"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Mu
Suasana di lobi Apartemen Elit itu mendadak beku. Raka, Dion, dan Gathan yang menyadari Azeus tertinggal di belakang, memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke arah lobi. Dari kejauhan, mereka melihat punggung tegap Azeus sedang mencekal tangan seorang wanita misterius berambut panjang yang membelakangi mereka.
"Si Azeus ngapain lagi? Baru sampai parkiran udah dapet gebetan baru?" celetuk Dion sambil menyikut Raka.
Namun, langkah mereka melambat saat jarak semakin dekat. Mereka melihat bahu Azeus bergetar hebat. Pria yang selama tiga tahun dikenal sebagai CEO dingin. tiba-tiba berhambur memeluk wanita itu dengan sangat erat. Azeus menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di ceruk leher Aluna, menghirup aroma yang sangat ia rindukan selama 1.095 hari.
"Nana... jangan pergi lagi... tolong, jangan pergi," bisik Azeus parau, isakannya pecah di tengah kemewahan lobi tersebut.
Raka dan Dion melongo, sementara Gathan hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka baru tersadar bahwa wanita itu adalah bidadari yang selama ini membuat Azeus seperti mayat hidup.
Namun, reaksi Aluna justru di luar dugaan. Mengingat bayangan menyakitkan tiga tahun lalu. saat ia melihat Azeus di pinggir jalan dipeluk mesra oleh wanita seksi, hati Aluna kembali mengeras. Dengan tenaga penuh, Aluna mendorong Azeus hingga pelukan itu terlepas.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" bentak Aluna dengan suara bergetar. Matanya yang berkca kaca menatap Azeus dengan kilat kemarahan dan luka yang dalam.
Aluna mundur beberapa langkah, merapikan tas dan buku-bukunya yang hampir jatuh. Ia tidak peduli pada air mata Azeus. Baginya, pria di depannya ini tetaplah sosok badboy yang pandai bermain sandiwara.
"Kita nggak punya urusan lagi. Pulanglah ke cewek seksi yang dulu Kakak peluk di jalanan itu!" seru Aluna pedas, sebelum akhirnya ia berbalik dan berlari masuk ke arah lift sensor otomatis, meninggalkan Azeus yang mematung dengan hati yang gelisah,, Cewek seksi katanya? Azeus berpikir keras.
Suasana di lobi Apartemen Mewah itu mendadak canggung luar biasa. Azeus masih mematung menatap pintu lift yang tertutup, sementara ketiga sahabatnya berdiri beberapa langkah di belakang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Raka dan Dion saling lirik, otak mereka masih mencoba memproses kenyataan bahwa orang yang hilang ditelan bumi selama tiga tahun ternyata tinggal di gedung yang sama dengan tempat tinggal Gathan.
"Gila... itu beneran Aluna? Pangling banget gue, auranya makin mahal," bisik Raka sambil menggarap kepalanya yang tidak gatal.
Dion yang paling tidak bisa menahan rasa penasaran, langsung menyenggol lengan Gathan dengan keras.
"Woi, Gath! Lo tinggal di sini udah dua tahun lebih kan? Masa lo nggak pernah papasan sama dia di lift atau di parkiran? Kok bisa lo nggak tahu Aluna tinggal di sini?!"
Gathan, yang notabene-nya adalah Es Batu berjalan, hanya menatap pintu lift dengan pandangan datar. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut atau merasa bersalah. Selama ini, Gathan memang asli cuek. baginya, siapa pun yang tinggal di sebelah unitnya hanyalah objek bernapas yang tidak penting untuk diketahui identitasnya.
"Gue ke sini buat tidur dan belajar. Bukan buat sensus penduduk," jawab Gathan dingin, suaranya tetap stabil tanpa riak emosi.
"Tapi ini Aluna, Gath! Jantung hatinya Azeus! Masa lo nggak pernah angkat kepala dikit buat liat siapa yang lewat di depan lo?" cerocos Dion gemas.
Gathan hanya mengangkat bahu sekilas.
"Sorry". Ia memang tipe orang yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain jika tidak mendesak. Jangankan tetangga beda lantai, mungkin kalau ada naga lewat di depannya saat ia sedang fokus membaca jurnal Fakultas Kedokteran, Gathan pun tidak akan menoleh.
Azeus berbalik, matanya yang sembab menatap Gathan dengan tajam.
"Than... lo beneran nggak tahu?"
"Nggak," jawab Gathan singkat. "Gue nggak pernah urusin hidup orang lain. Tapi sekarang lo udah tahu dia di sini, kan? Terserah lo mau ngapain."
Azeus mengepalkan tangannya. Rasa sesak dan syukur bercampur menjadi satu. Ia menatap ke arah deretan nomor lantai di atas lift. Setidaknya, satu misteri besar selama tiga tahun ini telah terjawab, meskipun sambutan Aluna tadi jauh dari harapannya
..
Azeus mematung di tengah lobi, kata-kata tajam Aluna tadi terngiang-ngingang seperti kaset rusak di kepalanya.
"Pulanglah ke cewek seksi yang dulu Kakak peluk di jalanan itu!"
Mata Azeus mendadak melotot sempurna. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang, bukan karena rindu, tapi karena sebuah kesadaran yang menghantam telak.
"Sial..." umpat Azeus parau, tangannya meraup wajah dengan frustrasi.
"Jangan-jangan... waktu itu Aluna lihat?"
Dion yang sedang asyik protes pada Gathan langsung menoleh.
"Lihat apa, Ze? Lo ngomongin apaan sih?"
"Malam itu," bisik Azeus dengan tatapan kosong. "Malam sebelum Nana hilang. Si Erena... dia nyetop gue di jalan, mobilnya mogok. Gue pikir nggak ada siapa-siapa di jalanan sunyi itu."
Raka langsung menepuk jidatnya keras-keras. "Aduhh, bego! Jadi selama tiga tahun ini dia pergi karena ngira lo balikan sama si ular itu? Pantesan tadi dia dorong lo kayak mau buang sampah!"
Azeus merasa dunianya runtuh lagi. Ternyata selama ini Aluna membawa luka yang ia buat tanpa sengaja. Apalagi kejadian Mobil Erena mogok itu, momen dimana Dia sedang menjaga jarak dari Aluna, dan itu yang menambah kesalahpahaman.
Kepolosan Aluna menangkap momen yang salah, dan Azeus yang terlalu obsesif menjaga jarak malah membuat Aluna berpikir dia sudah digantikan.
"Gue harus jelasin," Azeus berbalik, menatap resepsionis apartemen dengan aura CEO yang mendesak.
"Gue nggak peduli gimana caranya, gue harus tahu unit berapa dia tinggal!"
Gathan hanya bersandar di pilar lobi, menatap sahabatnya yang mulai kehilangan kendali.
"Jangan gila, Ze. Ini apartemen dengan Sistem Keamanan Ketat. Resepsionis nggak bakal kasih tahu data penghuni sembarangan, apalagi sama orang yang kelihatan kayak mau ngajak ribut."
Azeus tidak peduli. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan kartu identitasnya yang menunjukkan jabatan tinggi di perusahaan cabang ayahnya. Ia siap melakukan apa pun, menyogok, memohon, atau menunggu di lobi ini sampai lumutan, demi menjelaskan bahwa bidadarinya telah salah paham selama tiga tahun ini.
..
Azeus tidak bisa lagi menahan diri. Aura CEO muda yang dominan dan meledak-ledak keluar seketika. Ia menghampiri meja resepsionis dengan langkah lebar, membanting kartu nama emasnya di atas meja marmer yang mengkilap.
"Saya Azeus, pimpinan cabang Grup Perusahaan Utama. Gadis yang baru masuk tadi, Aluna Izlia, dia tanggung jawab keluarga saya. Berikan nomor unitnya atau saya beli gedung ini sekarang juga!" gertak Azeus dengan obsesi yang meluap-luap.
Resepsionis itu gemetar melihat tatapan maut Azeus. Meski Sistem Keamanan Apartemen sangat ketat, ia tidak berani berdebat dengan pria yang auranya seperti bisa menghancurkan kariernya dalam sekejap.
"U-unit 1205, Pak. Lantai 12," bisik petugas itu ketakutan.
Azeus langsung berlari menuju lift. Sementara itu, di belakangnya, Raka dan Dion sibuk menyeret Gathan yang wajahnya sudah malas maksimal.
"Ayo Gath! Jangan jadi es batu mulu! Temen lo lagi mau perang dunia ketiga itu!" seru Dion sambil menarik kerah jaket Gathan.
"Gue nggak peduli, lepasin!" Gathan berusaha berontak, tapi Raka ikut memegangi pundaknya.
"Nggak bisa! Lo penghuni sini, lo harus jadi jaminan kalau si Azeus dikira maling sama satpam lantai 12! Buruan!" paksa Raka. Akhirnya, Gathan hanya bisa mengembuskan napas pasrah, membiarkan dirinya diseret masuk ke lift oleh dua sahabatnya yang dodol itu.
TING!
Pintu lift terbuka di lantai 12. Azeus keluar paling depan, menyusuri koridor dengan jantung yang berdegup kencang. Ia berhenti di depan pintu bernomor 1205. Tanpa basa-basi, Azeus menggedor pintu itu dengan keras.
"Nana! Buka! Aku tahu kamu di dalam!" teriak Azeus parau.
"Kejadian tiga tahun lalu itu salah paham, Na! Demi Tuhan, aku nggak pernah selingkuh!"
Di belakangnya, Raka, Dion, dan Gathan sampai dengan napas tersengal. Mereka berdiri berjarak 2 meter dari pintu apart Aluna , menonton drama langsung yang lebih seru dari sinetron mana pun.
"Na! Buka atau aku dobrak pintu ini?!" ancam Azeus lagi, tangannya sudah mengepal siap menghantam kayu jati itu.
"Sstt! Ze, malu dilihat tetangga Gathan!" bisik Dion panik sambil melihat ke kiri dan kanan koridor yang sepi.
"Biarin! Biar seluruh dunia tahu kalau dia milik gue!" balas Azeus narsis dan keras kepala.
Tiba-tiba, suara kunci berputar terdengar. Pintu terbuka sedikit, menampakkan Aluna yang matanya masih merah karena menangis. Ia menatap Azeus dengan tatapan benci sekaligus rindu yang menyesakkan.
Namun, saat melihat Raka, Dion, dan Gathan berdiri di sana, Aluna semakin tersinggung.
"Buat apa bawa rombongan? Mau pamer kalau Kakak sudah sukses dan bisa seenaknya sendiri?" desis Aluna tajam, hendak menutup pintu kembali.
Azeus dengan sigap menahan pintu itu dengan bahunya.
"Kasih aku lima menit, Na. Kalau setelah itu kamu masih mau aku pergi, aku bakal pergi selamanya dari hidup kamu. Tolong..."