NovelToon NovelToon
Bawang Merah Yang Terluka

Bawang Merah Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Antagonis / Percintaan Konglomerat / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.

Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 2

Hendra menolak keinginan putrinya, Azka pernah menemuinya dan meminta Hendra berbicara baik-baik dengan Celina. Bahwa, pemuda itu tak mencintai Celina dan menolak perjodohan.

"Aku hanya mencintai Azka, Pa!"

"Tetapi, tidak dengannya, Celina!" Hendra sedikit meninggikan suaranya biar putrinya mengerti dan mengurungkan niatnya.

"Gunakan kekuasaan dan harta yang Papa miliki buat menjeratnya!!" Celina memberikan usulan.

"Buang ide gila kamu itu!" sergah Hendra.

"Kalau begitu usir Tante Ana dari perusahaan ini!" ucap Celina dengan lantang.

"Mas, pilih saja salah satu permintaan Celina!" Ana berbicara lembut kepada suaminya.

"Aku tidak mau kamu keluar dari perusahaan ini, Ana. Aku juga tak mau menyerahkan Celina kepada pria yang tak mencintainya!" kata Hendra yang sangat bingung.

"Meskipun aku tidak berada di perusahaan ini, aku masih menjadi istrimu, Mas!" ucap Ana lagi.

"Benar sekali, biarkan istrimu Papa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya seperti mamaku yang selalu setia menjadi istri sampai wanita penggoda itu datang menghancurkan semuanya!" sindir Celina dengan pedas. Ia akhirnya mengetahui kisah perpisahan kedua orang tuanya dari beberapa mulut sahabat Andreas sekitar 5 tahun lalu. Ia pikir Ana adalah wanita yang tulus ternyata dia dalang semuanya sehingga Andrea sering sakit-sakitan dan menyerah.

"Celina, jangan bahas itu lagi!" tegur Hendra tak suka putrinya mengungkit masa lalu.

"Mas, sudahlah. Jangan marahi Celina!" Ana mengelus dada suaminya biar tenang.

Ciihh.. Celina memandang jijik ibu sambungnya yang memakai topeng seperti ibu peri.

"Nanti kita bicarakan lagi di rumah," kata Hendra menoleh sekilas ke arah putrinya.

"Baiklah, Pa. Cepat berikan keputusannya!" Celina kemudian berlalu.

"Mas, terima saja salah satu permintaan Celina!" saran dari wanita berusia 46 tahun itu.

"Aku tidak rela menyerahkan Celina kepadanya, aku takut Celina tak bahagia, Ana!" ungkap Hendra yang sangat khawatir jika putrinya menderita.

"Kalau begitu biarkan aku mundur dari perusahaan ini!" Ana memberikan saran lagi.

"Kamu sudah lama bergabung di perusahaan ini, tidak mungkin aku melepaskan kamu begitu saja," ucap Hendra.

"Kamu harus memberikan keputusan, Mas. Aku takut Celina semakin memberontak. Bisa-bisa dia akan menyakiti Elma," kata Ana, ia tak mau Celina menekan putri kandungnya sehingga tak betah di rumahnya.

Hendra tampak berpikir. Beberapa tahun belakangan ini, Celina memang sangat berubah. Dia begitu keras dan arogan. Dia tak pernah menunjukkan sikap manis ataupun lembut lagi kecuali dengan adik kandungnya, Axel. Bocah berusia 8 tahun hasil pernikahan Hendra dan Ana.

"Mas, sayangkan dengan aku dan Elma?" Ana menatap wajah suaminya.

"Ya, aku sangat menyayangi kalian. Meskipun Elma bukan anak kandungku tetapi dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita!" ujar Hendra yang dari sejak mengenal Ana dia tak keberatan jika Elma tinggal bersama mereka.

"Makanya, berikan keputusannya secepatnya!" mohon Ana.

"Beri aku waktu berpikir!" pinta Hendra.

-

Malam harinya, Celina sengaja pulang terlambat karena ia tahu jika saudara tirinya baru saja kembali dari luar kota setelah urusan pekerjaan selama 1 bulan.

"Celina, mari kita makan bersama!" ajak Ana dengan senyuman ketika Celina berdiri di ujung makan memperhatikan Elma yang duduk di sebelah kirinya.

"Aku sudah kenyang!" tolak Celina dengan wajah datar.

"Kak Celin, kita sudah lama tidak makan satu meja begini. Apa kamu tak merindukan nikmatnya makan bersama seperti ini?" Elma Raya, 25 tahun.

"Aku tidak mau makan satu meja bersama orang-orang yang merebut kebahagiaan ku!" sindir Celina seraya melirik ibu tirinya.

"Celina, Papa mohon jangan pernah membahas itu lagi. Semua sudah berlalu, terimalah Mama Ana seutuhnya!" tegur Hendra dengan lembut.

"Aku akan pikir-pikir lagi buat menerimanya setelah apa yang dilakukannya kepada mamaku!" ucap Celina kemudian berlalu.

Ana dan Elma saling pandang, sementara Hendra menatap punggung putrinya dari kejauhan. Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena pernah mengkhianati Andrea sehingga Celina menjadi korban keegoisannya. Meskipun begitu, ia tetap berusaha menjadi ayah yang baik dan akan memilih calon pasangan hidup Celina yang benar-benar mencintai dan menyayangi putrinya itu.

"Pa...Kak Celina sepertinya masih menyimpan dendam kepada mamaku!" ucap Elma dengan wajah sendu.

"Tidak usah kamu pikirkan, nanti Papa akan bicara padanya. Dia hanya salah paham saja!" Hendra menenangkan putri sambungnya biar tak perlu cemas.

Selesai makan malam, Elma memberanikan diri menemui Celina yang sedang berada di balkon rumah. Ia sedang berusaha membujuk dan merayu Celina biar mau menerimanya.

"Kak Celina, aku ada oleh-oleh buat kamu!" Elma menyodorkan kantong kertas berwarna coklat berukuran sedang.

Celina menerimanya kemudian melemparkannya ke lantai sehingga isinya berupa dompet kecil keluar dari kantong.

Elma mengarahkan pandangannya ke lantai. "Kakak tidak suka, ya?"

"Tak usah berpura-pura baik, kau dan ibumu sama saja!" singgung Celina dengan lantang.

"Astaga, Kak Celina. Aku dan mama tidak seburuk itu. Kakak hanya salah paham saja selama ini!" Elma berkata lembut.

"Salah paham bagaimana? Tante Ana masuk di kehidupan aku dan merusak semuanya. Kau juga sudah mengambil kasih sayang papaku!" tuding Celina.

"Aku tidak mengambilnya darimu, Kak. Memang Papa Hendra sangat menyayangiku!" kata Elma coba menjelaskan.

"Benarkah? Bagaimana dengan liburan kau beberapa tahun lalu? Kenapa cuma kau yang diberikan tiket pesawat? Mengapa aku tidak diizinkan bepergian?" cecar Celina mengungkit kejadian 2 tahun lalu. Padahal dirinya juga ingin berlibur, Celina sempat meminta sang papa memberikan uang buat dirinya membeli tiket. Tetapi, Hendra menolaknya dengan alasan jika Celina harus banyak belajar mengenai bisnis di perusahaan sehingga tak ada waktu buat liburan.

"Alasan Papa Hendra 'kan sudah jelas. Kak Celina perlu banyak waktu belajar mengenai bisnis, lagian aku pergi juga karena kebetulan ada promo harga tiket pesawat dan hotel," ujar Elma.

"Apapun alasannya, kau tetap selalu diutamakan daripada aku!!" sindir Celina.

"Maafin aku kalau begitu, Kak!" Elma menunjukkan raut wajah sedih.

"Tidak akan pernah!" Celina melewati Elma dan sengaja ia menabrakkan bahu wanita itu.

Elma memungut dompet dan memasukkannya kembali ke dalam kantong tas.

Rupanya, sikap Celina terhadap Elma dilihat Hendra. Pria itu mendekat dan berkata, "Maafkan Celina, ya!"

Elma tersenyum tipis dan berucap, "Tidak apa-apa, Pa. Mungkin saja Kak Celina butuh waktu."

"Dia sudah sangat kasar padamu," kata Hendra lagi.

"Sebenarnya Kak Celina adalah orang yang baik, cuma dia mudah terhasut orang lain sehingga dengan gampangnya percaya!" ucap Elma mengingat ayah sambungnya.

"Ya, makanya Papa tak mau Celina mendapatkan pria yang salah."

"Aku juga mau Kak Celina bahagia, Pa!" ucap Elma lagi dengan senyuman tipis.

"Terima kasih, Elma. Kamu ternyata sangat baik, meskipun Celina selalu menyinggung perasaanmu dan menyakitimu," kata Hendra.

"Bagaimanapun dia adalah kakakku, Pa."

"Papa bangga denganmu!" ucap Hendra tersenyum lega.

Hening sejenak ..

"Elma, Papa dengar kamu mau menonton konser tapi uang tiketmu kurang?"

"Ya, Pa. Aku berencana mau menontonnya tetapi uangku tak cukup jadi aku batalkan saja rencananya."

"Bagaimana jika Papa yang membelikan tiketnya?" Hendra menawarkannya.

"Tidak usah, Pa." Tolak Elma dengan sopan.

"Tidak apa-apa, harga tiketnya masih bisa dijangkau. Anggap saja buat hiburan untukmu!" kata Hendra.

"Benarkah, Pa? Bagaimana kalau aku ajak Kak Celina?"

"Silahkan, kalau dia mau!"

Elma tersenyum senang, ia pun memeluk Hendra dan mengucapkan terima kasih.

Sementara itu Celina mendengar dan melihat percakapan antara Elma dan Hendra, ia mengepalkan tangannya karena papanya lebih paham dengan keinginan Elma daripada dirinya yang bahkan ulang tahun saja Celina perlu mengingatkan kedua orang tuanya.

1
army julianto
aku binci ceritanya MC perempuannya idih najis bnget
army julianto
Thor jangan biarkan azka dg Celina bersatu plisss ceraikan mereka, aku paling tidak suka cerita kek gini TPI unjuknya tidak bisa cerai dan akan saling cinta, idih najis mkan cerita kaya bgini 🙏🙏🙏
falea sezi
kapan cerai nya
falea sezi
kn licik bngt si Elma buruan cerai aja biar. aja mlih Elma yg sok. polos cocok. aska sampah ma. Elma. sampah
falea sezi
bodoh kau celina
falea sezi
jangan ngemis celina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!