___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 13
pagi yang damai di kediaman Airlangga terusik oleh suara mesin mobil yang menderu halus tepat pada pukul 06.15. Lebih awal lima belas menit dari janji yang diucapkan semalam.
Aiden Raditya memang bukan tipe orang yang suka membuang waktu, apalagi jika menyangkut miliknya.
Di lantai dua, Vanya masih bergelung nyaman di balik selimut down feather-nya. Rambutnya berantakan di atas bantal, dan napasnya teratur.
Ia sama sekali tidak sadar bahwa di lantai bawah, Mama Olivia baru saja membukakan pintu untuk seorang tamu yang sangat disiplin.
"Loh, Aiden? Pagi sekali, Nak,"
sapa Mama Olivia ramah.
Aiden tersenyum tipis, tampak sangat segar dengan seragam OSIS yang disetrika sempurna.
"Pagi, Ma. Aiden mau pastikan Vanya nggak telat lagi hari ini. Apa dia sudah bangun?"
Mama Olivia tertawa kecil sambil menggeleng.
"Kamu tahu sendiri Vanya, susah sekali dibangunkan kalau sudah hari sekolah. Masuk saja, Aiden. Kamarnya, sepertinya tidak dikunci. Mama mau siapkan sarapan dulu."
Mendapat lampu hijau dari calon mertua, Aiden melangkah mantap menaiki tangga. Ia membuka pintu kamar Vanya perlahan.
Suasana kamar itu remang-remang, hanya diterangi cahaya matahari yang menerobos celah gorden. Aroma manis khas tubuh Vanya langsung menyambut indra penciuman Aiden.
Aiden berjalan mendekati ranjang, menatap gadis yang sedang tertidur pulas itu. Matanya tanpa sengaja tertuju pada bagian dada piyama Vanya yang terlihat sedikit lembap.
Rupanya, produksi pagi ini sudah meluap karena Vanya telat bangun.
"Kebo," gumam Aiden pelan.
Ia membungkuk, lalu dengan gemas mencubit pipi Vanya yang chubby dan menariknya sedikit kuat.
"Aw! Sakitttt!" pekik Vanya spontan. Ia langsung terduduk dengan mata terbelalak, nyawanya masih tertinggal di alam mimpi.
"Ihhh! Siapa sih Kak Aiden?!"
Vanya refleks menarik selimut untuk menutupi dadanya saat menyadari Aiden sedang berdiri tepat di depannya dengan tangan bersedekap.
"Jam berapa ini?" tanya Aiden dingin, meski matanya berkilat nakal.
"Gua bilang jam berapa tadi malam, hah?"
"I-itu... kan masih pagi banget! Kakak ngapain masuk kamar gwehh?!" rengek Vanya dengan logat manjanya, wajahnya merah padam karena malu tertangkap basah masih bau bantal.
"Mandi sekarang. Lima menit lo nggak keluar, gue yang mandiin," ancam Aiden tanpa ekspresi.
"Ihh! Mesum! Keluar nggak?! Keluar!"
Vanya melempar bantal ke arah Aiden yang hanya ditangkis dengan satu tangan. Sambil menggerutu barbar, Vanya lari masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru.
Dua puluh menit kemudian, Vanya turun dengan seragam yang sudah rapi, meski wajahnya masih ditekuk cemberut.
Di meja makan, Papa Airlangga dan Mama Olivia sudah duduk manis, sementara Aiden tampak asyik mengobrol dengan Papa sambil menikmati rotinya.
"Pagi, Sayang. Nah, kalau dijemput Aiden kan kamu jadi bangun pagi," goda Papa Airlangga.
"Papa mah gitu! Kak Aiden tuh jahat, cubit-cubit pipi Vanya sampe sakit!"
adu Vanya sambil duduk di samping Aiden, sengaja menyenggol lengan cowok itu dengan kasar.
Aiden hanya terkekeh pelan. Ia mengambil selembar roti gandum, mengolesinya dengan selai cokelat, lalu menyodorkannya ke depan mulut Vanya.
"Makan. Jangan banyak protes kalau nggak mau gua suapin pakai cara lain."
Vanya terdiam, hatinya mendadak mleyot. Dengan wajah malu-malu, ia menerima suapan dari Aiden di depan kedua orang tuanya.
Sarapan pagi itu terasa sangat hangat, meski penuh dengan sindiran-sindiran kecil dari Aiden yang membuat Vanya kesal sekaligus berdebar.
Perjalanan menuju sekolah terasa lebih cepat karena Aiden membawa mobil dengan sangat lincah. Di dalam mobil, Vanya terus-menerus membetulkan letak tasnya untuk menutupi bagian dadanya yang mulai terasa tidak nyaman lagi.
"Kenapa? Sesak lagi?" tanya Aiden tanpa menoleh dari jalanan.
"Dikit... tapi nanti aja pas istirahat gweh urus," cicit Vanya.
Aiden merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah kunci.
"Itu kunci ruang kerja pribadi gue di belakang ruang OSIS. Ada kulkas kecil dan sofa di sana. Kalau lo udah nggak tahan, langsung ke sana. Jangan di toilet sekolah, kotor."
Vanya menerima kunci itu dengan mata berbinar. "Beneran, Kak? Wah, Kak Aiden pinter juga ya!"
"Gue emang pinter. Makanya lo beruntung dapet gue,"
ucap Aiden dengan rasa percaya diri tingkat dewa.
Mobil sport itu memasuki gerbang sekolah, memicu perhatian ratusan pasang mata siswa yang baru tiba.
Vanya menarik napas panjang. Hari ini, ia akan menghadapi sidang di ruang Kepsek bersama Mamanya. Namun, melihat kunci di genggamannya dan Aiden di sampingnya, rasa takut itu entah kenapa menguap begitu saja.
"Ingat, habis sidang langsung ke ruangan gue. Gue tunggu," bisik Aiden sebelum mereka turun dari mobil.