Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
Tiga hari berlalu seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Ha-neul menghabiskan waktu itu di ruang perawatan, memulihkan luka di perutnya. Tabib-tabib Sekte Iblis bekerja efisien—ramuan-ramuan kuat mempercepat penyembuhan, tapi meninggalkan efek samping berupa demam ringan dan mimpi-mimpi aneh. Setiap malam ia terbangun dengan keringat dingin, membayangkan wajah-wajah menyeramkan yang berbisik di kegelapan.
Jun-ho menjenguknya setiap hari. Pemuda itu kini sudah bisa berjalan, meski masih pincang. Mereka jarang bicara—hanya duduk diam, saling menemani. Di tempat seperti ini, kehadiran seseorang yang bisa dipercaya adalah harta yang tak ternilai.
Hari ketiga, petugas datang menjemput.
"Kang Woo. Persiapan ritual. Ikut kami."
Ha-neul bangkit. Ia menatap Jun-ho sekilas. Pemuda itu mengangguk pelan—semoga berhasil.
---
Mereka berjalan melewati koridor-koridor bawah tanah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dinding-dinding batu basah, berlumut, dengan ukiran-ukiran aneh yang seolah bergerak di bawah cahaya obor. Udara semakin dingin, semakin berat, dan bau—bau anyir darah bercampur dupa—semakin menyengat.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar.
Ruangan itu seperti gua alami yang diperluas, dengan langit-langit menjulang tinggi. Di tengahnya, sebuah kolam bundar berisi cairan hitam pekat, berkilauan aneh di bawah cahaya batu-batu permata yang menghiasi dinding. Di sekeliling kolam, berdiri lima patung iblis dengan tangan terulur, seolah memberi berkah pada cairan itu.
Di sisi ruangan, Hyeon Mu dan Naga Hitam sudah menunggu. Hyeon Mu tampak tenang, matanya tertutup, bermeditasi. Naga Hitam gelisah, jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi batu tempat ia duduk.
Penguasa Sekte Iblis duduk di singgasana batu di ujung ruangan. Di sampingnya, berdiri seorang pria tua berjubah hitam dengan topeng perak—mungkin pemimpin ritual.
"Selamat datang, para finalis," sapa Penguasa Sekte. Suaranya bergema, penuh wibawa. "Kalian telah membuktikan diri sebagai yang terbaik di turnamen ini. Sekarang, kalian berhak menerima hadiah tertinggi: Ritual Penguatan Iblis."
Ia memberi isyarat. Pria bertopeng perak melangkah maju.
"Ritual ini akan membangkitkan potensi terpendam dalam diri kalian. Dengan kekuatan iblis, kalian akan menjadi petarung yang tak terkalahkan. Tapi..." Ia berhenti, matanya memandangi mereka satu per satu. "Ada harga yang harus dibayar. Sebagian kemanusiaan kalian akan hilang. Rasa sakit, takut, ragu—semua akan lenyap. Yang tersisa hanya kekuatan murni."
Naga Hitam mendengus. "Aku sudah kehilangan kemanusiaanku sejak lama."
Pria bertopeng itu tersenyum tipis. "Kita lihat nanti."
---
Ritual dimulai.
Satu per satu, mereka dipanggil ke kolam hitam. Naga Hitam lebih dulu. Ia melangkah ke dalam cairan itu tanpa ragu, wajahnya penuh percaya diri. Begitu cairan mencapai dadanya, ia berteriak—bukan kesakitan, tapi kegembiraan liar. Tubuhnya bergetar, otot-otot membesar, urat-urat biru menonjol di sekujur badan. Matanya berubah merah menyala.
Prosesnya hanya beberapa menit. Saat keluar, Naga Hitam benar-benar berbeda. Ia tersenyum, tapi senyum itu mengerikan—penuh kegilaan.
"Luar biasa..." bisiknya. "Aku bisa merasakan segalanya. Kekuatan ini..."
Giliran Hyeon Mu. Ia melangkah tenang, tanpa ekspresi. Di dalam kolam, ia tidak berteriak. Tubuhnya hanya bergetar halus, wajahnya tetap tenang. Tapi saat keluar, matanya—matanya kosong. Seperti sumur tanpa dasar. Ia menatap Ha-neul sekilas, dan Ha-neul merasakan dingin menjalari tulang punggungnya.
Sekarang gilirannya.
Ha-neul melangkah maju. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia berusaha tenang. Di dalam cincin, Hyeol-geon berbisik, "Ini berbahaya, Ha-neul. Tapi aku akan bantu dari dalam. Fokus pada napas. Jangan biarkan energi iblis menguasaimu."
Ia masuk ke kolam.
Cairan hitam itu dingin—bukan dingin biasa, tapi dingin yang membekukan jiwa. Ha-neul merasakannya merayap naik, meresap ke dalam pori-pori, menjalar ke seluruh tubuh. Dan rasa sakit—rasa sakit yang luar biasa.
Bukan sakit fisik, tapi sakit batin. Seperti ada yang mencabut ingatan-ingatannya satu per satu. Wajah ayahnya mulai kabur. Senyum ibunya memudar. Suara tawa Soo-ah di kejauhan... menghilang.
"TIDAK!" teriaknya dalam hati.
Ia melawan. Dengan sekuat tenaga, ia mempertahankan ingatan-ingatan itu. Ia ingat Soo-ah menangis di gudang. Ia ingat Hyeol-geon pertama kali muncul. Ia ingat janjinya: akan pulang.
Cairan hitam itu bergejolak. Tubuhnya bergetar hebat. Pria bertopeng perak mengerutkan kening—belum pernah ada peserta yang melawan ritual begini.
"Menyerahlah," desisnya. "Lawan hanya akan menambah sakit."
Tapi Ha-neul tidak menyerah.
"Ha-neul, kau bisa!" suara Hyeol-geon menggema di kepalanya. "Ingat! Ingat siapa dirimu!"
Aku Kang Ha-neul. Kakak Soo-ah. Murid Hyeol-geon. Pewaris Klan Pedang Kang.
Ia membuka mata.
Cairan hitam itu surut, menjauh dari tubuhnya. Bukan karena ritual selesai, tapi karena ditolak. Ha-neul berdiri di tengah kolam, basah tapi tidak berubah. Matanya masih sama—tidak merah, tidak kosong. Hanya lelah.
Pria bertopeng perak terbelalak. "Ini... ini tidak mungkin!"
Penguasa Sekte bangkit dari singgasananya. Wajahnya berubah—dari tenang menjadi penasaran, lalu curiga.
"Kau menolak ritual?" tanyanya pelan.
Ha-neul terhuyung keluar dari kolam. Tubuhnya lemas, tapi ia masih berdiri. "Aku... tidak bisa menerimanya."
"Kenapa?"
Ha-neul menatapnya. Di mata Penguasa Sekte, ia melihat sesuatu—bukan sekadar penasaran, tapi pengakuan. Seperti orang yang mengenali sesuatu.
"Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri."
Sunyi.
Lalu Penguasa Sekte tertawa. Tawa yang aneh—tidak marah, justru gembira.
"Menarik! Sangat menarik!" Ia melangkah mendekat, mengelilingi Ha-neul seperti elang mengelilingi mangsa. "Kau menolak kekuatan iblis. Kau mempertahankan kemanusiaanmu. Di tempat ini, itu hampir mustahil." Ia berhenti di depan Ha-neul. "Siapa sebenarnya kau, Kang Woo?"
Ha-neul diam. Ia bisa merasakan bahaya mengintai di setiap kata.
"Aku... hanya petarung dari desa terpencil."
"Bohong." Penguasa Sekte tersenyum. "Tapi tidak apa. Aku suka misteri." Ia berbalik, kembali ke singgasananya. "Bawa mereka ke ruang pemulihan. Besok, kita bicarakan nasib mereka."
Para prajurit maju, membawa Ha-neul, Hyeon Mu, dan Naga Hitam keluar. Tapi sebelum Ha-neul pergi, Penguasa Sekte memanggil.
"Kang Woo."
Ia menoleh.
"Kau ingat seseorang bernama Kang Jin-ho?"
Dunia Ha-neul seperti berhenti.
"Ayahmu," lanjut Penguasa Sekte pelan. "Aku tahu wajah itu. Kau mirip dengannya."
Ha-neul tidak bisa bergerak. Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam.
"Bawa dia," perintah Penguasa Sekte.
Ha-neul digiring keluar, meninggalkan ruangan dengan pikiran kacau. Ia tahu. Penguasa Sekte tahu siapa dirinya.
Malam itu, di ruang pemulihan, Ha-neul tidak bisa tidur. Ia duduk di sudut, memandangi dinding batu. Hyeol-geon diam—tidak ada kata-kata yang bisa menghibur.
Di luar, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka.
Seorang prajurit masuk. "Kang Woo, dipanggil. Sekarang."
Ha-neul bangkit. Ia tahu ini bukan panggilan biasa.
Di ujung koridor, Penguasa Sekte menunggu.