Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Serangan pada Keluarga Holland
Langkah kaki yang terburu-buru bergema di koridor SMA Metropolia yang biasanya sunyi pada malam hari. Mrs. Holland, dengan wajah yang masih dilapisi riasan tebal, melangkah lebar diikuti oleh dua orang supir keluarganya. Napasnya memburu, bukan karena amarah yang bercampur dengan ketakutan.
"Kenapa kalian hanya berkumpul di sini! Cepat cari anakku sekarang!" teriaknya begitu melihat kepala regu keamanan sekolah. "Cepat! Kenapa kalian hanya berdiri di sini? Anakku hilang di sekolah ini! Atau kalian ingin aku melibatkan polisi dan membuat hal ini viral di media?!!"
"Nyonya, tapi kami sudah berpencar ke semua kelas dan aula," jawab petugas keamanan itu dengan nada gemetar. "Kami juga sudah memeriksa seluruh CCTV di gerbang, koridor, hingga area parkir. Memang tidak ada tanda-tanda Yara keluar dari area sekolah tapi mungkin saja Yara sudah pergi lewat area belakang yang tidak memiliki CCTV. Atau mungkin Yara sedang bermain dengan teman-temannya sekarang dan lupa mengabari."
"Dasar bodoh! Kalian pikir kenapa aku berada di sini?!" Mrs. Holland mengibaskan ponselnya yang menunjukkan aplikasi pelacak lokasi. "GPS di ponsel-nya berhenti di sini. Di sekolah ini! Ponselnya aktif hingga pukul lima sore tadi di sekolah ini, sebelum akhirnya ponselnya tidak aktif. Dia masih di sini! Kalian yang tidak becus mencarinya!"
Mr. Henderson, kepala sekolah Metropolia, akhirnya juga muncul dari ujung lorong dengan raut wajah yang tak kalah tegang. Tapi dia sudah dihubungi Mrs Holland soal hilangnya Yara di sekolah dan bergegas datang. Namun, sebelum ia sempat menyapa, Mrs. Holland sudah menerjangnya.
"Mr. Henderson! Saya membayar donasi miliaran untuk sekolah ini tapi apa-apaan dengan keamanan sekolah ini?! Anakku hilang di sini!" teriaknya histeris. "Di mana Yara? Jika terjadi sesuatu padanya, saya pastikan Anda tidak akan bisa lagi bekerja di bidang ini lagi!"
"Tenanglah, Mrs. Holland. Kami sedang berusaha—"
"Tenang?! Anakku belum juga ditemukan bagaimana aku bisa tenang?!"
Mr Henderson pun akhirnya menginstruksikan semuanya berpencar dan cari di semua tempat tanpa ada yang terlewat.
Satu jam berlalu, sebuah suara dari walkie-talkie salah satu petugas keamanan memecah keheningan. "Komandan, lapor! Ada kejanggalan di toilet perempuan lantai dua sayap barat. Pintunya digembok dari luar."
Petugas itu mengerutkan kening. "Lantai dua? Bukankah pintu itu baru diganti tadi pagi? Kemarin pintunya didobrak karena ada siswi yang terkunci, jadi seharusnya pintu itu tidak dipasangi gembok lagi sesuai instruksi Mr Henderson."
Tanpa menunggu lagi, Mrs. Holland berlari menuju lantai dua, diikuti semua orang yang juga mencari Yara.
Di depan toilet, seorang petugas keamanan sedang berdiri menatap sebuah gembok perak yang mengkilap. Gembok itu masih baru. Ia yakin sekali tadi pagi saat mengawasi perbaikan pintu, gembok itu tidak ada. Ia tidak tahu bahwa beberapa jam yang lalu, saat jam pelajaran masih berlangsung, Sierra Moore izin ke toilet untuk memasang gembok baru di pintu toilet itu. Toilet itu adalah yang posisinya terdekat dari kelasnya jadi dia hanya perlu mencari cara untuk membuat Yara masuk toilet itu di saat pulang sekolah nanti.
"Buka pintunya! Cepat!" perintah Mrs. Holland.
Karena kunci gemboknya tidak ditemukan, petugas keamanan terpaksa menggunakan pemotong besi besar. Krak! Gembok itu jatuh ke lantai. Begitu pintu utama terbuka dan lampu dinyalakan, pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah tas bermerek milik Yara yang tergeletak di atas wastafel.
"Yara!" Mrs. Holland menjerit.
Mrs Holland memanggil Yara beberapa kali tapi tidak ada sahutan. Security memeriksa bilik toilet satu per satu dari celah atas dan menemukan Yara di salah satu bilik yang juga dikunci dengan menggunakan sebatang besi yang dibengkokkan.
"Dia di dalam! Cepat buka!"
Besi itu jauh lebih tebal daripada gembok di pintu toilet sehingga security cukup kesulitan membukanya.
Para petugas keamanan mulai berkeringat. Mereka mencoba menariknya dengan tangan kosong, namun besi itu seolah menyatu dengan pintu. "Ambilkan linggis! Cepat!" teriak salah satu petugas lewat radio.
Mrs. Holland berbalik menatap Mr Henderson, matanya merah karena amarah. "Kau lihat ini, Henderson? Anakku dikunci di toilet! Siapa yang melakukan ini? Siapa berandal yang berani menyentuh anggota keluarga Holland? Jika jawabanmu tidak memuaskan, aku akan memastikan kau dipecat! Bagaimana bisa kau membiarkan perundungan terjadi di depan matamu!"
Mr. Henderson menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah. "Mrs. Holland, saya mohon kecilkan suara Anda. Sebelum Anda menunjuk jari, Anda harus tahu bahwa kemarin... Yara melakukan hal yang persis sama kepada murid lain."
Langkah Mrs. Holland terhenti. "Apa?"
"Yara mengunci seorang siswi di bilik yang sama ini kemarin sore. Baru tadi pagi pitnu ini diperbaiki."
Mrs. Holland terdiam sejenak, namun kesombongannya segera mengambil alih. "Jadi maksudmu murid itu balas dendam pada anakku? Siapa anak itu, hah?! Beraninya dia memperlakukan Yara seperti ini! Tidak peduli apa pun yang dilakukan Yara, kalian seharusnya terima saja! Memangnya kalian pikir kalian bisa melawan keluarga Holland? Keluarga kami berhubungan sangat baik dengan Blackwood Group! Saya bisa menghancurkan masa depan kalian semua!"
Mr. Henderson menatap Mrs. Holland dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nyonya, sebenarnya saya sudah menghapus rekaman CCTV kemarin. Saya melakukannya untuk melindungi reputasi Yara. Seharusnya tidak ada yang tahu kalau Yara pelakunya. Murid yang dibully Yara kemarin juga tidak masuk hari ini, jadi tidak mungkin dia yang melakukan ini."
"Lalu siapa?!"
"Dan mengenai siapa anak yang dibully Yara kemarin..." Henderson menjeda kalimatnya, suaranya merendah. "Jika Anda tahu siapa dia, Anda tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Mrs. Holland tertawa meremehkan. "Maksudmu anak itu dari keluarga yang lebih berkuasa? Siapa? Apa dia dari empat keluarga terkaya di Metropolia? Jangan melawak, Mr Henderson. Tidak ada anak dari keempat keluarga itu yang masih bersekolah!"
"Dia adalah... putri keluarga Blackwood"
Hening seketika. Suara besi yang beradu di latar belakang seolah lenyap.
"Jangan bohong!" Mrs. Holland membentak, meski suaranya sedikit bergetar.
"Namanya Anastasia Blackwood," lanjut Henderson dengan nada panik yang mulai muncul. "Dia putri dari Menteri Jasper Blackwood, keponakan dari Adrian Blackwood. Seperti yang Anda tahu bahwa keluarga Blackwood sangat low profile, bisa dihitung berapa banyak orang yang pernah melihat anggota keluarga Blackwood lainnya selain Menteri Jasper. Anastasia juga sangat low profile, dia tidak ingin identitasnya diketahui. Saya sendiri mengetahui identitasnya baru-baru ini. Saya menghapus CCTV kemarin karena saya takut... saya takut jika keluarga Blackwood tahu putri mereka dikurung di toilet oleh Yara, keluarga Holland juga akan terkena imbasnya. Mengingat keluarga Holland menyumbang banyak dana ke sekolah ini, saya sudah berusaha melindungi Yara dari keluarga Blackwood. Tapi jika sampai keluarga Blackwood tahu apa yang saya lakukan, bukan hanya keluarga Holland tapi karir saya sendiri juga akan hancur"
Wajah Mrs. Holland berubah kaku. "Anastasia Blackwood katamu? Gadis pendiam yang kata Yara tidak suka bergaul itu? Tidak mungkin..." Ia menelan ludah. "Tapi tadi kau bilang dia tidak masuk, kan? Berarti bukan dia yang melakukan ini pada Yara! Siapa yang berani membantu anak itu?! Selama orang itu bukan Anastasia, berarti aku busa membalas perbuatannya pada Yara!"
"Anastasia hanya dekat dengan dua orang," kata Henderson. "Eugene Kartein dan Sierra Moore."
"Eugene? Tidak mungkin. Anak itu sopan dan berprestasi. Dia tidak punya nyali untuk merundung seseorang," Mrs. Holland mendengus. "Lalu siapa itu Sierra Moore?"
"Dia murid baru di semester ini, di kelas 12-A juga."
Mendengar nama itu, mata Mrs. Holland membelalak. "Tunggu... Sierra Moore? Si jalang cilik yang diusir ke Cragstone tiga tahun lalu? Kau membiarkan sampah seperti itu bersekolah di sini?! Bagaimana bisa kau membiarkan anakku berada di kelas yang sama dengan dia?! Ini pasti ulahnya! Aku yakin pasti dia pelakunya! Aku akan menghancurkannya! Beraninya dia menantang keluarga Holland!"
"Mrs. Holland, saya sarankan Anda berhenti," potong Henderson tajam. "Saya tidak bisa membuktikan Sierra yang melakukannya karena rekaman CCTV hari ini terhapus secara misterius. Tapi satu hal yang perlu Anda ketahui, Sierra Moore berada di bawah perlindungan langsung Mr. Blackwood dan Mr. Harrington."
Mrs. Holland tertegun. "Apa? Bagaimana mungkin?"
"Awalnya saya ingin menolak pendaftaran Sierra di sekolah ini. Tapi kemudian, Mr. Harrington sendiri yang menghubungi saya. Dia bahkan menjanjikan hibah gedung kelas baru untuk sekolah ini, asalkan Sierra Moore diterima. Jika Anda menyentuh Sierra, Anda bukan hanya berurusan dengan satu keluarga, tapi dua raksasa Metropolia."
"Kau pasti bohong..." gumam Mrs. Holland, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Bagaimana mungkin jalang kecil itu bisa mengenal orang-orang seperti mereka?"
"Terserah jika Anda tidak percaya," jawab Henderson dingin. "Tapi saya sudah memperingatkan Anda."
Tepat saat itu, suara keras terdengar. "Terbuka! Pintunya terbuka!"
Petugas keamanan berhasil menyingkirkan batang besi tersebut. Mrs. Holland segera menerjang masuk ke dalam bilik yang gelap dan lembap itu. Di sana, di atas lantai toilet yang kotor, Yara tergeletak lemas. Kondisinya mengenaskan. Seragamnya basah kuyup oleh air bekas pel, rambutnya lengket, dan aroma tidak sedap menguar dari tubuhnya.
"Yara! Sayang!"
Yara tidak menjawab. Matanya tertutup rapat, wajahnya pucat pasi namun tubuhnya terasa panas membara saat disentuh.
Beberapa jam kemudian, suasana di rumah sakit terasa mencekam. Yara didiagnosis menderita demam tinggi akibat hipotermia ringan dan dehidrasi. Kakinya yang terkilir kini membengkak biru keunguan.
Mrs. Holland berdiri di samping tempat tidur putrinya, menggenggam tas tangannya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. "Sierra Moore... kau akan membayar ini. Aku tidak peduli siapa yang melindungimu. Di Metropolia ini, tidak ada yang boleh menghina keluarga Holland!"
Ia baru saja hendak menelepon suaminya untuk memintanya memberikan pelajaran pada Sierra, ketika ponselnya bergetar hebat. Itu adalah panggilan dari suaminya.
"Halo, Sayang? Kau harus dengar, anak kita—"
"Tutup mulutmu!" suara suaminya menggelegar di telepon, terdengar penuh kepanikan dan kemarahan yang luar biasa. "Apa yang sudah Yara lakukan?!"
"Apa maksudmu? Apa kamu tahu bagaimana kondisi Yara sekarang? Dia belum sadarkan diri dan demam tinggi. Seseorang merundung anak kita di sekolah! Anak kita adalah korban!"
"Korban? Lihat berita sekarang!!" teriak suaminya. "Blackwood Group baru saja merilis pernyataan resmi bahwa mereka memutuskan seluruh kontrak kerja sama dengan kita efektif segera! Klien-klien lain mengikuti jejak mereka seperti domino! Aku menelpon Mr Harrington untuk mencari tahu apa yang terjadi dan dia berkata kalau Yara sudah mencari masalah dengan anak menteri Jasper, apa itu benar?!"
Lutut Mrs. Holland terasa lemas. Ia bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin.
"Kita bisa bangkrut jika tidak ada solusi segera!" suara suaminya melemah, berubah menjadi isakan putus asa. "Bagaimana Yara bisa mengenal anak menteri Jasper? Apa yang sudah Yara lakukan padanya? Blackwood Group tidak pernah bertindak sekejam ini tanpa alasan!"
Ponsel di tangan Mrs. Holland terjatuh ke lantai. Ia menatap ke arah televisi di ruang tunggu rumah sakit yang sedang menyiarkan berita utama "Skandal Besar Holland Group Terungkap ke Publik."