Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Manusia Jelek!
Paula menjerit kaget ketika air baskom menyiram kepalanya. Riasan pucat yang menutupi wajahnya langsung luntur, menampakkan ekspresi panik yang tak bisa ia sembunyikan.
Charls pun terperanjat—namun keterkejutannya lebih cepat berubah menjadi amarah. Begitu melihat pakaian formalnya basah, wajahnya menggelap.
“Siapa! Siapa yang berani menyiramkan air padaku?!” teriaknya, suaranya memantul di ruang utama aula kastil.
Ia mendongak, matanya mencari-cari pelaku. Di atas sana, berdiri seorang gadis dengan rambut tergerai dan kulit pucat, memegang baskom kayu yang kini hanya tersisa tetesan air di dalamnya. Tatapannya dingin—terlalu tajam untuk wajah gadis muda yang tampak belum lama meninggalkan masa remaja.
Untuk alasan yang tidak ia pahami, Charls sempat terdiam. Mata gadis itu … tampak familiar.
Dan sebelum ia bisa memproses sepenuhnya—bruk!—baskom kayu itu melayang dan menghantam kepalanya.
Lemparan itu cepat dan tepat. Meskipun baskomnya tidak terlalu berat, tetap cukup untuk merobek sedikit kulit di kepalanya.
“Arghh!” Charls terhuyung, kehilangan keseimbangan, dan jatuh tepat menimpa Paula yang baru berusaha menopangnya.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga semua orang terlambat bereaksi. Para tamu yang sebelumnya bosan kini terpaku. Mereka ternganga lalu menutup mulut menahan seruan. Bahkan Erica mematung, wajahnya pucat karena syok.
“Non—nona Muda … ini—ini …!” Erica tergagap. Tamatlah riwayatku sebagai pelayan! Pikirnya dengan panik.
Para tamu mengalihkan pandangan ke arah Beatrice. Gadis itu berdiri tegap di belakang pagar mezanin lantai dua, tanpa rasa gentar sedikit pun. Wajahnya memang sedikit pucat karena baru pulih dari sakit. Dan gaun santai yang dipakainya jelas menunjukkan ia belum lama bangun dari tempat tidur.
Hanya sedikit orang yang pernah melihat putri Duke Vassal secara langsung. Begitu menyadari siapa yang berdiri di atas sana, tatapan mereka berubah—antara kagum dan cemas.
Charls yang kini naik pitam, berdiri tersendat sambil menyentuh luka di kepalanya. Ia tidak peduli pada Paula yang tersungkur di lantai. Melihat darah di antara jarinya, ia menatap ke atas.
“Sial! Gadis dari keluarga mana kamu?! Tidakkah kamu tahu siapa aku?!” Suaranya menggema, dipenuhi ancaman.
Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa gadis itu adalah putri Duke Vassal yang sakit-sakitan. Sorot tajam di mata Beatrice terlalu kuat, tidak seperti seseorang yang hampir kehilangan nyawa.
Namun Beatrice tidak gentar. Tatapannya menusuk balik, dingin dan penuh ejekan—seperti seseorang yang sama sekali tidak memedulikan ancamannya.
“Hei, dasar manusia jelek! Nona Muda ini yang harusnya bertanya padamu. Siapa kamu sampai berteriak-teriak seperti bebek kawin di jamuan ulang tahun ayahku?”
Nada suara Beatrice memang terdengar lemah, tetapi setiap ucapannya mengandung ejekan yang menusuk. Beberapa tamu undangan yang mendengarnya menutup mulut dengan kipas atau tangan mereka, berusaha keras menahan tawa. Tidak ada yang pernah begitu terang-terangan menyamakan suara Charls dengan bebek kawin—meskipun, diam-diam mereka setuju.
Charls memang tidak tampan. Suaranya pun kasar, serak dan cukup mengerikan untuk membuat anak kecil menangis. Namun sejauh ini, tidak seorang pun berani mengatakannya langsung ke wajahnya. Marquis Kyron boleh lemah dan sombong, tapi ia bukan orang yang mudah dilupakan ketika menaruh dendam.
Hanya Beatrice—gadis yang selama ini dianggap sakit-sakitan—yang mampu menyerangnya secara frontal. Ini benar-benar luar biasa.
“You—!” Charls menunjuk ke arah Beatrice, wajahnya merah padam. “Berani sekali! Dasar gadis tidak tahu malu! Kamu pasti simpanan salah satu tuan muda di kastil ini!”
Bagi Charls, mustahil gadis itu adalah putri Duke Vassal. Semua orang tahu anak perempuan Leonidas terlalu rapuh untuk berdiri lama, apalagi mengangkat suara.
Entah sejak kapan, Beatrice melepas salah satu sandal rumahnya. Gerakannya cepat dan alami—seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menghadapi masalah tersebut. Ia melemparkan sandal itu dengan bidikan sempurna.
Pak!
“Ugghh!” Untuk kedua kalinya, Charls goyah dan jatuh terduduk. Para tamu langsung terdiam, terpaku melihat bagaimana Marquis Kyron diperlakukan seperti anak kecil yang ditampar ibunya.
“Kamu bahkan berani memfitnah kakakku!” ujar Beatrice kesal, alisnya sedikit terangkat. Apa penulis benar-benar membuat karakter Charls ini tanpa otak? batinnya.
Dulu—sebelum ia datang ke dunia novel ini—Beatrice adalah seorang kultivator dari zaman Tiongkok kuno. Ia mencapai pencerahan dan naik ke Alam Dewa. Di sana, ia telah menjelajahi berbagai dunia kecil seperti dunia kuno, zaman modern hingga dunia Eropa abad pertengahan.
Namun pada suatu hari, ia terjebak di Alam Dewa abad pertengahan Eropa . Ketika akhirnya Dewa Kehidupan menawarkan jalan keluar, ia hanya bisa menjadi Beatrice Nuo Vassal.
Dan sekarang, ia berdiri di tengah aturan kekaisaran yang mana kekuasaan lebih kuat dari moralitas, pria melompat-lompat seenaknya dan wanita diharapkan tunduk tanpa suara.
Tidak mungkin mengikuti aturan konyol itu, pikir Beatrice. Jika dunia ini rusak, maka seseorang harus meluruskan plotnya.
Beatrice menyilangkan tangan di dada dan menatap Charls. “Kenapa? Kamu kenal aku sekarang?”
“Kamu—! A-apakah kamu Beatrice Nuo Vassal?” Charls menyentuh dahinya yang memerah karena lemparan sandal. Ia tampak lebih bingung daripada marah.
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Tidak mungkin! Bukankah anak perempuan Duke Vassal sakit keras dan hanya berbaring di tempat tidur?” Charls tetap membantah realitas yang ada di depannya.
“Sakit keras bukan berarti tidak bisa sembuh,” kata Beatrice ringan. “Aku hanya sedang memulihkan diri.”
Ia menuruni anak tangga dengan tenang, tidak terburu-buru. Setiap langkahnya memantulkan rasa percaya diri. Baru ketika ia tiba di lantai bawah, Beatrice benar-benar bisa menilai wajah Paula dan Charls dari dekat.
Paula tampak pucat dan menggigil. Membuatnya tampak seperti anjing basah yang keluar dari parit. Anak rambutnya menempel di dahi, membuatnya terlihat jauh berbeda dari citra anggun yang selalu ia bangun di depan umum.
Beatrice menyentuh dagunya, memandang Paula dengan santai seakan menilai barang antik yang retak. “Sebenarnya kamu tidak terlalu cantik,” katanya jujur. “Kamu hanya beruntung karena selera Marquis Kyron itu unik.”
Paula menggigit bibir bawahnya dalam-dalam. Ia mampu menampilkan kelemahan palsu di depan semua orang demi menjebak Alicia. Namun ejekan Beatrice menusuk lebih dalam daripada yang ia duga.
Beraninya gadis sakit-sakitan itu menghina dirinya di depan semua tamu bangsawan!
Paula belum pernah melihat sosok Beatrice di kehidupan sebelumnya. Namun begitu menatap gadis berambut almond-blonde itu, ia langsung yakin—ini pasti Beatrice Nuo Vassal. Kemiripannya dengan Marionne, Duchess Vassal, terlalu jelas untuk disangkal.
“Saya—saya tidak bermaksud apa-apa,” ucap Paula, berusaha menempatkan nada suaranya setengah terluka. “Saya hanya merasa dianiaya sebelumnya. Ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Muda Marquis atau Nyonya Muda Marchioness.”
Beatrice menatapnya datar dan memutar bola matanya seolah mendengar kebodohan paling klise di dunia.
“Tentu saja tidak ada hubungannya,” jawabnya tenang. “Kamu sendiri yang membuat masalah itu. Tidak ada yang memintamu berdiam di taman kota sepanjang malam. Kamu berdiri di sana sendirian seperti orang bodoh. Jadi sekarang, siapa yang ingin kamu salahkan?”
Ia tahu persis penyebab kekacauan malam ini—insiden beberapa hari lalu ketika Paula jatuh sakit dan menangis di hadapan Charls. Semua dimulai dari surat palsu yang konon dikirim Alicia, meminta bertemu di taman kota untuk berdamai.
Dengan kepintaran yang setipis kulit bawang, Charls langsung mempercayai cerita itu mentah-mentah. Tentu saja ia percaya—otak lelaki itu seperti terjepit pintu sejak lahir.
Paula tersedak, “Tidak—! Saya—”
Sebelum ia sempat memuntahkan kebohongan dengan suara lembutnya, Beatrice memotong ucapannya lebih dulu.
“Kenapa kamu tidak membawa adik perempuan yang kamu suruh meniru tulisan tangan Marchioness Kyron itu ke pesta?” ucap Beatrice, nada suaranya manis tapi tajam seperti pisau. “Dengan uang darimu, dia pasti bisa membeli gaun pesta yang layak. Atau … haruskah aku undang dia sendiri lain waktu?”
Wajah Paula langsung kehilangan warna. Ekspresi manis-pura-pura yang ia bangun runtuh dalam sekejap, berganti kepanikan murni. Bagaimana bisa gadis sakit-sakitan itu tahu? Tidak mungkin—tidak mungkin informasi itu bocor!
Beatrice berbicara tanpa terlihat berbohong. Dan itu membuat Paula lebih ketakutan daripada jika ia sekadar memfitnah.
Sejauh mana yang dia ketahui? Pikir Paula dengan bulu kuduknya serasa berdiri.
Untuk pertama kalinya malam itu, Paula benar-benar kehilangan kata-kata.