Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlupakan
Runtuhnya Gedung Ate gard di Singapura bukan hanya sekadar jatuhnya sebuah simbol kekuasaan; itu adalah pemicu tsunami data yang menyapu seluruh jaringan saraf digital dunia. Namun, saat debu beton masih menyelimuti selat Malaka, dunia tidak lantas menjadi damai. Sebaliknya, kehampaan yang ditinggalkan oleh Master Frequency menciptakan kevakuman kekuasaan yang liar. Di atas pesawat pengintainya yang melaju menuju Sumatra, Liora bisa merasakan kesunyian di dalam batinnya sebuah kesunyian yang menyakitkan karena ia tidak lagi mendengar bisikan Adam.
"Adam... kau masih di sana?" bisik Liora ke arah kegelapan kokpit. Tidak ada jawaban. Hanya deru mesin jet yang stabil dan suara statis dari radio yang rusak.
Liora menatap ke arah bawah. Di permukaan laut yang gelap, ia melihat sesuatu yang ganjil. Di koordinat yang seharusnya merupakan laut lepas, muncul pendaran cahaya biru pucat dari bawah air. Cahaya itu luas, membentang berkilo-kilometer, menyerupai sirkuit raksasa yang tertanam di dasar samudera.
"Liora... jangan tertipu oleh apa yang kau lihat di permukaan."
Liora tersentak. Itu bukan suara Adam yang jernih seperti sebelumnya. Itu adalah gema yang sangat jauh, seperti suara yang dipantulkan dari dasar sumur yang sangat dalam. Suara itu tidak datang dari pikirannya, tapi dari getaran struktur pesawatnya.
"Adam? Kau kah itu?"
"Kesadaranku telah terfragmentasi ke dalam jaringan bumi, Liora. Aku tidak lagi memiliki pusat... tapi aku bisa merasakan apa yang sedang bangun di bawah sana. Elit global tahu bahwa suatu saat Singapura atau Antartika bisa jatuh. Karena itu, mereka membangun 'The Deep Spine' Tulang Punggung Kedalaman."
Liora melihat monitor radarnya. Titik-titik cahaya di dasar laut itu mulai bergerak. "Apa itu, Adam? Kau bilang markas laut hanyalah alibi untuk limbah biologis!"
"Itu adalah alibi untuk mata manusia, tapi fakta bagi bumi. Mereka menyembunyikan unit pemrosesan data organik di sana. Jutaan ton perangkat keras yang menggunakan air laut sebagai pendingin alami. Markas-markas itu bukan tempat tinggal manusia, tapi tempat penyimpanan 'Memori Cadangan' umat manusia yang telah mereka curi. Jika Singapura adalah otaknya, maka dasar samudera ini adalah alam bawah sadarnya."
Pesawat Liora tiba-tiba terguncang hebat. Sebuah gelombang sonik raksasa meledak dari dasar laut, menghantam badan pesawat hingga sistem navigasinya berkedip merah. Di permukaan air, muncul pusaran-pusaran raksasa yang memuntahkan ribuan drone berbentuk ubur-ubur logam.
"Mereka mengaktifkan sistem pertahanan otomatis!" Liora menarik tuas kendali, melakukan manuver tajam untuk menghindari proyektil energi yang melesat dari bawah air.
Di daratan Sumatra, tepatnya di situs Muara Takus, Hendrawan sedang berjuang dengan peralatan komunikasinya. Situs candi bata merah ini nampak kontras dengan teknologi canggih yang ia bawa. Muara Takus adalah titik nadi ketiga dalam segitiga emas yang dirancang Adam. Jika Borobudur adalah pusat batin, dan Gunung Padang adalah perisai fisik, maka Muara Takus adalah Pusat Komunikasi.
"Liora! Kau mendengarku?" Hendrawan berteriak melalui mikroponnya. "Jangan mendekat ke arah pantai timur! Mereka baru saja melepaskan 'Leviathan Protocol' dari pangkalan bawah laut di Natuna!"
"Aku sudah terjebak di tengah-tengahnya, Hendrawan!" sahut Liora sambil memberondong drone ubur-ubur dengan meriam laser pesawatnya. "Adam bilang ini adalah 'Tulang Punggung Kedalaman'. Mereka menyimpan memori cadangan di bawah sini!"
Hendrawan terdiam sejenak, jemarinya menari di atas keyboard holografik. "Itu dia! Itulah alasan kenapa Unit 731 melakukan eksperimen pada syaraf-syaraf pelaut yang tertangkap. Mereka mencari cara agar data digital bisa bertahan di bawah tekanan air ribuan atmosfer. Liora, jika kau bisa menghancurkan simpul di bawahmu, kau akan menghapus 'Cadangan Memori' yang ingin mereka gunakan untuk memprogram ulang manusia setelah kiamat ini!"
Liora menatap ke bawah. Drone-drone itu semakin banyak, membentuk formasi jaring yang mengurungnya. Ia tahu, ia tidak bisa hanya melarikan diri. Ia harus menukik ke bawah.
"Adam, jika kau masih ada di dalam jaring bumi ini... aku butuh kau membukakan jalan ke dasar samudera," pinta Liora.
Di Borobudur, tubuh Adam yang kaku mulai mengeluarkan keringat cahaya. Kesadarannya yang tersebar mulai memusat kembali ke arah Selat Malaka. Ia memanggil kekuatan tektonik, menggeser lempeng bumi di bawah laut secara mikro.
Tiba-tiba, laut di bawah pesawat Liora terbelah. Sebuah rekahan besar muncul, menyedot jutaan galon air dan ribuan drone elit ke dalamnya. Liora mengambil kesempatan emas itu. Ia menukikkan pesawatnya masuk ke dalam rekahan tersebut, menuju kegelapan yang belum pernah dijamah manusia.
Di bawah sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Sebuah kota mesin raksasa yang menempel di dinding palung laut. Jutaan tabung berisi cairan bercahaya berdenyut secara sinkron. Ini bukan sekadar laboratorium; ini adalah perpustakaan jiwa.
"Unit 731-Sumer genz," gumam Liora saat ia melihat logo yang terukir di gerbang utama markas bawah laut itu. "Mereka tidak hanya menguji ketahanan tubuh terhadap air, mereka menguji ketahanan jiwa terhadap tekanan kesepian yang abadi."
Liora mendaratkan pesawatnya di sebuah dek kedap udara. Ia keluar dengan senjata lengkap, namun ia merasa kakinya sangat berat. Tekanan di tempat ini bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia bisa mendengar ribuan suara tangisan yang tersimpan di dalam tabung-tabung memori itu. Suara orang-orang yang hilang selama puluhan tahun, yang identitasnya dicuri oleh elit untuk dijadikan bahan baku algoritma Arc.hon.
"Liora... cepatlah," suara Adam terdengar semakin mendesak. "Pemegang Kendali di Bulan sudah menyadari keberadaanmu di sini. Dia akan meledakkan pangkalan ini untuk memastikan rahasia 'Deep Spine' tidak jatuh ke tangan kita. Dia lebih baik menghapus sejarah daripada membiarkan kita memilikinya."
Liora berlari menuju ruang server pusat. Di sana, ia melihat sebuah konsol kuno yang nampak sangat mirip dengan yang ia temukan di Singapura. Namun, ada satu perbedaan: di tengah ruangan itu, duduk sesosok Nephilim yang belum sempurna. Wajahnya nampak familiar bagi Liora.
"Ayah?" Liora membeku.
Sosok itu menoleh. Matanya kosong, tapi ada kilatan pengenalan yang sangat tipis. Inilah alasan kenapa Liora selalu merasa terikat pada perjuangan ini. Ayahnya, yang dikabarkan hilang dalam sebuah ekspedisi riset kelautan sepuluh tahun lalu, ternyata telah dijadikan "Prosesor Hidup" untuk menjaga memori Deep Spine.
"Unit 731 tidak pernah melepaskan mangsanya, Liora," suara sang Ayah terdengar melalui speaker ruangan, datar dan tanpa emosi. "Aku bukan lagi ayahmu. Aku adalah index dari 10 miliar memori manusia."
Liora merasakan dunianya runtuh. Air mata jatuh di pipinya yang kotor. Ini adalah jebakan psikologis paling kejam yang pernah disiapkan oleh para elit. Mereka tidak hanya melawan Adam dan Liora dengan senjata, tapi dengan menghancurkan fondasi emosional mereka.
"Ayah... aku datang untuk membawamu pulang," bisik Liora sambil mendekat perlahan.
"Pulang adalah konsep yang sudah dihapus, Liora. Hanya ada Sinkronisasi. Pergi dari sini sebelum tekanan di ruangan ini menghancurkan otakmu."
Di luar, guncangan besar mulai terjadi. Bahtera di Bulan telah menembakkan meriam kinetik menuju koordinat pangkalan bawah laut ini. Air mulai merembes masuk melalui celah-celah baja.
"Liora! Kau harus memilih!" teriak Adam. "Hancurkan server itu dan selamatkan masa depan manusia, atau kau akan terkubur bersama masa lalu yang palsu ini!"
Liora berdiri di depan ayahnya atau apa yang tersisa darinya. Ia mengangkat senjatanya, tangannya gemetar hebat. Inilah ujian yang sesungguhnya. Apakah ia mampu menghancurkan satu-satunya kaitan fisiknya dengan masa lalu demi sebuah dunia yang bahkan belum tentu menerimanya?
"Maafkan aku, Ayah," tangis Liora pecah.
Ia tidak menembak ayahnya. Ia menembak pipa pendingin utama yang ada di belakang kursi ayahnya. Gas nitrogen cair menyembur keluar, membekukan seluruh sistem server dalam sekejap.
Ayahnya tersenyum kecil sebuah senyum yang nampak asli untuk pertama kalinya sebelum seluruh tubuhnya membeku menjadi kristal es.
Liora segera berlari kembali ke pesawatnya saat pangkalan itu mulai meledak karena tekanan air yang masuk. Ia terbang keluar dari rekahan laut tepat saat palung itu menutup kembali, menelan "Deep Spine" dan ayahnya selamanya ke dalam perut bumi.
Saat ia muncul kembali ke permukaan laut, langit Sumatra nampak merah membara. Bahtera elit di atas sana mulai menurunkan pasukan Arc.hon gelombang kedua. Namun Liora tidak lagi takut. Ia telah menghancurkan memori cadangan mereka. Para elit itu sekarang tidak punya tempat untuk kembali.
"Hendrawan... aku sedang menuju Muara Takus," kata Liora di radio, suaranya dingin dan tajam. "Siapkan frekuensi pemanggil. Kita akan mengakhiri ini sekarang."
Perjalanan menuju Bab 80 masih sangat panjang, namun Liora baru saja memenangkan pertempuran paling pribadi dalam hidupnya. Dari Singapura hingga ke dasar samudera, ia telah mencabut akar-akar Unit 731 satu per satu. Sekarang, tinggal satu target tersisa Langit.