Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Racun yang Tersisa di Danau Indah
Fajar turun dengan perlahan di kaki gunung Lawu, menyapu puncak-puncak pohon dengan cahaya keperakan yang lembut. Kabut tipis masih menggantung rendah saat Yue Liang Shu berdiri tegak menghadap Wang Long dan Sin Yin di sebuah persimpangan jalan setapak yang sunyi.
“Aku tidak bisa terus berjalan di belakangmu sebagai bayangan pasif,” ujarnya dengan nada tenang namun penuh tekad. “Partai Tengkorak Hitam pasti sudah mengendus kegagalan Lian Hua dan mulai bergerak lebih agresif. Biarkan aku memisahkan diri untuk menyelidiki jejak mereka dari dalam kegelapan.”
Wang Long menatap pria itu cukup lama, mencari keraguan yang ternyata tak ia temukan. “Kau akan pergi sendirian?”
Yue Liang Shu tersenyum tipis, sebuah senyum dari seorang pria yang telah menemukan tujuan hidup baru. “Sendirian lebih mudah bagi seorang mantan pembunuh untuk bergerak tanpa terlihat. Lagipula, aku sudah terbiasa hidup dalam sunyi.”
Sin Yin mengangguk kecil, memberikan penghormatan pendek. “Jangan sampai mati sebelum kau menebus semua noda di pedangmu itu.”
“Itu adalah niat utamaku, Nona,” jawab Yue Liang Shu mantap.
Wang Long melangkah maju, menepuk bahu pria itu dengan hangat. “Berhati-hatilah. Jika kau menemukan sesuatu yang genting, kirimkan kabar ke Kota Danau Indah. Kami akan menunggumu di sana.”
Yue Liang Shu mengangguk hormat untuk terakhir kalinya, lalu dalam sekejap, sosoknya melesat dan menghilang di balik kerimbunan pepohonan pagi yang masih basah.
Tak lama setelah keberangkatan Yue Liang Shu, Yue Lan juga bersiap untuk berpisah. Ia berdiri di bawah sinar matahari yang mulai menghangat, menatap Wang Long dengan senyum lembut yang menyimpan sedikit rahasia.
“Perjalananku bersama kalian sepertinya cukup sampai di sini saja,” ujarnya pelan.
Wang Long tampak terkejut. “Kau tidak ikut ke kota? Kupikir kita akan terus bersama sampai urusan ini selesai.”
Yue Lan menggeleng pelan, rambutnya berkilau terkena cahaya. “Setiap orang memiliki jalannya sendiri, Wang Long. Ada tugas di perguruanku yang tidak bisa kutinggalkan lebih lama lagi.”
Pandangan matanya beralih sejenak pada Sin Yin. Bidadari Maut itu berdiri anggun beberapa langkah dari mereka, meski wajah porselennya masih tampak sedikit pucat karena sisa racun Ular Salju yang masih mengendap. Yue Lan tersenyum kecil, seolah memahami sesuatu yang tidak disadari Wang Long.
“Lagipula… aku tidak pandai bersaing dalam hal-hal tertentu,” bisik Yue Lan pelan.
Sin Yin terdiam, matanya sedikit membelalak mendengar sindiran halus itu. Sementara itu, Wang Long justru menggaruk kepalanya, menoleh ke kiri dan ke kanan. “Bersaing? Bersaing dalam hal apa? Turnamen persilatan lagi?”
Yue Lan tertawa pelan, suara tawanya terdengar merdu namun penuh arti. “Jaga dirimu baik-baik, Naga yang sangat polos.”
Setelah memberikan salam perpisahan, Yue Lan berbalik dan pergi dengan langkah anggun. Wang Long menatap punggungnya dengan bingung. “Apa aku mengatakan sesuatu yang salah lagi? Kenapa dia menyebutku polos?”
Sin Yin mendesah tipis, memijat keningnya pelan. “Kau memang selalu begitu. Tidak peka sama sekali.”
Dua hari kemudian, aroma udara berubah menjadi segar dan lembap saat mereka tiba di gerbang Kota Danau Indah. Kota itu sungguh luar biasa makmur; sebuah danau raksasa yang berkilau seperti cermin raksasa terletak tepat di tengahnya. Perahu-perahu kecil dengan lampion warna-warni berlayar tenang di atas air, sementara bangunan-bangunan megah dengan arsitektur indah berderet di sepanjang tepiannya.
Namun, tepat saat mereka melintasi gerbang utama kota, Sin Yin mendadak limbung. Tubuhnya sempoyongan seolah kehilangan tumpuan. Wang Long yang selalu waspada dengan sigap menangkap pinggangnya sebelum ia jatuh ke tanah.
“Sin Yin! Kau kenapa?” tanya Wang Long cemas.
“Aku… aku baik-baik saja… hanya sedikit pening,” bisiknya parau, namun keringat dingin mulai membasahi pelipis dan lehernya.
Ternyata sisa racun Ular Salju milik Lian Hua belum sepenuhnya musnah; hawa dingin racun itu diam-diam merayap saat kondisi fisik Sin Yin menurun akibat perjalanan jauh. Tanpa membuang waktu, Wang Long segera menggendongnya dan membawanya ke penginapan terbaik di kota itu.
Di dalam kamar yang tenang, Wang Long duduk bersila di belakang Sin Yin. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di punggung gadis itu, memusatkan seluruh konsentrasinya. Aura emas yang lembut dan hangat perlahan menyelimuti ruangan, menetralisir hawa dingin yang menusuk.
Sin Yin menggigit bibir bawahnya, merasakan aliran energi Wang Long yang begitu murni. “Jangan… jangan terlalu banyak mengalirkan tenaga dalammu. Kau akan kelelahan jika ada musuh datang.”
“Aku lebih takut kehilanganmu daripada takut pada musuh mana pun,” jawab Wang Long tegas.
Sin Yin terdiam seketika. Wajahnya yang pucat perlahan memerah samar. “Kau… kau belajar bicara manis lagi dari mana?”
“Aku tidak belajar. Aku hanya berkata jujur tentang apa yang kurasakan,” sahut Wang Long tanpa melepaskan kontaknya.
Hawa hangat itu terus mengalir, memburu sisa-sisa racun dingin hingga tuntas. Sin Yin memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang merambat di seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidupnya sebagai pembunuh—ia merasa benar-benar aman dan dilindungi.
Namun ketenangan itu terusik saat suara ketukan pintu yang keras terdengar dari luar, diikuti suara pelayan penginapan yang tampak bersemangat.
“Tuan Muda! Maaf mengganggu, ada saudagar paling kaya di kota ini ingin bertemu dengan nona cantik yang bersamamu!”
Wang Long menghentikan penyaluran energinya setelah memastikan Sin Yin sudah stabil. Ia membuka pintu dan menemukan seorang pria paruh baya bertubuh tambun, berpakaian sutra mewah dengan kipas emas di tangannya.
“Aku Liu Shen, saudagar utama kain sutra di kota ini,” ujar pria itu dengan nada angkuh. Matanya langsung melotot menatap Sin Yin yang sedang duduk di tempat tidur. “Jika nona membutuhkan obat-obatan langka atau perhiasan paling mahal untuk memulihkan kecantikanmu, aku siap menyediakannya… tentu dengan harga istimewa.”
Sin Yin membuka mata perlahan. Tatapannya kembali berubah menjadi tajam dan sedingin es, ciri khas Bidadari Maut. “Aku tidak tertarik pada barang-barangmu.”
Saudagar itu tertawa kecil, tidak menyadari bahaya yang mengintai. “Ah, Nona tak perlu malu. Wajah secantik ini sungguh tak pantas bersama pemuda berpakaian sederhana dan berdebu seperti dia. Aku bisa memberimu kemewahan yang tak terbayangkan.”
Sunyi menyergap ruangan itu. Wang Long menunduk melihat pakaiannya yang memang sederhana dan penuh noda perjalanan. “Bajuku memang agak lusuh…” gumamnya polos.
Namun, Sin Yin sudah berdiri perlahan. Aura membunuh yang sangat dingin mendadak memenuhi ruangan, membuat suhu di kamar itu turun drastis. “Kau ingin aku menunjukkan padamu betapa 'pantasnya' dia di mataku?”
Saudagar Liu Shen langsung gemetar hebat, kakinya lemas saat melihat tatapan predator dari Sin Yin. “A-a-aku hanya bercanda! Maafkan hamba!”
Wang Long buru-buru menarik tangan Sin Yin sebelum ia sempat mencabut senjatanya. “Sudah, Sin Yin. Jangan bunuh orang hanya karena dia pamer kekayaan. Biarkan dia pergi.”
Sin Yin mendengus pelan, menatap punggung saudagar yang lari terbirit-birit itu. “Kalau bukan karena kau yang menahan tangan tadi, kipas emasnya sudah kupatahkan jadi dua bersama lehernya.”
Wang Long memandang Sin Yin dengan senyum kecil yang menggoda. “Kau… sedang cemburu?”
“Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku!” sahut Sin Yin ketus.
“Milikmu?” Wang Long mengangkat alis.
Sin Yin baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia memalingkan wajahnya dengan sangat cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam. “Maksudku… menjaga rekan seperjalanan agar tidak dihina orang luar!”
Wang Long tersenyum lebih lebar lagi. “Aku tidak keberatan jika memang benar-benar menjadi milikmu.”
Sin Yin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Diamlah, Naga Bodoh!”
Tak lama kemudian, sebuah undangan resmi datang. Sekte Bulan Bintang, otoritas persilatan terbesar di Kota Danau Indah, mengundang mereka untuk membicarakan ancaman Partai Tengkorak Hitam.
Di aula pertemuan yang megah, seorang gadis anggun mengenakan pakaian biru langit menyambut mereka dengan senyum cemerlang. Ia memiliki kecantikan yang berbeda dengan Sin Yin; lebih ceria dan memikat secara terbuka.
“Aku Liu Mei, Putri Gubernur sekaligus wakil dari Sekte Bulan Bintang,” ujarnya dengan mata yang berbinar-binar saat menatap Wang Long. “Jadi… kau adalah Sang Naga muda yang sedang menjadi pembicaraan hangat di seluruh daratan?”
Wang Long mengangguk sopan, memberikan hormat pendek. “Nama saya Wang Long. Saya hanya pengelana biasa yang kebetulan terlibat masalah.”
Liu Mei tersenyum manis, bahkan sedikit mendekat ke arah Wang Long. “Pengelana biasa tidak mungkin bisa menaklukkan pendekar Topeng Emas dan menghancurkan teknik bunuh diri tingkat tinggi. Kau terlalu rendah hati, Tuan Muda Wang.”
Sin Yin berdiri tepat di samping Wang Long. Diam. Terlalu diam. Sepanjang pertemuan, Liu Mei terus-menerus mengarahkan pembicaraan pada Wang Long, melontarkan pujian terang-terangan dan sesekali menyentuh lengan baju pemuda itu.
Sin Yin hanya tersenyum tipis—senyum yang bagi siapa pun yang mengenalnya adalah tanda bahwa badai besar akan segera datang. Diam-diam, jari-jarinya meremas lengan baju Wang Long dengan cukup keras.
Saat mereka akhirnya keluar dari aula setelah pertemuan selesai, Wang Long berbisik sambil mengelus lengannya. “Aduh… kenapa kau mencubitku berkali-kali di dalam tadi?”
“Itu agar kau tetap sadar dan tidak terbang terlalu tinggi karena dipuji-puji putri gubernur itu,” sahut Sin Yin dingin.
“Tapi aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sopan.”
“Kau tersenyum padanya tiga kali.”
“Aku juga tersenyum padamu setiap hari, Sin Yin.”
“Itu berbeda!” tegas Sin Yin.
Wang Long berhenti mendadak, membuat Sin Yin ikut berhenti. Pemuda itu menatap mata Sin Yin dengan keseriusan yang tulus. “Kalau itu membuatmu kesal… baiklah. Aku hanya akan memberikan senyumanku padamu mulai sekarang.”
Sin Yin tertegun. Pipinya kembali dihiasi rona merah yang cantik. “Jangan… jangan mengatakan hal-hal seperti itu di tempat umum, Wang Long…”
“Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
“Karena…” Sin Yin menunduk pelan, suaranya mengecil. “…karena aku bisa benar-benar mengklaimmu sebagai milikku selamanya jika kau terus begitu.”
Wang Long mendekat sedikit, menatap pantulan cahaya senja di mata Sin Yin. “Aku sudah bilang, aku tidak keberatan sama sekali.”
Sin Yin menatap Wang Long, lalu tanpa ia sadari, sebuah senyuman lembut yang paling tulus muncul di bibirnya. Bukan senyuman Bidadari Maut, melainkan senyuman seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Di tepi Danau Indah yang berkilau keemasan diterpa senja, Naga dan Bidadari Maut berdiri berdampingan. Racun fisik mungkin sudah hilang dari tubuh Sin Yin, namun kini mereka berdua sedang terinfeksi racun lain yang jauh lebih berbahaya bagi kewarasan mereka—racun bernama cinta.
Namun, di balik keindahan dan romansa kota itu, bayangan Partai Tengkorak Hitam mulai merayap di lorong-lorong gelap, siap menghancurkan kebahagiaan mereka kapan saja.
Bersambung...