Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKSUDNYA ?
Entah bagaimana Rico menghentikan komplain ibu itu, namun yang jelas setelah ia berbisik pada wanita paruh baya itu. Tanpa basa basi ia meninggalkan kantor itu dengan wajah yang masih menahan marah. Pandangan Rico langsung tertuju pada Deya yang masih menyisahkan bulir air di bulu matanya.
Tanpa berbasa-basi Rico segera menarik tangan Deya dan membawanya keluar dari kantornya, kejadian itu berlangsung cukup singkat hingga orang-orang yang berada dalam ruangan itu tak diberi kesempatan hanya untuk sekedar membuka mulutnya.
Rico mendudukkan Deya di samping kemudinya, dengan segera mobil yang dikendarainya meninggalkan tempat parkir. Bahkan akal sehat Deya sendiri belum bisa menangkap apa yang terjadi pada dirinya. Sepanjang jalan yang dilalui Deya hanya diam membisu, ia tak berniat berbicara sepatah kata pun, rasanya ia masih cukup malu hanya untuk membela diri. Perkataan wanita paruh baya itu masih jelas di telinganya bahkan membenak di pikirannya.
“De.” Panggil Rico yang sibuk dengan jalan di depannya.
Deya tidak merespon apa-apa, ia masih memilih untuk menatap keluar dari balik kaca mobil.
“Dee.”
“Ha, iyaa. Kenapa ?”
Berjarak hanya beberapa centi dengan Deya membuat Rico semakin jelas melihat bekas air mata yang mulai mengering. Deya hanya menatap sendu dengan raut wajah yang dibuat sekaan ia baik-baik saja.
“Kemana kita ? Ini masih jam kerja ku. Nanti aku akan dimarahi atasan karena keluar di jam kerja.” Jelas Deya, saat kesadaran mulai menguasai dirinya.
Rico tidak menjawab, namun memilih mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. “Pak, aku membawa staff mu sampai jam istirahat berakhir.” Ucapnya pada orang diseberang telepon setelah berbasa-basi lebih dulu.
“Kamu ? Kamu gimana caranya tiba-tiba sudah dikantor ku. Bukankah kamu yang bilang akan kembali dalam beberapa hari ?” Tanya Deya dengan sedikit memicingkan matanya.
“Pesan itu kan sudah beberapa hari yang lalu De.” Jawab Rico dan menyerahkan sekotak tissue pada Deya.
“Aku tidak tahu selera mu De, tapi aku membawakan mu ini.” Rico memberi sebuah paper bag dengan kotak kado di dalamnya.
Seulas senyum tersemat di bibir Deya dan menampilkan cekungan di kedua pipinya.
“Terima kasih.” Ucapnya tulus. “Kenapa kamu repot-repot membawakan hadiah. Kamu kembali seperti kamu pergi itu sudah lebih dari cukup.”
Kalimat itu terlontar dari mulut Deya begitu saja.
Rico hanya melirik sekilas pada gadis yang di sampingnya, seolah kalimat itu tak cukup berarti. Tetapi sungguh jauh dalam hatinya, Rico sedang berbunga-bunga bahkan kebun bunga dalam hatinya sedang bermekaran bersamaan.
“Boleh aku buka ?” Tanya Deya yang masih sibuk memperhatikan kotak kado tersebut.
“Silahkan, semoga bisa sedikit mengobati kesedihan mu hari ini.”
Dengan perlahan Deya mulai membuka kotak kado di pangkuannya. Matanya membulat sempurna saat melihat kotak musik dengan sebuah boneka ballerina yang berdiri anggun, dalam bingkai kaca itu terlihat beberapa tangkai Dandelion di dasarnya.
“Lucu banget.” Lirihnya senang, kemudian ia memutar tangkai besi di samping kotak tersebut. Mobil itu kini dipenuhi alunan musik klasik. Ballerina itu berputar lambat dan Dandelion yang berada di dasar kotak perlahan terangkat seperti tertiup angin.
“Mirip kamu kan itu ?” Tanya Rico dengan wajah yang ikut senang melihat ekspresi Deya.
“Kok mirip aku ? Aku kan nggak bisa balet.”
“Kecilnya.” Jelas Rico yang di iringi dengan senyum lebar.
Deya hanya menatapnya kesal dan kembali fokus pada kotak musiknya.
***
Deburan yang menghampiri pantai siang itu, menjadi pemandangan bagi mereka berdua.
“Masih kepikiran ?” Tanya Rico yang menyodorkan sebuah kelapa ke hadapan Deya.
Helaan nafas terdengar berat sebelum menjawab pertanyaan itu. “Aku nggak ngerti, padahal sudah jelas-jelas ada himbauan untuk mengecek kembali sebelum meninggalkan meja. Namun ibu itu tak peduli.” Jelasnya dengan mata yang mulai menganak sungai.
Rico tak berbicara sepatah katapun, ia memberikan waktu pada Deya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik dan tak mengalihkan pandangan pada Deya yang sibuk menatap deburan ombak.
“Aku kaget bukan main, saat ibu itu mengatakannya. Aku seperti dipermalukan di depan umum. Seolah apa yang di tuduhnya benar-benar terjadi. Aku malu, aku ingin menangis saat itu juga, namun itu akan menunjukkan sisi lemah ku. Aku bahkan ingin melontarkan kata-kata kasar padanya. Andai tak ingat kalau aku di gaji karena melayaninya dan beliau lebih tua dari pada aku.” Jelasnya di iringi dengan senyum singkat yang sarat luka.
“Saking asyiknya kamu kerja sampai tak menyadari aku sedang berada di kantor mu dan tak membaca pesan ku.”
Deya melirik dengan ekor matanya. “Kapan kamu mengirimi ku pesan ?”
“Coba saja cek ponsel mu.” Ucap Rico yang mengalihkan pandangannya pada Deya.
Seketika Deya langsung menyadari bahwa dia tak membawa apa-apa, ia hanya membawa dirinya sendiri.
“Ponselku, dompetku.” Ucapnya gelagapan.
Melihat raut wajah cemas Deya membuat Rico tersenyum puas, seolah berhasil mengerjai Deya.
“Astagaaa.” Ucapnya kemudian.
Rico hanya mengangkat bahu seperti acuh tak acuh.
“Awas kamu tinggalin aku di sini.”
“Memangnya kenapa mbak gigi Singa ?”
“Gigi Singa ? Apa maksud mu ?”
“Iya itu, gigi Singa. Memangnya kamu kira apa maksudku ?”
“Kamu anggap aku sebagai salah satu bagian dari tubuh binatang buas ?” Tanya Deya yang kini bersiap untuk mengangkat kelapa muda di depannya.
“Eh eh eh, mau ngapain ?” Rico mengambil ancang-ancang untuk menjauh. “Kamu nggak mau kan pulang sendiri atau jika kamu melemparku dengan itu aku terluka. Mau kamu yang bawa mobilnya ? Kalau kamu mau sih dengan lapang hati aku terima lemparan itu, aku tak akan menghindar sedikit pun.” Tawar Rico dengan antusiasnya.
Deya hanya mencebikkan bibir. “Ayo balik.” Ajaknya dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
Rico pura-pura meraba kantongnya, seperti mencari sesuatu, wajah panik mulai ia tampakkan.
“Kenapa ?”
“Dompetku De.”
Mata deya membulat sempurna, gadis itu terlihat kebingungan. “Ini bayarnya gimana ?” Ucapnya sambil meringis karena ia juga tak membawa uang sepeserpun.
Mencari sesuatu yang melekat pada dirinya, berharap menemukan barang berharga yang bisa dijadikan jaminan untuk beberapa saat. Paling tidak hingga sore nanti. “Aaa, ini ada cincin dan jam tanganku. Kita pakai ini saja buat jaminannya.” Saran Deya dengan percaya diri.
Rico tertawa sangat puas melihat Deya. Laki-laki itu beranjak dan menghampiri Deya. “Tidak perlu De, aku hanya ingin bercanda dengan mu.” Kemudian meninggalkan Deya yang lagi-lagi menampilkan wajah kesalnya.
***
Keheningan terjadi antara mereka berdua, Deya lebih memilih melipat tangan dan menatap lurus ke depan sambil sesekali terdengar hembusan nafas kasar. Rico merasa sudah keterlaluan dan menatap gadis di sampingnya sekilas.
“Maaf ya, aku tidak bermaksud membuat mu kesal.”
Deya hanya menatap tajam pada Rico sedangkan laki-laki yang ditatapnya menyengir Kuda.
Di saat yang bersamaan ponsel Rico berdering, nama seorang laki-laki terpampang di layar yang menyala. Tanpa segan ia menjawabnya dan me loudspeaker.
“Aduh anak Seberang, sudah pulang. Tapi nggak ada kabar-kabarnya.” Ucap si penelpon tanpa salam lebih dulu.
“Waalaikumussalam. Aduh maaf banget bro, baru aja nyampe rumah Subuh. Ini lagi di luar.”
“Sama siapa ?”
“Mau tau aja sih.” Memangkas bibit keingintahuan temannya.
“Jangan bilang sama cewek sombong, angkuh, pongah, jude, itu loe keluar. Loe masih aja mau-maunya nurutin kemauan ayah loh untuk nikah sama dia. Haduuh bro, masih banyak cewek yang lebih cantik dan lebih segalanya di luar sana yang mau sama loh, ngantri malah mereka.” Ucap temannya tanpa jeda, seperti kendaraan yang sedang mengalami rem blong.
Tidak ada salam perpisahan, setelah mendengar temannya berkata seperti itu. Tanpa aba-aba Rico langsung menutup sambungan telepon. Sementara gadis yang berada di sampingnya kini menatap penuh selidik.
“Maksudnya ini apa ?”