menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 pertarungan jiwa
Saka dewasa menelan ludah. Di depannya, versi remajanya yang penuh amarah—sebut saja Saka Muda—berdiri dengan napas memburu. Lorong itu terasa sempit, pengap, dan berbau karat, persis seperti memori kematian yang selalu menghantuinya.
"Kamu pikir kamu pahlawan?" Saka Muda berteriak, suaranya bergema di dinding-dinding imajiner 'Celah' tersebut. "Kamu datang dari masa depan, mengambil tubuhku, mengambil perhatian Anita, dan merasa bisa mengatur hidupku? Kamu hanya pengecut yang lari dari kematianmu sendiri!"
Saka dewasa mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan. "Aku tidak mencuri hidupmu, aku menyelamatkannya! Kalau aku tidak masuk ke tubuhmu, kamu akan tetap menjadi sampah jalanan dan berakhir mati di lorong ini sendirian!"
"Lebih baik aku mati sebagai diriku sendiri daripada hidup sebagai boneka dari masa depan!" Saka Muda menerjang.
Pertarungan itu tidak terhindarkan. Ini bukan sekadar perkelahian fisik; setiap pukulan yang mendarat di tubuh Saka Muda juga dirasakan oleh Saka dewasa di bagian tubuh yang sama. Ketika Saka dewasa memukul rahang versi remajanya, ia merasakan giginya sendiri bergetar. Mereka adalah satu jiwa yang terbelah oleh waktu.
Saka Muda sangat liar. Ia menyerang dengan kebencian murni, sementara Saka dewasa bertarung dengan teknik dan ketenangan seorang pria yang telah melihat pahitnya dunia. Namun, di tempat ini, emosi adalah senjata yang lebih tajam daripada pisau.
Bugh!
Saka dewasa tersungkur saat memori tentang kegagalannya di masa depan diproyeksikan secara paksa oleh Saka Muda ke dalam pikirannya. Ia melihat bayangan Anita yang menangis di pemakamannya, ia melihat ibunya yang jatuh miskin.
"Lihat betapa tidak bergunanya kamu!" Saka Muda menghunuskan pisaunya ke arah dada Saka dewasa. "Kamu ingin menyelamatkan Anita? Kamu bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri!"
Saat mata pisau itu hanya berjarak beberapa senti dari jantungnya, Saka dewasa tiba-tiba berhenti melawan. Ia melepaskan kepalan tangannya dan membiarkan pisau itu menyentuh kulitnya.
"Kamu benar," bisik Saka dewasa. "Aku memang gagal. Dan aku minta maaf karena telah merampas masa remajamu."
Saka Muda tertegun, tangannya gemetar.
"Tapi dengarkan aku," lanjut Saka dewasa dengan suara bergetar. "Anita sedang sekarat di sana karena keberadaanku. Jika kamu ingin hidupmu kembali, ambil sekarang. Tapi berjanjilah satu hal: Jangan biarkan dia mati karena kebodohan kita. Jadilah pria yang lebih baik dari aku."
Saka dewasa menarik tangan Saka Muda, memaksa pisau itu menembus dadanya sendiri. Ia memilih untuk "mati" di dalam Celah agar jiwa aslinya bisa kembali.
CRAAAK!
Dunia di sekitar mereka retak seperti kaca yang pecah. Cahaya putih yang menyilaukan meledak kembali.
Rumah Sakit, 2014.
Saka terbangun dengan napas tersedak. Ia menoleh ke arah mesin EKG yang berbunyi nyaring. Dokter Aris tidak ada di sana. Ruangan itu tampak normal.
Saka segera memeriksa tangannya. Tidak ada kerutan usia. Ia merasa... berbeda. Ada kemarahan remaja yang tersisa, tapi ada kebijaksanaan pria dewasa yang tertanam jauh di dalam sanubarinya. Jiwa mereka telah menyatu, bukan lagi saling mengusir.
"Anita!" Saka melompat dari tempat tidur, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.
Ia berlari keluar menuju ruang IGD, tempat ia melihat kain putih tadi. Saat ia sampai di sana, ia melihat seorang gadis sedang duduk di kursi tunggu dengan kaki yang dibalut perban, sedang menangis sesenggukan.
"Anita?"
Gadis itu menoleh. Itu Anita. Dia hidup.
"Saka!" Anita berdiri tertatih-tatih dan langsung memeluk Saka. "Aku... aku tadi mau beli bubur buat kamu, tapi ada motor ngebut. Untungnya aku cuma jatuh ke trotoar, tapi aku takut banget kamu kenapa-napa karena aku kelamaan..."
Saka memeluk Anita erat, sangat erat hingga ia bisa merasakan detak jantung gadis itu. Ia menangis lega. Paradoks itu telah dipatahkan. Pengorbanan jiwanya di dalam 'Celah' telah membayar hutang nyawa tersebut.
Namun, di ujung koridor rumah sakit yang ramai, Saka melihat sosok pria bersetelan hitam sedang berdiri. Dokter Aris—atau siapa pun dia—mengangkat jam sakunya dan memberikan hormat kecil dengan topinya sebelum akhirnya berjalan menembus dinding dan menghilang.
Di tangan Saka, tiba-tiba muncul sebuah luka parut kecil berbentuk detak jam di pergelangan tangannya. Sebuah pengingat bahwa waktu telah memberinya kesempatan terakhir, dan harganya adalah ia kini menjadi penjaga keseimbangan garis waktunya sendiri.
"Ayo pulang, Nit," bisik Saka. "Aku nggak akan pernah biarin kamu sendirian lagi. Kali ini, beneran."