Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak yang Semakin Dalam
Pagi setelah kabur dari gudang nomor 47 terasa lebih berat dari biasanya. Raito terbangun dengan tubuh kaku, luka di lengan dan rusuk sudah mulai mengering tapi masih perih setiap kali bergerak. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang cermin kecil di dinding kamar penginapan baru mereka. Wajahnya tampak lebih tua—bukan karena usia, tapi karena garis-garis kelelahan dan tekad yang mulai mengeras di sudut mata.
Mira sudah bangun, sedang membersihkan pisau di meja kecil. Dia tidak bicara banyak sejak malam tadi—hanya sesekali melirik Raito dengan tatapan yang sulit dibaca: campuran khawatir dan bangga.
“Kamu tidur?” tanya Mira tanpa menoleh.
“Sedikit,” jawab Raito. “Mimpi lagi. Kilatan putih, portal, dan bisikan yang sama: ‘Jangan padam’. Seperti… peringatan.”
Mira meletakkan pisau. “Mungkin itu bukan mimpi. Mungkin itu sisa dari apa yang membawamu ke sini. Atau mungkin hanya trauma yang muncul karena kemarin kita hampir mati.”
Raito menggeleng pelan. “Aku nggak takut mati lagi. Aku takut kalau cahaya ini padam sebelum aku tahu jawabannya.”
Mira berdiri, mendekat, dan duduk di sebelahnya. “Kemarin kamu selamatkan aku. Gelombang cahaya itu… itu bukan Hatsu biasa. Itu seperti kamu pakai emosi untuk perkuat aura. Tapi hati-hati. Nen yang lahir dari emosi bisa jadi kuat, tapi juga bisa menghancurkan pemakainya kalau nggak dikontrol.”
Raito memandang telapak tangannya. Dia coba panggil Inner Light—cahaya kecil muncul lagi, tapi kali ini terasa lebih berat, seperti ada beban tak terlihat di dalamnya. “Aku merasa… cahaya ini mulai berubah. Dulu hangat dan ringan. Sekarang seperti ada sesuatu yang dingin di dalamnya.”
Mira mengangguk. “Itu efek dari pertarungan kemarin. Kamu pakai Nen untuk lindungi orang lain—itu bagus. Tapi kalau kamu pakai terlalu sering tanpa istirahat, aura-mu bisa retak. Bisa muncul ‘retak emosional’—Nen yang mulai tercemar oleh rasa takut, marah, atau penyesalan.”
Raito diam. Dia ingat saat gelombang cahaya meledak di gudang—rasa hangat yang tiba-tiba terasa dingin di ujungnya, seperti ada bayang yang menyusup.
Hari itu mereka tidak ke arena. Mira memutuskan istirahat penuh—tidak latihan, tidak keluar. Mereka pesan makanan dari warung bawah: nasi goreng dan teh manis. Sambil makan, Mira cerita lebih banyak tentang masa lalunya.
“Aku dulu bagian dari unit tentara bayaran di perang kecil di negara tetangga. Kami dibayar untuk bunuh, lindungi, atau hancurkan. Aku selamat karena aku belajar satu hal: jangan percaya siapa pun sepenuhnya. Bahkan teman bisa jadi musuh kalau harganya cukup tinggi.”
Raito mendengarkan. “Kamu percaya aku?”
Mira tersenyum tipis. “Kamu beda. Kamu nggak punya agenda selain cari jalan pulang. Dan kemarin… kamu nggak tinggalkan aku. Itu cukup buat aku percaya sementara.”
Mereka diam sejenak. Lalu Mira lanjut. “Shadow Serpent bukan mafia besar, tapi mereka pintar. Mereka punya orang di arena, di pasar gelap, bahkan mungkin di Heavens Arena management. Kalau mereka tahu Eclipse Stone bisa buka portal, mereka akan pakai kamu sebagai kunci—atau hilangkan kalau kamu tolak.”
Raito mengangguk. “Jadi kita harus cari Eclipse Stone dulu. Sebelum mereka.”
Mira menggeleng. “Terlalu berisiko. Kita butuh lebih banyak info. Aku punya kontak lama—seorang pedagang informasi bernama Sera. Dia netral, bayarannya mahal, tapi dia tahu segalanya tentang barang langka di Yorknew.”
Mereka memutuskan bertemu Sera malam itu. Tempat pertemuan: kafe kecil di pinggir distrik hiburan, tempat yang ramai cukup untuk bersembunyi tapi tidak terlalu berisik.
Malam tiba. Raito dan Mira duduk di pojok kafe, memesan kopi hitam. Sera datang tepat waktu—wanita berusia sekitar 25, rambut pendek coklat, mengenakan mantel panjang hitam dan kacamata tipis. Dia duduk tanpa salam, langsung ke inti.
“Eclipse Stone,” katanya pelan. “Aku tahu siapa yang jual. Pedagang bernama Harlan, dari kelompok kecil di bawah tanah. Batu itu asli—dari Dark Continent, Zona Retak Cahaya. Bisa buka portal kecil ke ‘tempat lain’, tapi butuh pengorbanan: darah dari orang yang punya Nen kuat, atau jiwa seseorang yang terikat emosi dengan pemakai.”
Raito menelan ludah. “Cara pakainya?”
Sera tersenyum tipis. “Ritual sederhana: teteskan darah ke batu, fokuskan niat, lalu aura pemakai akan buka celah. Tapi kalau niatnya nggak murni—atau kalau pemakai nggak cukup kuat—portal akan makan pemakainya. Banyak yang hilang begitu saja.”
Mira bertanya. “Shadow Serpent tahu tentang ini?”
Sera mengangguk. “Mereka sudah bidik batu itu sejak dua minggu lalu. Mereka mau pakai untuk buka rute perdagangan gelap ke dunia lain—senjata, obat, atau bahkan manusia. Kalau mereka dapat batu dan kamu, mereka bisa paksa kamu jadi ‘kunci hidup’.”
Raito diam. “Kita harus ambil batu itu dulu.”
Sera tertawa kecil. “Kalian nggak punya 5 juta jenny. Dan Harlan nggak jual ke sembarang orang. Dia butuh bukti kekuatan—pertarungan di arena bawah tanah besok malam. Pemenang dapat kesempatan bicara dengannya.”
Mira memandang Raito. “Kamu siap?”
Raito mengangguk. “Aku harus. Kalau nggak, Shadow Serpent akan dapat batu itu, dan aku nggak akan pernah pulang.”
Sera memberikan alamat arena bawah tanah—tempat ilegal di bawah gedung tua. “Hati-hati. Di sana nggak ada aturan Heavens Arena. Bisa mati.”
Mereka keluar kafe. Di jalan, hujan mulai turun lagi—gerimis dingin yang membuat Yorknew terasa lebih suram.
Raito memandang langit. “Besok malam… aku harus menang.”
Mira meletakkan tangan di bahunya. “Kita menang. Bersama.”
Tapi di dalam hati Raito, retak mulai terasa lebih dalam. Cahaya di dadanya masih hangat, tapi sekarang ada bayang dingin yang mulai menyusup—bayang ketakutan bahwa kalau dia gagal, bukan cuma dia yang hilang, tapi orang-orang di sekitarnya juga.
Malam itu, dia latihan sendirian di kamar—Inner Light dibentuk jadi sinar tajam, bola hangat, gelombang pelindung. Setiap gerakan terasa lebih berat, lebih melelahkan. Retak emosional mulai terasa: setiap kali cahaya muncul, ada suara kecil di kepala yang berbisik, “Kalau kamu gagal, Mira mati. Kalau kamu gagal, kamu nggak pernah pulang.”
Raito hentikan latihan. Dia duduk di lantai, memeluk lutut.
Mira masuk kamar, melihatnya. Dia duduk di sebelah tanpa kata, hanya diam menemani.
Raito akhirnya bicara pelan. “Aku takut cahaya ini padam.”
Mira menjawab. “Kalau padam, kita nyalakan lagi. Bersama.”
Raito mengangguk. Cahaya kecil muncul di telapak tangannya—lemah, tapi tidak hilang.
Besok malam, arena bawah tanah menunggu. Dan konflik semakin dalam—bukan cuma pertarungan fisik, tapi pertarungan melawan retak di dalam dirinya sendiri.