelan tapi jelas. Arsenio mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. Lampu ruang tamu menyorot sebagian wajah yang ia kenali, cukup untuk membuat dadanya tegang.

Dia melangkah satu langkah lebih dekat, menjaga jarak aman sambil tetap menguasai situasi. Ponsel di dashboard masih bergetar, pesan belum dibuka. Arsenio memutuskan menunggu, membaca gerak tubuh sosok itu sebelum bergerak lebih jauh.

Bayangan di dalam rumah tidak bergerak mundur. Arsenio memeriksa jalan masuk, memastikan tidak ada gangguan. Setiap langkah harus diperhitungkan. Ia menahan nafas sebentar, lalu melangkah lagi.

“Apakah kamu tahu alasan saya di sini?” Arsenio bertanya pendek.

Sosok itu menunduk, kemudian menggeleng. “Aku hanya menunggu momen yang pas,” jawabnya tenang.

Arsenio menatap mata lawannya, mencoba membaca niat di balik kata-kata itu.Dia menggeser tangan ke saku jasnya, memastikan ponsel tetap tidak aktif. Arsenio memutuskan untuk masuk, tapi perlahan, menyesuaikan setiap langkah dengan gerakan sosok itu. Ia siap menghadapi apa pun, siap mengendalikan risiko.

Lampu ruang tamu menyinari lantai kayu. Pintu lain terdengar terkunci dari dalam. Semua terlihat tenang, tapi Arsenio tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Ia menatap sosok itu, menunggu gerakan berikutnya.

“Ini bukan tempatmu datang sendirian,” suara itu terdengar mantap.

Arsenio berhenti sejenak, memeriksa jarak. “Saya tahu. Tapi saya butuh jawaban sekarang.” Sosok itu tetap diam, seolah menantangnya untuk melangkah lebih jauh.

Ia melangkah ke depan pagar, lengan jas menahan tubuh tetap tegak. Setiap gerakan diperhitungkan supaya tidak memancing kesalahan. Arsenio siap menghadapi risiko pribadi dan profesional sekaligus. Lampu ruang tamu menyorot sosok itu dengan jelas, dan malam itu terasa lebih berat dari sebelumnya.

Arsenio menatap sosok itu lebih dekat. Setiap gerakan diperhitungkan, tapi dia tidak menyerang dulu. “Kenapa kamu di sini?” tanyanya datar. Sosok itu menahan senyum.

“Jawabanmu lebih penting daripada keberadaanku,” ucapnya pelan. Arsenio memutar pandangan ke sekeliling rumah, mencari kemungkinan jalur keluar atau jebakan. Ia memutuskan masuk sedikit lebih dekat, tetap menjaga jarak aman.

Sosok itu mengangkat tangan, menunjuk sebuah meja kecil di ruang tamu. Arsenio mengikutinya perlahan. Setiap langkah di lantai kayu terdengar nyata di telinganya. Ia memutuskan duduk, tapi tidak menurunkan kewaspadaan.

Ponsel di dashboard masih bergetar, Arsenio menolak menggenggamnya. Sosok itu mengambil amplop coklat dari meja, menaruhnya di lantai dekat kursi Arsenio. Ia tetap diam, menunggu. Arsenio memutuskan untuk menunduk dan melihat isi amplop.

Beberapa dokumen rapi tersusun di dalam amplop. Arsenio membaca sekilas ada catatan yang hanya bisa dibuat oleh orang dalam Volt-Tech. Ia menatap sosok itu. “Ini semua ada ditanganmu?” tanyanya pelan.

Sosok itu mengangguk tipis. Arsenio menutup amplop perlahan, menyadari langkah selanjutnya. Ia memutuskan mengajukan satu pertanyaan yang akan menentukan arah permainan malam ini.

“Siapa yang menyuruhmu?” suaranya rendah. Sosok itu diam, lalu menatap Arsenio dengan tajam. Arsenio mengambil napas sebentar, menyiapkan strategi. Ia memutuskan satu langkah berani untuk membuka kunci pintu rahasia di laci dekat mereka.

Laci terbuka, menyisakan beberapa file lama dan satu USB. Arsenio mengangkat USB itu pelan. Sosok itu mencondongkan tubuh sedikit, seolah memperingatkan tanpa bicara.

Arsenio memutuskan memasukkan USB ke laptopnya yang dibawa.Lampu ruang tamu menyorot wajah mereka berdua. Arsenio menatap layar dan menyadari pola data bocor lebih luas dari dugaan. Sosok itu tersenyum tipis, menunggu reaksinya. Arsenio memutuskan bahwa malam ini bukan lagi soal perusahaan, tapi siapa yang bisa menguasai informasi.

Arsenio menatap layar laptop. Data dari USB langsung terbaca, menunjukkan jalur komunikasi rahasia yang sudah bocor selama berminggu-minggu. Semua indikator mengarah pada satu nama, bukan direksi, bukan IT, tapi seseorang yang selama ini dianggap remeh.

Ia menekan tombol search tambahan, menelusuri email dan log server. Semua titik kontak tertata rapi, hampir tidak ada celah. Arsenio menyadari satu hal bahwa ini bukan kebetulan. Ia memutuskan untuk mengikuti jejak digital itu hingga titik terakhir.Sosok di depan matanya tetap diam, menunggu keputusan Arsenio.

Amplop di lantai kini terasa seperti batu uji. Arsenio menunduk, menatap dokumen di tangan, lalu memutuskan untuk bertanya langsung. “Siapa yang memberi perintah?”

Sosok itu menatap tajam, kemudian melepas senyum tipis. “Kamu akan mengerti sendiri,” katanya pelan.

Arsenio menghela nafas, lalu menutup laptop. Ia memutuskan untuk menggeser kursinya ke sisi lain ruangan, memastikan jalur keluar tetap terlihat.

Di layar muncul diagram koneksi data, menunjukkan semua dokumen yang telah dikirim keluar. Arsenio melihat pola yang hampir sempurna. Satu langkah salah dan seluruh proyek Artha bisa hancur. Ia memutuskan untuk mencatat semuanya, setiap nama, setiap tanggal, sebagai bukti.

Sosok itu melangkah mundur sedikit. “Malam ini, semua jawaban ada di tanganmu,” ucapnya. Arsenio menatap wajah itu, mencoba menebak maksudnya. Ia memutuskan untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.

Arsenio menekan tombol pada laptop, mengaktifkan sistem analisis file rahasia. Segala pola data yang bocor kini tersusun menjadi satu timeline. Sosok itu diam, mengamati gerakan Arsenio. Ia memutuskan membuka file paling sensitif pertama, yang bisa menentukan siapa pengendali utama.

Lampu ruang tamu menyorot layar, cahaya memantul ke wajah Arsenio. Ia membaca setiap nama, memeriksa setiap akses. Sosok itu tersenyum tipis, menunggu hasilnya. Arsenio memutuskan untuk tidak ada satu langkah pun yang bisa ia lakukan tanpa memastikan kebenaran data ini.

Detik demi detik berlalu. Arsenio menggeser dokumen amplop yang tersisa ke sisi lain, menyisakan USB dan laptop. Ia menatap sosok itu, memutuskan untuk mengajukan satu pertanyaan lagi, yang bisa memaksa jawaban keluar. “Apakah ini semua permainan internal Volt-Tech, atau ada pihak lain?”

Sosok itu mencondongkan tubuh sedikit, lalu menatap tajam ke Arsenio. “Pihak lain,” jawabnya singkat. Arsenio mengangguk perlahan, menyadari apa yang sedang dihadapinya. Ia memutuskan tetap profesional, tetapi semua strategi harus berubah malam ini.

Ponsel di dashboard bergetar lagi, tapi Arsenio tidak menyentuhnya.

Semua perhatian tertuju pada data dan sosok itu. Arsenio memutuskan membuka satu file tambahan, berisi catatan lama dari proyek sebelumnya, yang ternyata diretas dan dimodifikasi.

Sosok itu mengangkat satu alis, menunggu reaksi Arsenio. Arsenio menatap layar, menyusun kembali strategi. Ia memutuskan untuk tetap memegang kendali, bahkan jika semua langkahnya telah diketahui pihak lain.

Setelah membaca seluruh log, Arsenio menutup laptop. “Kamu tahu kalau ini bisa menghancurkan semua orang yang terlibat, kan?” tanyanya. Sosok itu tetap diam, hanya mengangguk tipis. Arsenio memutuskan satu hal bahwa malam ini, dia yang akan menentukan siapa selamat dan siapa kalah.

Ia berdiri, mengambil amplop dan laptop, lalu berjalan ke pintu. Sosok itu mengikuti dari jauh, membiarkan Arsenio mengambil inisiatif. Arsenio memutuskan meninggalkan rumah itu sebentar, hanya untuk memastikan langkahnya tidak bisa diprediksi.

Di luar, udara malam dingin menampar wajahnya. Ia mengangkat kepala, menatap jalan kosong. Setiap langkahnya di trotoar terasa seperti bagian dari strategi besar. Ia memutuskan untuk tetap tenang, menyusun langkah demi langkah hingga semua terselesaikan.

Sosok itu menutup pintu perlahan, membiarkan Arsenio pergi. Di balik bayangan, senyum tipis itu tetap terlihat. Arsenio menoleh sekali, lalu melangkah ke mobilnya. Ia memutuskan malam ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tapi siapa yang bisa mengontrol informasi.

Mesin mobil menderu halus. Arsenio menyalakan lampu jalan dan bergerak menjauh. Lampu ruang tamu di rumah itu terlihat samar di kaca spion. Ia memutuskan satu hal terakhir sebelum malam berakhir. Semua kartu ada di tangannya, dan sekarang, waktunya bertindak.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!