NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Untuk Papa

Seorang pria dewasa masih memijat pelipisnya, menatap tumpukan dokumen yang seolah tak ada habisnya, ketika bayangan kecil mendekat. Tiba-tiba, sebuah vas kaca berisi setangkai bunga matahari yang mekar sempurna diletakkan tepat di atas meja kerjanya.

Ia tersentak, punggungnya tegak seketika karena terkejut. Warna kuning cerah dari kelopak bunga itu tampak begitu kontras dengan ruang kerjanya yang serba abu-abu. Ia menoleh dan menemukan putranya berdiri di sana dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi kecilnya.

"Untuk Papa," ucap Byan pelan.

Pria itu tertegun sejenak, matanya beralih dari bunga yang segar itu kembali ke wajah anaknya. Dengan kening berkerut namun nada suara yang melembut, ia bertanya, "Indah sekali... tapi, dari mana kamu mendapatkan ini, jagoan?"

Byan tersenyum malu-malu sambil bergerak duduk di pangkuan sang ayah. "Dari tante bunga."

"Tante bunga?" Ulang pria itu terlihat heran. "Nama pemberi nya, Bunga?"

"Tidak." Byan menggeleng cepat. "Aku tidak tahu nama nya. Jadi aku panggil tante bunga. Dia punya toko di seberang sekolah ku. Bunga ini sebenarnya untuk aku sebagai ucapan terimakasih karena sudah membawakan sarapan pagi tadi." Jelas anak itu panjang lebar.

Sang ayah mengangguk. "Lalu kenapa dikasih ke papa?" Tangannya perlahan menyentuh kelopak bunga matahari itu dengan perasaan senang. Sudah lama ia tidak melihat bunga matahari.

"Aku sudah izin sama tante bunga kalau bunganya di kasih ke papa. Karena papa suka bunga matahari."

Pria itu terenyuh lalu memeluk erat putra nya. Memberikan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala nya. Byan adalah nafas nya. "Hati-hati sama orang baru ya jangan terlalu dekat."

"Iya pa."

...----------------...

Lampu gantung kristal yang menjuntai di tengah ruang makan memantulkan kilau keemasan pada permukaan meja marmer yang panjang. Di atasnya, tertata rapi peralatan makan perak dan gelas-gelas kristal yang tampak bening tanpa noda.

Suasana terasa hening, namun elegan.

Beberapa asisten rumah tangga bergerak tanpa suara, menyajikan hidangan pembuka berupa makanan lokal yang aromanya memenuhi ruangan. Pak Fendi, dengan kemeja yang rapi, duduk di kursi utama sembari sesekali memeriksa tabletnya untuk melihat pergerakan saham, sementara Ibu Sandrina tampil anggun dengan pakaian rumahan namun mahal, memastikan setiap detail penyajian untuk memanjakan lidah anak-anaknya.

Obrolan di meja ini bukan lagi tentang sekolah, melainkan rencana masa depan atau investasi properti terbaru. Sebria menceritakan tentang keseharian nya di toko bunga dan Keona menceritakan pengalaman bisnisnya. Meskipun kemewahan terpampang nyata, esensi dari momen ini tetap sama. Sebuah cara bagi keluarga untuk tetap terhubung di tengah jadwal mereka yang sangat padat.

Tiga tahun lalu

Keona menjemput Sebria di rumah mereka. Wajah pemuda itu menggelap ketika kaki nya melangkah masuk. Kedua tangan nya terkepal mencari sosok yang telah menampakkan kakaknya. Iris mata nya merah menahan emosi yang siap meledak.

BUGH !!!

Deric tersungkur di anak tangga. Sudut bibirnya pecah dan terasa asin di lidah. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Keona melampiaskan emosinya cukup brutal.

"Keo !"

Kepalan tangan Keona tergantung di udara. Lalu perlahan melepaskan cengkraman tangannya pada leher kemeja Deric. Nafas Keona memburu dengan bulir keringat yang bercucuran. Perlahan kaki nya mundur dari anak tangga.

"Kakak sudah siap?" Tanya nya terengah.

Sebria mengangguk. "Sudah, kamu istirahat dulu?"

"Enggak." Keona menggeleng. Lalu menoleh ke arah Deric yang masih duduk mengusap darah menetes dari bibir dan pelipisnya.

Wajah tampan itu memar bercampur darah. Deric terkejut karena Keona datang langsung memukulnya.

"Ayo." Ajak Sebria setelah berpamitan pada Minah.

"Ini yang kamu mau." Ucap Keona tegas. "Jangan menyesali keputusan kamu saat ini. Jangan mencari kakak ku ketika kamu berubah pikiran."

Deric terdiam tidak menjawab atau pun membalas pukulan Keona.

Sebria dan Keona mengambil penerbangan sore. Namun sebelum berangkat mereka mengurus kepindahan pengobatan Sebria. Meski lelah Keona tidak mengeluh. Lelah apapun tubuhnya. Sebria lebih lelah dan sakit. Tidak hanya fisik tapi juga hati.

Setiba mereka di kota kelahiran Sebria. Tujuan singgahnya adalah rumah yang baru Keona sewa dengan bantuan asistennya. Karena kesibukannya bekerja. Pemuda itu meminta ibu Adelia yang datang ke rumah sewa itu untuk menemani Sebria.

Hari-hari di lalui Sebria cukup berat. Menunggu putusan sidang. Melihat kondisi kakaknya memburuk mau tidak mau Keona harus mengambil keputusan.

"Mau kemana kamu, Keo?!" Tegur ibu Sandrina ketika melihat putranya menggeret koper besar.

"Aku mau tinggal sama kak Sebria sampai dia pulih."

Air muka Ibu Sandrina berubah. "Sampai kapan kamu mengurus dia, Keona ! Apa dia nggak bisa mengurus diri nya sendiri?!"

Keona melepas gagang koper lalu menarik nafas panjang sambil menunduk. Ia berusaha menekan emosi yang tiba-tiba menyelinap di hati. "Kalau bukan aku, lalu siapa?" Tanya nya pelan. "Dia saudara ku, Ma. Anak yang sengaja kalian buang !"

"Jaga bicara kamu, Keona !" Bentak Ibu Sandrina tidak suka.

Air mata Keona mengalir pelan di pipi nya bukti nyata jika diri nya juga sakit melihat kondisi kakaknya. "Kak Sebria dalam proses cerai dengan suaminya. Dia di ceraikan karena lumpuh dan belum hamil." Ucapnya dengan intonasi pelan bergetar. Jujur dadanya sesak mengatakan itu. "Kenapa harus dia ?! Menanggung segala keegoisan kalian ! Kenapa?" Tangis Keona pecah bersamaan sepasang kaki terpaku di ambang pintu. "Dia butuh dukungan, Kak Sebria seperti mayat hidup. Mungkin di antara kalian nggak ada ikatan batin tapi demi kemanusian biarkan aku tinggal bersama nya. Dia sudah pernah di buang dan sekarang terjadi lagi. Dia nggak minta untuk dilahirkan tapi kalian yang membuatnya lahir di dunia ini nggak bertanggung jawab. Kenapa harus dia menanggung dan menahan rasa sakitnya." Sambil mengusap air matanya Keona menarik gagang koper lalu menyeret langkah pergi.

Di ambang pintu. Keona berpapasan dengan ayahnya tapi tidak membatalkan niatnya untuk pindah ke rumah Sebria. Sementara Ibu Sandrina jatuh di lantai bak patung mencerna semua kalimat putranya. Melihat hal itu pak Fendy gegas menghampiri istrinya.

"Aku salah Pa." Ledakan tangis ibu Sandria menggema disana. Dosa masa lalunya tidak pernah selesai apa bila dia tidak menyelesaikannya. "Apa yang harus aku lakukan."

"Dosa ini juga milik ku." Pak Fendy meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Jalan terbaiknya kita temui dia. Akui dosa kita."

Ibu Sandrina mengangguk tapi tangisnya masih belum reda. Belum pernah ia melihat tangis Keona seperti tadi. Ia sudah pernah membuang darah dagingnya jangan sampai ia kehilangan putranya juga.

...----------------...

Ibu Sandrina mengusap sudut matanya yang basah mengingat masa lalu selalu membuatnya ingin menangis. Hari itu saat ia datang ke rumah sewa Sebria. Lututnya lemas melihat kondisi Sebria duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan tatapan kosong.

Ibu Sandria langsung bersimpuh di depan kursi roda Sebria mengakui dosanya dan akan memperbaikinya. Walau pun tidak mengumumkan memiliki anak lain tapi ia tetap memperbaiki segalanya.

1
Ayuwidia
Dari sinopnya udah nyesek 🥺
Human
kisah yang menarik,Sebria tokoh wanita yang hebat dan tangguh,mentalnya kuat banget menghadapi segala cobaan
Ririn Rira: terimakasih kak mampir di buku baru lagi ya...
total 1 replies
Joey Joey
sebenarnya kamu tidak pgen pisah tapi karena keadaan and kamu tidak mau melibatkan terlalu jauh maka dengan kepahitan kamu melepaskan nya
Lisa
Wah udh ending nih..ceritanya bagus banget Kak..akhirnya Bria bahagia bersama keluarga kecilnya..
Lisa: Sama² Kak..oke Kak..
total 2 replies
Lisa
Ternyt Deric yg bermasalah..dia tdk mau mangakuinya..y sudahlah lebih baik mereka berpisah & Bria menemukan kebahagiaannya.
Ayuwidia
Benar, Bria nggak perlu tahu kehancuran sang mantan suami yg diakibatkan oleh keegoannya sendiri. Kelak, semoga Deric juga temukan bahagia bersama wanita yg bisa menerima dia apa adanya.

Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰
Ayuwidia: sama2, Kak Ririn 🥰
total 2 replies
Ayuwidia
Alhamdulillah, akhirnya kebahagiaan mendekap erat Sebria setelah luka yang dialaminya bertubi-tubi 🥰
Indhira Sinta
bagus ceritanya,lain daripada yg lain
Ayuwidia
Harusnya, kamu dulu jujur saja, Ric. Banyak jalan yg bisa ditempuh untuk memiliki keturunan. Tapi ya sudahlah, semua dah terlanjur. Makasih sudah membebaskan Bria, sehingga dia bisa bebas dan sekarang bahagia dengan kehidupan barunya.
Lisa
Selamat y utk Bria & Jehan..sehat² y Bria sampai HPL nya nanti..
Ayuwidia
Lagi-lagi ikut bahagia sekaligus terbaru, luka yg dulu menganga sekarang terobati sempurna. Selamat buat kalian, Jehan--Bria 🥰
Ayuwidia: ralat: terharu, keyboardnya kerasukan Kak 😄
total 1 replies
Lisa
Koq cepat Kak..udh mau ending 🤭
Ririn Rira: iya kak buku meminjam ibu sehari emang di targetkan bab nya pendek
total 1 replies
Ayuwidia
Loh, kok cepet banget, Kak?
Ayuwidia: Rama-Hawa jg cuma dikit bab nya, Kak. Buat mengisi ramadan aja kaya' nya 😅
total 2 replies
Lisa
Syukurlah Byan udh ga ngerasa takut lg..bahagia selalu y utk kalian bertiga
Ririn Rira: terimakasih kak🥰
total 1 replies
Dewi Eka
menarik
Ayuwidia
Semoga kelak jika Mama Bi punya dedek bayi, Byan bisa menerima dan nggak cemburu 😉
Ririn Rira: Byan tetap jadi prioritas mama B 😄
total 1 replies
Lili Inggrid
banyak banyak up ..cerita bagus banget😊
Lisa
Ya Byan jgn dengerin kata² yg g baik itu..Mama B sangat menyayangimu.
Ayuwidia
Mama B itu tulus mencintai kamu, Byan. Jadi, meski kelak mama B punya baby, cintanya nggak pudar
Ayuwidia
Waduh, kalimat yg memprovokasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!