Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Ancaman Perusahaan
HAPPY READING!!!
Tia seketika melepaskan tangannya dari bahu Lora. Wajahnya langsung pucat. Ia panik dan buru-buru menopang tubuh Lora yang hampir kehilangan keseimbangan.
“Ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Tia, segera menarik kursi dan menyuruh Lora duduk kembali.
Lora meringis, napasnya tercekat.
“Akkhhh….”
Tangannya mencengkeram sisi meja, berusaha menahan rasa nyeri yang menjalar dari bahunya hingga ke punggung.
“Apa kamu baik-baik saja? Atau apa kita perlu ke dokter?” tanya Tia lagi, kali ini suaranya lebih cemas.
Lora menggeleng pelan, meski wajahnya masih tegang menahan sakit.
“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit luka kecil.” ucap Lora, berusaha terdengar tenang.
Namun di balik blus kerjanya, tersembunyi luka sayatan tipis—luka yang memang ia sepakati bersama pelatih dan kepala pelayan sebelum terjun ke medan perang bernama kantor itu.
Rasa perih itu bukan kecelakaan.
Itu bagian dari persiapan.
FLASHBACK
“Di kantor kamu akan menemukan lebih banyak orang yang bahkan lebih licik dari di dalam rumah ini. Di sana akan banyak antek-antek Donni yang bisa mencelakaimu, belum lagi permasalahanmu dan Vino yang kemungkinan besar mungkin akan mencelakaimu juag.” ucap David memberitahu dengan nada serius.
Lora terdiam, menyerap setiap kata.
“Di sana tidak akan ada pelindung untukmu, Lora. Mengingat kondisi Devon saat ini, dia tidak akan mungkin bisa melindungimu. Yang bisa kamu andalkan hanyalah otak dan tubuhmu sendiri untuk melawan mereka.” ucap Tiffani.
“Aku tahu risiko itu dan aku tidak takut. Aku rasa aku bisa menghadapinya.” jawab Lora mantap.
Tiffani menatapnya dalam.
“Tapi untuk berjaga-jaga, setiap malam kamu harus berlatih tinju kembali denganku, Lora. Apa yang kamu pelajari padaku dulu hanyalah teknik-teknik dasar pertahanan diri.” jelas Tiffani.
Lora mengangguk menyetujui.
Namun David belum selesai.
“Tidak hanya tinju, kamu juga harus mempelajari…”
Seketika David mengeluarkan pistol dari sebuah tas khusus. Suara klik logamnya terasa dingin di udara.
“…menembak, karena tidak ada yang tahu bagaimana peperangan ini.” ucap David, mengarahkan pistol itu ke arah Lora.
Tubuh Lora menegang. Matanya membesar. Untuk sepersekian detik, ketakutan terpancar jelas di wajahnya.
Melihat itu, Tiffani langsung menurunkan tangan suaminya.
“Kamu menakutinya!” ucap Tiffani menegur.
David tak bergeming.
“Wajah takut itu, kamu harus menyingkirkannya jauh-jauh, karena dalam peperangan ini wajah seperti itu akan sangat mudah untuk memberikan celah kepada musuhmu.” ucap David tegas.
Lora menarik napas dalam. Detik berikutnya, ekspresinya berubah. Tatapannya mengeras.
“Aku sama sekali tidak takut. Aku hanya kaget.” ucap Lora dingin. “Tapi kenapa kamu sekarang justru tidak menggunakan bahasa formal kepadaku?” tanyanya sambil melirik David.
“Karna jam kerjaku sudah habis, jadi aku bebas memanggilmu apa saja.” jelas David santai, lalu kembali membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk chip.
“Benda ini harus ditanamkan pada tubuhmu agar aku bisa selalu mengecek di mana lokasimu, untuk bisa menjagamu dari kejauhan.” ucap David.
“Ditanamkan?” ucap Lora kaget.
“Hanya sayatan kecil di kulit **bahu**mu. Aku pastikan ini tidak akan terlalu sakit.” ucap Tiffani menambahi dengan suara menenangkan.
“Tunggu, tapi itu apa?”
“Sebuah GPS berbentuk chip yang tidak bisa ditemukan oleh sembarang orang kecuali yang sudah ahli dan berpengalaman. Dengan ini Donni tidak akan tahu jika kamu menggunakan GPS, karena jika diletakkan pada perhiasan atau lain sebagainya dia pasti dengan mudah menebaknya.” jelas David.
Ia melangkah mendekat, tatapannya tajam penuh penekanan.
“Ini demi memastikanmu tetap hidup, Lora. Ingat, kamu sudah menyetujui untuk melanjutkan perjanjian Devon dengan pimpinan. Tidak ada yang memaksamu. Itu semua murni kemauanmu sendiri.” jelas David.
Lora terdiam untuk sepersekian detik. Tatapannya berpindah dari wajah David ke benda kecil di tangannya. Ia tahu, sekali mengangguk, tidak ada lagi jalan mundur.
“Baiklah, lakukanlah.” ucap Lora akhirnya, suaranya tenang namun tegas.
Tiffani segera mulai bekerja. Dengan tangan terlatih, ia menyayat tipis kulit bahu Lora. Rasa perih itu tajam, menusuk hingga ke tulang, tetapi Lora hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan.
Hanya keringat tipis yang muncul di pelipisnya saat chip kecil itu ditanamkan ke dalam tubuhnya—sebuah penanda bahwa sejak hari itu, hidupnya bukan lagi miliknya sepenuhnya.
Kembali ke ruang HRD.
Lora perlahan menurunkan tangannya dari bahunya. Rasa perih itu kini terasa lebih seperti pengingat—bahwa ia memang sedang melangkah ke wilayah musuh, dan ia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.
“Aku benar-benar tidak apa-apa.” ucapnya lebih tenang, menatap Tia.
Lora berdiri. Wajahnya kembali tenang, dingin, penuh tekad. Tanpa ragu, ia melangkah keluar dari ruangan HRD.
______
Ceklek.
Pintu ruangan CEO terbuka bersamaan dengan langkah tergesa Donni yang masuk. Di saat yang sama, Delia memutar kursi besar itu hingga menghadap ke arahnya, seolah-olah kursi itu memang miliknya.
“Delia, apa yang kamu lakukan di sini??”
Delia berdiri perlahan dari kursi itu, sorot matanya tajam.
“Harusnya aku yang bertanya kepada kamu, Mas. Apa yang dilakukan istri Devon di perusahaan ini?” tanya Delia. “Kamu tahu dia berlagak layaknya pemilik perusahaan di depan semua karyawan kantor pagi ini.” sambungnya dengan wajah geram.
Donni menghela napas pendek.
“Sebenarnya aku baru saja akan memberitahumu, sayang. Lora, dia akan bergabung di divisi keuangan, bekerja sebagai stafmu di sana.”
“Apa? Keuangan…?” Seketika Delia memegang kepalanya. “Mas… kenapa kamu membiarkannya? Ini sangat berbahaya untuk kita, Mas. Aku sudah mati-matian mengganti semua pegawai menjadi orang-orangku agar penggelapan dana yang kita lakukan aman sampai semuanya terkumpul. Nyawa kita bisa habis jika perempuan itu masuk dan menyelidikinya. Rencana kita akan gagal total, Mas!” hardik Delia, suaranya meninggi.
“Ya, aku tahu. Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya, sayang. Dia adalah istri Devon. Kepemilikan harta Devon dialihkan kepadanya karena dia adalah istri sah Devon.”
Delia menatapnya tak percaya.
“Lalu kamu akan tinggal diam begitu saja?” tanyanya tajam.
“Tentu saja tidak. Kita harus menyusun rencana untuk membuatnya pergi dari kantor ini. Suruh kerabat-kerabatmu yang bekerja di divisi keuangan menyiksanya atau memberikannya pekerjaan berat agar ia tidak betah berada di sini.” jelas Donni.
Bukannya menyetujui, Delia justru tertawa sinis. Tawanya pelan, namun penuh ejekan.
“Apa kamu tahu, Mas? Perempuan itu bahkan langsung membungkam dua mulut karyawan yang menggunjingkannya tadi pagi, bahkan mempermalukannya terang-terangan di depan semua orang. Dan kamu berharap cara yang kamu usulkan akan bisa berlaku kepadanya?”
Delia berdiri lalu mendekat ke arah Donni. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti.
“Mas, dia adalah pemilik perusahaan ini. Siapa yang akan berani mengganggunya? Sekalipun itu kerabatku, dia tidak akan takut atau tersiksa.” jelas Delia dengan suara rendah namun tajam.
Donni mengerutkan kening.
“Lalu apa rencanamu?” tanyanya.
Delia tersenyum perlahan. Senyum yang tidak pernah menjanjikan kebaikan.
“Aku punya rencana bagus untuk perempuan itu.” ucap Delia.
Ia berjinjit, mendekat ke telinga Donni, lalu berbisik menjelaskan rencana liciknya.
Ekspresi Donni perlahan berubah—dari tegang menjadi puas.
kamu memang cerdas sayangku "ucap Donni seketika langsung mengecup bibir Delia dengan lembut .
"Mari kita melepaskan stres kita pagi ini ,tidak baik jika bekerja dalam keadaan hati yang tidak tenang."ucap Delia melepaskan setengah kancing bajunya memperlihatkan belahan dadanya kepada Donni sembari menggoyangkannya.
Dengan cepat Donni langsung merangkul kuat pinggang Delia menjatuhkannya ke atas sofa ."Kamu memang paling tau apa yang aku inginkan sayang ."ucap Donni mencium Delia dengan brutal sembari menelusuri lekuk tubuh aduhai milik Delia .
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Kira - kira apa nih rencana Delia ???
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤