Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di dalam kamar berubah mencekam.
Tamara, Sofia, dan Andara sudah pergi beberapa menit lalu. Tiga adik Kayla tertidur di sofa kecil, kelelahan setelah seharian menunggu. Hanya tersisa Kayla dan Mami Rose di dalam ruangan.
Lampu putih rumah sakit membuat bayangan mereka tampak tajam di dinding. Bau obat masih menyengat, namun ketegangan di udara terasa lebih pekat daripada aroma antiseptik apa pun.
Kayla bersandar di ranjang, wajahnya pucat, perban masih melilit kepalanya. Tangannya mengepal di atas selimut.
Mami Rose berdiri tegak di kaki ranjang, tangan terlipat, rahang mengeras, matanya memancarkan dingin yang menusuk.
“Kamu benar-benar ingin keluar?” tanya Mami Rose pelan, tetapi nadanya berbahaya.
Kayla menatapnya lurus. Ada getar di suaranya, tetapi ia memaksa diri untuk tegas. “Iya, Mi. Aku sudah mantap.”
Hening sesaat. Lalu, tawa kecil keluar dari bibir merah menyala Mami Rose, tatapan dingin, sinis, dan meremehkan.
“Mantap?” Mami Rose mengulang, melangkah mendekat hingga bayangannya menaungi Kayla. “Kamu baru sekali hampir mati, lalu tiba-tiba merasa paling suci di dunia?”
Kayla menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. “Aku tidak merasa suci. Justru aku merasa terlalu kotor, Mi. Dan aku ingin berhenti sebelum benar-benar terlambat.”
Mata Mami Rose menyipit. “Berhenti?” ia mendesis. “Kamu pikir hidup itu semudah membalik telapak tangan? Kamu pikir dunia ini akan membuka pintu untuk perempuan sepertimu?”
Kayla menarik napas dalam, dadanya naik turun tak stabil. “Aku tahu akan sulit. Tapi aku tetap mau mencoba.”
Mami Rose tertawa lagi, kali ini lebih keras, menusuk telinga. Ia berbalik, berjalan mondar-mandir seperti singa yang siap menerkam.
“Kamu tahu kenapa banyak yang tidak pernah bisa keluar dari genggaman Mami?” tanya Mama Rose dingin. “Karena mereka bodoh jika berpikir bisa kabur tanpa konsekuensi.”
Kayla menegang.
Mami Rose berhenti tepat di samping ranjang, menatap Kayla dari atas ke bawah.
“Kamu tahu betul, Queen, Mami tidak main-main. Setiap perempuan yang mencoba kabur, akan Mami kejar. Bukan dengan air mata, tetapi dengan orang-orang Mami.”
Di luar ruangan, petir menggelegar.
Kayla teringat cerita-cerita mengerikan yang beredar di kalangan mereka: perempuan yang dipukuli, diintimidasi, bahkan “menghilang” setelah mencoba melarikan diri.
“Mami punya bodyguard,” lanjut Mami Rose pelan, suaranya turun, tetapi lebih menyeramkan. “Bukan satpam kampungan, tapi preman. Orang-orang yang tidak kenal ampun. Mereka tahu cara membuatmu menyesal seumur hidup.”
Jantung Kayla berdegup kencang. Tangannya gemetar di bawah selimut.
“Kecuali ....” Mami Rose berhenti, menatap Kayla dengan tatapan menilai. “Kalau kamu sudah tidak berguna lagi. Kalau kamu sudah tua atau kena penyakit. Baru Mami akan melepaskanmu dengan suka rela.”
Kata-kata itu menghantam Kayla seperti tamparan keras. Air mata akhirnya jatuh.
“Aku bukan barang, Mi!” suara Kayla bergetar, penuh kemarahan dan kepedihan. “Aku manusia! Aku punya hak untuk berubah!”
Mami Rose mendengus. “Hak? Di dunia ini, hak dimiliki oleh yang punya uang dan kekuasaan. Dan kamu ... kamu milikku.”
Kayla terisak, tetapi matanya tetap menyala. “Tidak lagi.”
Suasana semakin memanas. Tiba-tiba—
Pintu diketuk pelan, lalu terbuka. Ashabi masuk, wajahnya tegang tetapi tenang. Ia membawa kantong plastik berisi buah, namun kini tergeletak begitu saja di tangannya.
Begitu melihat ekspresi Kayla yang basah oleh air mata dan wajah dingin Mami Rose, ia langsung memahami situasi.
Mami Rose menoleh, menatap Ashabi dari ujung kepala sampai kaki. “Oh, jadi ini pahlawan barumu?” katanya sinis.
Ashabi melangkah masuk, berdiri di antara ranjang Kayla dan Mami Rose tanpa menyentuh siapa pun, tetapi jelas posisinya melindungi.
“Jangan berbicara seperti itu kepadanya,” ucap Ashabi tegas, suaranya mantap.
Mami Rose tertawa kecil. “Kamu siapa berani mengaturku?”
Ashabi menatapnya lurus, tidak gentar. “Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya tahu apa yang benar dan salah. Dan memaksa seseorang hidup dalam dosa bukanlah kebenaran.”
Mata Mami Rose menyipit, rahangnya mengeras.
“Dengar ya, anak muda,” katanya dingin. “Kamu mungkin sok mulia sekarang, tapi kamu tidak tahu bagaimana kerasnya dunia ini.”
Ashabi menarik napas panjang, lalu mulai berbicara dengan nada yang lebih dalam, lebih tenang, tetapi penuh keyakinan.
“Justru karena dunia ini keras, manusia harus saling menolong, bukan menjerat. Kayla sudah memilih jalan yang lebih baik. Itu bukan kebodohan, tapi itu keberanian.”
Kayla menatap Ashabi, terkejut sekaligus terharu.
Ashabi menoleh sebentar padanya, lalu kembali menatap Mami Rose.
“Jika seseorang ingin bertobat, ingin berubah, ingin meninggalkan dosanya, siapa pun tidak berhak menghalangi. Itu urusan dia dengan Tuhannya.”
Mami Rose tertawa sinis, bertepuk tangan pelan, untuk ejekan.
“Ceramahmu indah sekali,” katanya datar. “Sayang sekali, dunia nyata tidak berjalan dengan ayat-ayat.”
Wanita paruh baya itu melangkah mendekat ke Ashabi, menatapnya tajam. “Kalau kamu memang mau jadi pahlawan, buktikan.”
Ashabi mengernyit. “Buktikan bagaimana?”
Senyum tipis terukir di bibir Mami Rose, senyum predator. “Kayla itu aset bernilai tinggi. Maskot tempatku. Pelanggan berbondong-bondong datang karena dia. Kalau kamu mau membebaskannya, maka harus bayar.”
Kayla langsung menegang.
Ashabi menatap Mami Rose dengan serius. “Berapa?”
Mami Rose mengangkat dagunya angkuh. “Seratus juta rupiah.”
Ruangan terasa hening seketika.
Kayla menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Mi… itu tidak masuk akal—”
“Diam,” potong Mami Rose tanpa menoleh. “Ini urusan antara aku dan pahlawanmu.”
Ashabi terdiam sejenak.
Seratus juta, jumlah yang sangat besar. Bahkan bagi banyak orang yang mapan sekalipun.
Kayla menatapnya dengan mata basah, berbisik panik, “Ashabi, jangan. Kamu tidak harus—”
Namun sebelum ia selesai, Ashabi menoleh padanya. Tatapannya tenang.
“Kalau itu harga kebebasanmu,” katanya pelan, “aku bayar.”
Kayla terbelalak. “Kamu gila?!”
Mami Rose tertawa pendek. “Lihat? Hebat sekali keberanianmu. Tapi uang tidak turun dari langit, Nak.”
Ashabi tidak goyah. Ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang dengan cepat. “Saya butuh notaris. Sekarang.”
Beberapa jam kemudian…
Mereka sudah berada di sebuah kantor notaris tidak jauh dari rumah sakit. Ruangan itu luas, ber-AC, dengan meja kayu besar mengilap. Dindingnya dipenuhi rak berisi berkas tebal.
Kayla duduk di kursi, wajahnya pucat, jantungnya berdegup tak karuan.
Mami Rose duduk anggun di seberangnya, menyilangkan kaki, wajahnya dingin tetapi puas.
Ashabi duduk di samping Kayla, punggungnya tegak, ekspresinya serius.
Notaris, seorang pria paruh baya berkacamata, duduk di kepala meja dengan setumpuk dokumen di depannya.
“Jadi, kesepakatannya jelas,” ucap notaris tenang. “Saudara Ashabi bersedia membayar seratus juta rupiah sebagai ganti rugi pelepasan kontrak Saudari Kayla dari naungan Ibu Rose.”
Mami Rose mengangguk tipis. “Benar.”
Kayla menatap Ashabi dengan air mata yang hampir jatuh. “Kamu tidak harus melakukan ini.”
Ashabi menoleh padanya, suaranya lembut. “Aku memilih melakukannya.”
Notaris mendorong kertas perjanjian ke hadapan mereka. Ashabi mengambil pena tanpa ragu. Tangannya hanya berhenti sekejap, bukan karena bimbang, tetapi karena menyadari betapa besar keputusan ini. Lalu ia menandatangani.
Kayla menutup wajahnya, menangis terisak, bukan karena sedih, tetapi karena tak percaya.
Mami Rose menatap tanda tangan itu, lalu tersenyum tipis.
“Mulai hari ini,” ucapnya dingin, “Kayla bukan lagi Queen.”
Kayla mengangkat wajahnya perlahan. Di balik air matanya, ada sesuatu yang baru, bukan lagi ketakutan, melainkan harapan yang rapuh namun nyata.
Ashabi menatapnya dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Kayla merasakan sedikit cahaya di tengah kegelapan hidupnya.
up LG Thor