"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Posesif Level CEO dan Kanvas yang Terancam
Baru lewat dua puluh empat jam sejak "Proyek Cucu" dicanangkan secara resmi, namun Devan Adiguna sudah bertindak seolah-olah Shena adalah porselen dinasti Ming yang bisa retak hanya karena tertiup angin.
Pagi itu, Shena mencoba kembali ke rutinitas normalnya: melukis. Ia duduk di depan kanvas besar di studionya, memegang palet warna dengan niat mencari inspirasi. Namun, inspirasi itu sepertinya enggan mampir karena ada sesosok pria berjas lengkap yang duduk tepat lima sentimeter di sampingnya, menatapnya tanpa berkedip.
"Mas... kenapa kamu tidak ke kantor?" tanya Shena tanpa menoleh, tangannya sedikit gemetar saat hendak menggoreskan kuas.
"Aku sudah mendelegasikan semuanya pada Rian lewat Zoom tadi subuh," jawab Devan santai. Ia kemudian menyodorkan sebutir anggur yang sudah dikupas kulitnya ke depan mulut Shena. "Ayo makan ini. Antioksidannya bagus untuk pembelahan sel."
Shena menghela napas, menerima anggur itu hanya agar Devan diam. "Mas, ini baru hari pertama. Secara biologis, belum ada sel yang membelah seheboh itu."
"Kita tidak boleh meremehkan persiapan, Shena. Oh, tunggu, jangan terlalu membungkuk! Itu bisa menekan perutmu," Devan segera menyelipkan bantal empuk di belakang punggung Shena dengan sigap.
Satu jam berlalu. Shena baru berhasil membuat satu garis lurus di kanvasnya, sementara Devan sudah bolak-balik sebanyak sepuluh kali untuk:
Memastikan suhu AC tepat 24 derajat celcius, Memeriksa apakah bau cat minyaknya terlalu menyengat (ia hampir membelikan masker oksigen untuk Shena), Bertanya setiap lima menit sekali, "Apa kamu merasa mual? Pusing? Atau ada keinginan makan mangga muda?"
"Mas Devan!" Shena akhirnya meletakkan kuasnya dengan suara brak yang cukup keras. "Aku tidak bisa melukis kalau kamu mengawasi ku seperti mandor bangunan begini!"
Devan tampak terkejut, wajahnya yang tegas mendadak terlihat seperti anak anjing yang baru saja ditegur. "Aku kan cuma mau memastikan calon 'investasi' kita aman di dalam sana, Sayang."
"Investasinya belum ada, Mas! Baru juga kemarin!" Shena berdiri, lalu matanya tertuju pada satu kanvas kosong di sudut ruangan. Sebuah ide muncul di benaknya.
Shena menarik kanvas itu dan meletakkannya di samping kanvas miliknya. Ia memberikan satu set kuas besar dan beberapa kaleng cat kepada Devan.
"Daripada kamu menggangguku, lebih baik kamu melukis juga. Keluarkan semua energimu ke sini," perintah Shena tegas.
Devan menatap kuas itu dengan sangsi. "Melukis? Shena, aku ini ahli dalam membaca grafik dan neraca saldo. Aku tidak punya jiwa seni."
"Tidak ada alasan. Melukis atau aku kunci studionya dan kamu tidur di luar malam ini," ancam Shena dengan senyum manis yang mematikan.
Mendengar ancaman "tidur di luar" (yang artinya proyek cucu terhenti sementara), Devan langsung sigap. Ia membuka jas mahalnya, menyingsingkan lengan kemeja putihnya, dan mulai menatap kanvas kosong itu dengan tatapan mengintimidasi—seolah kanvas itu adalah lawan bisnis yang harus dikalahkan.
"Oke. Kamu ingin seni? Aku akan berikan seni tingkat tinggi," gumam Devan.
Selama satu jam berikutnya, suasana studio menjadi sunyi namun sibuk. Shena akhirnya bisa melukis dengan tenang, sementara di sampingnya, terdengar suara cat yang dilemparkan ke kanvas dengan penuh semangat oleh Devan.
"Selesai!" seru Devan bangga.
Shena menoleh dan hampir menjatuhkan paletnya. Lukisan Devan adalah sebuah garis lurus vertikal berwarna merah tebal di tengah-tengah, dikelilingi oleh percikan cat hitam yang acak-acakan.
"Ini... apa, Mas?" tanya Shena heran.
"Ini adalah lukisan berjudul 'Pasar Modal Saat Krisis'," jawab Devan dengan bangga. "Garis merah ini mewakili penurunan harga saham yang tajam, dan bercak hitam ini adalah kepanikan para investor. Sangat dalam maknanya, bukan?"
Shena tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. "Mas, itu bukan seni! Itu namanya grafiti stres!"
"Setidaknya aku tidak mengganggumu lagi, kan?" Devan memeluk Shena dari belakang, tidak peduli ada noda cat di kemejanya. "Tapi jujur, melukis lebih melelahkan daripada memimpin rapat. Aku butuh nutrisi.
Bagaimana kalau kita pesan makanan, lalu lanjut ke... 'proses kreatif' yang semalam?"
Shena menggelengkan kepala, namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan.
"Makan dulu, Mas. Setelah itu, tolong jangan beli tes kehamilan lagi sore ini. Kita baru punya dua puluh kotak di laci!"
"Tiga puluh, Sayang. Aku baru saja memesan sepuluh lagi lewat aplikasi saat kamu melukis tadi," sahut Devan tanpa dosa.
"MAS DEVAN!"
...****************...