NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — PUSAT GRAVITASI

Bagi Arsenio, manusia hanyalah variabel yang bisa diganti. Ia tidak pernah takut kehilangan seseorang dalam hidupnya tapi yang ia takuti hanyalah kehilangan kendali atas mereka. Baginya, dunia adalah sirkuit yang harus ia atur arusnya, dan ia adalah saklar utamanya.

Namun, hari itu, keangkuhannya mendadak senyap.

Ada sesuatu yang bergeser. Bukan karena demo di luar gedung Volt-Tech yang meneriakkan namanya, bukan pula karena angka saham yang memerah di layar monitor. Pergeseran itu terjadi di dalam ruang rapatnya sendiri—ruangan kedap suara yang biasanya menjadi takhtanya.

Di sana, di balik meja marmer yang dingin, ia melihat tatapan yang berbeda dari orang-orangnya. Kesetiaan yang dulu ia beli dengan otoritas, kini tampak retak. Ada keheningan yang mencekam, tipe keheningan yang biasanya mendahului sebuah pengkhianatan.

Untuk pertama kalinya, Arsenio merasakan kursi kepemimpinannya tidak lagi kokoh. Ia menyadari satu hal yang mengerikan bahwa ia bisa memerintah tindakan mereka, tapi ia tidak pernah benar-benar bisa menguasai isi kepala mereka.

Kontrol itu mulai licin dari genggamannya, tepat saat ia merasa sedang berada di puncak.

Rapat investor Asia itu awalnya berjalan kayak mesin. Grafik stabil, angka-angka aman, presentasi yang kelewat rapi. Sampai akhirnya, salah satu investor nyender ke kursinya dan nanya santai.

"Pendekatan rebranding ini... kok rasanya beda ya? Kayak ada jiwanya. Siapa yang punya ide?"

Arsenio baru mau buka mulut buat ambil kendali. Tapi belum sempat dia jawab, ada suara lain yang masuk—enteng banget, tapi langsung bikin seisi ruangan nengok.

"Saya cuma capek liat perusahaan ini ngomong kayak robot, Pak," sahut Alinea santai. "Orang nggak bakalan peduli sama angka. Mereka baru mau denger kalau kita ngomong pakai rasa."

Beberapa orang ketawa kecil. Suasana yang tadinya tegang jadi cair.

Investor itu kelihatan makin penasaran. "Rasa yang gimana?"

"Rasa kalau perusahaan ini punya detak jantung. Bukan cuma ngejar target," jawab Alinea tenang.

Seketika, arah obrolan berubah total.

Nggak jadi kacau, malah jadi lebih 'hidup'.

Arsenio masih di sana, duduk di kursi utamanya. Dia masih pemimpin rapatnya. Tapi dia bisa ngerasain banget kalau energi di ruangan itu nggak lagi muter di dia. Semuanya pindah ke satu titik yaitu Alinea.

Dan buat Arsenio, itu rasanya kayak ngeliat takhtanya pelan-pelan digeser tanpa dia bisa protes.

Begitu pintu ruang rapat tertutup, formalitas langsung luluh. Tim marketing langsung mengerubungi Alinea, persis seperti semut yang menemukan gula di tengah ruangan yang biasanya tawar.

“Gila, Kak! Tadi itu keren banget!”

“Investor tadi literally cuma fokus ke kamu, Al!”

“Iya, sumpah... aku sampai lupa CEO-nya siapa tadi.”

Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja, tanpa niat jahat, murni karena euforia. Tapi efeknya seketika. Udara di lorong itu mendadak mengeras, seolah oksigennya ditarik paksa keluar.

Beberapa meter dari keriuhan itu, Arsenio masih berdiri tegak. Diam. Tangannya yang baru saja hendak merapikan kancing jas, berhenti di tengah jalan.

Dia nggak marah. Dia nggak tersinggung kayak bos-bos kecil yang gampang baper. Tapi ada sesuatu yang berdesir di dadanya—sesuatu yang asing, yang nggak punya nama dalam kamus logikanya.

Arsenio melihat Alinea tertawa kecil, membalas pujian itu dengan rendah hati, sementara dia sendiri... merasa seperti hantu di perusahaannya sendiri. Dia masih pemilik gedung ini, masih pemegang saham mayoritas, tapi entah kenapa, dia merasa baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar otoritas.

Dia sedang melihat kontrolnya lepas, bukan karena dikhianati, tapi karena memang dunia lebih memilih cahaya yang dibawa Alinea daripada dinding es yang dia bangun selama ini.

Alinea masuk ke ruang kerja Arsenio tanpa mengetuk—sebuah tindakan yang biasanya bakal berakhir dengan surat peringatan bagi siapa pun, kecuali dia.

"Kamu lagi mikir berat," cetusnya santai, seolah bisa membaca arus listrik di kepala Arsenio.

"Aku memang sedang berpikir," jawab Arsenio datar.

"Alis kamu turun dua derajat. Itu artinya kamu lagi nggak nyaman."

Arsenio menutup tablet di tangannya, gerakannya pelan tapi tegas.

"Popularitas bisa jadi risiko, Al."

"Buat perusahaan?" tanya Alinea, menaikkan sebelah alis.

"Atau buat kamu?" Arsenio membalas tenang. Pertanyaan itu nggak menuduh, tapi rasanya seperti cermin yang diletakkan tepat di depan wajah Alinea.

Alinea nggak langsung membela diri. Dia malah berjalan ke arah jendela besar, bersandar di sana sambil menatap kerlip lampu kota yang mulai menyala di bawah. "Aku nggak pernah tumbuh sebagai pusat perhatian," katanya pelan, hampir seperti bisikan. "Jadi, waktu orang-orang mulai dengerin aku... rasanya aneh. Tapi juga... menyenangkan."

Dia menoleh, menatap Arsenio tepat di matanya. "Kalau itu bikin kamu keganggu, bilang aja."

Arsenio terdiam lama. Tatapannya

terkunci pada perempuan di depannya. Ini bukan soal kecemburuan dangkal seorang pria pada saingannya. Ini jauh lebih rumit.

Ini tentang gravitasi yang selama ini stabil, yang tiba-tiba dipaksa berbagi ruang dengan massa kedua yang sama kuatnya.

"Aku terbiasa jadi satu-satunya pusat di sini," aku Arsenio akhirnya. Sebuah kejujuran yang jarang—bahkan mungkin belum pernah—ia biarkan lolos dari bibirnya.

Alinea tersenyum kecil, tipe senyum yang tulus tapi penuh pengertian.

"Dan sekarang orbitnya mulai berubah?"

Alinea nggak mengejek. Alinea cuma sedang memetakan kenyataan baru.

"Kamu takut kehilangan kontrol?" tanya Alinea lagi, suaranya lebih lembut sekarang.

Arsenio nggak menjawab. Dia memilih hening karena sebagian dirinya memang sedang gemetar ketakutan. Bukan takut kehilangan kursi CEO-nya. Bukan juga takut kehilangan hartanya.

Tapi Arsenio takut kehilangan satu hal yang selama ini jadi nafasnya adalah rasa dibutuhkan.

Sore itu, sebuah notifikasi email dari jajaran direksi memutus keheningan.

Subjeknya dingin dan birokratis: Strategic Restructuring Proposal.

Isi dokumennya singkat, tapi setiap kalimatnya terasa seperti ranjau yang siap meledak. Intinya satu: pembentukan posisi baru—Chief Strategy Officer. Dan disana, tertulis satu-satunya nama sebagai kandidat tunggal yaitu Alinea.

Seketika, ruangan luas itu terasa menyempit, seolah dinding-dindingnya perlahan bergerak maju menghimpit mereka berdua.

Logika Arsenio langsung bekerja cepat. Jika ia setuju, struktur kekuasaan di Volt-Tech resmi berubah—ia tak lagi menjadi penguasa tunggal. Tapi jika ia menolak, narasi publik akan liar dan Arsenio akan dicap sebagai pemimpin kolot yang takut tersaingi oleh talentanya sendiri.

Alinea membaca dokumen di layar itu dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Tak ada binar ambisi yang berlebihan, hanya ketenangan yang justru mengintimidasi.

“Kamu nggak harus setuju,” ucap Alinea pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam deru halus mesin pendingin ruangan.

Arsenio menatapnya tajam, mencoba mencari celah. “Kamu mau posisi ini?”

Alinea terdiam. Detik-detik berlalu, menciptakan jeda yang menyesakkan.

“Aku mau diakui karena kerja keras, Senio. Bukan karena aku berdiri di samping kamu,” jawabnya jujur.

Jawaban itu menghantam Arsenio lebih keras daripada mosi tidak percaya dari investor mana pun.

Kejujuran Alinea justru menjadi beban yang paling berat untuk ia pikul. Karena sekarang, setuju atau tidak, posisi itu sudah bukan lagi tentang jabatan—tapi tentang pembuktian siapa yang sebenarnya sedang memegang kendali atas hati nurani masing-masing.

Di luar ruangan, bisik-bisik mulai menjalar seperti kabut tebal di lorong-lorong Volt-Tech.

“Kayaknya kita bakal punya wajah baru,” gumam seorang staf sambil pura-pura sibuk di depan mesin kopi.

Namun, ada juga suara yang lebih tajam, lebih sinis. “Cepat juga ya naiknya. Jalur langit memang beda.”

Alinea mendengar semuanya. Di kantor, ia tetap memakai topeng profesionalnya—tersenyum tipis, menyapa dengan ramah, seolah kata-kata itu hanya angin lalu.

Tapi malamnya, di keheningan apartemen yang dingin, topeng itu luruh. Hanya ada dia dan cahaya biru dari layar ponselnya. Ia terjebak di sebuah forum bisnis, membaca barisan komentar anonim yang tidak punya belas kasihan.

‘Naik karena koneksi.’

‘Direksi sudah kehilangan akal sehat.’

‘Cuma viral sesaat, tunggu saja nanti jatuh sendiri.’

Ibu jarinya berhenti di atas layar. Ia tidak menangis—ia terlalu kuat untuk sekadar air mata—tapi ada rasa sesak yang mulai menjalar di dadanya.

Untuk sesaat, ia membiarkan sebuah pertanyaan yang selama ini ia kunci rapat-rapat muncul ke permukaan:

Kalau bukan karena Arsenio... apakah ia tetap akan sampai di titik ini?

Pertanyaan itu terasa asing dan tidak nyaman. Seperti duri kecil yang menusuk harga dirinya. Sangat manusiawi, namun cukup untuk membuat keberhasilannya terasa hambar seketika.

Keesokan paginya, Alinea kembali. Ia berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk kantor, bahunya kokoh seolah bisik-bisik semalam tak pernah sampai ke telinganya. Tapi kali ini, ia tak lagi melakukannya demi bungkamnya mulut orang lain. Ia melakukannya demi meyakinkan detak jantungnya sendiri.

Arsenio, dari balik dinding kacanya, tak melewatkan satu detail pun. Ia adalah pengamat yang ulung, dan ia menyadari perubahan-perubahan kecil yang mungkin luput dari mata orang biasa.

Cara Alinea bicara sekarang jauh lebih terukur, seolah setiap kata harus melewati filter logika yang ketat. Tawanya pun tak lagi lepas tapi lebih pendek, lebih cepat reda. Ada sekat transparan yang mulai Alinea bangun di sekeliling dirinya.

Seketika, Arsenio merasakan sesuatu yang jauh lebih tajam dan lebih perih dari sekadar rasa cemburu.

Arsenio baru sadar bahwa sorotan media dan ekspektasi board bukan cuma sedang menggeser posisinya sebagai pusat perhatian. Sorotan itu juga mulai meremukkan perlahan sosok Alinea yang ia kenal. Cahaya itu terlalu panas, dan Alinea mulai terbakar di bawahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arsenio tidak yakin ia menyukai kemenangan ini. Ia ingin Alinea diakui, tapi ia tidak pernah ingin melihat "warna" asli perempuan itu memudar hanya karena tekanan untuk menjadi sempurna.

“Kalau aku tanda tangani ini,” Arsenio berucap lirih, suaranya berat karena keraguan yang jarang ia tunjukkan, “kamu nggak akan cuma jadi pusat perhatian. Kamu bakal jadi target.”

Alinea menatapnya tanpa kedip. “Aku sudah jadi target sejak hari pertama aku masuk ke ruangan ini, Senio.”

“Ini beda,” potong Arsenio cepat. “Kali ini mereka akan mencari setiap celah kecil di hidupmu untuk dihancurkan.”

“Semua yang naik pasti bakal jadi sasaran,” jawab Alinea tenang, seolah ia sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri semalam.

“Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal mereka, tapi soal aku—aku siap atau nggak buat nerima dampaknya.”

Nada bicaranya nggak menggebu-gebu karena ambisi. Ia justru terdengar seperti seseorang yang sudah menghitung semua risiko dan siap membayar harganya, semahal apapun itu.

Dan justru itulah yang membuat pertahanan Arsenio goyah.

Bukan karena ia takut bayangannya tertutup oleh sinar Alinea. Tapi karena ia baru sadar bahwa Alinea sedang memilih untuk bersinar di tengah badai, tanpa perlindungan penuh darinya. Ia sadar bahwa posisi itu akan membuat Alinea berdiri di garis depan, di mana ia tidak lagi bisa menariknya ke belakang punggungnya saat serangan datang.

Untuk pertama kalinya, Arsenio benci melihat keberanian itu. Karena keberanian Alinea artinya ia harus melepaskan Alinea ke medan perang yang sesungguhnya.

Arsenio meraih pena di atas meja. Untuk sesaat, benda kecil itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Detik-detik merayap lambat, seolah waktu sengaja memberinya ruang untuk mundur.

Dia punya seribu jalan keluar. Dia bisa menunda keputusan ini dengan alasan teknis, meminta revisi yang tak perlu, atau memutar narasi agar semua tetap dalam kendalinya. Tapi, dia memilih untuk berhenti berperang dengan takdir.

Tanpa drama, tanpa kata-kata besar, ia menggoreskan tanda tangannya di atas dokumen itu. Hanya satu garis tinta hitam yang tajam, namun cukup untuk merombak seluruh pondasi Volt-Tech selamanya.

Alinea hanya berdiri disana, memperhatikannya.

Tidak ada sorak kegirangan. Tidak ada pelukan emosional. Ia hanya mengangguk pelan—sebuah gestur pengakuan yang sangat minimalis.

“Baik,” ucapnya singkat.

Dan justru kesederhanaan reaksi itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih nyata. Di ruangan itu, mereka berdua sama-sama tahu bahwa mulai detik ini, hubungan mereka bukan lagi sekadar atasan dan bawahan, atau bahkan sekadar pria dan wanita.

Mereka sekarang adalah dua kutub yang harus saling menjaga keseimbangan agar dunia di sekitar mereka tidak runtuh.

Hari pengumuman itu tiba tanpa suara terompet, namun efeknya seperti gempa bawah laut.

Email internal terkirim ke ratusan kotak masuk staf Volt-Tech secara serentak. Ucapan selamat mulai membanjiri lorong digital perusahaan.

Sebagian datang dengan ketulusan yang hangat, namun sebagian besar lainnya hanya berupa kalimat formal yang menyembunyikan ribuan tanda tanya.

Di sudut pantry yang biasanya riuh, bisikan-bisikan itu kini lebih tajam.

“Jadi... sekarang siapa pusatnya?”

gumam salah satu staf, menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.

Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa ada satu orang pun yang berani memberi jawaban pasti.

Karena dalam sistem yang kini memiliki dua pusat gravitasi, segalanya berubah. Ini bukan lagi soal ke mana arah tarikan kekuasaan akan bermuara. Ini soal bagaimana seluruh orbit—dari investor hingga staf paling bawah—harus belajar menyeimbangkan diri di antara dua kekuatan yang sama besarnya.

Arsenio dan Alinea.

Dua kutub yang berbeda, kini berbagi langit yang sama.

Dan di luar gedung yang tampak kokoh itu, keseimbangan baru ini baru saja mulai diuji oleh badai yang belum mereka lihat datangnya.

Malam itu, gedung Volt-Tech nyaris kehilangan nyawanya. Hanya ada keheningan yang tersisa di koridor-koridor panjang.

Alinea berdiri terpaku di depan jendela kaca raksasa, menatap hamparan lampu kota yang tampak seperti taburan berlian di bawah sana. “Aku nggak mau kamu merasa tergeser,” ucapnya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang ditujukan pada pantulan dirinya sendiri di kaca.

Arsenio berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sosoknya masih tegap, namun ada sedikit kelembutan di matanya yang jarang terlihat. “Aku tidak tergeser,” jawabnya tenang.

“Kamu yakin?” Alinea menoleh sedikit, mencari kejujuran di balik wajah dingin pria itu.

Arsenio terdiam. Di dalam kepalanya, ia mencoba membedah perasaannya sendiri. Lalu, sebuah pengakuan menyeruak di hatinya—ia menyadari bahwa yang ia rasakan malam ini bukanlah rasa kehilangan. Bukan juga rasa terancam.

Ini lebih seperti adaptasi yang dipaksakan. Rasa pegal karena baru saja melemaskan otot-otot kekuasaan yang selama ini ia tegangkan sendirian.

Arsenio mulai paham satu hal yang paling sulit dalam hidupnya, Bahwa menjadi pemimpin tidak selalu berarti harus berdiri paling depan untuk menghalangi jalan orang lain. Kadang, kepemimpinan yang sesungguhnya adalah membiarkan orang lain mengambil cahaya sepenuhnya, tanpa sedikit pun merasa dirinya menjadi redup.

Sore itu ia tidak kehilangan tahtanya. Ia hanya sedang membagi beban agar bisa berdiri lebih lama.

Di luar sana, mesin opini publik mulai menderu. Judul utama media mulai menghiasi layar-layar ponsel: “Dua Matahari di Volt-Tech: Apakah Ini Awal Era Baru?”

Jajaran direksi hanya mengamati dari balik laporan keuangan. Para investor mulai sibuk menghitung risiko.

Sementara di lantai-lantai kantor, karyawan menebak-nebak siapa yang sebenarnya akan memegang kendali terakhir.

Di tengah badai ekspektasi itu, Alinea berdiri tegak. Ia menyembunyikan campuran rasa bangga dan keraguan yang bergejolak di dalam dadanya. Ia sadar betul satu hal yang tak banyak orang paham—sorotan itu memang hangat, tapi ia juga punya daya untuk membakar habis siapa pun yang tak siap di bawahnya.

Pertanyaannya kini bukan lagi tentang siapa yang berhak menjadi pusat gravitasi.

Melainkan bahwa ketika dua pusat mulai saling tarik-menarik dengan kekuatan yang sama besar, apakah mereka akan menciptakan sistem yang jauh lebih kokoh… atau justru perlahan-lahan saling menjatuhkan tanpa mereka sadari?

Mungkin, ancaman terbesar mereka bukanlah pengkhianatan dari luar atau kecemburuan yang meledak-ledak. Melainkan keraguan kecil—seperti retakan halus pada kaca—yang mulai tumbuh diam-diam di dalam hati masing-masing.

Keraguan yang terus bertanya:

apakah aku cukup kuat untuk berbagi panggung?

Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!