"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Dexter menceritakan jika dirinya memiliki darah mafia dari kakek buyutnya dan papanya. Sementara sang mama dari keturunan kembar jenius.
Kiandra tertegun mendengarnya. Jadi tidak heran, jika mertuanya itu tangguh dalam bertarung.
"Apa kamu ada hubungannya dengan keluarga Henderson?" tanya Kiandra akhirnya.
"Mama keturunan keluarga Henderson. Sementara aku dan saudara kembar ku mengambil dua nama besar dibelakangnya, yaitu Henderson dan Ramero," jawab Dexter.
Tidak biasanya Dexter berbicara panjang lebar seperti itu. Apalagi, dia saat ini menceritakan keluarganya dan garis keturunannya.
Kiandra menatap Dexter penuh kagum. Tidak salah dia menerima pernikahan ini, walaupun dengan cara nikah paksa. Setidaknya, pria yang menjadi suaminya seorang yang bisa diandalkan.
Mereka tiba di rumah. Pintu gerbang terbuka, dua buah mobil pun masuk. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun keluar dari mobil.
"Mama menginap di sini?" tanya Dexter.
"Tidak, nanti mengganggu kalian." Bukan Arsy yang menjawab, tapi Zio.
Arsy menyikut pelan lengan Zio. Zio hanya melirik sebentar, kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Ara, siapkan makan malam," kata Arsy.
"Baik Nyonya." Ara dan pelayan lainnya pun bersama-sama menyiapkan makan malam untuk mereka.
Karena hari sudah sore ketika ini, jadi mereka pun ingin makan malam di sini. Tidak berapa lama bel pintu berbunyi.
Pelayan dengan cepat membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Denzel dan istrinya.
Sudah setahun mereka menikah, namun hingga saat ini belum juga dikaruniai anak. Arsy selalu menghibur Darlena dan memintanya untuk bersabar ketika menantunya itu terlihat sedih.
Karena kebaikan mertuanya dan keluarga besar suaminya juga kasih sayang Denzel kepadanya membuat Darlena bahagia.
"Kalian sudah datang?" tanya Arsy.
"Iya Ma, setelah mendengar kabar bahwa Dexter membawa istrinya, kita langsung kemari," jawab Denzel.
Darlena dan Denzel menyalami dan mencium tangan Arsy dan Zio. Mata keduanya melihat sekelilingnya, seperti sedang mencari sesuatu.
"Kiandra sedang di kamar," kata Dexter.
Ya, karena Kiandra merasa gerah, jadi dia ingin mandi terlebih dahulu. Nanti dia baru turun lagi, baru berkumpul bersama keluarga suaminya.
Denzel mendekati Dexter dan berbisik. "Bagaimana? Sudah unboxing belum?"
"Sudah ada di genggaman, tidak perlu terburu-buru," jawab Dexter berbisik pula.
"Ya elah, sabar banget sih jadi orang. Ntar, kalau sudah mencoba pasti akan ketagihan."
"Kenapa bisik-bisik?" tanya Zio curiga. Keduanya kompak menggeleng.
Beberapa menit kemudian, Kiandra keluar dari kamar. Dengan pakaian santai, Kiandra berjalan menuruni tangga.
"Ma, Pa," sapa Kiandra. Kemudian dia tersenyum kepada Darlena. Darlena pun membalasnya.
"Kamu Kiandra?" tanya Darlena.
"Iya, aku Kiandra," jawabnya. "Kamu?" tanyanya.
"Darlena," jawab Darlena singkat.
Kiandra melihat seseorang yang begitu mirip dengan suaminya. Kiandra tidak perlu bertanya lagi, sudah pasti itu saudara kembarnya Dexter.
"Aku adiknya Dexter," kata Denzel memperkenalkan diri.
"Oh iya, Dexter ada cerita jika dia memiliki saudara kembar," ucap Kiandra. "Salam kenal ya," sambungnya.
"Nyonya, makan malamnya sudah siap," kata pelayan.
"Iya Bik, terima kasih," ucap Arsy.
Mereka pun ke ruang makan. Di meja makan sudah terhidang makanan yang dimasak oleh pelayan.
Tanpa diminta, Kiandra melayani suaminya dengan mengambilkan nasi. Baru setelah itu dia melayani dirinya sendiri.
Sementara Arsy dan Darlena juga melayani suami mereka masing-masing. Ketika sedang makan, mereka tidak ada yang berbicara.
Karena di keluarga Henderson, di saat makan, mereka memang tidak mengobrol. Jika mereka berbicara paling seperlunya saja.
Dan kebiasaan itu sudah menjadi tradisi turun temurun dari Diva dan Darmendra dahulu. Hingga kini ke anak cucu dan cicitnya.
"Mama dan papa mau menginap?" tanya Denzel. Saat ini mereka kembali ke ruang tamu setelah selesai makan.
"Tidak, sebentar lagi kita akan pulang," jawab Arsy. "Oh iya Dexter, nanti kenalkan istrimu ke keluarga besar kita," tambah Arsy.
"Iya Ma, kapan-kapan akan aku perkenalkan," kata Dexter.
Zio dan Arsy marah dengan perkataan Dexter. Karena kapan-kapan itu bukan sesuatu yang pasti.
"Jangan kapan-kapan. Kamu ini gimana sih?" Arsy jadi sewot mendengarnya. Akhirnya Dexter pun mengiyakan nya.
Sekarang sudah jam tujuh malam. Arsy dan Zio pun pamit terlebih dahulu. Mereka mengatakan, lain kali baru mereka menginap.
Denzel dan Darlena juga memilih pulang. Mereka tinggal di rumah berbeda. Tidak tinggal bersama di rumah orang tuanya.
"Hati-hati di jalan Ma," ucap Kiandra.
"Iya, Ma pulang dulu," ujar Arsy.
Arsy kemudian memeluk Kiandra, mencium pipi kiri dan kanan. Kiandra merasa terharu diperlakukan seperti itu, hingga tanpa sadar air matanya menetes dari sudut matanya.
Kiandra tidak menyangka, jika pernikahan kilat nya bersama pria tua dan lumpuh akan membuatnya bahagia.
Dia diperlukan baik oleh suaminya dan keluarga suaminya. Sebenarnya Kiandra sudah pasrah jika dirinya diperlakukan tidak baik.
"Pulang dulu ya," kata Darlena. Darlena melakukan hal yang sama, yaitu memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Kiandra.
Kiandra dan Dexter pun masuk setelah mobil yang dikendarai oleh Zio dan Denzel menghilang dari pandangan mereka.
"A-apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kiandra. Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar.
Dexter tidak menjawab. Namun, dia terus mencondongkan tubuhnya ke arah Kiandra. Kiandra seorang ketua di dunia bawah.
Namun, ketika berhadapan dengan seorang pria, dia merasa gugup. Apalagi pria itu adalah suaminya. Dan posisi mereka sangat dekat.
"Menjauh lah." Kiandra mendorong tubuh Dexter. Namun, dorongan Kiandra seperti tidak bertenaga.
"Kenapa? Kamu, kan istriku sekarang?"
"Aku belum siap, maaf."
Kiandra tidak berani menatap mata Dexter. Kiandra merasa tidak karuan dibuatnya. Apalagi hembusan nafas Dexter terasa hangat di kulit wajah Kiandra.
*Aku belum siap," ulang Kiandra.
Dexter malah tersenyum. Dia tidak memperdulikan ucapan Kiandra. Malah semakin gencar menggoda Kiandra.
"Aku ingin mandi," bisik Dexter.
Setelah Dexter masuk ke dalam kamar mandi. Kiandra memegangi dadanya yang terasa bergemuruh. Baru kali ini dia merasakan seperti itu.
"Sial, jangan sampai dia melakukannya malam ini," batin Kiandra.
Kiandra menyiapkan pakaian ganti untuk Dexter. Kemudian dia keluar dari kamar itu. Kiandra menemui Ara dan meminta kamar kosong untuk dirinya.
"Nyonya, apa Anda yakin? Bagaimana jika tuan muda marah?" tanya Ara.
"Tidak akan," jawab Kiandra singkat.
Kiandra masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kamar Dexter. Kamarnya juga besar, tidak kalah besar dari kamar Dexter.
Setelah Ara pergi, Kiandra langsung mengunci pintu dari dalam. Kiandra berpikir, jika tidur di kamar yang lain, dia sudah aman.
Jadi Kiandra pun menghempaskan tubuhnya di kasur. Karena terlalu lelah, Kiandra pun akhirnya tertidur.
Sementara Dexter yang baru keluar dari kamar mandi. Dia melihat pakaian yang disediakan oleh Kiandra.
Namun, dia tidak melihat Kiandra ada di dalam kamar ini. Setelah selesai berpakaian, Dexter pun segera keluar dari kamar.
"Ke mana nyonya?" tanya Dexter pada Ara.
"Ee nyonya ...." Perkataan Ara terhenti. Dia tertunduk dan ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja, jangan sampai membuatku marah," kata Dexter.
"Maaf Tuan. Nyonya, nyonya ada di kamar sebelah," ucap Ara sambil tertunduk.
Dia seperti memakan buah simalakama. Tapi demi kebaikannya, dia terpaksa memberitahu tuannya tentang Kiandra.