Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tak Pernah Terdengar
Malam sudah turun ketika mobil hitam itu memasuki halaman rumahnya.
Lampu taman menyala otomatis, menerangi langkahnya yang terasa lebih berat dari biasanya.
Ting-Tong.
Tak lama, pintu terbuka.
Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama di rumah itu.
"Mas Adrian sudah pulang," ucapnya ramah sambil membuka pintu lebih lebar.
Ia melangkah masuk, melepas sepatunya dengan gerakan otomatis.
Tatapannya menyapu seluruh ruang tamu. Tak ada suara. Tak ada percakapan.
"Mama sama Papa kemana, Bi?"
Pembantu itu menutup pintu perlahan sebelum menjawab.
"Ibu sudah tidur dari tadi, Mas. Katanya badannya agak lelah, jadi istirahat lebih awal."
"Tapi mama engga sakit, kan?" tanyanya spontan.
"Enggak, hanya capek aja, Mas."
CEO itu mengangguk kecil.
"Papa?"
"Bapak tadi masih di ruang kerja," jawab si Bibi. "Tapi sepertinya juga sudah masuk ke kamar. Dari sore beliau kelihatan capek sekali."
CEO itu terdiam sesaat, mencerna jawaban itu.
"Mau saya siapkan makan malam?"
Ia menggeleng pelan, "Tidak usah, Bi. Bibi kembali istirahat aja." Jawabnya sambil tersenyum ramah.
Pembantu meninggalkannya berdiri sendiri di ruang tamu.
CEO itu menghela napas panjang, melepas dasinya dengan satu tarikan pelan.
"Capek sekali.... " gumamnya lirih.
Ia melanjutkan langkahnya, langkah yang sangat berbeda seperti saat di kantor.
Begitu sampai, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang tanpa sempat menggantinya.
Tatapannya kosong menatap langit-langit.
Hening.
Namun justru dalam keheningan itu, pikirannya mulai kembali ke satu hal.
Matanya perlahan terpejam. Dan Ingatan itu datang.
Asistennya membuka pintu dengan tablet yang selalu ditangannya. Wajahnya terlihat sedikit ragu.
"Maaf mengganggu, Pak. Klien dari Aruna Group baru menghubungi. Mereka meminta penundaan meeting hari ini."
Tangan CEO itu berhenti menulis, mengangkat kepala dari dokumen yang sedang ia periksa.
"Mereka baru bisa hadir pukul tiga sore, Pak." lanjut asistennya.
Biasanya perubahan jadwal seperti ini akan langsung ia isi dengan rapat lain. Namun kali ini ia hanya bersandar pelan di kursinya.
"Apakah saya jadwalkan meeting internal sebagai pengganti sementara, Pak?" tanya asistennya berusaha mencari solusi.
Dia menunggu jawaban, siap mencatat.
Namun CEO itu justru menatap ke arah jendela besar di belakang meja kerjanya.
Langit tampak mendung.
"Tidak perlu." jawab CEO itu. "Saya keluar sebentar."
Asistennya mengangguk singkat, "Apakah Bapak ingin saya ikut mendampingi?"
"Tidak. Saya sendiri." tegas CEO itu.
Asistennya meninggalkan ruangan. Tanpa pertanyaan lebih lanjut.
Jari CEO itu mengetuk pelan permukaan meja.
Satu keputusan yang bahkan tidak ia rencanakan perlahan terbentuk di kepalanya.
Ia menarik napas panjang, lalu berdiri. Merapikan jasnya sebelum keluar ruangan.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak makam hingga berhenti di depan nisan yang masih tampak baru. Nama itu terukir jelas.
Ia berdiri cukup lama tanpa bicara. Satu tangannya masuk ke saku celana, tangan kanannya memegang bunga.
Angin siang berhembus pelan.
"Aku tak pernah bayangkan bakal datang ke sini," ucapnya lirih.
Ia berjongkok perlahan.
"Aku datang bukan sebagai atasan,"
Tatapannya melembut.
"Tapi sebagai seseorang..... yang nggak bisa pura-pura nggak peduli lagi."
Ia kembali terdiam sebentar, memberi jeda untuk kalimatnya.
"Aku tahu kamu orang penting buat dia. Aku sudah tahu itu sejak dulu." Lanjutnya sambil tersenyum tipis.
"Dan mungkin.... Sampai saat ini pun dia masih milikmu."
Keheningan melingkupi tempat itu.
"Tapi aku mau bilang ini."
Tangannya mengepal kecil, ia menunduk.
"Aku mau menjaga Dia, menjaga Naya."
Kalimat itu jatuh pelan di antara sunyi makam, "bukan menggantikan mu, bukan merebutnya." kalimat itu pelan sambil menggeleng seperti sedang berbicara dengan seseorang yang benar-benar ada di depannya.
"Jadi aku datang minta....izin," tangannya menyentuh nisan sebentar.
"Aku janji, aku akan jaga dia. Selama aku mampu."
Matanya menahan air mata, dan tidak ada seorangpun yang melihatnya saat itu.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari asistennya, 'Pak, izin memberitahukan berkas meeting pukul tiga sudah saya siapkan."
Ia terdiam sesaat, lalu kembali manatap makam itu sekali lagi.
Ia meletakkan bunga itu di sisi makamnya, terletak rapi.
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Biarkan aku sekarang melakukannya." suaranya pelan.
Ia berbalik dan melangkah pergi.
CEO itu membuka matanya tiba-tiba. Menarik napas panjang. Tangannya menutupi mata sendiri.
"Apa aku sudah keterlaluan... "bisiknya.
Ia bangkit dan duduk, " Datang minta izin kepadanya?"
Ia berdiri, menatap ke luar. Bayangan Naya muncul lagi.
"Bagaimana jika dia tahu kalo aku datang ke tempat itu?"
CEO itu memejamkan mata kembali.
"Tapi.... Aku sudah janji."
Ia kembali membuka mata dan mengambil sesuatu dari meja kecilnya. Bingkai foto kecil yang selalu ia simpan.
"Apa kamu akan bisa terima kehadiranku dalam hidupmu?"
_
Di dua tempat berbeda, dua orang saling bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sama-sama tidak bisa beristirahat.
"Aku tak bisa, Dam.... "
Naya duduk di tepi kamarnya.
Ia menunduk, kedua tangannya menutupi wajah. Isaknya pecah pelan, berusaha tidak terdengar keluar kamar.
"Aku nggak tahu salahku dimana?"
Pandangannya jatuh ke meja kecil di samping ranjang. Sebuah bingkai foto berdiri di sana.
Perlahan ia meraih bingkai itu, memeluknya.
Tangisnya kembali pecah "Dam...Aku capek. Aku benar- benar capek..."
Jarinya menyapu permukaan kaca foto itu perlahan. "Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi."
Ia merebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang, masih memeluk foto itu di dadanya.
"Kamu bilang aku harus maju...."
Kamar itu hening, hanya suara tangisan Naya yang berusaha ia tahan.
"Kenapa kamu harus ninggalin aku sendiri?"