"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Alana Jatuh Lagi?
Puisi untuk Malam Paling Gelap
Malam ini, bintang-bintang enggan bersinar
Seperti takut menimang luka yang kian melebar
Mawar yang tadi merekah dengan gagah
Kini layu, disiram hujan fitnah
Mereka bilang duri adalah senjata
Tapi lupa, duri juga bekas luka
Yang tumbuh dari kulit yang terkoyak
Oleh dunia yang tak pernah puas menghujat
Biarkan malam ini aku menangis
Membasahi duri-duri yang terlanjur menusuk
Karena fajar nanti, aku harus bangkit
Atau mati dalam diam yang lebih kejam dari maut
---
Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur saat notifikasi ponsel Alana sudah berbunyi seperti rentetan tembakan. Satu per satu, ia buka dengan jari yang sedikit bergetar.
"JANDA GILA: WARISAN TRAUMA MASA LALU TERBONGKAR!"
"ALANA WIJAYA: RATU BISNIS ATAU PEREMPUAN DENGAN GANGGUAN JIWA?"
"REKAMAN EKSKLUSIF: SAAT MAWAR BERDURI HAMPIR MERENGUT NYAWA SENDIRI"
Alana meletakkan ponsel di atas meja marmer. Tangannya bergerak meraih cangkir kopi yang sudah dingin. Ia teguk sampai habis, membiarkan rasa pahit itu mengalir di tenggorokannya seperti sengaja ingin menghukum dirinya sendiri.
Di layar televisi yang membisu, gambarnya terpampang besar. Wajahnya tiga tahun lalu—lebih kurus, lingkaran hitam di bawah mata, rambut acak-acakan. Foto itu diambil diam-diam saat ia duduk di balkon apartemen lama, malam setelah ayahnya dimakamkan. Saat ia hampir kehilangan akal.
Viola. Pasti Viola.
Alana tersenyum kecil. Senyum yang lebih pahit dari kopi yang baru ia teguk.
"Kau memang tidak pernah belajar, Vi," bisiknya pada ruangan kosong. "Aku bukan lagi wanita yang kau rekam tiga tahun lalu."
---
Di lantai 37 gedung Wijaya Tower, Nathan baru saja melempar ponselnya ke dinding kaca. Retak halus merambat di permukaan yang semula mulus. Sekretarisnya, Maya, mundur dua langkah.
"Pak, PR sudah menyiapkan rilis—"
"Rilis apaan?!" Nathan membalikkan badan. Matanya merah. Bukan karena kurang tidur. Tapi karena amarah yang mencabik-cabik dadanya. "Kalian pikir kalimat manis bisa menghapus rekaman itu?!"
Maya menunduk. "Tapi Pak, kita harus merespon—"
"Respon yang benar adalah diam. Dan cari sumbernya." Nathan merapikan jasnya, berusaha mengendalikan diri. "Di mana dia?"
"Maksud Bapak?"
Nathan menatap tajam. "Alana. Di mana?"
---
Di sebuah kafe pinggiran yang tak akan pernah terpikir oleh wartawan, Alana duduk di sudut paling gelap. Topi lebar menutupi setengah wajahnya. Kacamata hitam terlalu mencolok, jadi ia hanya memakai masker biasa dan hoodie kebesaran—baju yang sudah lama tak ia sentuh sejak masih jadi mahasiswa.
Lukas duduk di depannya, membawa dua cangkir kopi hitam. Ia meletakkan satu di depan Alana tanpa suara.
"Aku tahu kau belum sarapan," kata Lukas pelan.
"Bagus. Kalau tahu, artinya kau juga tahu aku belum bisa menelan apa pun sekarang."
Lukas menghela napas. Di depan mereka, laptop terbuka menampilkan grafik merah yang terus merosot. Saham Wijaya Group turun 12 persen dalam empat jam. Nilai yang mencengangkan untuk waktu sesingkat itu.
"Kita bisa gugat mereka," ujar Lukas. "Penyebaran konten pribadi tanpa izin. Pelanggaran privasi berat."
"Lalu?" Alana menatapnya datar. "Semua orang sudah melihat. Semua orang sudah menghakimi. Menggugat Viola hanya akan membuat mereka semakin yakin bahwa aku memang gila. Karena orang gila suka menggugat."
Lukas mengepalkan tangan di bawah meja. Ia benci melihat Alana seperti ini—bukan jatuh, tapi seperti kembali ke titik nol. Ke titik di mana mereka pertama kali bertemu, saat Alana hampir menjatuhkan diri dari balkon apartemen dan Lukas kebetulan lewat.
"Aku ingat malam itu," kata Lukas lirih. "Kau bilang, 'Lukas, kalau aku mati sekarang, apakah mereka akan menyesal?'"
Alana menatap kopinya. "Dan kau bilang, 'Mereka enggak akan menyesal. Mereka cuma akan bilang: akhirnya.'"
"Aku masih ingat," Lukas melanjutkan. "Lalu aku bilang, 'Tapi kalau kau hidup dan jadi ratu, mereka yang akan menyesal.'" Ia mencondongkan badan. "Kau sudah jadi ratu, Lan. Jangan biarkan mereka membuatmu lupa."
Untuk pertama kalinya pagi itu, mata Alana berkaca-kaca. Tapi ia menahannya. Ia terlalu pandai menahan air mata.
---
Dua jam kemudian, Alana kembali ke apartemennya. Ia sengaja mengambil rute belakang, masuk lewat basement agar tak bertemu wartawan yang sudah mengepung lobby. Lift pribadinya membawanya langsung ke lantai 49.
Begitu pintu lift terbuka, ia terkejut.
Nathan berdiri di sana. Sudah berapa lama? Wajahnya tegang, dasi sedikit longgar, rambut tak serapi biasanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alana datar.
"Menunggumu." Nathan melangkah maju. "Ponselmu mati."
"Aku matikan."
"Aku sudah mencoba 47 kali."
"Dan kau hitung?"
Nathan mengabaikan sindiran itu. Tangannya terulur, menyentuh pipi Alana dengan lembut. Alana mundur. Bukan karena takut. Tapi karena tak ingin lemah.
"Jangan," katanya.
"Jangan apa?"
"Jangan baik padaku sekarang." Suara Alana sedikit bergetar. "Kalau kau baik padaku sekarang, aku akan hancur. Karena selama ini, aku kuat karena kupikir aku sendiri. Tapi kalau kau ada di sini... kalau kau..."
Napasnya tersengal. Untuk pertama kalinya, topeng Alana retak.
Nathan tak berkata apa-apa. Ia hanya menarik Alana ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, tapi tak memojokkan. Pelukan yang berkata: aku di sini, kau boleh jatuh, aku akan menangkapmu.
Dan Alana menangis.
Bukan tangis histeris yang biasa dilihat orang di sinetron. Tapi tangis diam yang lebih menyayat—bahu bergetar, napas tertahan, air mata yang jatuh tanpa suara ke jas Nathan yang mahal.
Nathan hanya mengusap punggungnya perlahan. "Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu."
Mereka berdiri di depan lift terbuka untuk waktu yang lama.
---
Sore harinya, Alana duduk di balkon apartemen. Langit Jakarta kelabu, tapi tak kunjung hujan. Seperti kota ini ikut menahan napas, menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Nathan duduk di sampingnya, diam-diam memperhatikan.
"Kau tahu," ujar Alana tiba-tiba. "Di rekaman itu, aku hampir bunuh diri."
Nathan diam. Tapi tangannya meraih jemari Alana.
"Itu tiga tahun lalu. Seminggu setelah ayahku meninggal. Richard sudah mulai menjauh, tapi aku belum tahu tentang Viola. Aku pikir semuanya salahku. Aku pikir aku istri yang gagal. Aku pikir aku anak yang gagal karena tak bisa mempertahankan warisan ayah."
Jemari Nathan mengerat.
"Lalu aku ingat kata ayahku. 'Saat kau merasa tak punya apa-apa, ingatlah: kau masih punya dirimu sendiri. Dan dirimu sendiri itu lebih berharga dari seluruh harta di dunia.'"
Alana menoleh pada Nathan. Matanya sembab, tapi ada api kecil di sana.
"Aku bukan lagi wanita di rekaman itu," katanya tegas. "Dan mereka harus tahu itu."
Nathan tersenyum. Senyum lega. "Akhirnya. Aku kenal lagi Alana-ku."
"Aku bukan milikmu," Alana tersenyum tipis, sindiran yang tak benar-benar tajam.
Nathan mengangkat bahu. "Boleh aku bermimpi."
---
Malam tiba dengan diam yang mencekik. Alana sudah mengirim pesan pada tim hukum dan PR. Besok pagi, mereka akan menyerang balik. Bukan dengan tangisan, tapi dengan fakta.
Tapi sebelum itu, ia butuh satu hal.
Di layar ponselnya, nomor Viola muncul setelah bertahun-tahun tak tersimpan. Ia tekan tombol hijau.
Satu dering. Dua dering. Tiga—
"Sayang sekali, kau masih hidup." Suara Viola di ujung sana terdengar manis, seperti biasa.
Alana tersenyum dingin. "Maaf mengecewakan."
"Kau lihat rekamannya? Bagus, kan? Aku simpan lama khusus buat momen spesial. Momen saat kau jatuh lagi."
"Aku tidak jatuh, Vi." Suara Alana tenang. "Aku cuma sedang mengambil ancang-ancang."
Viola tertawa kecil. "Oh ya? Ancang-ancang buat apa? Bunuh diri lagi?"
Alana mengepalkan tangan. Tapi suaranya tetap stabil. "Buat mengambil kembali semua yang kau curi. Bukan hanya perusahaan. Tapi namaku. Martabatku. Hidupku."
"Kau tak bisa, Lan. Dunia sudah melihat isi kepalamu. Dunia tahu kau wanita gila yang tak stabil. Sahammu hancur. Investormu kabur. Kau sudah mati."
"Kau yakin?"
Viola terdiam sebentar. Mungkin merasakan ada yang aneh. Alana terlalu tenang.
"Aku tahu kau menyimpan rekaman itu, Vi," lanjut Alana. "Aku tahu kau menunggu waktu yang tepat. Dan aku juga tahu, di balik semua ini, kau takut."
"Takut? Takut sama apa?"
Alana berdiri, berjalan ke tepi balkon. Angin malam membelai wajahnya. "Kau takut karena kau tahu aku bukan wanita yang sama. Kau takut karena di dalam rekaman itu, yang kau tunjukkan pada dunia adalah masa laluku. Tapi dunia belum lihat masa depanku."
"Omong kosong."
"Atau mungkin," Alana melanjutkan, suaranya semakin pelan, "kau takut karena kau tahu, sebentar lagi, semua orang akan lihat masa lalumu. Masa lalu yang jauh lebih busuk dari sekadar wanita yang hampir bunuh diri."
Terdengar helaan napas di ujung sana. Viola mulai goyah.
"Apa maksudmu?"
Alana tersenyum. "Selamat malam, Vi. Nikmati tidurmu. Karena ini mungkin malam terakhirmu tidur nyenyak."
Ia tutup telepon.
Di belakangnya, Nathan muncul membawa dua gelas anggur. "Kau baik-baik saja?"
Alana menerima anggur itu, menyesap perlahan. "Aku baru mulai."
Mereka diam, menikmati malam Jakarta yang berkedip-kedip di bawah. Lampu-lampu kota seperti bintang jatuh yang tak pernah benar-benar jatuh.
"Ada satu hal," kata Nathan tiba-tiba.
"Hm?"
"Aku harus bilang sesuatu. Tentang Viola. Tentang... hubunganku dengannya di masa lalu."
Alana menoleh, alisnya terangkat.
Nathan menatapnya serius. Wajahnya tegang seperti sedang mengaku dosa. "Kita tidak pernah benar-benar membahas ini, tapi—"
Ponsel Alana bergetar. Sebuah pesan dari Lukas masuk. Ia membaca sekilas, lalu wajahnya berubah.
"Apa?" tanya Nathan.
Alana mendongak. Matanya melebar. Bukan karena marah atau takut. Tapi karena... sesuatu yang tak terduga.
"Lukas baru menemukan sesuatu," katanya pelan. "Viola tidak bekerja sendiri. Rekaman itu disebar bukan cuma olehnya."
"Siapa lagi?"
Alana menatap Nathan. Matanya tajam, mencari-cari. Lalu ia menunjukkan ponselnya.
Nathan membaca pesan itu. Wajahnya berubah pucat.
Di layar ponsel, Lukas menulis:
"Ada pihak ketiga. Seseorang dari dalam lingkaran terdekatmu yang membocorkan lokasi server Viola ke media. Seseorang yang punya akses ke semua datamu. Seseorang yang kau percaya. Aku kirim nama lewat WA. Buka sekarang."
Alana membuka aplikasi WA.
Sebuah nama muncul.
Dan dunia Alana berhenti berputar.
---
Bersambung...(*❛‿❛)→
Cliffhanger:
Siapa nama yang dikirim Lukas? Mengapa Nathan pucat membacanya? Dan apa hubungan Nathan dengan Viola yang belum diungkap?