Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik
Malam itu mansion terasa lebih tenang dari biasanya.
Tidak ada pembicaraan di sepanjang lorong. Hanya terdengarlangkah pelayan yang sesekali terdengar, lalu kembali menghilang.
Di kamarnya, Elenna berdiri di depan lemari kayu yang sederhana. Ia membukanya dan memandangi deretan gaun polos yang tergantung rapi. Warna-warnanya lembut, putih pudar, biru pucat, abu muda. Tidak ada kain mahal. Tidak ada hiasan berlebihan.
Ia menyentuh salah satu kain dengan ujung jarinya.
Ia tidak merasa terkejut atas keputusan siang tadi. Sejak Marquess membuka pembicaraan tentang Festival Gadis Suci, ia sudah tahu siapa yang akan dipilih.
Tentu saja Lilith, selalu saja dia.
Yang membuatnya sedikit lelah bukanlah keputusan itu, melainkan peran yang diberikan padanya. Belum cukup dia tidak dianggap di keluarga itu, tapi juga harus berpura-pura baik saja dan melayani Lilith secara sukarela.
Ia menutup lemari pelan dan duduk di tepi ranjang. Julukan pendamping terdengar bagus. tetapi ia tahu makna sebenarnya. Ia akan berdiri satu langkah di belakang, memastikan Lilith terlihat sempurna. Membetulkan lipatan gaun, membawa bunga, menunggu perintah tanpa terlihat terlalu mencolok.
Ia sudah terbiasa diabaikan.
Namun, menjadi bayangan secara resmi terasa berbeda.
***
Di sisi lain mansion, Lilith berdiri di depan cermin tinggi di kamarnya. Rambutnya terurai rapi, gaun tidurnya jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Wajahnya tidak lagi menampilkan senyum manis yang biasa ia perlihatkan di siang hari.
Ia menatap bayangannya sendiri.
“Dia tidak terlihat kecewa,” gumamnya pelan.
Suara lain terdengar dari ruangan itu, rendah dan tenang. “Mungkin karena ia sudah terbiasa.”
Lilith tersenyum tipis. “Atau mungkin ia mulai belajar menyembunyikannya.”
“Festival ini besar. Banyak mata yang akan memandang,” suara itu kembali mengingatkan. “Jangan melakukan hal yang mencolok.”
Lilith mengangguk pelan. “Aku tidak akan mencolok. Aku hanya akan membuat semuanya terlihat alami.”
Beberapa saat kemudian, ia meninggalkan kamarnya. Langkahnya berhenti di depan pintu kamar Elenna.
Ia mengetuk pelan.
Di dalam, Elenna sedikit terkejut mendengar suara itu. “Masuk.”
Pintu terbuka. Lilith berdiri sendirian, tanpa pelayan, dan tanpa pengawal.
“Aku mengganggumu?” tanyanya lembut.
“Tidak,” jawab Elenna.
Lilith masuk dan menutup pintu sendiri. Ia melangkah perlahan, memandang sekeliling kamar yang jauh lebih sederhana dibanding kamarnya.
“Aku memikirkan festival tadi,” katanya. “Gaunnya harus sederhana, tetapi tetap elegan. Tidak berlebihan. Tidak terlalu polos.”
Elenna berdiri dengan tenang. “Festival Gadis Suci bukan tentang kemewahan.”
“Karena itu aku ingin kau membantuku,” lanjut Lilith. “Kau lebih peka soal kain dan bunga daripada siapa pun di rumah ini.”
Itu terdengar seperti pujian.
Elenna tidak langsung menjawab, tetapi terdapat jeda singkat sebelum Ia berkata, “Jika itu yang nona inginkan.”
Lilith menatapnya sejenak. “Kau tidak membenciku, bukan?”
Pertanyaan itu terasa aneh.
Elenna menatapnya lurus. “Tidak ada yang perlu dibenci.”
Lilith mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. “Bagus. Aku ingin kita bekerja sama dengan baik.”
Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti sejenak.
“Besok kita ke butik. Aku ingin melihat beberapa pilihan kain secara langsung.”
“Baik.”
Lilith membuka pintu. “Terima kasih, Elenna.”
Pintu tertutup kembali.
Kamar itu kembali sunyi.
Elenna berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Ia tidak merasa marah. Tidak juga sedih berlebihan. Hanya ada rasa lelah yang sulit dijelaskan.
Ia sadar satu hal.
Lilith tidak datang hanya untuk meminta bantuan.
Ia datang untuk memastikan bahwa Elenna akan berdiri di tempat yang sudah ditentukan untuknya.
Satu langkah di belakang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Elenna merasa bahwa perannya bukan sekadar kebetulan.
Ia sedang diarahkan.
***
Keesokan harinya
Butik Madam Roseline berdiri di sudut jalan utama ibu kota, dengan jendela kaca besar yang memantulkan cahaya matahari siang. Kain-kain sutra digantung rapi di balik etalase, warnanya lembut dan mahal, seolah masing-masing menyimpan cerita tentang bangsawan, pesta, dan ambisi.
Kereta keluarga Marquess berhenti tepat di depan pintu. Lilith turun lebih dahulu. Gaun paginya berwarna biru pucat, sederhana tetapi tetap menonjolkan garis anggun tubuhnya.
Alberto turun setelahnya, lalu Louis yang membantu menahan pintu kereta dengan gerakan santai. Elenna keluar paling akhir, membawa kotak kecil berisi catatan ukuran dan beberapa bunga kering yang ia gunakan sebagai referensi warna.
Begitu pintu butik terbuka, lonceng kecil berbunyi nyaring.
“Lady Lilith!” suara seorang wanita paruh baya terdengar hangat. Madam Roseline sendiri melangkah cepat menghampiri. “Sungguh suatu kehormatan Anda datang langsung.”
Lilith tersenyum manis. “Festival Gadis Suci tinggal beberapa hari lagi. Aku ingin semuanya sempurna.”
“Tentu saja. Silakan masuk. Saya sudah menyiapkan beberapa kain terbaik.”
Elenna berjalan beberapa langkah di belakang Lilith. Ia tidak merasa perlu mendekat. Ia tahu posisinya. Di dalam butik, gulungan kain dibentangkan satu per satu. Sutra putih gading. Kain linen halus dengan sulaman tangan. Organza tipis dengan kilau hampir tak terlihat.
“Festival ini menuntut kesederhanaan,” Lilith berkata lembut sambil menyentuh permukaan kain. “Tetapi kesederhanaan yang tetap berkelas.”
Madam Roseline mengangguk cepat. “Tentu. Kita bisa menonjolkan garis potongan, bukan ornamen.”
Louis memperhatikan dengan mata hijau yang tenang. “Saya yakin Lilith akan menjadi yang paling menonjol bahkan tanpa gaun sekalipun.”
Lilith tertawa kecil. “Louis terlalu berlebihan.”
“Tidak,” Louis tersenyum tipis. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Anda akan menjadi gadis paling cantik di sana nanti.”
Alberto menoleh sedikit tajam. “Sejak kapan kalian saling memanggil nama satu sama lain? Lilith memang cantik dari sananya. Gaun hanya pelengkap.”
Lilith dan Louis saling memandang, kemudian saling tersenyum canggung
Nada suaranya terdengar hangat, tetapi ada sesuatu yang tipis dan sulit dijelaskan di sana. Louis tidak membalas. Ia hanya mengangkat alis, lalu kembali memperhatikan kain.
Elenna berdiri dekat meja panjang, memegang satu gulungan kain putih susu. Ia membentangkannya perlahan, memperhatikan bagaimana cahaya jatuh di permukaannya.
“Yang ini,” katanya pelan. “Tidak terlalu mengilap. Jika ditambah sulaman benang perak tipis di bagian lengan, akan terlihat anggun tanpa berlebihan.”
Semua mata tertuju padanya.
Madame Roseline mengamati kain itu. “Pilihan yang sangat tepat.”
Lilith menoleh dan tersenyum. “Aku tahu aku bisa mengandalkanmu.”
Nada itu manis. Terlalu manis.
Saat mereka sedang berdiskusi tentang detail leher dan panjang rok, pintu butik kembali berbunyi. Beberapa gadis bangsawan masuk, tertawa pelan.
“Lilith!” salah satu dari mereka berseru ceria. “Kami mendengar kau akan menjadi perwakilan keluarga.”
Lilith menyambut mereka dengan ramah. “Kabar menyebar cepat rupanya.”
Mata para gadis itu kemudian jatuh pada Elenna.
“Oh… kau juga di sini?” salah satu dari mereka berkata, dengan nada yang terlalu ringan untuk disebut kebetulan.
Elenna menunduk sedikit. “Aku membantu memilih kain.”
“Ah,” gadis lain tersenyum samar. “Betapa baiknya Lady Lilith membiarkan… semua anggota keluarga ikut serta.”
Kata semua terdengar seperti garis tipis yang memisahkan.
Elenna tidak menjawab. Ia hanya kembali merapikan kain di tangannya.
Sementara itu, seorang gadis bergaun merah muda mendekati Lilith dan berbisik sangat pelan di telinganya. Terlalu pelan untuk didengar orang lain.
Wajah Lilith tidak berubah. Ia hanya menatap lurus beberapa detik, lalu mengangguk hampir tak terlihat. Beberapa menit kemudian, Lilith berbalik pada Elenna.
“Elenna, bisakah kau membelikan kue almond dari toko di ujung jalan? Ayah menyukainya. Aku ingin membawanya pulang.”
Permintaan itu terdengar sederhana.
“Tentu,” jawab Elenna tanpa ragu.
Alberto hendak berkata sesuatu, tetapi Louis lebih dulu bersuara ringan. “Jalanan di luar cukup ramai. Tidak perlu khawatir.”
Lilith tersenyum. “Ia hanya pergi sebentar.”
Elenna meletakkan kain itu dan berjalan keluar butik sendirian.