Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang mengusik ketenangan
"Gia, sayang... kenapa tidak balas pesan Mama? Mama kan mau tanya, apa kamu sudah terbiasa dengan fasilitas mewah di sini? Jangan sampai kamu lupa daratan ya, ingat siapa yang memberimu makan selama ini!"
Gia meremas serbetnya erat-erat. "Maaf, Ma... tadi aku sedang sibuk"
"Sibuk?" Sarah terkekeh sinis, matanya melirik piring perak di depan Gia.
"Sibuk menikmati fasilitas yang seharusnya milik Kakakmu? Ingat ya Gia, kamu berdiri di sini karena Siska tidak ada. Jangan sampai kamu merasa benar-benar setara dengan keluarga Ardiansyah. Mama cuma mau mengingatkan, jangan karena sudah tidur di ranjang empuk, kamu jadi lupa siapa yang memberimu makan saat ibumu sakit-sakitan dulu karena karma yang diterimanya duli!"
Nyonya Besar menyesap tehnya, namun matanya menatap tajam pada Sarah yang sedang menghina Gia di depan matanya. Entah apa yang sedang Nyonya bermulut pedas itu pikirkan.
"Mama datang jauh-jauh ke sini cuma mau mengingatkan kamu, untuk jangan besar kepala dan jangan terlalu menikmati semua ini. Karena nanti kalau suatu saat Siska kembali, dia pasti akan mengambil semua yang kau miliki sekarang!" lanjut Sarah sambil menyentuh bahu Gia dengan kasar.
Gia mendongak, matanya mulai berkaca-kaca karena dihina sedemikian rupa di depan suaminya.
"Tapi Ma... Kak Siska pergi bukan karena aku!" Gia teringat harus tenang di depan Nyonya Besar.
"Kak Siska pergi karena keinginannya sendiri. Mama yang menempatkan aku dalam posisi ini. Kenapa sekarang Mama seolah menyalahkanku?!"
"Oh, jadi sekarang kamu sudah pintar melawan?" Sarah menaikkan nada suaranya.
"Ingat ya, tanpa aku yang merawatmu setelah Ibumu itu tidak ada, kamu sudah jadi gembel di jalanan! Kamu berutang banyak padaku dan Siska!"
Ares yang sejak tadi hanya diam memerhatikan dengan wajah sedingin es, perlahan meletakkan garpunya. Suasana ruang makan mendadak terasa mencekam. Ares menoleh ke arah Sarah dengan tatapan yang bisa membuat siapa pun merinding.
"Sudah bicaranya, Nyonya Sarah?" tanya Ares datar.
Sarah sedikit tersentak, lalu tersenyum manis. "Eh, Nak Ares... Mama cuma sedang menasihati anak yang kurang tahu diri ini..."
"Gia adalah istri saya!" Potong Ares tanpa menaikkan nada bicara, namun ketegasannya tak terbantahkan.
"Bukan pelayan, dan bukan sasaran untuk melampiaskan kesalahan putri Anda yang kabur di hari pernikahan!"
Ares berdiri, membuat Sarah mundur selangkah. Ares menatap Sarah dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Soal jasa anda yang sudah membesarkan Gia seperti yang Anda sebutkan tadi, mulai detik ini, berurusanlah dengan pengacara saya. Jangan pernah sekali pun Anda menginjakkan kaki di rumah ini lagi atau menghubungi istri saya tanpa izin saya!"
Ares kemudian menoleh ke arah Gia, suaranya melembut seketika.
"Gia, ikut Mas ke atas sekarang. Biar pelayan yang mengantar Nyonya Sarah keluar!"
Ares menarik tangan Gia dalam genggamannya untuk naik ke kamar meninggalkan Sarah. Sebenarnya Gia masih ingin di bawah, dia ingin mencegah Mama tirinya itu untuk tidak bicara yang aneh-aneh pada Nyonya besar. Tapi Ares tak bisa dibantah, apalagi genggaman tangannya yang terasa lebih kuat dari biasanya itu, tak mungkin ia lepaskan.
Nyonya besar Ardiansyah itu meletakkan cangkir tehnya dengan suara cangkir yang bergesekan dengan meja cukup keras, hingga membuat fokus Sarah teralihkan.
"Nyonya, maaf kalau kami mengganggu anda!" Sarah mendekati Nyonya besar dengan wajah yang sungkan karena sudah membuat keributan di jam makan siang.
Aura yang dikeluarkan oleh Nyonya besar sudah membuat Sarah ketakutan padahal Nyonya besar belum mengatakan apa pun.
"Ibunya Gia meninggal karena apa?"
"Ya?" Sarah terkejut karena Nyonya besar bertanya tentang Ibunya Gia, yang berarti adalah wanita selingkuhan suaminya.
"Eh, emmm... dia meninggal karena sakit. Tapi saya menganggap itu adalah karma karena mengambil suami saya!" Biar Nyonya besar menilai sendirinya.
"Lalu kenapa kau justru menampung Gia, bukannya mengusirnya menjauh?!"
"Karena menurut saya, menampungnya, menjadikan dia pembantu di rumah kami, adalah balas dendam terbaik untuk suami dan wanita itu meski wanita itu sudah tidak ada di dunia ini lagi!" Mata Sarah terlihat mengkilap memancarkan kebencian yang mendalam.
"Jadi kau melampiaskan semua kemarahanmu pada anak itu? Anak yang tidak salah apa-apa?"
"Ya?" Sarah terkejut karena tampaknya Nyonya besar tidak setuju dengan jalan pikirannya selama ini.
"Yang salah dalam hal itu adalah suamimu, dan wanita selingkuhannya. Bukan anak yang lahir dari kesalahan itu. Setiap anak di dunia ini tidak ada yang meminta dilahirkan. Apalagi memilih lahir dalam kondisi seperti apa!" Nyonya besar menatap Sarah dengan hina.
Dia menang sudah mendengar desas-desus tentang asal usul Gia yang berstatus sebagai anak gundik dari besannya itu. Tapi dia tidak pernah mendengar secara langsung seperti ini.
"Sekarang dia menantuku. Wanita yang kau tumbalkan menjadi menantuku saat anak kebanggaanmu itu justru lari dari pernikahan, adalah menantu sah keluarga Ardiansyah!"
Sarah lebih terkejut lagi saat Nyonya besar justru terdengar membela Gia. Padahal sejak tadi Nyonya besar terus saja diam saat dirinya menghina Gia.
"Tapi Nyonya... apa Nyonya tidak malu kalau sampai semua orang tau tentang status Gia yang sebenarnya? Apa Nyonya tidak malu punya memantu bodoh dan tidak punya attitude seperti Gia?"
"Lebih malu mana dengan pernikahan pewaris Ardiansyah yang ditinggalkan mempelainya di atas altar?"
Sarah bungkam, mulutnya seperti terkena lem dengan tingkat keefektifan tinggi karena sama sekali tak bisa dibuka untuk membantah ucapan Nyonya besar.
"Masalah malu dan tidak itu menjadi urusanku sendiri. Kalaupun harus mendidiknya agar menjadi seperti wanita kelas atas, sekarang Ares dan aku yang lebih berhak daripada dirimu!" Nyonya besar beranjak dari kursinya. Dia tertawa sinis melihat perubahan wajah Sarah yang terlihat begitu kentara karena ucapannya.
"Oh ya satu lagi, kalau suatu saat Siska kembali dan ingin kembali ke posisinya semula. Aku orang pertama yang akan menentangnya. Kalau pun harus mengganti Gia dengan orang lain, aku pastikan orang itu bukan Siska!"
"Mbok Yem, antarkan Nyonya Sarah keluar dari mansion ini!" Imbuh Nyonya besar sebelum kembali melangkah.
Sarah tampak begitu syok sampai tubuhnya terasa limbung. Untung saja ada meja makan yang menjadi pegangannya saat ini.
Sarah sampai tak percaya kalau ternyata Nyonya besar melindungi Gia sampai tega mengusirnya.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus