NovelToon NovelToon
Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Janda / Selingkuh
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.

Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.

Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.

Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13

“Tolong hentikan!!” Teriak Zayna Carmen dengan derai air mata yang jatuh tanpa jeda.

Melihat pria yang pernah ia tolong kini tergeletak dengan kepala berlumuran darah membuat napas Zayna tersengal. Dadanya terasa sesak, seolah dunia runtuh tepat di depan matanya. Rasa iba menggerogoti seluruh perasaannya.

“Maka dari bayar hutang suamimu! Dan jangan biarkan orang lain ikut campur!” Bentak salah satu rentenir.

Max mendengar semuanya. Dengan jelas dan sadar.

Pria itu membiarkan tubuhnya terkulai sedikit lebih rendah, membiarkan darah mengalir lebih kentara di pelipisnya. Rasa sakit itu ada, namun tidak sebanding dengan kepuasan yang perlahan merayap di dadanya.

“Kau melihat itu, Zayna? Ini semua karena kau.” Kata Max dalam hatinya.

“Kalian jangan membuat keributan di sini! Aku sudah rugi banyak! Siapa yang akan mengganti sekua barang yang sudah kalian rusak!” Teriak pemilik restoran dengan suara gemetar.

“Kalau ingin restoranmu aman, suruh wanita itu melunasi hutang suaminya! Atau tempat ini akan kami hancurkan!”

Max menahan senyum. Ini bagian terbaiknya.

Pemilik restoran itu akhirnya menyerah.

“Zayna… maafkan aku. Kau harus berhenti. Tolong… kasihanilah anak istriku.”

Kata-kata itu menghantam Zayna lebih keras daripada ancaman para Rentenir lintah darat. Gadis itu terdiam, tubuhnya kaku, jika ia di pecat bagaimana ia bisa mencari uang untuk membayar hutangnya. Pikirnya.

Dan Max… Menunggu.

Ia merintih pelan, nyaris tak terdengar.

“Ssshh…”

Suara itu disengaja. Lemah. Rapuh.

Cukup untuk menarik perhatian Zayna, tidak cukup untuk mencurigakan siapa pun.

Zayna langsung menoleh. Wajahnya pucat melihat kondisi Max. Sontak Zayna di liputi rasa bersalah yang tajam.

Bleiz yang mengamati dari jauh tertawa kecil.

“Cih…”

Max sendiri sudah tahu pasti sekarang Bleiz sedang menertawakannya. Dan ia menikmati itu.

Para rentenir akhirnya pergi dengan membawa uang yang kata mereka sedikit, setelah merusak restoran, para rentenir itu seolah tidak punya rasa kasihan atau bersalah sedikit pun. Begitu mereka menghilang, Max segera mencoba bangkit, ia terhuyung, goyah sempurna.

Zayna reflek memapahnya. Saat tubuh Zayna menyentuh Max, pria itu langsung menyandarkan sebagian besar berat badannya. Ia tahu Zayna tidak akan mendorongnya. Gadis seperti itu selalu memilih menahan beban sendiri.

“Bagus. Mulai sekarang, kau tak akan bisa melepaskanku.” Batin Max.

Namun saat itu, Bleiz melihat sesuatu yang membuatnya semakin merinding.

Di balik wajah penuh darah, Max tersenyum.

Lebar. Sunyi. Bukan senyum orang kesakitan, melainkan senyum orang yang menang.

“Dasar Tuan memang psiko…” gumam Bleiz pelan.

Zayna tidak melihat senyum itu. Ia terlalu sibuk merasa bersalah dan gelisah.

Begitu mereka melangkah menjauh dari restoran, Max perlahan menghapus senyum itu. Wajahnya kembali serius, napasnya dibuat lebih berat.

“Sepertinya… Aku kena gegar otak.” Katanya pelan, suaranya terdengar rapuh.

“Apa?!! Gegar otak?!” Zayna panik.

Itulah yang Max inginkan. Max tahu satu kalimat itu cukup untuk mengikat Zayna lebih kuat, membuatnya merasa bertanggung jawab, membuatnya takut meninggalkan Max sendirian.

Saat mereka mendekati mobil dengan kaca gelap, Max melirik ke arah Bleiz. Tatapannya tajam. Penuh perintah.

Bersihkan.

Bleiz langsung paham hanya dengan tatapan itu dan menghubungi para pengawal.

“Kalian bereskan kekacauan hari ini, temui pemilik restoran dan serahkan uang ganti rugi, lalu bawa para rentenir itu ke markas. Tunggu perintah selanjutnya. Sisanya ikut aku mengawal Tuan Max.” Ucap Bleiz dingin melalui sambungan telepon.

“Baik, Tuan Bleiz.”

Max menyandarkan kepalanya ke bahu Zayna, berpura-pura lemah. Dalam hatinya, ia tersenyum puas.

“Sekarang… Kau hanya punya aku, Zayna.” Batin Max lagi.

Zayna menghentikan sebuah taksi yang melaju pelan di tepi jalan, menggunakan lambaian tangannya yang kurus.

“Ke rumah sakit terdekat, cepat!” Pintanya dengan suara bergetar.

Sopir taksi menoleh, matanya membesar melihat kondisi Max yang berlumuran darah.

“Ya Tuhan… baik, Nona.”

Begitu pintu tertutup, taksi melaju meninggalkan restoran yang kini hanya menyisakan kekacauan.

Di kursi belakang, Zayna mendudukkan Max perlahan. Tangannya gemetar saat mencoba menahan kepala pria itu agar tidak terbentur kaca.

“Kau… kau jangan tidur, ya.” Ucap panik.

”Tolong… Bertahan sebentar lagi.”

Max menurunkan kelopak matanya setengah. Napasnya diatur berat, terputus-putus, cukup meyakinkan.

Max sedikit menggeser kepalanya, bersandar ke bahu Zayna. Ia tahu gadis itu tidak akan menolak.

“Kenapa kau melawan mereka dan ikut campur urusanku!”

“Aku ikut campur karena tidak tega melihatmu sendirian.” Kata Max.

Zayna tercekat.

Rasa bersalah yang sejak tadi menghimpit dadanya kini berubah menjadi beban penuh. Ia menggenggam jemari Max yang panjang dan besar dengan erat, seolah takut pria itu menghilang jika dilepas.

Zayna berpikir, betapa pengecutnya suaminya dan sampai orang lain yang menolongnya.

Di depan, sopir taksi melirik lewat kaca spion.

“Kita hampir sampai. Tapi sepertinya tuan ini perlu ditangani cepat.”

“Iya, tolong lebih cepat.” Pinta Zayna dengan suara bergetar.

Max membuka mata sedikit. Dari sudut pandangnya, ia bisa melihat wajah Zayna yang pucat, mata sembab, dan tangan yang terus menggenggamnya.

“Lihat dirimu sekarang.” batin Max dingin.

“Kau takut. Bergantung. Tepat seperti yang kuinginkan.”

Max kemudian sengaja menggenggam pergelangan tangan Zayna dengan lemah.

“Jangan pergi.” Ucap Max lirih.

Air mata Zayna jatuh tanpa bisa ditahan.

“Aku di sini. Kata Zayna cepat. “Aku tidak akan ke mana-mana.” Lanjut Zayna.

Max menutup mata kembali. Bibirnya sedikit terangkat, nyaris tak terlihat.

Taksi berhenti mendadak di depan rumah sakit.

“Sudah sampai.” Kata sopir.

Zayna segera membuka pintu dan memanggil bantuan dengan suara bergetar, sementara Max tetap bersandar lemah di tubuhnya, membiarkan dirinya sepenuhnya menjadi beban yang tak bisa ia lepaskan.

Dan di balik kelopak mata yang terpejam, Max tersenyum tipis.

Bleiz mengawal Max hingga tiba di rumah sakit. Begitu taksi berhenti, para perawat segera datang membawa brankar.

Saat Zayna sibuk membantu dokter dan perawat memindahkan Max, Bleiz memberi isyarat singkat pada salah satu pengawal.

“Urus taksinya.” Kata Bleiz pelan namun tegas.

“Bayar lebih. Pastikan sopir itu menganggap hari ini tidak pernah terjadi.”

“Baik, Tuan.”

Pengawal itu segera menghampiri sopir taksi, uang berpindah tangan bersama kalimat peringatan halus yang tak memberi ruang untuk membantah.

Di ruang IGD, dokter segera melakukan perawatan. Luka di kepala Max dibersihkan dan dijahit, infus dipasang, tekanan darah diperiksa. Max mengikuti semuanya dengan patuh, sesekali mengerang pelan, cukup untuk terdengar lemah, dan tentu juga cukup untuk membuat Zayna tetap di sisinya.

Malam itu juga, Max dipindahkan ke bangsal rawat inap. Bukan VIP. Bukan kelas satu.

Kamar rawat inap kelas paling rendah.

Zayna tahu, Max terluka karena membelanya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bertanggung jawab.

Padahal, rumah sakit besar dan modern itu adalah milik Maxime Brixtone. Gedung menjulang dengan peralatan tercanggih, dokter-dokter terbaik, dan kamar VIP yang selalu disiapkan untuk namanya, semuanya berada di bawah kuasanya. Satu perintah saja, ia bisa dipindahkan ke lantai tertinggi dengan pengamanan penuh dan pelayanan eksklusif.

Namun Max memilih bangsal kelas paling rendah, yang satu kamarnya di isi oleh 2 pasien.

Bukan karena keterbatasan. Melainkan karena perhitungan.

Di tempat seperti itu, ia tampak rapuh. Tak berdaya.

Dan di mata Zayna, ia bukan lagi seorang pria berkuasa, melainkan seseorang yang harus dijaga, ditemani, dan tidak boleh ditinggalkan.

Max menutup mata, menyembunyikan senyum tipis di balik wajah pucatnya.

Baginya, penderitaan hanyalah alat.

Dan malam ini… Alat itu bekerja dengan sempurna.

Bersambung

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
Umi Zein
kamu gak tau yg sebenarnya Max/Sob/, klo kamu tau tentang kebenarannya bencinya kamu pasti akan berbuah syang 0d ayahmu/Whimper//Chuckle/
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
Apa penguntit itu suruhan nevari???
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
Hanima
lanjut Maxxx
Umi Zein
ya seneng bahagia laah! wong dapet jatah dr istrinya orang😂😂
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Gas Max, Bisa jadi benihhhmu juga sdh tumbuh. Jadi tanggung jawablah, perjuangkan Zayna sampai titik darahhh penghabisan🤭🤣
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Anggap saja Max adalah obat untuk luka yang diderita zayna.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Semoga saja Drake segera menceraikannn Zayna. takut bangeet Zayna goyah dan dibodohiii drake. karena mereka sd impas sdh merasakan kehangatan bersama orang lain.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
demi zayna max rela melakukan apapun🤭
Hanima
Lanjuttt Max
Hanima
semuaaaanya 🤭
Hanima
👍👍
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
gak papa drake sekarang bergaya dulu ala ala CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh😁🤭
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk
Anonymous
Thor kok blm update
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
duuuuh bolak balik ngintipin up apa blom🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Umi Zein
ooh jdi si Max sengaja ngasih posisi itu ke Drakula biar dia bisa mantau trus. licik tp pinter jg si Max /Proud//Joyful//Joyful/
Achimedess
keren
Achimedess
siipp
dlups
lanjukan
dlups
upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!