Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Hei, William," panggil Brian dengan nada berat, menyiratkan emosi yang tertahan.
William berhenti lalu menoleh. "Sopan sekali, ya, memanggil guru dengan namanya langsung," ujarnya sambil tersenyum.
"Untuk apa aku bersikap sopan pada guru yang telah menjatuhkanku ke jurang permasalahan?" balas Brian dengan ekspresi marah—sesuatu yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.
William menatapnya dengan senyum ramah yang sama. "Apa maksudmu?" tanyanya ringan.
"Di balik Rafael sebagai pelaku—bahkan Michael beberapa tahun lalu—sebenarnya kau yang merencanakan semua ini, bukan?" tanya Brian tegas.
Mendengar itu, senyum ramah di wajah William perlahan berubah. Senyum yang kini terasa jauh lebih gelap.
"Wah, sepertinya aku ketahuan," ujarnya pelan.
Brian dan William pun saling menatap. Dua pasang mata dengan makna yang bertolak belakang. Brian, korban yang akhirnya mengetahui kebenaran. Dan William—guru yang selama ini menjadi dalang di balik rentetan kejadian tersebut.
"Ternyata dugaanku benar," ujar Brian datar. Nada suaranya terdengar lebih rendah, emosinya mereda.
Tiba-tiba, Amayah datang menghampiri bersama Lena dan John. "Jelaskan sekalian agar kami juga mengerti," ucap Amayah dengan ekspresi datar.
Brian sedikit kebingungan. Ia tidak menyangka teman-temannya ikut menyusul.
"Aku sudah menaruh kecurigaan sejak lama, dan kurasa sekarang semuanya bisa dipatahkan," lanjut Brian. "Aku penasaran dengan Rafael, jadi aku menyelidikinya lewat situs sekolah… dan meretasnya."
"Meretasnya?" Lena mengernyit bingung.
"Itu benar," sahut William santai. "Memang ada riwayat seseorang yang masuk ke sistem sekolah. Aku tahu, karena akulah yang mengawasinya. Aku hanya membiarkannya."
Brian kembali berbicara, "Namun yang paling menarik perhatianku adalah data milik Lena. Nilaimu tidak memenuhi standar kelas A. Artinya, kamu seharusnya berada di kelas B. Tapi sepertinya ada permainan tangan seseorang."
Semua terkejut dan saling berpandangan. Semua, kecuali William, yang tetap tenang seolah tidak ada masalah.
"Eh… apakah itu benar?" tanya Lena pada William, memastikan.
William tersenyum tipis. "Benar. Aku sengaja memasukkan Lena ke kelas A agar rencanaku berjalan."
"Rencana apa yang Anda maksud?" tanya Lena.
"Menjadikan Brian dan Lena satu kelas, lalu menyingkirkan Rafael," jawab William tanpa ragu.
Segalanya mulai terasa jelas, namun kebingungan justru semakin bertambah.
"Lalu apa alasannya?" tanya Amayah penasaran.
William memejamkan mata sejenak. Senyum di wajahnya menghilang. "Aku membenci orang tuanya. Mereka selalu bertindak sewenang-wenang demi putra mereka. Rafael harus selalu berada di posisi terbaik meskipun nilainya tidak memungkinkan. Semua itu hasil manipulasi nilai yang disetujui kepala sekolah."
Brian menatapnya tajam. "Lalu… kasus pengeroyokan yang ia lakukan padaku, apakah itu juga bagian dari rencanamu?"
"Ya," jawab William santai. "Semua itu tidak mudah. Bahkan aku sendiri tidak menduga sejauh ini. Tapi aku melihat langsung pertemuan pertama Brian dan Lena saat libur musim panas lalu, jadi aku memanfaatkannya."
"Aku tahu Brian akan menghindari Lena demi menjaga dirinya sendiri, tapi aku juga tahu bahwa Lena pasti ingin berteman dengan Brian untuk membalas kebaikannya. Dan aku yakin Rafael punya ketertarikan terhadap Lena, dan pasti akan melakukan apapun demi mendapatkannya."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Michael?" tanya Amayah.
William melipat kedua tangannya lalu bersandar di dinding. "Kasusnya hampir sama. Bedanya, Michael gemar melakukan kekerasan dan membentuk geng sendiri. Karena itu, dia juga harus disingkirkan."
"Aku sengaja menutupi kasus kekerasan yang Amayah lakukan, agar bisa memanfaatkannya untuk menjatuhkan Michael," lanjut William. "Dan ketika aku tahu Brian ingin menolong Amayah, semuanya menjadi semakin menarik."
"Pelecehan Michael terhadap Amayah memang di luar perhitunganku," tambahnya tenang. "Namun akhirnya tetap sesuai rencana. Michael dikeluarkan, dan parasit sekolah berhasil dimusnahkan."
Kini semuanya jelas. Tidak hanya ada campur tangan, tetapi hampir seluruh kejadian selama ini adalah hasil skenario William.
"Apa kau tidak memikirkan kami yang menjadi korban?" tanya Brian tegas.
"Itu benar," sambung Amayah. "Kau tidak tahu apa yang kami rasakan."
Lena pun angkat bicara. "Bukankah ada cara lain yang lebih aman?"
"Kalian terlalu naif," ucap William dingin. "Apa kalian tidak merasakan dampak dari semua ini?"
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku. "Setelah semua kejadian itu, bagaimana hubungan kalian sekarang?"
Tak ada yang langsung menjawab.
"Brian berhasil membantu Amayah keluar dari kegelapan. Lena membuat Brian menyadari kesalahannya," lanjut William datar. "Jika aku memilih cara yang aman, mungkin hubungan kalian akan tetap sama seperti sebelumnya."
Mereka terdiam. Ucapan William memang menyakitkan, namun ada benarnya. Tanpa semua kejadian itu, mungkin mereka masih saling berjauhan.
Tiba-tiba, bel jam pelajaran pertama berbunyi nyaring.
"Sudah waktunya masuk. Selamat menjalani pembelajaran," kata William sambil melambaikan tangan, lalu pergi dengan senyum tipis.
Mereka semua terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya Lena memecah suasana.
"Kurasa tidak ada gunanya terus memikirkan itu," ujarnya santai.
Semua menoleh padanya.
"Apa pun yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang kita hanya perlu melanjutkan apa yang sudah terjadi," lanjut Lena sambil tersenyum. "Aku senang kita bisa berkumpul lagi dalam keadaan baik-baik saja."
Suasana yang tadinya tegang perlahan mencair.
"Benar," sahut John. "Ayo kita kembali ke kelas."
Mereka pun berjalan bersama menuju kelas.
Di tengah perjalanan, Lena tiba-tiba mendekati Brian. "Tadi kamu menyinggung soal dataku," katanya menggoda. "Jangan-jangan kamu sebenarnya penasaran denganku, ya~?"
Pipi Brian sedikit memerah. "Tidak. Itu hanya kebetulan," balasnya datar, meski terdengar gugup.
"Masa sih~" Lena kembali menggoda.
"Tolong hentikan," ujar Brian pelan, tak sanggup menyembunyikan rasa malunya.
"Hahaha!" tawa Lena pecah puas.
Melihat kedekatan mereka, Amayah merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Rasa cemburu perlahan muncul. John yang menyadarinya hanya bisa menghela napas panjang.
"Sepertinya drama ini belum akan berakhir…" gumamnya.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Saat jam istirahat tiba, Lena mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Ia lalu membukanya perlahan.
Aroma harum segera menyebar, bahkan sampai ke hidung John yang duduk di depan Brian. John langsung menoleh ke belakang, tertarik. Brian yang baru saja terbangun dari tidurnya tampak kebingungan.
"Wah, wangi sekali. Apa kamu yang membuatnya, Lena?" tanya John penasaran.
"Iya. Aku sering membantu ibuku memasak, lalu membawa sisanya untuk bekal makan siang," jawab Lena ramah.
Ia kemudian bertanya, "Kalau kalian biasanya makan siang apa?"
"Kalau aku sering dibuatin bekal oleh pacarku," jawab John dengan senyum bangga.
"Kalau Brian?" tanya Lena penasaran, menatap Brian yang masih setengah sadar dengan antusias.
Sebelum Brian sempat menjawab, John lebih dulu menyela. "Brian biasanya makan makanan cepat saji dari kantin."
"Eh… itu tidak sehat," ujar Lena cemas. "Kamu tidak membawa bekal, Brian?"
"Tidak…" jawab Brian lesu.
Mendengarnya, sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Lena. "Makanan apa yang kamu sukai, Brian?" tanyanya.
"Brian itu pemakan segalanya," sahut John santai.
"Hei, kau kira aku hewan?" protes Brian kesal.
John tersenyum jahil. "Tapi nafsu makanmu melebihi hewan!"
Brian langsung membalas dengan ejekan, membuat John tertawa. Di sisi lain, Lena tampak senang. Ia tersenyum penuh semangat, seolah sudah memutuskan sesuatu.
Keesokan harinya, tepat saat bel istirahat pertama berbunyi, tiba-tiba Lena menarik tangan Brian. Saat itu Brian sedang melamun, sehingga refleks terkejut.
"Hei—!"
John hanya bisa menatap punggung mereka yang berlari keluar kelas. "Masa muda memang indah…" gumamnya sok bijak.
Namun beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi. Pesan dari pacarnya masuk, mengajaknya makan siang bersama.
"Oh, iya. Aku juga masih muda!" katanya ceria sambil bangkit.
Di sisi lain, Amayah menyaksikan Brian dan Lena dengan perasaan campur aduk. Ia bingung, namun lebih dari itu, rasa cemburu perlahan muncul saat melihat Lena menggenggam tangan Brian—sesuatu yang dulu pernah ia lakukan, dan tak pernah ia bayangkan Brian melakukannya dengan orang lain.
"Hei, apa yang—" Brian akhirnya bersuara.
"Ayo ikut denganku!" kata Lena bersemangat.
"Kemana?" tanya Brian bingung, masih berusaha memahami situasi.
"Ke tempat yang sepi!" jawab Lena tanpa ragu.
Mereka berhenti di sebuah taman kecil di belakang gedung sekolah. Tempat itu sepi dan tenang, dipenuhi tanaman hijau serta udara segar. Karena letaknya jauh dari area utama sekolah, hampir tak ada siswa yang datang ke sana.
Brian terengah-engah begitu berhenti. Kakinya terasa lemas hingga ia langsung duduk di bangku taman. Sementara itu, Lena masih terlihat baik-baik saja.
"Baru lari segini saja sudah capek. Pantas kamu dijuluki raja pemalas," sindir Lena dengan senyum nakal.
Brian membalas dengan napas belum teratur. "Makanya… jangan melakukannya tiba-tiba…"
"Hehehe, maafkan aku," ucap Lena sambil tertawa kecil.
Ia lalu mengeluarkan dua kotak bekal dari dalam tasnya, membuat Brian terkejut.
"Ini untukmu, Brian," kata Lena sambil menyerahkan salah satunya.
"Eh? Maksudnya?" tanya Brian bingung.
"Aku membuatkan bekal makan siang untukmu. Setelah kemarin aku dengar kamu sering makan makanan tidak sehat," jawab Lena ceria.
Brian merasa tidak enak. "Tapi… bukankah ini merepotkanmu?"
"Tidak sama sekali. Aku melakukannya atas keinginanku sendiri," jawab Lena dengan senyum tulus, membuat Brian terpukau.
"Kenapa kau sebaik ini?" tanya Brian pelan.
Lena tersenyum manis. "Rahasia."
Senyum itu membuat Brian terdiam. Sesuatu yang jarang ia lihat, namun terasa hangat.
"Kenapa rahasia?" tanyanya lagi.
"Karena belum waktunya kamu tahu!" jawab Lena ceria.
"Begitu ya…"
"Ayo, makan saja!" seru Lena.
Brian akhirnya menerima. "Kalau begitu… terima kasih."
Ia membuka kotak bekal itu dan terkejut melihat isinya. Hidangannya beragam dan porsinya banyak—tidak kalah dengan masakan Amayah di rumah.
"Kamu benar-benar memasaknya sendiri?" tanyanya.
"Aku dibantu ibuku. Awalnya dia bingung kenapa aku membawa dua kotak bekal. Saat aku bilang ingin memberikannya ke teman, entah kenapa dia malah jadi ceria," jawab Lena antusias.
Brian mulai mencicipi makanannya. "Enak," pujinya singkat.
"Benarkah? Senang sekali!" balas Lena gembira.
Brian tersenyum tipis. Ia senang melihat pujian sederhananya membuat Lena sebahagia itu.
"Ini masakan khas Finlandia?" tanyanya.
"Bisa dibilang begitu, tapi aku mengombinasikannya dengan gaya Amerika," jawab Lena ramah. "Apa sesuai seleramu?"
"Sesuai kata John, aku bisa makan apa saja. Jadi ini sangat lezat," jawab Brian santai.
"Jangan-jangan kamu bisa makan tikus?!" tanya Lena terkejut.
Brian langsung memasang ekspresi jijik. "Aku masih normal."
"Hahaha! Aku cuma bercanda," tawa Lena ceria. "Tapi makanan favoritmu apa, Brian?"
"Nasi goreng," jawabnya.
"Kenapa?"
"Sederhana, bisa dimakan kapan saja, dan itu makanan favorit dari negara asalku," jelas Brian.
"Eh? Kukira kamu orang Amerika," ujar Lena heran.
"Ibuku memang orang Amerika, tapi aku dan ayahku lahir di Indonesia. Aku besar di sana sebelum pindah ke sini," jawab Brian santai.
"Oh, begitu!" sahut Lena ceria.
Percakapan mereka terus berlanjut. Lena yang mudah bergaul terus membuka topik, membuat Brian perlahan terbiasa. Meski ia lebih banyak diam, ia selalu menjawab dengan jujur.
Brian menghabiskan bekal itu hingga bersih, membuat Lena semakin senang.
"Terima kasih atas makanannya, Lena," ucap Brian.
"Sama-sama!" Lena tersenyum. "Bolehkah aku membuatkan bekal lagi untukmu lain kali?"
Brian ragu. "Aku tidak ingin merepotkanmu…"
"Tidak apa-apa. Aku melakukannya dengan senang hati. Lagipula, makanan di rumahku sering tersisa banyak," jawab Lena santai.
Brian menggeleng pelan. "Maaf. Aku benar-benar menghargainya, tapi aku tidak bisa menerimanya terus-menerus."
Lena terdiam sejenak. "Begitu ya… maaf karena memaksamu," ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa," balas Brian.
Saat mereka hendak kembali ke kelas, Lena tiba-tiba memanggilnya.
"Brian."
"Hm?"
Brian menoleh dan kembali dibuat terdiam oleh senyum manis Lena.
"Tapi lain kali… mau merasakan masakanku lagi?" tanyanya tulus.
Brian tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk.
"Yeay!" seru Lena gembira.
Mereka pun kembali ke kelas.
Namun tanpa mereka sadari, Amayah telah menguping seluruh percakapan itu sejak awal. Ia bersembunyi di balik semak-semak, mendengar setiap kata yang terucap.
Dadanya terasa sesak. Melihat Brian yang jarang bicara justru tampak nyaman bersama Lena membuat api cemburu di hatinya semakin membesar.
"Kenapa aku menguping? Bukankah ini hanya menyiksaku sendiri?" batin Amayah.
Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Lebih baik aku pergi… membiarkan mereka bersenang-senang."
Namun di balik rasa sakit itu, sebuah tekad perlahan tumbuh.
"Kalau dia bisa melakukannya… kenapa aku tidak?"
---
Keesokan paginya, suasana kelas kembali ramai seperti biasa.
"Brian, boleh aku lihat tugas matematika yang kemarin?" tanya John sambil memohon.
Brian menghela napas ringan. "Baiklah," jawabnya datar sambil membuka tas.
Namun, ketika ia hendak mencari bukunya, tangannya justru menyentuh sebuah tas kecil yang tidak ia kenali. Brian mengernyit dan membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah kotak bekal.
"Kotak bekal…?" batinnya terkejut.
Brian refleks menoleh ke arah Amayah yang duduk agak jauh darinya. Begitu mata mereka hampir bertemu, Amayah langsung mengalihkan pandangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Brian langsung paham. "Ini pasti ulah Amayah."
Meski begitu, ia tidak bisa berbuat banyak.
Saat jam istirahat tiba, Brian mengeluarkan kotak bekal tersebut dan mulai menyantap isinya. John dan Lena yang duduk di dekatnya langsung terlihat kebingungan.
"Tumben sekali kau bawa bekal, Brian," ujar John santai dengan senyum nakal.
"Ya, tanteku yang membuatkannya," jawab Brian datar, menutupi kebenaran.
Lena menatap hidangan itu dengan mata berbinar. "Wah, semua ini buatan tantemu? Hebat sekali!"
"Ya…" balas Brian, sedikit gugup.
"Apa aku bisa bertemu dengannya? Siapa tahu dia bisa mengajariku cara memasak," kata Lena, memberi isyarat halus bahwa ia ingin berkunjung ke rumah Brian.
"Mungkin… kalau dia tidak sibuk," jawab Brian ragu, melihat antusiasme Lena yang begitu besar.
Mereka pun memutuskan untuk makan bersama. Sebelum itu, Lena dengan ramah mengajak Amayah untuk bergabung. Namun Amayah langsung merasa cemas—kotak bekalnya terlihat sangat mirip dengan yang sedang dipegang Brian. Ia tidak ingin dicurigai.
"Aku lebih nyaman makan sendiri," jawab Amayah singkat.
Lena mengangguk, menganggapnya wajar.
Sepulang sekolah, Brian langsung menemui Amayah yang sudah lebih dulu tiba di rumah. Ia menyerahkan kembali kotak bekal yang kini tertutup rapat.
"Terima kasih atas hidangannya," ujar Brian datar. "Tapi kenapa kau tiba-tiba melakukannya?"
"Memangnya tidak boleh?" balas Amayah santai.
"Bukan begitu. Hanya saja ini terlalu mendadak. Seharusnya kau bisa memberitahuku," kata Brian bingung.
"Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang baru. Kalau kuberitahu lebih dulu, aku tahu kau pasti akan menolaknya," jawab Amayah.
"Kau bisa menebak pikiranku, ya…"
"Tentu saja. Kau itu mudah ditebak," sindir Amayah.
Suasana mendadak sunyi. Amayah mengambil kotak bekal itu dan langsung mencucinya hingga bersih.
"Menurutmu, kau lebih menyukai bekal buatanku atau buatan Lena?" tanyanya tiba-tiba.
Brian terkejut. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Jangan banyak tanya, jawab saja!" kata Amayah tegas.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Brian jujur. "Tapi masakanmu sudah terbiasa di lidahku."
"Aku anggap itu pujian," kata Amayah singkat.
Di dalam hatinya, Amayah tersenyum puas. Ia merasa selangkah lebih maju dibanding Lena.
"Aku pemenangnya!" batinnya.
Namun kegugupan tiba-tiba menyergapnya. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya bertanya.
"Apa kau ingin aku membuatkan bekal lagi?" ucap Amayah, suaranya sedikit bergetar.
"Ya, kalau kau tidak keberatan," jawab Brian tanpa ragu.
"Tentu saja aku keberatan! Kalau begitu aku seperti ibumu atau pacar—" Amayah mendadak terdiam. "Lupakan saja!"
Brian semakin bingung. "Jadi… bagaimana dengan bekal makan siangnya?" tanyanya.
"Tentu saja aku akan membuatkannya lagi! Tapi harus dihabiskan!" seru Amayah tegas.
"Iya, iya, Nek…" ejek Brian sambil tersenyum nakal.
"Kurang ajar!"
Perdebatan kecil pun kembali terjadi malam itu. Bahkan Emilia dan Sophia yang baru pulang dari kota hanya bisa saling berpandangan kebingungan.
Malam tersebut menjadi awal bagi Amayah untuk lebih percaya diri—dan juga awal tekadnya untuk bersaing dengan Lena.
Bersambung.
semangat terus bang!!!