Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kediaman yang Terluka
Suasana di dalam mobil Paul selama perjalanan pulang dari jembatan itu begitu menyesakkan. Hanya terdengar isak tangis Sean yang sesenggukan karena kelelahan dan suara napas Kathryn yang pendek-pendek, seolah dadanya masih dihimpit beban yang sangat berat. Kathryn tidak bicara sepatah kata pun. Ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela, matanya kosong menatap aspal jalanan, mengabaikan tangan Paul yang sesekali mencoba menyentuh pundaknya untuk meminta maaf.
Begitu sampai di kediaman Danola, Paul segera turun. Ia tidak membiarkan Kathryn berjalan sendiri. Dengan gerakan protektif yang penuh rasa sesal, Paul menggendong adiknya yang tampak begitu ringan dan rapuh, seolah-olah Kathryn telah kehilangan seluruh semangat hidupnya di aliran sungai tadi.
Kathryn tidak melawan, namun ia juga tidak membalas pelukan kakaknya. Ia pasrah, lemas seperti boneka kain yang rusak.
"Masuk ke kamar ya, Sayang... Kakak akan temani kamu," bisik Paul parau saat mereka melewati ruang tengah.
Paul membaringkan Kathryn di tempat tidur kamarnya yang sejuk. Ia menarik selimut tebal hingga ke dada adiknya, memastikan Kathryn merasa hangat setelah diterpa angin kencang di jembatan. Paul berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Kathryn yang sedingin es.
"Maafkan Kakak, Kath... Maafkan Kakak," Paul berulang kali mencium punggung tangan adiknya dengan air mata yang terus mengalir. "Kakak janji tidak akan ada yang mengganggumu. Tidak Dimas, tidak siapa pun. Kamu istirahatlah."
Di ambang pintu, Sean berdiri sambil memegang mainan robotnya, matanya sembab. Ia ingin mendekat ke arah tantenya, namun Paul segera berdiri dan menghampiri putranya.
"Sean, Onty Kath sedang sakit. Jangan diganggu dulu ya? Onty butuh bobo," bisik Paul sambil menggendong Sean keluar dari kamar. Ia menutup pintu dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara sekecil apa pun yang bisa mengusik ketenangan Kathryn yang sedang hancur.
Di ruang tamu, Dimas sudah menunggu dengan wajah yang tidak kalah hancurnya. Ia berdiri di dekat jendela, menatap kosong ke arah taman. Begitu melihat Paul turun dengan wajah kuyu, Dimas langsung menghampirinya.
"Bagaimana kondisinya, Paul?" tanya Dimas dengan suara rendah, penuh kecemasan.
Paul tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu menatap Dimas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia pingsan sebentar tadi setelah aku baringkan. Dia trauma, Dim. Dia benar-benar ingin melompat tadi... Dia membenciku. Dia membenci kita semua."
Paul menyandarkan punggungnya di tembok, lalu menatap Dimas dengan tajam. "Mungkin... mungkin sebaiknya kamu mundur saja, Dim. Lihat apa yang terjadi. Identitasmu, kebohonganmu, dan pembelaanku yang membabi buta tadi pagi hampir saja membunuh adikku sendiri. Aku tidak mau kehilangan dia hanya karena ambisimu memenangkan hatinya."
Dimas terdiam. Kalimat Paul seperti hantaman godam di dadanya. Ia memikirkan wajah Kathryn yang penuh kebencian tadi di jembatan. Untuk sekejap, pikiran untuk menyerah terlintas di benaknya pergi jauh, kembali ke dunianya yang megah, dan membiarkan Kathryn hidup tenang.
Namun, perlahan Dimas menggelengkan kepalanya. Rahangnya mengatup rapat, dan binar di matanya yang tadi sempat meredup kini kembali menyala dengan tekad yang lebih gelap dan kuat.
"Tidak, Paul. Aku tidak akan mundur," tegas Dimas. Suaranya dingin namun penuh keyakinan. "Justru karena aku hampir kehilangannya hari ini, aku menyadari bahwa aku tidak bisa membiarkan dia sendirian dalam kondisi seperti itu. Aku yang memulai kekacauan ini, dan aku yang harus menyembuhkannya."
Paul mendengus getir. "Bagaimana kamu mau menyembuhkannya kalau melihat wajahmu saja dia ingin mati?"
"Aku akan menunggu. Jika dia butuh waktu setahun, sepuluh tahun, atau seumur hidup, aku akan tetap menjaganya dari jauh," balas Dimas. "Kamu pikir aku akan membiarkan wanita setulus dia hancur karena kesalahanku? Tidak, Paul. Tekadku sudah bulat. Aku akan melepaskan segala atribut kemewahanku jika itu perlu, tapi aku tidak akan melepaskan dia."
Dimas melangkah menuju pintu keluar, namun ia berhenti sejenak. "Jaga dia baik-baik. Jangan keras padanya lagi. Aku akan mengirimkan perawat pribadi terbaik dari rumah sakitku besok, dia akan menyamar sebagai asisten rumah tangga agar Kathryn tidak curiga. Biarkan dia merasa aman di rumahnya sendiri dulu."
Sementara itu, di dalam kamar yang gelap, Kathryn sebenarnya tidak tertidur. Ia mendengar samar-samar perdebatan di bawah. Ia mendengar suara Dimas yang bersikeras tidak mau pergi.
Rasa benci yang luar biasa menjalar di nadinya. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang memerah. Setiap kata "sayang" dari Paul dan setiap janji "menjaga" dari Dimas terasa seperti racun baginya.
"Kalian tidak menjaga aku..." bisik Kathryn pada kegelapan. "Kalian hanya menjaga ego kalian masing-masing."
Ia menyentuh pergelangan tangannya yang masih memerah bekas cengkeraman Paul. Rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan rasa jijik yang ia rasakan pada dirinya sendiri karena pernah mencintai pria seperti Dimas dan sangat membanggakan kakaknya yang ternyata lebih memilih harta dan status daripada perasaan adiknya.
Kathryn membalikkan badannya, memunggungi pintu. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun sebuah rencana. Jika mereka tidak mau melepaskannya, maka ia yang akan melepaskan diri dengan cara yang tidak akan pernah mereka duga. Ia tidak akan lagi menjadi Kathryn yang penurut. Jika dunia mereka penuh dengan sandiwara, maka ia akan menjadi pemain yang paling mematikan di dalamnya.
Pagi itu, kediaman Danola tampak tenang dari luar, namun di dalamnya, sebuah perang dingin yang jauh lebih besar baru saja dimulai. Paul merasa telah menyelamatkan nyawa adiknya, padahal ia baru saja mengunci seekor burung yang sayapnya sudah patah namun hatinya kini berubah menjadi batu.
Di luar gerbang, sebuah mobil mewah perak milik Rendy melintas perlahan. Rendy menatap rumah itu dengan senyum tipis. Ia sudah tahu segalanya tentang Paul, Dimas, dan Kathryn. "Menarik sekali," gumam Rendy sambil memacu mobilnya. "Ternyata Tuan Besar Alvaro punya kelemahan yang sangat indah."
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰