Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden di apartemen, namun kehangatannya tidak sampai kepada Christian.
Ia terbangun dengan perasaan tidak enak yang menghantam dadanya.
Saat tangannya meraba sisi tempat tidur, ia hanya menemukan sprei yang sudah dingin.
"Aruna?" panggilnya, awalnya lembut namun berubah menjadi teriakan panik saat ia memeriksa kamar mandi dan seluruh sudut apartemen.
Dengan tangan gemetar, Christian menyambar ponselnya untuk melacak keberadaan istrinya melalui GPS.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat titik merah itu berada sangat dekat—tepat di dalam kamar ini.
Ia mengangkat bantal Aruna dan menemukan ponsel istrinya tergeletak bisu di sana.
"Sial!" umpat Christian. Ia menyadari Aruna sengaja meninggalkannya.
Aruna hanya membawa dompet dan tasnya, pergi tanpa jejak di tengah kondisinya yang sedang sakit.
"Ke mana kamu pergi, Aruna?"
Sementara itu di dalam rumah tua yang dingin, Aruna perlahan membuka matanya.
Dunianya terasa berputar, dan penglihatannya jauh lebih buruk dari kemarin.
Di depannya, ia melihat sebuah wajah yang sangat samar, hanya siluet kabur yang ia kenali suaranya.
"Mas Akhsan? Kenapa Mas di sini?" tanya Aruna dengan suara parau. Begitu kesadarannya pulih, rasa pahit di hatinya meluap.
"Pulanglah, Mas. Mas pasti sedang menertawakan aku, kan? Melihat aku yang sekarang cacat dan tidak berdaya seperti ini... Pergi, Mas!"
Akhsan tidak beranjak. Alih-alih pergi, ia justru maju dan memeluk tubuh Aruna dengan sangat erat.
Bahu pria itu terguncang hebat, ia menangis sesenggukan di pundak wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya.
"Maafkan Mas, Aruna. Maafkan Mas," isak Akhsan pecah, suara penyesalannya menggema di ruangan yang sepi itu.
Aruna memukul dada bidang Akhsan dengan sisa tenaganya.
Pukulan-pukulan lemah yang dipenuhi rasa sakit hati yang teramat dalam.
Air mata Aruna mengalir deras, membasahi wajahnya yang pucat.
"Aku menyesal karena dulu pernah mencintaimu, Mas!" teriak Aruna dengan suara pecah.
"Aku benci karena pernah memberikan hatiku pada pria yang menyiksaku! Kamu jahat, Mas Akhsan! Kamu menghancurkan duniaku, dan sekarang saat aku sedang di ambang kegelapan, untuk apa kamu datang?!"
Akhsan hanya diam, menerima setiap pukulan dan makian itu.
Baginya, rasa sakit dari tangan Aruna tidak sebanding dengan rasa sakit di kepalanya saat menyadari bahwa ia adalah penyebab penderitaan fisik Aruna sekarang.
Ia terus memeluk Aruna, membiarkan adiknya itu meluapkan seluruh luka yang selama ini terpendam di balik nama Aruna.
Suasana di dalam rumah tua itu berangsur tenang.
Isak tangis Aruna mulai mereda, menyisakan napas yang masih tersengal di pelukan Akhsan.
Aruna melepaskan diri dari dekapan kakaknya, meski tangannya masih sedikit gemetar.
Ia menatap ke arah Akhsan, namun matanya tidak benar-benar fokus pada wajah pria itu.
"Cukup, Mas. Menangis tidak akan mengubah apa pun," ucap Aruna dengan suara yang dingin namun tenang.
Aruna memegang lengan Akhsan, mencengkeramnya dengan kuat seolah ingin memastikan Akhsan mendengarkannya dengan serius.
"Jika Mas benar-benar merasa bersalah, lakukan satu hal untukku. Rahasiakan keberadaanku di sini. Jangan katakan kepada Christian kalau aku ada di rumah ini. Biarkan dia menganggap aku pergi jauh."
Akhsan menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi Aruna, Christian sangat mencintaimu. Dia pasti hancur sekarang. Dan kondisimu ini kamu butuh pengobatan medis."
"Aku tidak peduli!" potong Aruna cepat.
"Jika dia tahu, dia akan membawaku kembali dan memaksaku memilih antara penglihatanku atau bayi ini. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Biarkan aku di sini sampai anak ini lahir."
Aruna menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa pening yang kembali menyerang.
"Sekarang, Mas lebih baik pergi ke kantor. Mas harus kerja agar Christian tidak curiga. Jika Mas tiba-tiba menghilang, Christian akan langsung tahu ada yang tidak beres."
Akhsan menatap wajah pucat adiknya dengan rasa bimbang yang luar biasa.
Di satu sisi, ia ingin menjaga Aruna setiap detik, tapi di sisi lain, ucapan Aruna benar.
Kehadirannya di kantor adalah kunci untuk mengulur waktu agar Christian tidak melacak area pegunungan ini.
"Baiklah," bisik Akhsan akhirnya.
"Mas akan pergi ke kantor. Tapi Mas akan meminta seseorang yang sangat tepercaya untuk mengirimkan makanan dan kebutuhanmu di sini setiap hari secara diam-diam. Dan Mas akan kembali setiap malam setelah urusan kantor selesai."
Aruna hanya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa yang keras.
"Pergilah, Mas. Sebelum dia mulai mencari kita berdua."
Akhsan berdiri dengan berat hati. Sebelum keluar, ia memandangi Aruna sekali lagi—sosok wanita kuat yang kini harus berjuang dalam kegelapan yang diciptakannya sendiri.
Akhsan bersumpah, mulai detik ini, hidupnya hanya untuk memastikan Aruna dan janinnya selamat, meski ia harus berbohong kepada Christian sekalipun.
Akhsan melangkah masuk ke lobi kantor Hermawan Group dengan jantung yang berdegup kencang.
Ia berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tampak tenang dan lelah, seolah ia baru saja menjalani pagi yang biasa. Namun, begitu ia sampai di depan ruangannya, ia mendapati Christian sudah berdiri di sana dengan raut wajah yang mengerikan.
Mata Christian merah, kemejanya sedikit kusut, dan aura di sekelilingnya terasa sangat mencekam.
Begitu melihat Akhsan, Christian langsung menghampirinya dan mencengkeram kerah kemeja Akhsan.
"Apakah kamu tahu di mana Aruna?!" tanya Christian dengan suara yang menggelegar, membuat beberapa staf yang lewat menunduk ketakutan.
Akhsan tertegun sejenak, namun ia segera menepis tangan Christian.
Ia teringat pesan Aruna untuk tetap tenang agar Christian tidak curiga. Akhsan menggelengkan kepalanya dengan perlahan, menunjukkan wajah bingung yang dibuat-buat.
"Aku tidak tahu. Aku baru saja dari rumah, Christian. Ada apa sebenarnya?" tanya Akhsan balik dengan nada datar.
"Kenapa kamu mencarinya di sini? Bukankah dia seharusnya di apartemen bersamamu?"
Christian melepaskan cengkeramannya, lalu meraup wajahnya dengan kasar.
Rasa frustrasi terpancar jelas dari gerak-geriknya.
"Aruna pergi. Dia meninggalkan ponselnya dan membawa tasnya. Dia menghilang sejak semalam atau pagi buta."
Akhsan mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura terkejut.
"Apa kamu bertengkar dengan Aruna? Sampai dia nekad pergi dalam kondisi hamil seperti itu?"
Pertanyaan Akhsan seolah menjadi belati yang menusuk rasa bersalah Christian.
Christian terdiam, ia teringat perdebatannya kemarin soal pemotretan dan bagaimana ia terlalu mengekang Aruna.
"Aku hanya melarangnya bekerja demi kesehatannya," gumam Christian parau. "Tapi aku tidak menyangka dia akan sejauh ini."
Christian menatap tajam ke dalam mata Akhsan, mencoba mencari kebohongan di sana. "Kalau aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Akhsan... aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu. Cari dia! Gunakan semua koneksimu!"
"Aku akan bantu mencarinya," jawab Akhsan tenang, meski di dalam hatinya ia merasa sangat berdosa.
"Tapi sekarang, lebih baik kamu tenang. Jika Aruna ingin bersembunyi, dia pasti punya alasan kuat."
Akhsan berjalan masuk ke ruangannya, meninggalkan Christian yang masih terpaku di koridor.
Begitu pintu tertutup, Akhsan menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang.
Ia berhasil melewati ujian pertama, namun ia tahu, semakin lama ia menyembunyikan Aruna, semakin besar badai yang akan menghantam mereka semua.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat