Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Pagi itu, sinar matahari baru saja merayap masuk melalui celah gorden apartemen, namun ketenangan di dalamnya pecah oleh suara langkah terburu-buru dan bunyi gesekan kain yang kasar.
Edgar, yang datang lebih pagi dengan kantong berisi bubur ayam hangat dan jus jeruk segar, mematung di ambang pintu saat mendengar suara dari arah kamar mandi.
Huekk!
Suara mual yang hebat itu terdengar menyakitkan. Edgar meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur dengan sembarang dan langsung berlari menuju sumber suara. Di sana, ia menemukan Leonor bersimpuh di lantai kamar mandi yang dingin, wajahnya sepucat kertas, dengan kedua tangan gemetar mencengkeram pinggiran wastafel.
Tanpa pikir panjang, rasa canggung yang biasanya menghalangi mereka lenyap seketika. Edgar berlutut di sampingnya. Tidak ada rasa jijik, tidak ada keraguan. Dengan gerakan yang sangat lembut namun sigap, Edgar mengumpulkan rambut hitam panjang Leonor yang berantakan dan memegangnya erat ke belakang agar tidak terkena muntahan.
"Keluarkan saja, Leonor. Tidak apa-apa," bisik Edgar, tangan kirinya mengurut tengkuk Leonor dengan perlahan untuk memberikan kenyamanan.
Setelah beberapa menit yang menyiksa, Leonor terkulai lemas. Napasnya pendek-pendek dan tubuhnya mulai menggigil hebat. Edgar mengambil tisu, membasahinya sedikit, lalu menyeka sudut mulut Leonor dengan ketelatenan yang luar biasa. Tatapannya bukan lagi tatapan seorang penguasa yang angkuh, melainkan tatapan pria yang hatinya sedang diremas melihat wanita di depannya menderita.
"Sudah lebih baik?" tanya Edgar lembut.
Leonor hanya bisa mengangguk lemah, matanya terpejam. Tanpa menunggu persetujuan, Edgar menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Leonor, lalu mengangkat tubuh ringkih itu dalam satu gerakan mantap. Ia menggendong Leonor kembali ke ranjang, menyelimutinya dengan selimut tebal hingga ke leher.
Edgar duduk di tepi ranjang, memerhatikan Leonor yang masih pucat. Untuk mencairkan suasana yang terlalu tegang dan suram, sisi jahil Edgar tiba-tiba muncul, mungkin sebagai mekanisme pertahanan agar ia tidak terlalu panik melihat kondisi Leonor.
Edgar terkekeh pelan, memiringkan kepalanya. "Hei, Leonor... kau ini bagaimana? Belum punya suami, masa sudah muntah-muntah hebat begitu? Apa jangan-jangan kau sudah ngisi?"
Leonor, meskipun kepalanya terasa berputar dan badannya lemas, tetaplah Leonor. Ia tidak mau kalah begitu saja. Ia membuka matanya sedikit, menatap Edgar dengan tatapan malas yang khas.
"Iya, ini memang lagi ngisi," jawab Leonor dengan suara serak.
"Kan kamu yang kasih stoknya kemarin. Banyak banget lagi stoknya di dalam."
Maksud Leonor tentu saja adalah stok makanan organik, susu, dan bahan masakan yang kemarin mereka beli bersama dan memenuhi kulkasnya. Namun, otak Edgar yang sudah terbiasa dengan pembicaraan dewasa di kalangan elit bisnis langsung melesat ke arah lain.
Edgar membelalakkan matanya, wajahnya memerah seketika. "Astaga, Leonor! Kau ini bicara apa? Aku bahkan belum pernah menyentuhmu, apalagi sampai memberi stok ke sana! Kapan kau hamilnya? Memangnya aku ini pesulap?"
Leonor sempat bingung sejenak melihat reaksi heboh Edgar, hingga akhirnya ia menyadari kemana arah pikiran pria itu. Sebuah tawa kecil yang tulus keluar dari bibirnya yang pucat. "Maksudku stok kulkas, bodoh! Kulkasku penuh sampai sesak gara-gara kamu."
Edgar terdiam sejenak, lalu ikut tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. "Sialan, kau hampir membuatku jantungan. Aku sudah berpikir harus menyiapkan pesta pernikahan besar-besaran minggu depan."
Tawa mereka memenuhi ruangan itu selama beberapa detik, menghapus sisa-sisa ketegangan dan rasa sakit yang tadi mendominasi. Namun, tawa Leonor segera berganti dengan gigian gigi yang beradu.
Tubuh Leonor kembali menggigil parah. Masker oksigen alami dari napasnya terasa dingin. "Dingin, Edgar... dingin sekali," rintihnya.
Edgar menyentuh dahi Leonor. Panasnya luar biasa. Ini bukan sekadar kecapekan biasa, ini demam tinggi akibat kelelahan. Ia sudah menambahkan dua lapis selimut, namun Leonor tetap gemetar hebat di bawahnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Edgar melepas jaketnya dan naik ke atas ranjang. Ia masuk ke dalam selimut, menarik tubuh Leonor ke dalam dekapannya. Ia memeluk Leonor dari belakang, menyalurkan panas tubuhnya sendiri untuk melawan hawa dingin yang menyerang gadis itu.
Leonor sempat tegang sejenak saat merasakan dada bidang Edgar menempel di punggungnya, namun rasa dingin yang menyiksa membuatnya secara naluriah mencari kehangatan itu. Ia berbalik, membenamkan wajahnya di dada Edgar, menghirup aroma maskulin yang kini tidak lagi terasa mengancam, melainkan menenangkan.
"Diamlah di sini. Aku tidak akan pergi," bisik Edgar di puncak kepala Leonor.
Edgar memeluknya erat, tangannya mengelus lengan Leonor dengan gerakan konstan untuk menciptakan kehangatan. Di saat itu, Edgar menyadari sesuatu yang sangat dalam. Dia tidak lagi peduli dengan proyek bisnis, tidak peduli dengan ejekan Ethan, atau harga dirinya sebagai seorang Martinez. Yang dia inginkan hanyalah agar gadis di pelukannya ini segera sembuh.
"Terima kasih, Edgar," bisik Leonor sangat pelan, hampir tidak terdengar sebelum akhirnya ia tertidur karena pengaruh lemas dan kehangatan yang diberikan Edgar.
Edgar tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya dan mencium dahi Leonor yang panas dengan penuh kasih sayang. Malam itu, di apartemen kecil yang jauh dari kemewahan mansion mereka masing-masing, dua jiwa yang awalnya saling membenci itu akhirnya menemukan titik damai yang paling tulus.
Edgar menatap wajah Leonor yang sedang tidur. Sumpah Leonor untuk membuatnya jatuh cinta sepertinya sedang bekerja dengan sangat baik, namun Edgar tidak lagi merasa keberatan. Jika mencintai Leonor adalah sebuah kutukan, maka Edgar Martinez bersedia menjadi orang paling terkutuk di dunia, asalkan ia bisa terus memeluknya seperti ini.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰