NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Hadirnya Orang Tak di Kenal

Sore itu, udara terasa sedikit gerah. Abel hanya mengenakan kaus rumahan longgar dan celana kain tipis, rambutnya dicepol asal-asalan karena ia baru saja selesai memandikan Farel. Sambil berdiri di bawah pohon Ketapang kencana yang rindang di taman depan, ia menimang Farel yang sedang asyik menyusu dari botol khusus—rekomendasi dari Arslan untuk mengurangi kolik.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan pagar. Seorang wanita turun dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi nyaring di aspal. Ia mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala hingga kaki, kacamata hitam bertengger angkuh di hidungnya.

"Heh, kamu!" teriak wanita itu dari balik pagar, suaranya melengking tinggi. "Mana majikan kamu? Buka pagarnya sekarang. Saya ada janji sama Reno."

Abel menghentikan ayunan kakinya, ia menoleh dengan tenang. "Mas Reno belum pulang. Ada perlu apa?"

Wanita itu—Bianca, salah satu rekan bisnis Reno yang sudah lama terobsesi padanya—menatap Abel dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. Ia melihat pakaian sederhana Abel yang sedikit terkena noda susu bayi.

"Ya ampun, Reno selera asisten rumah tangganya makin rendah ya? Kamu tuli atau gimana? Saya tanya Reno mana?" Bianca mengibaskan tangannya di depan hidung seolah-olah ada bau tidak sedap. "Dan itu bayinya jangan diajak panas-panasan terus, nanti kulitnya kusam kayak kamu. Dasar baby sitter nggak tahu aturan."

Darah Abel berdesir. Ia sudah kenyang dengan cobaan hidup, dan dihina oleh wanita yang merasa kasta sosialnya lebih tinggi adalah hal terakhir yang ingin ia toleransi hari ini. Abel tersenyum, namun matanya sedingin es.

"Pertama, Mbak yang terlihat sangat 'berkelas' ini sepertinya lupa belajar tata krama dasar. Masuk ke rumah orang itu ada aturannya, bukan teriak-teriak seperti di pasar," sahut Abel tajam, suaranya tetap rendah agar Farel tidak terkejut.

Bianca terbelalak, ia melepas kacamata hitamnya. "Apa kamu bilang? Kamu tahu saya siapa? Saya bisa minta Reno buat pecat kamu sekarang juga!"

"Silakan," balas Abel santai, ia melangkah mendekati pagar tanpa rasa takut. "Minta saja. Tapi sebelum Mbak bermimpi setinggi itu, biar saya luruskan satu hal. Saya bukan baby sitter di sini. Saya yang punya rumah ini, dan saya yang memutuskan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tetap di luar pagar seperti pengemis perhatian."

Abel menatap botol susu di tangannya, lalu kembali menatap Bianca. "Dan soal kulit kusam? Sepertinya Mbak lebih butuh kaca daripada saya. Bedak Mbak kurang tebal, sampai-sampai niat buruk di baliknya saja tidak tertutup."

"Kamu... kamu lancang sekali!" Bianca menunjuk wajah Abel dengan jarinya yang bergetar karena emosi.

"Mbak mau Reno?" Abel tertawa kecil, suara tawa yang meremehkan. "Saran saya, pulang dan belajarlah cara bicara yang manusiawi. Karena di rumah ini, kami tidak menerima tamu yang mulutnya lebih kotor dari keset depan. Silakan pergi sebelum saya panggil keamanan kompleks untuk menyeret mobil mahal Mbak ini dari depan rumah saya."

Suasana di depan pagar rumah keluarga Laurent semakin memanas. Arslan baru saja turun dari mobilnya dengan menjinjing kantong plastik berisi vitamin khusus untuk Farel dan suplemen zat besi untuk Abel—yang ia siapkan secara khusus karena tahu Abel sedang kelelahan.

Melihat Abel yang tengah didekati secara agresif oleh wanita asing yang tampak sangat angkuh, naluri pelindung Arslan langsung bangkit. Ia melangkah cepat, menempatkan dirinya tepat di antara Abel dan Bianca.

"Ada masalah apa di sini?" suara Arslan terdengar berat dan mengintimidasi.

Bianca mendengus, menatap Arslan dari atas ke bawah. "Oh, jadi ini rekan kerja sesama 'pelayan' di rumah ini? Bagus ya, pengasuh dan supirnya sama-sama tidak tahu sopan santun."

Arslan tertawa sinis, sebuah tawa yang meremehkan. "Supir? Sorry, Tante yang sangat terhormat, sepertinya mata tante perlu diperiksa. Kebetulan gue seorang dokter, dan wanita yang sedang tante hina ini adalah pemilik rumah ini. Kalau tante punya otak yang setara dengan harga tas tante itu, tante harusnya tahu kapan harus tutup mulut."

Wajah Bianca memerah padam. "Tante? Kalo ngomong jangan sembarang, ya. Tadi kamu bilang apa? Dokter? Paling cuma dokter gadungan yang mau numpang hidup di keluarga Laurent! Kamu nggak tahu siapa saya? Saya Bianca Alexander, rekan bisnis terpenting bagi Reno!"

"Rekan bisnis?" Arslan maju satu langkah, menatap Bianca dengan tatapan yang membuat wanita itu sedikit mundur. "Kalau gue jadi Reno, nih ya, gue gak akan mau berbisnis dengan orang yang tidak punya kelas seperti tante ini. Menghina seorang ibu yang sedang menjaga anaknya? Itu sangat rendah. Dan satu lagi, kalau tante berteriak sekali lagi di depan bayi ini, gue sendiri yang akan memastikan tante tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di kantor Reno lagi."

"Lo ngancem gue?!" teriak Bianca sedikit ngegas.

"Ini bukan ancaman, ini diagnosa," balas Arslan tajam. "Diagnosa bahwa Tante memiliki masalah kepribadian yang serius. Abel adalah wanita paling terhormat yang gue kenal, jauh lebih berharga daripada semua barang bermerek yang tante pakai sekarang."

Abel tertegun di balik pagar yang belum terbuka. Meski ia bisa membela diri sendiri, melihat Arslan berdiri tegak sebagai tamengnya memberikan rasa hangat yang asing di hatinya.

"Pergi sekarang, atau gue telepon keamanan komplek dan polisi atas dasar perbuatan tidak menyenangkan," ancam Arslan lagi, suaranya dingin dan tidak main-main.

Tepat saat Bianca hendak meluapkan amarahnya kembali, mobil Reno berhenti tepat di belakang mobil Arslan. Reno turun dengan wajah bingung sekaligus tegang melihat kerumunan di depan rumahnya.

Reno keluar dari mobilnya dengan langkah lebar, keningnya berkerut dalam melihat Arslan, adiknya, dan Bianca berdiri dalam formasi konfrontasi di depan gerbang. Suasana begitu tegang hingga tangisan Farel yang tadinya kecil kini pecah karena kaget mendengar suara bentakan.

"Ada apa ini? Bianca, kenapa kamu di sini?" tanya Reno dengan suara berat yang menuntut penjelasan.

Bianca langsung mengubah ekspresinya. Ia memasang wajah terzalimi dan mendekati Reno. "Reno! Untung kamu datang! Lihat, baby sitter kamu dan laki-laki ini benar-benar kurang ajar. Mereka menghina saya habis-habisan padahal saya cuma mau menanyakan jadwal pertemuan kita!"

Reno terdiam, namun matanya langsung beralih ke arah Abel yang sedang berusaha menenangkan Farel dengan wajah yang masih memerah menahan amarah. Kemudian, ia menatap Arslan yang berdiri dengan tangan mengepal.

"Dia bukan baby sitter, Bianca. Dia adik kandungku," ucap Reno dingin, membuat Bianca seketika bungkam.

Arslan tidak membiarkan momen itu lewat begitu saja. Ia melangkah maju ke depan Reno, memberikan tatapan yang sangat tajam. "Dia bukan cuma menghina Abel sebagai pengasuh, Kak Reno. Dia menghina cara Abel mengurus anak, menghina penampilannya, dan berteriak-teriak di depan muka Farel sampai bayi itu ketakutan."

Arslan kemudian menunjuk mobil Bianca. "Gue tahu Kakak peduli sama bisnis Kakak ini, tapi kalau Kakak masih membiarkan wanita semacam ini datang dan menginjak-injak harga diri Abel di rumahnya sendiri, berarti Kak Reno benar-benar gagal jadi seorang kakak."

Kalimat Arslan bagaikan bensin yang menyambar api. Reno menoleh ke arah Bianca dengan tatapan yang sangat mengerikan—tatapan yang biasanya ia gunakan untuk menghancurkan lawan bisnisnya di meja perundingan.

"Reno, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya—"

"Cukup, Bianca," potong Reno dengan suara rendah yang bergetar karena marah. "Kontrak kerja sama antara perusahaan kita yang akan ditandatangani besok? Anggap saja tidak pernah ada. Aku tidak berbisnis dengan orang yang tidak bisa menghormati keluarga pribadiku."

"Tapi Reno, itu proyek miliaran!" pekik Bianca tidak percaya.

"Aku bisa cari miliaran lainnya, tapi aku tidak punya adik lain selain Abel. Pergi dari sini sekarang, sebelum aku benar-benar melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar memutus kontrak," tegas Reno.

Bianca ternganga, wajahnya memucat. Dengan perasaan malu yang luar biasa, ia masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu pergi dari sana.

Setelah Bianca pergi, Reno berbalik ke arah Abel, hendak mengambil Farel dari gendongannya. Namun, Arslan justru lebih dulu menyerahkan plastik vitamin kepada Abel dengan gerakan protektif.

"Masuklah, Bel. Kasihan Farel, dia butuh ketenangan," ujar Arslan lembut pada Abel, mengabaikan Reno sejenak.

Reno menghela napas panjang, kemarahannya pada Bianca kini berganti menjadi rasa canggung pada Arslan. Ia melihat bagaimana Arslan membela adiknya dengan begitu berani.

"Makasih... sudah jagain adik gue tadi," gumam Reno kaku, sebuah pengakuan yang sangat sulit keluar dari mulutnya.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!