NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

SURAT PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Tangannya membeku.

“Apa… ini, pak?” tanya Radit pelan yang suaranya nyaris tidak keluar dan membuat direktur itu menautkan jemarinya di atas meja.

“Mulai hari ini,” ucapnya tegas, “Anda resmi diberhentikan dari posisi Anda sebagai dokter di rumah sakit ini.”

Radit mendongak dengan mata membelalak.

“Apa maksud Bapak?” suaranya meninggi. “Ini tidak benar-benar masuk akal.”

“Keputusan ini sudah final,” lanjut direktur itu tanpa emosi. “Dan berlaku efektif mulai sekarang.”

Radit tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana.

“Pak, ini pasti ada kesalahan,” katanya cepat. “Saya tidak pernah mendapat peringatan. Tidak pernah ada evaluasi buruk. Kinerja saya—”

“Kinerja medis Anda memang baik,” potong direktur itu dengan nada dingin. “Tapi keputusan ini tidak hanya didasarkan pada satu aspek.”

Radit bangkit dari kursinya setengah berdiri, tangannya mencengkeram surat itu dengan erat.

“Kalau begitu jelaskan,” katanya tajam. “Saya berhak tahu alasan saya dipecat.”

Direktur itu menatapnya lama, lalu berkata dengan nada datar,

“Alasan tertulis sudah ada di surat itu.”

Radit menunduk lagi, membaca cepat isi surat tersebut. Kata-kata di sana terasa kabur, berputar, sulit ia cerna. Ia membaca berulang kali, berharap ada kalimat yang berubah. Namun tidak ada.

“Bapak tidak bisa melakukan ini pada saya!” katanya dengan suara bergetar. “Saya dokter di sini. Saya punya kontrak.”

“Kontrak Anda sudah diputus,” jawab direktur itu singkat. “Sesuai prosedur.”

Radit menggeleng keras.

“Ini tidak adil.”

“Dunia memang tidak selalu adil, Dokter Radit,” ucap direktur itu tenang. “Silakan selesaikan administrasi Anda hari ini. Mulai sekarang dan seterusnya, Anda tidak diperkenankan masuk ke area rumah sakit ini lagi.”

Radit berdiri sepenuhnya sekarang. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat.

“Ini… ini tidak mungkin,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Radit masih berdiri di tempatnya. Surat itu masih berada di tangannya, terlipat sedikit karena genggamannya terlalu kuat. Napasnya terdengar berat, tidak beraturan, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan yang baru saja dijatuhkan kepadanya begitu saja.

“Pak…” ucap Radit lagi yang kali ini dengan suara yang lebih rendah, nyaris terdengar seperti permohonan. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Saya yakin ada jalan keluarnya.”

Direktur rumah sakit menatap Radit tanpa ekspresi. Tatapannya datar, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bernegosiasi.

“Saya sudah membicarakannya,” jawabnya singkat. “Dan keputusan ini bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru.”

Radit menggeleng keras, rambutnya sedikit berantakan.

“Tidak mungkin,” katanya, suaranya mulai meninggi. “Saya salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Jumlah pasien saya tinggi, tingkat keberhasilan saya—”

“Saya tahu semua itu,” potong direktur itu dengan tenang. “Saya juga tahu pencapaian yang dimiliki anda.”

“Kalau begitu?” Radit maju selangkah tanpa sadar. “Apa alasan sebenarnya, Pak? Saya layak mendapatkan penjelasan yang lebih masuk akal dari sekadar surat ini.”

Direktur itu menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Dokter Radit,” katanya dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya. “Anda seharusnya keluar dan meninggalkan rumah sakit ini.”

Radit tidak menurut. Dadanya naik turun dengan cepat.

“Saya tidak akan keluar dari ruangan ini sebelum Bapak membatalkan keputusan ini. Saya sudah mengorbankan banyak hal untuk rumah sakit ini.” ucap Radit dengan tegas dan membuat direktur rumah sakit itu menyipitkan matanya sedikit.

“Pengorbanan?” ulangnya pelan.

“Iya,” balas Radit dengan cepat. “Jam kerja yang saya miliki cukup panjang. Tekanan mental. Malam-malam tanpa tidur. Saya sudah membuktikan diri saya berkali-kali. Tidak semua dokter di sini bisa seperti saya.”

Nada itu—nada sombong yang selama ini menjadi bagian dari diri Radit akhirnya keluar tanpa bisa ia kendalikan. Dan itulah kesalahan pertamanya. Direktur rumah sakit itu tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Bukan senyum bangga. Melainkan senyum yang sarat ironi.

“Justru itu yang ingin saya sampaikan,” katanya pelan tapi menusuk. “Kau terlalu yakin pada dirimu sendiri, Dokter Radit.”

Radit terdiam sesaat.

“Apa maksud Bapak?”

“Jangan terlalu sombong dengan pencapaian yang tidak sepenuhnya kau bangun sendiri, Radit.” lanjut direktur itu dengan nada dingin.

Kalimat itu keluar begitu saja, namun dampaknya seperti pukulan keras ke wajah Radit.

“Apa maksud Bapak?” ulang Radit yang kali ini lebih pelan dan membuat direktur itu menatapnya lurus.

“Selama ini, kau menikmati hasil kerja keras orang lain dan mengakuinya sebagai milikmu sendiri.”

Wajah Radit berubah. Rahangnya mengeras.

“Itu tidak benar,” ucap Radit cepat. “Saya bekerja keras untuk berada di posisi ini.”

“Benarkah?” tanya direktur itu balik dan membuat Radit mengepalkan tangannya tanpa sadar.

“Saya dan manajemen rumah sakit ini sudah tahu,” lanjut direktur itu, nadanya kini lebih tegas, “bahwa Anda bisa diterima bekerja di sini bukan semata-mata karena kemampuan Anda.”

Radit menelan ludah.

“Kami tahu siapa yang membantu Anda,” kata direktur itu pelan. “Kami tahu siapa yang selama ini berada di belakang Anda.”

Ruangan itu terasa semakin sempit.

“Kami tahu tentang Arsy.”

Nama itu. Nama yang tidak pernah Radit duga akan disebut di ruangan ini.

“Apa hubungannya Arsy dengan semua ini?” bentak Radit dengan emosinya yang mulai tak terkendali dan membuat direktur itu tidak gentar sedikit pun.

“Hubungannya sangat besar,” jawabnya. “Kami tahu bahwa Arsy yang memasukkan kamu untuk bekerja di rumah sakit ini. Arsy yang membantu kamu mendapatkan kesempatan magang dan mendapatkan posisi tetap sebagai dokter di tempat ini. Arsy yang memastikan kamu bisa menyelesaikan pendidikan kamu tanpa terkendala finansial.”

Radit tertawa keras, ia tidak menyangka kalau atasannya itu malah memuji Arsy dibalik pencapaiannya.

“Itu urusan pribadi saya,” katanya sinis. “Dan itu tidak ada kaitannya dengan profesionalitas saya sebagai seorang dokter.”

“Justru di situlah masalahnya,” balas direktur itu. “Kau memanfaatkan seseorang yang mencintai anda, lalu berdiri di atas bantuan itu seolah-olah semuanya murni hasil kerja keras kami sendiri.”

“Cukup!” bentak Radit dengan keras.

Tangannya kini mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Otot-otot lengannya menegang. Wajahnya memerah oleh amarah yang selama ini terpendam.

“Saya tidak pernah meminta semua itu,” bantah Radit dengan suaranya bergetar. “Dia melakukannya sendiri.”

“Dan kamu menerimanya tanpa rasa bersalah,” balas direktur itu dengan tajam. “Lalu mengkhianatinya.”

Radit terdiam. Dadanya bergemuruh hebat.

“Semua orang di rumah sakit ini tahu,” lanjut direktur itu tanpa ampun. “Tentang pengkhianatan Anda. Tentang bagaimana kamu mempermainkan kepercayaan seseorang yang sudah mengorbankan segalanya demi Anda.”

Radit menggeleng keras.

“Kenapa bapak mempermasalahkan semua ini? Masalah saya bukan menjadi urusan rumah sakit!” seru Radit.

“Benar,” jawab direktur itu. “Tapi integritas seseorang selalu menjadi urusan nomor satu bagi kami.”

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!