Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 Keberanian
Berhijab bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berani melangkah meski hati masih belajar teguh.
—Celine Chadia Cendana—
Namun keputusan itu ternyata bukan akhir dari pergulatan batin Celine.
Ia seperti seseorang yang baru saja menemukan jalan setapak di tengah hutan, lalu menyadari bahwa jalan itu tidak selalu rata. Ada batu kecil yang membuatnya tersandung, ada ranting yang menggores pelan, ada tanjakan yang menguji napas.
Hari-hari pertama berhijab terasa seperti musim semi—hangat dan penuh semangat. Setiap kali ia bercermin, ada rasa haru yang menyusup pelan seperti cahaya pagi yang masuk melalui celah tirai.
Namun memasuki minggu kedua, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Tatapan orang.
Komentar yang terdengar sederhana, namun menyisakan gema.
“Serius nih, Cel? Bukan cuma buat konten?”
“Kaget banget lihat kamu berhijab.”
“Semoga nggak cuma sementara ya.”
Kalimat-kalimat itu seperti angin kecil yang tak terlihat, tetapi cukup untuk menggoyangkan hati yang masih belajar berdiri tegak.
Suatu sore, Celine duduk sendirian di kamar apartemennya—tempat yang dulu ia pilih untuk menenangkan diri. Langit di luar berwarna abu-abu, seperti cermin suasana hatinya.
Ia membuka ponsel.
Komentar di media sosialnya beragam. Ada yang mendoakan, ada yang mendukung, ada pula yang menyindir.
Hatinya terasa seperti gelas bening yang diisi air hingga penuh—tenang di luar, tetapi mudah tumpah bila tersentuh sedikit saja.
Ia menarik napas panjang.
“Ya Allah… aku hanya ingin dekat dengan-Mu. Tapi kenapa rasanya berat?”
Air mata menetes pelan, jatuh di atas layar ponselnya seperti hujan kecil yang tak mampu ia tahan.
Malam itu, Aldivano datang menjemputnya untuk makan malam bersama keluarga. Saat melihat wajah Celine yang sedikit muram, ia tahu ada sesuatu yang mengganjal.
“Kamu lelah?” tanyanya lembut di dalam mobil.
Celine tersenyum tipis. “Sedikit.”
“Karena apa?”
Ia terdiam beberapa detik. Jalanan di depan mobil membentang panjang, lampu-lampu kota berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi.
“Aku pikir setelah berhijab, semuanya akan terasa lebih ringan,” ucapnya perlahan. “Tapi ternyata… tetap ada ujian.”
Aldivano tersenyum kecil. “Justru karena kamu melangkah, ujian datang.”
Celine menoleh. “Maksudnya?”
“Setiap keputusan besar selalu diuji. Seperti emas yang dibakar untuk membuktikan kemurniannya.”
Kalimat itu membuat Celine terdiam.
“Aku tidak pernah melihat hijab sebagai akhir perjalanan,” lanjut Aldivano tenang. “Ia seperti gerbang. Setelah melewatinya, kita masuk ke taman yang lebih luas. Dan taman itu perlu dijaga.”
Celine menunduk, memandangi jemarinya.
“Aku takut kalau suatu hari aku lelah, lalu membuka lagi.”
Aldivano tidak langsung menjawab. Ia menghentikan mobil saat lampu merah menyala, lalu menoleh sepenuhnya.
“Kalau pun suatu hari kamu lelah,” katanya pelan, “Allah tidak pernah menutup pintu taubat. Tapi selama kamu masih ingin bertahan, aku akan berjalan di sampingmu.”
Bukan di depan.
Bukan di belakang.
Di samping.
Hati Celine terasa hangat, seperti secangkir teh di malam hujan.
Beberapa hari kemudian, Celine mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara fashion yang dulu sering ia datangi. Acara itu identik dengan busana glamor, lampu terang, dan kamera yang menyala seperti kilat di tengah badai.
Ia berdiri lama di depan lemari.
Gaun-gaun lamanya tergantung rapi. Beberapa di antaranya kini terasa terlalu terbuka untuk versinya yang sekarang.
Ia memegang satu gaun hitam yang dulu menjadi favoritnya. Mengingat betapa percaya dirinya ia saat mengenakannya.
Namun kini, hatinya berbisik berbeda.
Seperti ada suara lembut yang berkata, “Kamu tak perlu kembali menjadi versi lama untuk merasa berarti.”
Celine memilih busana yang lebih sederhana. Elegan, tetapi tertutup. Hijabnya ia lilit rapi.
Saat tiba di lokasi acara, beberapa orang menatapnya dengan ekspresi campur aduk—terkejut, kagum, ada pula yang berbisik pelan.
Ia berjalan masuk seperti ombak yang tetap bergerak meski karang mencoba menahannya.
Seorang rekan lama mendekat.
“Celine? Kamu benar-benar berubah.”
Celine tersenyum tenang. “Iya. Sedikit demi sedikit.”
“Tidak merasa kehilangan sesuatu?”
Ia berpikir sejenak.
“Aku merasa menemukan sesuatu.”
Jawaban itu sederhana, tetapi terasa seperti batu yang kokoh di tengah arus.
Malam itu sepulang acara, Celine duduk di balkon rumah keluarga Cendana. Angin meniup lembut hijabnya, seperti tangan tak terlihat yang mengusap dengan kasih.
Aldivano berdiri di dekatnya.
“Kamu terlihat lebih kuat hari ini,” katanya pelan.
Celine tersenyum kecil. “Aku hampir ragu tadi.”
“Tapi kamu tetap datang.”
“Karena aku sadar… berhijab bukan berarti menjauh dari dunia. Hanya mengubah cara berjalan di dalamnya.”
Aldivano mengangguk.
Dalam hatinya, ia bersyukur. Bukan karena Celine berhijab. Tetapi karena keputusan itu lahir dari kesadaran, bukan tekanan.
Namun ujian belum selesai.
Suatu malam, saat Celine tengah bersiap tidur, ia menerima pesan dari seorang netizen yang cukup menyakitkan.
“Munafik. Dulu pakaiannya begitu, sekarang sok suci.”
Kalimat itu seperti jarum kecil yang menusuk pelan.
Ia menatap pesan itu lama.
Dulu, komentar semacam itu mungkin ia balas dengan pembelaan. Kini ia hanya terdiam.
Air mata kembali jatuh.
Aldivano yang melihatnya segera mendekat.
“Ada apa?”
Celine menunjukkan layar ponselnya.
Ia membaca, lalu menghela napas pelan.
“Kata-kata orang bisa seperti angin,” ucapnya lembut. “Kita tidak bisa menghentikannya. Tapi kita bisa memilih untuk tidak membiarkannya merobohkan rumah hati kita.”
Celine bersandar di bahunya.
“Aku masih rapuh.”
“Tidak apa-apa. Pohon yang baru tumbuh memang belum setegap pohon tua. Tapi ia tetap pohon.”
Ia tersenyum tipis di sela tangis.
Waktu berjalan.
Perlahan, Celine mulai menemukan ritme barunya. Ia belajar memilih konten yang lebih bermanfaat. Ia berbagi tentang proses, bukan kesempurnaan.
“Hijrah itu seperti mendaki gunung,” katanya suatu hari saat membuat konten. “Kita terengah-engah, kadang ingin turun. Tapi pemandangan di atas selalu membuat lelah itu terbayar.”
Respons yang datang kini lebih banyak doa daripada sindiran.
Mommy Chailey sering memeluknya lebih lama dari biasanya, seperti takut putrinya goyah.
Daddy Caesar bangga dalam diam.
Calvin bahkan pernah berkata, “Dek, kamu keren.”
Celine tertawa kecil. “Baru tahu?”
Namun di antara semua dukungan itu, yang paling ia syukuri adalah ketenangan dalam sujudnya.
Kini setiap kali ia bersujud, ia merasa seperti tanah yang menerima hujan. Tenang. Pasrah. Penuh harap.
Suatu malam, ia kembali berbicara dengan Aldivano.
“Kalau suatu hari aku berubah lagi… apakah kamu akan kecewa?”
Aldivano tersenyum.
“Manusia pasti berubah. Tapi selama perubahanmu mendekatkanmu pada Allah, aku tidak pernah kecewa.”
Celine menatapnya dalam.
“Dan kalau aku goyah?”
“Aku akan mengingatkanmu dengan lembut. Bukan dengan marah.”
Hatinya terasa seperti rumah yang akhirnya menemukan fondasi kokoh.
Ia sadar, berhijab bukan tentang kain yang menutup kepala. Ia tentang keputusan setiap hari untuk menjaga hati.
Tentang memilih Allah di atas ego.
Tentang memilih sabar di atas amarah.
Tentang memilih tenang di atas sorotan dunia.
Malam semakin larut.
Langit gelap seperti kain beludru yang dihiasi bintang-bintang kecil.
Celine memandang ke atas.
Dulu ia takut kehilangan dirinya jika berubah.
Kini ia sadar—
ia tidak kehilangan apa pun.
Ia justru menemukan versi dirinya yang lebih jujur.
Seperti sungai yang akhirnya menemukan lautnya.
Dan di sampingnya, Aldivano tetap berdiri dengan tenang—tidak memimpin langkahnya, tidak menarik tangannya terlalu keras.
Hanya memastikan bahwa jika ia terjatuh, ada tangan yang siap menggenggam.
Celine tersenyum.
Perjalanannya masih panjang.
Ia mungkin akan lelah.
Ia mungkin akan ragu.
Ia mungkin akan menangis lagi.
Namun kini ia tahu satu hal—
ia tidak berjalan sendirian.
Dan setiap kali angin dunia mencoba menggoyahkan, ia akan mengingat malam ketika ia pertama kali melilitkan hijab dengan tangan gemetar dan doa yang tulus.
Karena sejak saat itu, ia bukan hanya menutup rambutnya.
Ia sedang membuka hatinya.
Dan hati yang telah memilih Allah, meski perlahan, akan selalu menemukan jalan pulang.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...