NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Rina yang baru saja menutup pintu kamar, tiba-tiba membukanya kembali dengan hentakan keras. Kalimat lirih Rohman ternyata tertangkap oleh indra pendengarannya yang tajam. Ia melangkah keluar dengan wajah yang kini lebih mirip singa betina daripada mahasiswi S2.

​"Apa kata kamu tadi? Tinggal bersama? Stok es krim?!" Rina berdiri tegak, meski kepalanya hanya setinggi dada Rohman. Ia menengadah, menatap pria itu dengan keberanian yang meledak-ledak.

​"Gini ya, Ustadz aneeeh! Mungkin kamu ganteng, tapi itu nggak menjamin kamu bakal setia cukup sama satu wanita!" cerocos Rina tanpa memberi celah bagi Rohman untuk menjawab. "Saya cuma mau bilang, selera saya itu tinggi banget! Saya mau yang ganteng, good rekening, mapan, baik, royal! Bukan karena saya matre, tapi ini demi hidup saya biar nggak menderita. Dan yang paling utama, nggak gila wanita! Ih, amit-amit punya suami gila wanita, udah gue racun aja kalau sampai kejadian!"

​Ayah memijat pangkal hidungnya, "Rina, cukup..."

​"Nggak, Yah! Biar dia tahu!" Rina menarik napas panjang, lalu melanjutkan rencananya. Ia ingin terlihat sematre mungkin agar pria di depannya ini mundur teratur karena merasa "tak sanggup" membiayai hidupnya.

​"Dan kalau Ustadz tetap ngotot mau nikah sama saya, pokoknya maharnya dua miliar rupiah! Cash, no utang, harus bayar lunas!" ucap Rina enteng, memberikan angka fantastis yang menurutnya mustahil dipenuhi ustadz muda. "Terus, mobil Alphard satu warna hitam, sama rumah beserta isi-isinya tanpa kurang apa pun!"

​Rina sedikit tersenyum sinis dalam hati. Nah, pasti dia langsung pamit pulang habis ini, pikirnya puas.

​"Dan satu lagi..." Rina menambahkan dengan nada yang lebih berat, menunjukkan sisi intelektualnya yang tersembunyi di balik kemarahan, "Harus ada kitab Hilyatul Aulia sebagai pelengkap. Lengkap semua jilidnya!"

​Suasana ruang tamu mendadak sunyi sesaat. Imron menatap adiknya tak percaya, sementara Salsa di ambang pintu kamar sampai menutup mulutnya dengan tangan.

​Rohman tetap berdiri tenang. Tidak ada raut kaget, marah, apalagi minder di wajahnya. Ia justru memperbaiki letak peci hitamnya sedikit, lalu menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang justru membuat Rina mulai merasa salah tingkah sendiri.

​"Dua miliar rupiah, satu Alphard hitam, rumah beserta isinya, dan kitab Hilyatul Aulia lengkap..." Rohman mengulang permintaan Rina dengan suara bariton yang stabil. "Itu saja? Tidak ada tambahan lain? Misalnya... biaya operasional untuk riset S3 kamu di luar negeri?"

​Rina tersentak. Bagaimana pria ini tahu soal impian S3-nya?

​Rohman melangkah satu tindak lebih dekat, membuat Rina refleks mundur hingga punggungnya menempel ke dinding. Rohman sedikit merunduk agar matanya sejajar dengan gadis mungil itu.

​"Untuk mahar, insya Allah saya sanggup penuhi hari ini juga kalau kamu mau. Tapi untuk poin 'setia cukup satu wanita' dan 'tidak gila wanita'..." Rohman menjeda kalimatnya, memberikan senyum tipis yang mematikan. "Itu bukan cuma janji, tapi prinsip hidup saya. Jadi, kapan kita bisa ke toko emas untuk mencocokkan ukuran cincin?"

​Rina melongo. Lidahnya yang tadinya lincah mendadak kelu. Rencana matrenya gagal total, dan sekarang ia justru merasa terjebak dalam pesona pria yang baru saja ia sebut "aneh" itu.

lidahnya yang tadinya lincah mendadak kelu selama beberapa detik. Namun, bukan Rina namanya jika menyerah begitu saja. Otaknya berputar cepat mencari celah untuk kabur dari tatapan intimidasi yang terlampau mematikan itu.

​"Eh... eh..." Rina mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya yang sempat ambyar. "Tadi saya cuma bercanda! Rencananya saya nggak mau nikah ya sama kamu! Nggak jadi! Dibatalkan!"

​Rohman menaikkan sebelah alisnya, masih dalam posisi merunduk menatap Rina. "Kenapa? Maharnya kurang?"

​"Bukan!" seru Rina sambil mendorong dada Rohman menjauh agar ia punya ruang untuk bernapas. "Soalnya... soalnya kamu bau! Iya, kamu bau banget! Amit-amit punya suami bau, bisa pingsan saya setiap hari!"

​Imron yang sedang minum air langsung menyemburkan airnya ke lantai. "Bau?! Dek, hidung kamu mampet apa gimana? Itu parfum Ustadz Rohman sewangi itu sampai teras depan, kok dibilang bau?"

​"Bau pokoknya! Bau ustadz! Bau-bau kolot!" Rina mencari-cari alasan asal bunyi, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa karena harga dirinya terasa baru saja diinjak-hadapi oleh ketenangan Rohman.

​"Rina! Jaga bicaramu!" Ayah sudah benar-benar kehilangan kesabaran. "Nak Rohman, maafkan dia. Rina ini kalau sudah kalah debat suka asal bicara."

​Rohman justru terkekeh pelan. Tawa pendek yang terdengar sangat maskulin itu membuat Rina semakin salah tingkah. Rohman menegakkan tubuhnya kembali, lalu merapikan kemeja kokonya yang sedikit kusut akibat dorongan Rina.

​"Bau, ya?" Rohman mendekatkan pergelangan tangannya ke hidungnya sendiri, lalu tersenyum tipis ke arah Rina. "Mungkin parfum dari London yang saya pakai ini memang tidak cocok dengan selera kamu yang tinggi. Baiklah, nanti kalau kita ke toko emas, kita mampir ke toko parfum sekalian. Kamu pilih sendiri wangi seperti apa yang kamu mau saya pakai setiap hari."

​Rina mematung. London? Dia pakai parfum London? batinnya menjerit. Skor kembali satu-nol untuk Rohman.

​"Nggak mau! Nggak ada toko emas, nggak ada toko parfum! Pokoknya saya mau masuk kamar!" Rina langsung berbalik, menyambar tangan Salsa yang masih terpaku, dan menyeretnya masuk. "Ayo Salsa! Di sini udaranya terkontaminasi bau orang aneh!"

​BRAAAKKK!

​Pintu kamar terbanting untuk kesekian kalinya. Di dalam kamar, Rina langsung merosot di balik pintu, memegangi dadanya yang berdegup kencang.

​"Rin... lo gila ya?" Salsa menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin. "Bau dari mana? Itu tadi wangi banget, sumpah. Bau-bau cowok mahal tahu nggak!"

​"Diem lo Sal! Gue cuma... gue cuma nyari alasan biar dia ilfeel sama gue! Masa dia nggak marah sih gue bilang bau? Harusnya kan dia tersinggung terus pulang!" Rina menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

​Salsa menggeleng-geleng. "Bukannya ilfeel, kayaknya dia malah makin gemas sama lo. Lagian lo sebut mahar dua miliar dia langsung 'oke', lo sebut S3 dia malah mau bayarin. Rin, fiks sih, ini mah lo dapet jackpot!"

​Rina terdiam, menatap tumpukan buku S2-nya. Di balik rasa kesalnya, ada setitik keraguan yang mulai muncul. Siapa sih ustadz ini sebenarnya? Kok dia tahu soal rencana S3 gue? Dan... kenapa dia nggak marah gue katain macam-macam?

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!