NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Budak di Balik Bayangan

Dinginnya lantai kamar VVIP Sakura seolah meresap ke dalam kulit Kella, meski ruangan itu dilengkapi dengan pemanas udara yang canggih. Ia masih terduduk mematung di atas tatami, menatap pintu yang terkunci dari luar. Gala benar-benar meninggalkannya di sana, terkurung dalam kemewahan yang menyesakkan. Selama dua jam sisa waktu sewa, Kella tidak melakukan apa-apa. Ia hanya memandangi bayangan lampu yang memantul di meja kayu, merenungi nasibnya yang kini secara resmi telah terjual.

Pukul satu dini hari, barulah Kak Sisca membuka pintu dengan wajah penuh tanda tanya. "Kella? Anak itu sudah pergi lama sekali lewat pintu depan, tapi dia bilang jangan buka pintu ini sampai jam sewa habis. Apa yang dia lakukan sama kamu?"

Kella bangkit dengan susah payah, kakinya kram. "nggak ada, Kak. Dia cuman... ingin aku diam di sini."

Kella pulang dengan langkah yang terasa ribuan kilogram beratnya. Tidurnya hanya berlangsung selama tiga jam. Di dalam mimpinya, ia melihat Gabriel berdiri di tengah lapangan sekolah, tapi saat ia mendekat, wajah Gabriel berubah menjadi wajah Gala yang sedang menyeringai kejam.

Pukul 06.45 WIB.

Kella sudah berdiri di halte depan gang kontrakannya. Ia mengenakan seragam yang sudah disetrika rapi—meski warnanya tetap kusam—dan rambutnya yang sebahu disisir lurus. Jaket kulit Gala tersimpan rapi di dalam tas belanja plastik yang ia jinjing.

Tepat pukul tujuh, suara deru motor sport yang sangat ia kenal membelah kesunyian halte. Motor itu berhenti tepat di depan kaki Kella, menyemburkan asap tipis dari knalpotnya. Gala membuka kaca helm, matanya yang tajam menatap Kella dari balik pelindung gelap.

"Naik," perintahnya tanpa salam.

Kella tidak membantah. Ia naik ke jok belakang yang tinggi, menjaga jarak sebisa mungkin agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan punggung Gala. Namun, saat motor itu melesat membelah jalanan kota, Gala sengaja menarik gas dengan sentakan keras, membuat tubuh Kella terdorong ke depan dan terpaksa memegang pinggang Gala agar tidak terjatuh.

Kella segera menarik tangannya kembali setelah keseimbangannya pulih, namun ia bisa merasakan Gala terkekeh pelan di balik helmnya. Perjalanan menuju sekolah terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.

Saat mereka memasuki gerbang SMA 01, waktu seolah berhenti. Ratusan pasang mata yang sedang berkumpul di area parkir dan koridor depan menoleh serempak. Mereka melihat sang pangeran baru, cucu pemilik sekolah, membonceng "Si Bisu" yang miskin.

Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.

"Itu Kella, kan?"

"Kok bisa sama Gala?"

"Gue denger Kella itu asisten barunya. Tapi kok dibonceng?"

"Mungkin dia beneran 'jualan', makanya Gala tertarik."

Gala memarkirkan motornya dengan gaya yang sangat mencolok. Ia turun, lalu menatap Kella yang sedang berusaha merapikan roknya yang tersingkap angin. "Mana tas gue?"

Kella turun dan mengambil tas ransel milik Gala yang tergantung di kemudi motor. Ia menyampirkan tas itu di bahunya sendiri. Jadi sekarang ia membawa dua tas: tasnya yang kusam dan ransel bermerek milik Gala.

"Ikut gue," ucap Gala.

Mereka berjalan menyusuri koridor. Gala berjalan di depan dengan angkuh, sementara Kella mengekor dua langkah di belakangnya seperti bayangan yang enggan. Setiap siswa yang mereka lewati memberikan tatapan yang menusuk—antara jijik, iri, dan bingung.

Sesampainya di depan kelas, Gala berhenti mendadak. Ia berbalik dan menatap tas plastik yang dibawa Kella. "Itu apa?"

"Jaketmu. udah aku bersihkan," jawab Kella lirih.

Gala mengambil tas plastik itu, membukanya, dan menghirup aromanya sekilas. "Lo cuci pakai sabun apaan? Bau murah. Gue nggak suka." Ia melempar kembali tas plastik itu ke dada Kella. "Buang aja. Gue nggak mau pake barang yang udah kena bau kontrakan lo."

Hati Kella mencelos. Ia menghabiskan satu jam tadi malam mencuci jaket itu dengan tangan karena takut merusak bahannya, menggunakan detergen terbaik yang ia punya. Dan Gala membuangnya begitu saja di depan semua orang.

"Tapi ini mahal..."

"Gue bilang buang, ya buang!" sentak Gala.

"Sekarang, masuk. Bersihin meja gue. Gue nggak mau ada debu sedikit pun sebelum gue duduk."

Kella masuk ke kelas yang sudah mulai ramai. Ia bisa melihat Hani menatapnya dengan raut ketakutan dari kejauhan. Kella memberikan isyarat dengan matanya agar Hani tidak mendekat. Ia tidak ingin temannya ikut terseret dalam permainan gila Gala.

Dengan sehelai tisu basah yang ia bawa dari rumah, Kella mulai mengelap meja dan kursi Gala. Ia melakukannya dengan telaten, menahan malu karena teman-teman sekelasnya kini terang-terangan menertawakannya.

"Ciyee, pembantu baru!" teriak Reno sambil melemparkan gulungan kertas ke arah Kella.

"Kel, sekalian dong meja gue! Nanti gue kasih seribu," sahut yang lain.

Kella mengabaikan mereka. Fokusnya hanya satu, bertahan sampai bel pulang. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai saat pelajaran pertama berlangsung.

Pak Dodo masuk ke kelas. "Anak-anak, buka buku paket kalian halaman 150. Kita akan membahas tentang Passive Voice."

Gala menyenggol lengan Kella. "Kella, gue ngantuk. Tulisin catatan buat gue. Semuanya. Kalau ada yang terlewat, lo tahu konsekuensinya."

Kella terpaksa menggeser buku catatan Gala ke hadapannya. Ia menulis dengan dua tangan bergantian; satu tangan menulis catatannya sendiri, tangan lainnya menulis di buku Gala. Jemarinya yang masih memar mulai terasa kaku dan perih, tapi ia tidak berani berhenti.

Jam istirahat pun tidak memberikan napas bagi Kella. Saat semua orang pergi ke kantin, Gala tetap duduk di kursinya dengan kaki diangkat ke atas meja.

"Gue laper. Beliin gue nasi goreng di kantin Bu Sri. Jangan pake bawang goreng, jangan pake pedas, dan telurnya harus setengah matang. Kalau nggak sesuai, lo balik lagi ke sana," perintah Gala sambil melemparkan selembar uang lima puluh ribuan.

Kella berlari menuju kantin. Antrean sangat panjang, dan ia harus berdesak-desakan dengan siswa lain yang sengaja menyikutnya. Saat ia akhirnya mendapatkan nasi goreng itu dan kembali ke kelas, ia melihat meja Gala sudah dikerumuni oleh Sarah dan kawan-kawannya.

"Duh, Gala, kok mau sih ditemenin sama cewek suram kayak dia?" suara manja Sarah terdengar hingga ke pintu.

"Dia itu asisten gue, Sar. Seru aja liat dia lari-lari kayak anjing pelacak," jawab Gala santai.

Kella masuk dan meletakkan nasi goreng itu di meja. "Ini pesananmu."

Gala membuka bungkusnya, lalu mengaduknya dengan sendok. Ia mengambil sedikit bagian telur dan mencicipinya. "Ini udah matang sempurna, Kella. Gue bilang setengah matang."

"Tapi tadi Bu Sri bilang—"

"Gue nggak peduli apa kata Bu Sri. Gue peduli apa kata gue," potong Gala. Ia mengambil bungkusan nasi itu dan... brak! Ia membuangnya ke tempat sampah di pojok kelas. "Beli lagi. Gue tunggu sepuluh menit."

Kella menatap nasi goreng yang terbuang sia-sia itu. Baginya, makanan itu sangat berharga. Ia teringat bagaimana ia sering hanya makan satu bungkus mie instan yang dibagi dua untuk sarapan dan makan siang. Melihat makanan dibuang seperti itu membuat dadanya sesak oleh kemarahan yang tertahan.

"Kenapa diam? Cepat!" gertak Gala.

Kella berbalik dan kembali berlari ke kantin. Ia melakukannya tiga kali. Tiga kali ia bolak-balik karena Gala selalu menemukan alasan untuk menolak makanannya. Kadang terlalu dingin, kadang terlalu banyak kecap. Pada akhirnya, waktu istirahat habis dan Kella sama sekali tidak sempat makan bekal mienya sendiri.

Perutnya perih, kepalanya mulai pusing karena kekurangan glukosa, ditambah rasa lelah setelah bekerja di kafe hingga dini hari. Saat pelajaran Matematika dimulai, pandangan Kella mulai mengabur. Angka-angka di papan tulis seolah menari-nari.

Bruk!

Kella jatuh tersungkur dari kursinya. Ia pingsan di tengah pelajaran.

Suara dengung kipas angin di UKS adalah hal pertama yang didengar Kella saat ia membuka mata. Aroma minyak kayu putih menyengat hidungnya. Ia menoleh dan menemukan sosok Gala sedang duduk di kursi sebelah tempat tidurnya, sedang asyik bermain game di ponselnya.

"Lemah banget lo," ucap Gala tanpa menoleh. "Cuma disuruh beli nasi tiga kali aja pingsan."

Kella berusaha duduk, kepalanya berdenyut hebat. "Pukul berapa sekarang?"

"Udah jam pulang. Lo tidur lama banget. Merepotkan," Gala menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia berdiri dan mendekati Kella.

Tiba-tiba, Gala meletakkan punggung tangannya di dahi Kella. Sentuhan itu sangat mendadak, membuat Kella terkesiap dan tanpa sadar bergumam pelan. "Gabriel..."

Gala langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan gelap. "Lagi? Lo sebut nama itu lagi?"

Kella segera menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar ketakutan. "Maaf... aku... aku tidak sadar."

Gala mencengkeram rahang Kella, memaksanya menatap mata elang itu. "Gue udah bilang, jangan pernah sebut nama itu. Gue benci dibanding-bandingkan sama orang!"

"Wajahmu... saat kamu diam seperti tadi... sangat mirip dengannya," bisik Kella dengan air mata yang mulai menetes. "Aku nggak bisa menahannya."

Gala melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia tampak sangat gusar, seolah ada sesuatu dalam diri Kella yang mulai mengusik ketenangannya. "Denger ya, Kella. Besok malam, ada acara besar di rumah gue. Bokap gue ngadain pesta kolega bisnis. Gue mau lo dateng. Bukan sebagai asisten, tapi sebagai pelayan tambahan di sana. Lo harus liat dunia gue yang sebenernya, biar lo sadar kalau gue dan si Gabriel itu beda kasta."

Gala melangkah menuju pintu UKS. "Gue tunggu jam tujuh malam besok di depan gerbang perumahan Emerald Hills. Jangan telat, atau rahasia maid lo bakal jadi headline di mading sekolah lusa."

Gala pergi, meninggalkan Kella yang kembali tenggelam dalam kesunyian UKS. Ia meremas sprei tempat tidur itu kuat-kuat. Ia merasa seperti sedang terseret ke dalam pusaran air yang semakin dalam. Setiap langkah yang ia ambil untuk melindungi rahasianya, justru membawanya semakin dalam ke dalam cengkeraman Gala.

Kella menatap jendela, matahari mulai terbenam. Ia harus segera bersiap menuju kafe. Tidak ada waktu untuk sakit, tidak ada waktu untuk mengeluh. Namun di balik itu semua, sebuah tanya besar muncul di benaknya,Kenapa Gala begitu membenci nama Gabriel? Apakah hanya karena harga diri, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari itu?

...

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!