Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS JARAK SEBUAH KERINDUAN
Malam semakin larut. Setelah Arlo terlelap dengan memeluk bantal astronotnya, Arsen perlahan masuk ke kamar putranya. Ia mengambil robot merah pemberian Romeo yang diletakkan Arlo dengan rapi di atas meja nakas.
Arsen membawanya ke ruang kerja. Dengan teliti, ia memeriksa setiap jengkal mainan itu. Ia membuka kompartemen baterai, mengetuk-ngetuk bagian tubuh robot yang berongga, bahkan menggunakan detektor sinyal kecil milik tim keamanannya untuk memastikan tidak ada alat penyadap atau pelacak GPS tersembunyi.
Hasilnya? Kosong.
Tidak ada kabel mencurigakan, tidak ada kamera mikro, tidak ada apa pun. Itu benar-benar hanya sebuah mainan robot berkualitas bagus yang dibeli dari toko mainan ternama.
Arsen menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap robot itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah alat penyadap: mainan itu adalah bentuk kerinduan murni seorang ibu yang sudah kehilangan segalanya.
Laras tidak menaruh racun atau teknologi pengintai. Ia hanya mengirimkan sebuah benda yang ia harap bisa dimainkan oleh anaknya. Sebuah upaya menyentuh hidup Arlo tanpa berani menyentuh fisiknya.
Pintu ruang kerja terbuka pelan. Rosa melangkah masuk dengan piyama sutranya, wajahnya masih tampak pucat namun lebih tenang. Ia melihat robot itu di atas meja Arsen.
"Gimana, Mas? Ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Rosa pelan.
Arsen menggeleng, suaranya sedikit serak. "Nggak ada apa-apa, Sayang. Itu cuma mainan biasa. Nggak ada pelacak, nggak ada penyadap. Ini murni... pemberian dari dia untuk Arlo."
Rosa mendekat, menyentuh permukaan robot yang dingin itu. Ia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Mungkin itu satu-satunya cara dia merasa dekat sama Arlo, ya? Tanpa harus membuat keributan."
Arsen menarik Rosa ke dalam pelukannya. "Mungkin. Tapi itu tetap nggak mengubah fakta kalau dia berbahaya buat ketenangan kita, Sayang. Aku nggak bisa biarkan dia terus-menerus menggunakan celah seperti ini. Rasa bersalahnya bukan tanggung jawab kita untuk menebusnya dengan keamanan Arlo."
Rosa mengangguk pelan di dada Arsen. "Aku tahu, Mas. Aku cuma... aku cuma merasa sedih saja melihat betapa hancurnya hidup dia sekarang sampai harus sembunyi-sembunyi begini. Tapi kamu benar, Arlo adalah prioritas kita."
Arsen mengecup puncak kepala Rosa. "Besok, aku tetap akan memperketat semuanya. Robot ini... biarlah Arlo tetap memainkannya, tapi kita akan pastikan itu adalah benda terakhir dari Laras yang masuk ke rumah ini."
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang kerja, Arsen menyadari bahwa musuh yang paling sulit dihadapi bukanlah orang yang menyerang dengan senjata, melainkan orang yang menyerang dengan rasa iba dan penyesalan yang mendalam.
Pagi itu, suasana di depan gerbang sekolah masih cukup ramai. Arsen sedang berbicara sebentar dengan kepala sekolah di dalam kantor, sementara Rosa menunggu di dekat mobil, memperhatikan anak-anak yang mulai masuk ke kelas.
Pandangan Rosa menyapu trotoar di seberang jalan. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Di sana, di balik sebatang pohon peneduh, berdiri seorang wanita dengan pakaian sederhana dan wajah yang tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
Itu Laras.
Rasa takut yang selama ini menyelimuti Rosa tiba-tiba menguap, digantikan oleh gelombang emosi yang memuncak—campuran antara amarah, trauma, dan keberanian seorang ibu yang ingin melindungi anaknya. Tanpa berpikir panjang, Rosa melangkah lebar menyeberangi jalan, mengabaikan klakson kendaraan yang lewat.
Laras tersentak, ia hendak berbalik untuk lari, namun langkah Rosa lebih cepat.
"Mbak Laras!" panggil Rosa dengan suara yang bergetar namun tegas.
Laras berhenti, bahunya merosot. Ia perlahan berbalik, menatap Rosa dengan mata yang cekung dan penuh kesedihan. Tidak ada lagi raut wajah angkuh seperti bertahun-tahun lalu. Yang ada hanyalah seorang wanita yang tampak hancur.
"Rosa..." bisik Laras lirih.
"Apa lagi, Mbak? Apa lagi yang Mbak mau?" cecar Rosa, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Mbak tahu betapa susahnya kami membangun ketenangan ini? Mbak pakai Romeo, Mbak kasih robot... Mbak mau ambil Arlo lagi?"
Laras menggeleng kuat-kuat, air matanya jatuh membasahi pipinya yang tirus. Ia meremas tangannya sendiri yang gemetar.
"Aku cuma lihat dia dari jauh, Rosa... Sumpah, aku nggak punya niat jahat," ucap Laras dengan suara serak, hampir tenggelam dalam kebisingan jalanan.
"Aku tahu aku nggak pantas. Aku tahu aku sudah jahat sama kamu, sama anak yang ada di kandunganmu dulu..." Laras terisak, dadanya naik turun dengan sesak. "Aku cuma mau lihat dia tumbuh. Aku cuma mau memastikan kalau dia bahagia, kalau dia punya hidup yang nggak sekelam hidupku. Aku nggak akan bawa dia pergi, Rosa. Aku nggak punya apa-apa buat kasih dia makan."
Rosa terdiam. Amarahnya yang tadi meluap-luap seolah membentur tembok kerapuhan Laras. Ia melihat tangan Laras yang kasar, mungkin bekas kerja keras atau sisa-sisa KDRT yang diceritakan Shinta.
"Mbak menyakiti kami setiap kali Mbak muncul," ucap Rosa lebih tenang, meski suaranya masih menyimpan kepedihan. "Arlo merasa diawasi. Dia takut. Dia pikir ada hantu di sekolahnya. Mbak mau anak Mbak sendiri hidup dalam ketakutan?"
Laras tertunduk dalam, tangisnya semakin pecah. "Maafin aku... aku nggak tahu kalau dia ketakutan. Aku cuma kangen, Rosa. Dia satu-satunya yang tersisa dari hidupku yang hancur ini."
Dari kejauhan, Arsen keluar dari gerbang sekolah dan langsung menyadari posisi Rosa di seberang jalan bersama Laras. Sorot mata Arsen menajam, ia segera berlari menghampiri mereka dengan langkah yang penuh ancaman.
Langkah Arsen begitu lebar dan tegas saat menyeberangi jalan. Aura kepemimpinan dan perlindungan yang pekat terpancar dari setiap gerakannya. Begitu sampai di samping Rosa, ia langsung melingkarkan lengannya di bahu sang istri, menariknya dengan protektif ke belakang tubuhnya sendiri.
Tatapan Arsen kepada Laras sangat dingin, setajam silet yang siap mengiris siapa pun yang berani mengancam kedamaian keluarganya.
"Kamu harus tahu batasan seberapa jarakmu buat lihat anak kami, Laras!" desis Arsen dengan suara rendah namun penuh penekanan yang mematikan.
Laras tersentak, ia memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak batang pohon. Ia menunduk, tidak berani menatap sorot mata pria yang dulu pernah ia khianati kepercayaannya itu.
Arsen mencondongkan tubuhnya sedikit, memastikan Laras mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Ingat, Laras... Arlo itu ANAK KAMI. Bukan anakmu lagi. Dia punya Mama yang tulus menjaganya, dan dia punya Papa yang nggak akan segan menghancurkan siapa pun yang buat dia merasa terancam."
"Arsen... maaf..." isak Laras pelan, namun Arsen tidak memberikan ruang untuk pembelaan.
"Jangan pernah gunakan orang lain, jangan gunakan teman Arlo, dan jangan pernah berdiri di seberang jalan ini lagi," lanjut Arsen. "Kalau aku lihat kamu sekali lagi di radius satu kilometer dari sekolah atau rumah kami, aku nggak akan bicara baik-baik seperti ini. Aku akan pastikan kamu kembali ke tempat di mana kamu seharusnya berada. Mengerti?"
Laras hanya bisa mengangguk lemah dalam tangisnya yang sesak. Ia melihat betapa Arsen sangat menjaga Rosa, betapa tangan pria itu menggenggam jemari Rosa yang masih gemetar.
Arsen tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia memutar tubuhnya, menuntun Rosa menjauh dari sana tanpa menoleh lagi. Ia membawa Rosa kembali ke arah mobil dengan langkah yang tenang namun pasti.
Begitu sampai di dalam mobil, Arsen mengunci pintu secara otomatis. Ia menangkup wajah Rosa dengan kedua tangannya, memaksa istrinya untuk menatap matanya.
"Sayang, kamu oke? Jangan pernah nekat samperin dia sendirian lagi, Mas takut kamu kenapa-kenapa," ucap Arsen dengan nada yang kini melunak, penuh kekhawatiran.
Rosa menarik napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih berpacu. "Aku cuma mau dia tahu, Mas. Aku nggak mau dia terus-menerus bayangi Arlo. Tapi melihat dia tadi... dia benar-benar hancur."
Arsen mengecup kening Rosa. "Kehancurannya bukan alasan untuk merusak kebahagiaan kita. Sekarang kita pulang, oke? Mas akan minta Dana buat pastikan dia benar-benar pergi dari area ini hari ini juga."