menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
Di taman sekolah, suasana canggung makin menyengat. Rudy membetulkan letak kacamatanya,
matanya beralih dari Indah ke Yudas yang berdiri tegap namun tampak sedikit gemetar di lututnya.
"Maaf, tapi kalau boleh tahu, siapa ini?" tanya Rudy dengan sopan, tanpa ada nada permusuhan sama sekali.
Yudas berdehem, mencoba mengeluarkan suara bariton yang paling jantan. "Aku Yudas. Dari kelas 3-1."
Indah menarik napas panjang, menguatkan hatinya untuk mengucapkan kalimat yang sudah dilatih di ruang OSIS tadi. "Maafkan aku, Rudy. Sebenarnya... Yudas adalah pacarku. Itu sebabnya aku tidak bisa menerima perasaanmu."
Rudy terdiam. Keheningan yang menyiksa terjadi selama beberapa detik.
Di balkon atas, Sasha sudah bersiap-siap melompat jika Rudy tiba-tiba meledak marah. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Rudy malah tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus namun sedikit getir.
"Ah, begitu ya? Maafkan aku, Indah. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau sudah memiliki pacar," ucap Rudy sambil menatap Yudas dengan pandangan menghargai. "Kau pria yang beruntung, Yudas. Tolong jaga Indah dengan baik ya."
Setelah saling meminta maaf dan bersalaman, Rudy pamit pergi dengan langkah tenang.
Kelima orang yang mengintip di atas balkon langsung merosot ke lantai, bernapas lega sekaligus bingung.
"Hah? Begitu saja?" Sasha berdiri dengan wajah tidak puas. "Apa-apaan itu? Kenapa tahun sekarang banyak sekali pria yang terlalu sopan dan pengecut untuk berjuang? Mana jiwa berandalan kelas 3-4 yang legendaris itu?"
Aria mengusap dadanya. "Bukannya itu bagus, Sasha? Tidak ada keributan, tidak ada darah, dan masalah selesai dengan damai. Kau ini haus darah sekali."
---
Keesokan harinya di ruang OSIS, suasana kembali normal namun penuh rasa penasaran. Sasha duduk di meja Aria sambil menggoyangkan kakinya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Sasha saat Indah masuk. "Si kacamata ganteng itu mengganggumu lagi tidak sejak kejadian kemarin?"
Indah menggeleng sambil tersenyum ceria. "Sama sekali tidak, Kak. Rudy orang yang sangat baik. Bahkan tadi pagi kami mengobrol sebentar, dan dia juga sudah mulai akrab dengan Kak Yudas karena ternyata mereka punya hobi yang sama soal koleksi sepatu basket."
Yudas hanya bisa menghela napas panjang dari sudut ruangan. "Iya... dia terus memanggilku 'Kakak Ipar' saat kami berpapasan di kantin tadi. Aku jadi merasa sangat bersalah sudah membohongi orang sebaik itu."
"Sudahlah, yang penting misinya berhasil!" seru Kael yang tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah kotak panjang. "Daripada bahas drama cinta-cintaan yang gagal, lebih baik kita main ini! **JENGA!**"
Kael menumpuk balok-balok kayu itu dengan sangat tinggi di atas meja. Peraturannya sederhana: ambil satu balok dari bawah atau tengah, letakkan di atas, dan jangan sampai runtuh.
Permainan berlangsung sangat dramatis. Giliran pertama adalah Aria.
Dengan ketenangan seorang Ketua OSIS, ia mengambil balok dengan sangat lembut. Berhasil.
Selanjutnya Sasha, ia menggunakan kekerasan—memukul pelan baloknya sampai terdorong keluar. "Nah, begini caranya main pakai otot!"
Tibalah giliran Kael. Menara itu sudah mulai miring ke arah kanan.
Kael berkeringat dingin, lidahnya menjulur karena konsentrasi penuh. "Ayo... jangan jatuh... demi susu cokelat besok pagi..."
Baru saja ujung jari Kael menyentuh balok yang paling krusial, Yudas tidak sengaja bersin dengan sangat keras. *HATCHIIII!*
*BRAKKKK!*
Seluruh balok kayu itu runtuh berantakan mengenai wajah Kael.
"KAEL KALAH! MANDI BALOK!" teriak Sasha kegirangan.
"YUDAS! Kau sengaja bersin untuk menyabotase kegantenganku saat mengambil balok, kan?!" protes Kael sambil menyingkirkan balok-balok dari rambutnya.
"Mana ada! Itu alergi debu dari bajumu yang belum dicuci seminggu!" balas Yudas tak mau kalah.
Ruangan OSIS kembali meledak dengan tawa. Meskipun rencana pacar bohongan itu terasa konyol,
setidaknya mereka tahu bahwa ikatan persahabatan mereka jauh lebih kokoh daripada menara Jenga yang baru saja roboh tersebut.
----
Minggu pagi yang cerah menyinari pusat kota. **Indah** melangkah santai menyusuri rak-rak tinggi di sebuah toko buku besar, ditemani oleh kakak laki-lakinya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran, **Kak Satria**.
Suasana toko yang tenang dengan aroma kertas baru menjadi latar belakang percakapan mereka.
"Nah, ini buku referensi yang Kakak cari," ujar Satria sambil meletakkan sebuah buku tebal ke dalam keranjang.
Ia kemudian melirik adiknya. "Bagaimana sekolahmu, Indah? Masih sibuk dengan urusan OSIS dan geng 'ajaib' mu itu?"
Indah tersenyum kecil. "Baik-baik saja, Kak. Seru, kok."
Satria menghentikan langkahnya di depan rak buku fiksi, menatap Indah dengan ekspresi lebih serius. "Kau tidak cemas? Sebentar lagi ujian akhir dan kau akan lulus. Apa rencana besarmu setelah ini? Mau lanjut ke mana?"
Indah seketika terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Selama ini ia terlalu asyik bermain Jenga, voli pantai, dan mengurusi drama pacar bohongan bersama Sasha dan yang lainnya.
Ia belum benar-benar memikirkan masa depan. *Aria ingin beasiswa, Sasha pasti punya jalannya sendiri, lalu aku?* batin Indah gusar.
Melihat adiknya mendadak murung dan melamun, Satria menepuk pundak Indah dengan bijak. "Jangan terlalu dibebani sekarang. Masa depan itu bukan balapan, tapi perjalanan. Pikirkan pelan-pelan sambil kita jalan ke kasir, yuk."
Setelah membayar, mereka keluar dari toko buku.
Matahari sore mulai terasa hangat. Satria melirik sebuah toko roti di seberang jalan. "Kau mau membeli kue? Kakak traktir sebagai hadiah karena kau sudah menemaniku hari ini."
"Boleh juga!" jawab Indah, matanya berbinar. Namun, sebelum mereka melangkah, sebuah suara familiar memanggil nama Indah dari arah belakang.
"Indah?"
Indah menoleh dan terkejut melihat **Rudy** berdiri di sana. Rudy tampak sangat berbeda dengan pakaian santainya—kaos polo berwarna cerah dan celana kain yang rapi, tetap dengan kacamata khasnya yang membuatnya terlihat seperti model majalah remaja.
"Oh, Rudy! Sedang di sini juga?" sapa Indah canggung.
Satria menyipitkan mata, menatap Rudy dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menyelidik khas seorang kakak laki-laki. "Siapa ini, Indah? Pacarmu yang kau ceritakan itu?"
Wajah Indah memerah padam. "Bukan, Kak! Ini teman sekolahku!"
Satria tidak percaya begitu saja. "Teman? Tapi wajahmu merah begitu."
Rudy tersenyum sopan dan membungkuk sedikit ke arah Satria. "Halo, Kak. Saya Rudy. Kami benar-benar hanya teman sekarang... soalnya saya baru saja ditolak olehnya tempo hari."
Satria tersentak, matanya membelalak kaget. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Indah dan berbisik dengan nada mengejek, "Gila... kau menolak cowok sekeren ini demi sandiwara pacar bohonganmu itu? Kurang-kurangi nonton Drakor, Indah. Selera aslimu jadi aneh sekarang."
"KAK SATRIA! Diamlah!" bisik Indah sambil mencubit pinggang kakaknya dengan kesal.
Indah kemudian beralih ke Rudy untuk mencairkan suasana. "Sedang apa di sini, Rudy?"
"Aku baru saja membelikan kue tart untuk ulang tahun ibuku," jawab Rudy sambil mengangkat tas belanjaan dari toko kue ternama. "Kalau kamu?"
"Baru saja membeli buku referensi untuk Kakakku yang cerewet ini," jawab Indah sambil melirik tajam ke arah Satria.
Rudy terkekeh pelan. "Baiklah kalau begitu. Aku duluan ya, Ibuku sudah menunggu. Sampai jumpa di sekolah, Indah. Mari, Kak."
Setelah Rudy menjauh, Satria meledak dalam tawa sambil terus berjalan. "Serius, Indah. Itu tadi adegan yang sangat 'Drakor' sekali. Cowok ganteng, ditolak, tapi tetap baik hati. Kau benar-benar sudah keracunan film romantis!"
"Berhenti tertawa! Itu tidak lucu!" seru Indah sambil menghentakkan kakinya ke aspal, wajahnya masih panas karena malu, sementara kakaknya terus tertawa puas sepanjang jalan menuju parkiran.
Bersambung....