Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 perjamuan kehampaan di bawah langit berdarah
Stadion Awan Ungu yang biasanya dipenuhi sorak-sorai kini terasa seperti makam raksasa. Kabut tipis berwarna kelabu menggantung di udara, membiaskan cahaya matahari menjadi rona ungu yang tidak sehat. Han Shuo melangkah ke arena perempat final dengan Ying di sisi kirinya, serta Mei Lin dan Xiao Hua yang menyamar sebagai asisten tambahan di belakangnya.
"Ada yang salah, Bos," bisik Ying, tangannya tidak lepas dari gagang belati yang tersembunyi. "Aromanya... bukan aroma masakan. Ini aroma dupa kematian."
Han Shuo menatap ke arah meja juri. Juri Gao dan para koki istana yang sebelumnya duduk di sana telah menghilang. Di tempat mereka, berdiri lima sosok berjubah hitam dengan bordiran naga tanpa mata. Di tengahnya duduk seorang pria kurus dengan jari-jari panjang yang terus memainkan pisau bedah kecil. Dialah Lord Malphas, salah satu petinggi Asosiasi Gourmet Kegelapan yang menyamar sebagai "Utusan Khusus dari Wilayah Barat".
Bagian 1: Tema yang Menghina Logika
"Selamat datang, para penyintas," suara Lord Malphas terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Babak perempat final ini akan menguji apakah kalian koki sejati atau hanya tukang potong daging. Tema hari ini adalah: 'Perjamuan Kehampaan'."
Ia menunjuk ke arah meja para peserta yang benar-benar kosong. Tidak ada daging naga, tidak ada sayuran surgawi, bahkan tidak ada garam. Hanya ada sebuah mangkuk porselen berisi air sumur biasa.
"Kalian tidak diperbolehkan menggunakan bahan fisik apa pun. Jika kalian menyentuh bahan makanan padat, kalian akan langsung dieksekusi di tempat. Masaklah 'rasa' dari udara, dari cahaya, dan dari energi di sekitar kalian. Waktu kalian: Satu dentang lonceng!"
Kerumunan peserta lain mulai panik. Beberapa koki mencoba memprotes, namun dalam sekejap, lidah mereka terpotong oleh benang Qi yang dikendalikan oleh para juri gelap itu. Suasana menjadi sunyi senyap yang mencekam.
Bagian 2: Sains di Balik Kehampaan
Han Shuo menutup matanya. Ia mengaktifkan Mata Wawasan pada tingkat maksimal. Di matanya, udara tidak lagi kosong. Ia melihat jutaan partikel elemen, uap air, dan jejak-jejak energi spiritual (Qi) yang bertebaran.
"Mei Lin, gunakan teknik pengumpul embunmu untuk menarik hidrogen dari udara. Xiao Hua, kau harus memicu getaran frekuensi tinggi pada kuali kosong untuk menciptakan resonansi," perintah Han Shuo dengan tenang.
Han Shuo mulai melakukan sesuatu yang dianggap gila. Ia memanaskan Kuali Naga Merah hingga membara, namun ia tidak memasukkan apa pun ke dalamnya. Ia menggunakan tangannya untuk memutar udara di dalam kuali, menciptakan pusaran vakum kecil.
Dalam teorinya, Han Shuo menggunakan prinsip Kondensasi Bose-Einstein yang dipadukan dengan manipulasi Qi:
Ia memanipulasi tekanan (P) dan suhu (T) di dalam volume (V) kuali yang tertutup Qi untuk memaksa partikel-partikel mikroskopis di udara menyatu menjadi bentuk semi-padat.
"Jika aku tidak punya bahan, maka aku akan menciptakan bahan dari energi murni," gumam Han Shuo.
Bagian 3: Memasak Cahaya dan Suara
Han Shuo mulai mengalirkan Api Jantung Bumi ke dalam kuali, namun dengan frekuensi yang sangat spesifik. Ia tidak ingin membakar, ia ingin menyinari.
* Ekstraksi Rasa: Ia menangkap aroma bunga persik yang tertinggal di baju Mei Lin dan aroma laut dari sisa-sisa kepiting kemarin yang masih melekat di udara, lalu memadatkannya menggunakan tarikan gravitasi Qi.
* Tekstur Udara: Ia menggunakan teknik "Loncatan Kuantum Kuliner", di mana ia memaksa molekul udara untuk membentuk struktur polimer yang kenyal seperti jeli, namun tetap transparan.
* Bumbu Suara: Xiao Hua memukul pinggiran kuali dengan ritme tertentu, menciptakan gelombang ultrasonik yang menggetarkan molekul "makanan" tersebut hingga menghasilkan rasa gurih (Umami) yang murni tanpa bantuan MSG atau daging.
Penonton hanya melihat Han Shuo menari di depan kualinya yang kosong, namun mereka mulai mencium aroma yang begitu surgawi hingga beberapa orang pingsan karena stimulasi sensorik yang terlalu kuat.
Bagian 4: Pengkhianatan yang Terungkap
Saat Han Shuo sedang berada di puncak konsentrasinya, Lord Malphas berdiri. "Cukup! Aku merasakan energi suci di meja nomor 7. Han Shuo, kau mencoba menggunakan sihir putih untuk menipu kami!"
Malphas mengibaskan tangannya, mengirimkan gelombang Qi Busuk berwarna hitam ke arah kuali Han Shuo. Serangan ini bertujuan untuk merusak struktur molekul masakan Han Shuo dan mengubahnya menjadi racun mematikan.
"Bos, awas!" Ying melompat di depan Han Shuo, menggunakan belatinya untuk membelah serangan hitam tersebut, namun ia terlempar hingga menabrak pilar.
"Ying!" Han Shuo menangkapnya. Amarahnya meledak. Ia melihat ke arah meja juri dan menyadari bahwa di bawah kursi Lord Malphas, terdapat bayangan yang bergerak—itu adalah Juri Gao dan para koki istana yang asli, yang diikat dan disumbat mulutnya dengan akar kegelapan.
"Kalian bukan juri," suara Han Shuo menjadi sangat berat, seolah-olah bumi ikut bergetar. "Kalian hanyalah parasit yang kelaparan."
Bagian 5: Menghidangkan Kehampaan kepada Kematian
"Lanjutkan masakanmu, Han Shuo, atau asistenmu ini akan mati sekarang juga!" tercam Malphas, sementara puluhan anggota Gourmet Kegelapan muncul dari tribun, mengepung penonton.
Han Shuo berdiri perlahan. Ia mengambil sebuah piring giok yang benar-benar bersih. Di atas piring itu, tidak ada apa-apa yang terlihat oleh mata telanjang.
"Ini adalah hidanganku," kata Han Shuo sambil berjalan menuju meja juri gelap. "Namanya: 'Penghakiman Sang Pencipta'."
Malphas tertawa terbahak-bahak. "Kau membawa piring kosong? Kau ingin mati lebih cepat?"
"Makanlah," kata Han Shuo singkat.
Malphas mengambil sendok kosong dan menyuapkannya ke mulutnya. Saat "makanan tak terlihat" itu menyentuh lidahnya, tawa Malphas berhenti seketika. Matanya melotot hingga hampir keluar.
Rasanya bukan sekadar rasa. Itu adalah ledakan energi murni. Karena masakan itu terbuat dari partikel Qi yang sangat padat, begitu masuk ke dalam tubuh, ia bereaksi dengan Qi busuk Malphas.
[Sistem: Aktivasi Efek 'Annihilasi Rasa'. Energi Murni + Energi Busuk \= Ledakan Energi Total!]
BOOM!
Bukan ledakan fisik, tapi ledakan spiritual. Malphas menjerit saat indra perasanya dipaksa merasakan setiap kematian makhluk hidup yang pernah ia masak, diputar berulang-ulang dalam hitungan detik.
"Rasa ini... terlalu... NYATA!" Malphas berlutut, memuntahkan cairan hitam pekat.
Bagian 6: Perang Terbuka
"SEKARANG!" teriak Han Shuo.
Mei Lin melemparkan ratusan benih tanaman merambat yang langsung tumbuh cepat karena energi dari masakan Han Shuo, mengikat para penjaga gelap. Xiao Hua menyelinap di bawah meja juri dan memotong tali pengikat Juri Gao.
Stadion berubah menjadi medan perang kuliner. Para koki Gourmet Kegelapan menyerang dengan pisau-pisau terbang, sementara Han Shuo menggunakan kualinya sebagai perisai dan senjata.
"Han Shuo, ambil ini!" Juri Gao yang baru saja bebas melemparkan sebuah gulungan emas. "Ini adalah Resep Rahasia Kaisar Naga. Hanya koki yang bisa memasak 'Kehampaan' yang boleh membacanya!"
Han Shuo menangkap gulungan itu. Di saat yang sama, langit di atas stadion benar-benar berubah menjadi merah darah. Sebuah portal terbuka, dan sesosok wanita dengan sayap yang terbuat dari pisau dapur raksasa turun perlahan.
Dialah Lady Azure, koki peringkat kedua dalam Asosiasi Gourmet Kegelapan.
"Malphas adalah kegagalan," suara Lady Azure dingin dan merdu. "Han Shuo, kau telah membuktikan bahwa kau layak menjadi bahan utamaku di babak semifinal. Mari kita lihat, apakah 'Kehampaan'-mu bisa menahan 'Kepunahan'-ku."
Lady Azure mengibaskan sayapnya, dan seluruh arena tertutup oleh abu hitam yang panas. Han Shuo memeluk Ying dan Mei Lin, menciptakan kubah pelindung dari api kualinya.
Penutup: Di Ambang Semifinal
Setelah pertempuran singkat yang menghancurkan sebagian besar stadion, para anggota Gourmet Kegelapan mundur, membawa Malphas yang sudah cacat mental karena rasa masakan Han Shuo.
Juri Gao mendekati Han Shuo dengan tubuh gemetar. "Turnamen ini sudah tidak resmi lagi, Nak. Ini adalah perang. Kaisar telah dikurung di dalam istananya oleh kekuatan gelap. Kau adalah satu-satunya harapan kami untuk menembus benteng rasa mereka."
Han Shuo membuka gulungan emas tersebut. Isinya bukan tentang resep makanan, melainkan tentang "Bumbu Kelima: Esensi Takdir".
"Kita tidak akan berhenti," kata Han Shuo, menatap teman-temannya. "Ying, Mei Lin, Xiao Hua... siapkan diri kalian. Semifinal nanti tidak akan dilakukan di dapur, tapi di Dunia Cermin, di mana semua rasa adalah kebalikan dari kenyataan."
Ying mengangguk, meski wajahnya masih pucat. "Ke mana pun kau pergi, Bos, aku akan membawa piringnya."
* Pencapaian: Mengalahkan Lord Malphas (mental), menyelamatkan Juri Gao, menguasai teknik "Memasak Kehampaan".
* Kultivasi: Inti Emas 55% (Tahap Menengah).
* Item Baru: Gulungan Resep Rahasia Kaisar Naga.
* Konflik Aktif: Infiltrasi penuh Gourmet Kegelapan, kemunculan Lady Azure.