Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 34 - IA YANG AKHIRNYA MENGERTI 2
Ara mematikan telepon.
Menatap layar yang gelap di tangannya.
Meletakkannya di sisi kasur.
Di luar jendela kamarnya, kota Eldria masih bergerak dengan ritme malamnya yang tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi di dalam satu kamar di salah satu rumah di salah satu jalannya. Suara kendaraan yang jauh, suara angin yang sesekali menyentuh jendela, suara kota yang hidup bahkan di jam yang sudah menunjukkan angka di mana kebanyakan orang sudah memilih untuk tidak bersuara.
Ara menatap langit-langit.
Kali ini bukan dengan pikiran yang penuh dan acak seperti tadi sebelum telepon Mike. Lebih dengan pikiran yang sudah melewati cukup banyak hari ini untuk sampai di tempat yang lebih tenang, bukan sepi yang kosong tapi sepi yang sudah menyelesaikan sesuatu.
Mike tidak tahu.
Kata-kata itu masih ada di sana, aku tidak tahu, diucapkan dengan suara yang lebih pelan dari suara Mike yang biasa, suara yang entah mengapa terdengar lebih manusiawi dari semua suara Mike yang sudah Ara dengar sebelumnya tapi juga lebih melelahkan untuk didengarkan karena mengandung semua ketidakpastian yang harusnya sudah tidak ada.
Ara mengambil napas.
Memikirkan Via.
Via yang tadi malam bercerita di jalan kantin. Via yang bahkan ketika bercerita tentang sesuatu yang menyakitkan tetap memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati seolah tidak mau membebani siapapun dengan berat yang sebenarnya ia rasakan. Via yang sekarang harus menunggu jawaban dari seseorang yang bahkan belum yakin ada pertanyaan yang perlu dijawab.
Ara merasa kesal pada Mike.
Kesal yang, kalau ia berdiri di luar situasi ini dan melihatnya dari jarak yang cukup, tidak sepenuhnya adil karena Mike tidak tahu tentang perasaan Via dan karena tidak tahu bukan kejahatan. Tapi kesal yang tetap ada karena ada hal-hal yang terasa seperti seharusnya sudah bisa dilihat sendiri tanpa harus ditunjukkan.
Ia menatap ponselnya yang tergeletak di sisi kasur.
Mengambilnya.
Membuka chat Via.
---
*Via, aku mau tanya sesuatu.*
Balasan datang lebih cepat dari yang Ara antisipasi untuk jam semalam ini, yang berarti Via juga masih terjaga dengan pikirannya sendiri di kamarnya sendiri di suatu tempat di kota yang sama.
*Apa?*
*Soal Marco. Kamu sudah memutuskan?*
Tiga titik muncul di layar. Berhenti. Muncul lagi. Berhenti. Muncul untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya berubah menjadi pesan.
*Belum tau. Aku sendiri juga bingung.*
Ara menatap kata bingung itu.
Via yang bingung adalah Via yang sudah mempertimbangkan sesuatu cukup lama untuk tidak lagi bisa mengambil keputusan dengan cepat. Bingung dari Via bukan keadaan awal, bukan titik nol. Bingung dari Via adalah titik tengah dari sesuatu yang sudah berjalan cukup jauh sebelumnya.
*Masih memikirkan Mike?*
Jeda yang lebih panjang dari sebelumnya.
Cukup panjang untuk Ara membayangkan Via di sisi lain percakapan ini, membayangkan cara Via memegang ponselnya, cara Via menatap pertanyaan itu dan memutuskan seberapa banyak yang mau ia akui malam ini kepada satu-satunya orang yang sudah mendengar semuanya.
*Iya. Sedikit.*
Dua kata.
Ara menghembuskan napas pelan ke langit-langit kamarnya.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang ingin bergerak ke ujung jarinya dan menjadi kalimat, kalimat yang sudah sangat jelas bentuknya di dalam pikirannya, kalimat yang berbunyi sesuatu seperti: Via, Mike bilang tidak tahu. Via, Marco sudah mencoba. Via, seseorang yang mau mencoba selalu lebih baik dari seseorang yang masih tidak tahu.
Tapi Ara juga tahu bahwa jarak antara apa yang terasa benar untuk dikatakan dan apa yang seharusnya dikatakan tidak selalu sama panjangnya.
Via tidak butuh Ara membuat keputusan untuknya. Via butuh Ara ada di sisinya, apapun keputusan yang ia buat.
Ara mengetik: *Apapun yang kamu pilih, aku akan selalu mendukungmu.*
Mengirim.
Meletakkan ponselnya.
Memejamkan matanya sebentar.
Beberapa menit berlalu dalam hening yang sudah berbeda kualitasnya dari hening di awal malam, lebih bersih, lebih bisa dihirup.
Ponselnya bergetar.
Ara mengambilnya.
Membaca.
*Ara, aku sayang kamu.*
Sesuatu yang hangat bergerak di dadanya, hangat yang sangat berbeda dari panas yang tadi ada di sana, hangat yang tidak membakar tapi mengisi, hangat yang datang dari arah yang selalu bisa diandalkan meski tidak selalu mudah untuk dijangkau.
*Aku juga.*
Chat dengan Via selesai di sana.
Dua kata yang cukup untuk malam ini.
---
Ara meletakkan ponselnya.
Berbaring dengan posisi yang akhirnya menemukan kenyamanannya, bantal di posisi yang tepat, selimut di ketebalan yang pas untuk suhu kamar malam ini.
Seharusnya ini cukup untuk memulai tidur.
Semua percakapan sudah selesai. Semua hal yang perlu disampaikan sudah disampaikan ke orang yang tepat. Tubuhnya sudah lelah dari hari yang panjang, dari pertandingan voli pagi, dari semua yang terjadi setelahnya sampai atap sore tadi.
Seharusnya matanya mau tertutup.
Tapi ada sesuatu yang terasa kurang.
Ara menatap langit-langitnya dengan pikiran yang sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya tapi masih belum sepenuhnya sampai di tempat yang mau berhenti.
Seperti playlist yang hampir selesai tapi masih ada satu lagu lagi.
Ia mengambil ponselnya.
Membuka chat yang namanya ada di urutan atas karena paling sering dibuka belakangan ini.
Mengetik: *Gill..*
Dua titik setelah nama itu bukan kesengajaan tapi juga tidak dihapus karena sudah terkirim sebelum Ara memutuskan apakah mau menghapusnya atau tidak.
Menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit yang terasa lebih panjang dari tiga menit karena Ara sedang menunggu dan menunggu selalu membuat waktu bergerak dengan cara yang tidak linear.
Balasan masuk.
*Sibuk.*
Satu kata. Huruf kecil. Tanpa tanda baca.
Ara tersenyum kecil ke layarnya meski tidak ada yang melihat.
Mengetik: *Luangkan waktu 15 menit atau aku akan meneleponmu setiap 5 detik.*
Mengirim.
Tiga detik kemudian notifikasi masuk bukan berupa teks tapi sebuah stiker.
Stiker kucing oranye yang sama dengan foto profil Gill, mengacungkan satu kaki ke kamera dengan ekspresi yang sudah Ara hafal artinya karena sudah cukup sering menerimanya dalam berbagai konteks yang semuanya mengandung makna yang kurang lebih sama.
Ara tertawa pelan, ditutup dengan telapak tangan karena pintu kamarnya masih terbuka setengah dan ibunya mungkin masih di ruang sebelah.
Lalu menekan tombol telepon.
Satu dering.
Dua dering.
Diangkat.
"Maaf, salah sambung."
"Gill."
Satu detik hening yang mengandung seseorang yang sedang memutuskan apakah mau melanjutkan bit-nya atau tidak.
"Oke." Suara Gill kembali ke nada biasanya. "Ada apa."
Bukan pertanyaan. Lebih seperti pernyataan yang sudah tahu bahwa jawabannya akan datang dan hanya perlu memberi ruang untuk itu.
"Aku ingin bercerita," Ara berkata.
"Soal?"
"Mike telepon tadi."
Dari ujung telepon ada suara yang samar, suara yang Ara sudah cukup terbiasa mengenalinya sebagai latar belakang percakapan malam dengan Gill. Tombol keyboard yang bergerak pelan, bukan cepat seperti sedang bermain dengan serius, lebih seperti seseorang yang masih di depan layar tapi sudah setengah perhatiannya beralih ke tempat lain.
"Dia dengar soal tadi siang di kelasmu," Ara melanjutkan. "Dari banyak orang katanya."
"Hm."
"Aku akhirnya tanya dia soal Via."
Suara keyboard berhenti sepenuhnya.
"Dan?" Gill berkata.
"Dia bilang tidak tahu." Ara menatap langit-langitnya. "Tidak tahu apakah ada perasaan romantis untuk Via."
Gill tidak bersuara selama beberapa detik.
Bukan hening yang kosong. Lebih hening yang sedang memproses sesuatu dengan caranya sendiri yang tidak membutuhkan suara untuk berlangsung.
"Via juga chat," Ara melanjutkan. "Masih bingung soal Marco. Masih memikirkan Mike katanya."
"Hm."
"Kamu tahu kan Via suka Mike."
"Tahu." Nada yang sangat langsung, sangat tidak menghindari fakta itu. "Dan karena hal itulah hubungan kita terjadi."
Ara tersenyum ke langit-langitnya.
Fakta yang diucapkan seperti fakta. Tanpa bumbu, tanpa penekanan yang meminta respons tertentu, hanya ada dan benar dan tidak minta maaf atas kebenarannya.
"Iya," Ara berkata. Pelan. "Tapi kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tetap bantu Marco?"
Dari ujung telepon, ada suara napas yang dibuang pelan. Bukan napas frustrasi, lebih napas seseorang yang sedang memutuskan seberapa banyak yang perlu dijelaskan untuk pertanyaan yang sebenarnya sudah punya jawaban yang cukup jelas di dalam kepalanya.
"Urusan diterima atau tidak itu hak Via." Gill berkata pelan dan datar dengan cara yang membuat setiap kata mendarat satu per satu, tidak terburu-buru, tidak meminta tepuk tangan. "Aku hanya ingin Marco mencoba. Walau mungkin gagal. Walau mungkin patah hati. Tapi setidaknya dia sudah mencoba."
Ara tidak langsung menjawab.
Berbaring di kasurnya dengan telepon di tangan dan kata-kata Gill masih mengisi kamarnya, mengisi ruang yang tadi terasa seperti kurang sesuatu, mengisi dengan cara yang tidak dramatis dan tidak meminta diakui tapi sangat terasa ada.
Dan sesuatu bergerak di dalam dirinya.
Pelan.
Sangat pelan.
Seperti sesuatu yang sudah lama berdiri di depan pintu dan baru sekarang diizinkan masuk, bukan karena pintunya baru dibuka tapi karena yang berdiri di depannya akhirnya berhenti menunggu izin dan hanya masuk karena sudah waktunya.
Ah.
Ini.
Ara menatap langit-langit kamarnya yang sudah sangat ia kenal dalam berbagai kondisi malam, langit-langit yang sama yang sudah ia tatap ketika guling-guling memikirkan hal lain, ketika tidak bisa tidur karena pikiran yang terlalu penuh, ketika mencoba menyortir semua hal yang sudah terjadi dalam satu hari yang terlalu banyak.
Langit-langit yang sama.
Tapi sesuatu di bawahnya berbeda malam ini.
Gill mungkin tidak sempurna. Kasar di banyak momen yang tidak perlu kasar, cuek dengan cara yang kadang menyebalkan, maniak game yang lupa mengisi daya ponselnya karena sedang menyuapi mainan t-rex plastik, dan menyebalkan dengan cara yang sangat konsisten dan tidak meminta maaf atas konsistensinya itu.
Tapi Gill tidak pernah menjadi siapapun selain Gill.
Tidak ada versi Gill yang disiapkan untuk pagi hari sebelum masuk ke ruangan yang penuh orang. Tidak ada kata-kata yang dipilih berdasarkan efek yang ingin diciptakan di benak pendengarnya. Tidak ada senyum yang dibentuk sebelum tercermin di wajah orang lain supaya terlihat dengan ukuran yang tepat.
Gill berkata apa yang ia pikirkan. Melakukan apa yang ia putuskan. Dan ketika ia melakukan sesuatu untuk orang lain ia melakukannya tanpa membutuhkan siapapun untuk mengakui bahwa ia sudah melakukannya.
Balas budi, kata Gill di atap tadi sore. Dengan senyum kosong yang sudah Ara pelajari cara membacanya sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang permukaannya perlihatkan.
Marco pantas dapat kesempatan, kata Gill baru saja. Dengan cara yang tidak membutuhkan Ara setuju dengannya untuk tetap menjadi benar.
Ara menatap langit-langitnya.
Dan jawaban yang tadi pagi masih berbentuk pertanyaan, yang tadi siang masih terlalu panas untuk dilihat dengan jelas, yang tadi malam sudah mulai mengambil wujudnya sendiri di balik kelopak mata yang hampir tertutup, sekarang berdiri di depannya dengan cara yang sangat tenang dan sangat tidak bisa lagi diabaikan.
Ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Sudah tahu sejak cukup lama, mungkin.
Hanya perlu waktu yang cukup panjang dan cukup banyak momen kecil yang menumpuk dan satu malam yang menguras cukup banyak hal lain sampai yang tersisa adalah sesuatu yang sudah tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi.
---
"Sudah lima belas menit."
Suara Gill dari ujung telepon membawa Ara kembali ke kamarnya, kembali ke malam ini, kembali ke percakapan yang masih berlangsung meski pikirannya baru saja berjalan sangat jauh dari sini.
"Waktunya aku kembali bermain game," Gill melanjutkan dengan nada yang sangat biasa untuk seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak ia tahu sudah menggerakkan sesuatu di dalam diri orang yang mendengarnya.
Ara mengambil napas.
"Suatu saat aku akan menghapus game-mu," ia berkata, dan suaranya sendiri terdengar sedikit berbeda di telinganya meski ia tidak yakin Gill bisa mendengar perbedaannya.
"Maka saat itu juga kita akan berperang."
"Aku tidak takut."
"Kamu seharusnya takut." Nada yang sangat datar. Sangat Gill.
Ara tersenyum ke langit-langitnya. "Soal warnet. Besok jadi?"
Suara keyboard yang tadi berhenti mulai terdengar lagi dari ujung telepon. "Batal. Marco sedang galau menunggu jawaban Via."
"Kalau begitu bertiga saja, ajak Via."
"Tidak mau."
"Kenapa."
"Kamu noob." Satu kata yang diucapkan dengan cara yang tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi. "Bye."
Klik.
Telepon mati.
Ara menatap layar ponselnya yang gelap kembali, wajahnya sendiri muncul sebagai pantulan samar di permukaan layar yang tidak aktif.
Kesal.
Tapi di bawah kesal itu, di lapisan yang lebih dalam dan lebih jujur dari kesal, ada sesuatu yang sudah sangat tidak bisa lagi berpura-pura belum ada.
Ara meletakkan ponselnya.
Menarik selimutnya sampai ke dagu.
Memejamkan matanya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sudah cukup lama, ia tertidur dengan pikiran yang tidak berantakan tapi juga tidak sepenuhnya tenang, pikiran yang ada di tempat yang tepat di antara keduanya, di tempat yang terasa seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu dan masih belum tahu harus melakukan apa dengannya tapi sudah tidak takut untuk tidak tahu.
Karena sesuatu itu sudah punya nama sekarang.
Bahkan kalau ia belum siap mengucapkannya dengan keras.
Bahkan hanya untuk dirinya sendiri.
Sudah ada.
Dan itu sudah cukup untuk malam ini.