Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akting di Ruang Salat
Bang Ucok akhirnya membelokkan Hiace ke sebuah masjid besar dengan arsitektur megah di pinggiran kota.
Begitu mobil berhenti, Sherly langsung turun paling pertama dengan gerakan yang sangat sengaja—memperbaiki letak kerudungnya di depan spion mobil seolah sedang bersiap untuk panggung utama.
"Sayang, tolong bawakan tas mukenaku ya. Aku mau ambil wudhu duluan, jangan sampai telat waktu sujudnya," ucap Sherly dengan suara yang dikeraskan agar terdengar oleh Nenek dan Ibu Adrian.
Di area wudhu wanita, Sherly bertingkah seolah ia sedang diawasi oleh kamera film dokumenter. Ia membasuh wajah dan tangannya dengan gerakan yang sangat lambat dan didramatisir, hingga membuat antrean di belakangnya menumpuk.
Beberapa warga lokal yang ingin berwudhu mulai berbisik-bisik karena Sherly terlalu lama menggunakan kran air.
Ibu Adrian yang masuk belakangan merasa tidak enak hati melihat tatapan kesal ibu-ibu di sana.
"Sher, cepat sedikit wudhunya, kasihan yang lain mengantre," bisik Ibu Adrian pelan.
Namun, Sherly justru menjawab dengan nada "dakwah" yang lantang.
"Sabar itu sebagian dari iman, Tante. Kita tidak boleh terburu-buru menghadap Sang Pencipta. Biarkan mereka belajar sabar sedikit."
Ibu Adrian hanya bisa memijat keningnya, merasa wajahnya seperti ditampar oleh kelakuan calon menantunya itu.
Masuk ke dalam ruang utama masjid yang sejuk, Sherly tidak langsung salat.
Ia mencari posisi yang paling strategis—tepat di tengah-tengah ruang utama yang mudah terlihat oleh siapa pun yang lewat. Ia mulai salat dengan gerakan yang sangat kaku dan dilebih-lebihkan.
Saat sujud, ia melakukannya sangat lama, lengkap dengan bahu yang sedikit bergetar seolah-olah sedang menangis tersedu-sedu dalam doa.
Rico yang ikut masuk (untuk mengambil beberapa foto arsitektur masjid, tentu saja) hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Duh, ini mah bukan sujud, tapi lagi casting sinetron religi siang bolong," bisik Rico pada Sarah yang berdiri di dekat pintu masuk.
Sarah tertawa tertahan.
"Lihat deh, dia sengaja nunggu Nenek lewat baru mulai nangis-nangis begitu."
Benar saja, saat Nenek Adrian berjalan melintas untuk duduk di kursi yang disediakan, Sherly sengaja mengeraskan suara isakannya.
Namun, alih-alih merasa terharu, Nenek justru berhenti sejenak dan menatap Sherly dengan tatapan datar.
"Sherly," panggil Nenek setelah Sherly menyelesaikan salamnya dengan gerakan dramatis menghapus air mata.
"I-iya, Nek?" jawab Sherly dengan wajah yang dibuat-buat sembap.
"Salat itu urusanmu dengan Tuhan, bukan dengan penonton. Kalau mau menangis, di sepertiga malam saja, jangan di masjid umum yang orang lagi ramai-ramai begini. Berisik, mengganggu kekhusyukan orang lain," ucap Nenek dengan nada dingin yang sangat menohok.
Malu yang Tak Tertahankan
Ayah Adrian yang baru keluar dari shaf laki-laki melihat kejadian itu dan langsung membuang muka. Beliau merasa sangat malu melihat kelakuan Sherly yang begitu haus perhatian di rumah ibadah.
"Adrian," panggil Ayahnya tajam.
"Ajak pacarmu itu kembali ke mobil sekarang. Kita sudah telat jadwal."
Sherly keluar dari masjid dengan wajah cemberut, rencananya untuk terlihat seperti "wanita surga" di depan keluarga Adrian gagal total.
Justru ia terlihat seperti orang yang sedang haus validasi.
Sementara itu, Aurora sedang duduk tenang di dalam Hiace bersama Bang Ucok yang menjaganya. Ia tidak ikut turun karena merasa perutnya mulai melilit hebat.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Riwayat asam lambungnya kambuh karena tadi ia hanya sempat makan sedikit saat sibuk mengurus tamu-tamunya.
Adrian, yang baru kembali ke mobil, menyadari perubahan wajah Aurora. Ia teringat pesan menohok dari Ibu Aurora tadi pagi.
"Ra? Kamu pucat banget. Ada yang sakit?" tanya Adrian dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, tepat di depan Sherly yang baru saja naik ke mobil dengan wajah cemberut.
Aurora menggeleng lemah, mencoba memaksakan senyum tipis di bibirnya yang mulai memucat.
"Aku nggak apa-apa, Dri. Cuma sedikit pusing," ucapnya lirih, berusaha tetap elegan meski keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya.
Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Detik berikutnya, rasa mual yang melilit hebat di ulu hatinya memuncak. Aurora menutup mulutnya dengan telapak tangan dan segera berlari turun dari mobil menuju area toilet masjid.
"Aurora!" seru Adrian spontan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung melompat keluar dari kursi belakang, mengabaikan Sherly yang baru saja duduk manis.
Sherly membeku di tempatnya. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Adrian berlari dengan kecepatan penuh, wajahnya memancarkan rasa khawatir yang luar biasa—tatapan yang sudah lama tidak Sherly lihat ditujukan untuknya.
Dada Sherly terasa sesak, rasa cemburunya menetes pahit seperti empedu saat melihat kekasihnya mengejar sang mantan tanpa ragu.
Di depan wastafel toilet yang sepi, Aurora membungkuk, berusaha mengeluarkan rasa sesak di perutnya. Adrian segera berdiri di belakangnya.
Dengan gerakan yang sangat hafal dan reflek, ia memijat lembut tengkuk leher Aurora dan memijat punggungnya dengan pola melingkar—persis seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun saat mereka masih bersama di bangku kuliah dulu.
"Keluarkan saja, Ra... ayo, biar lega," bisik Adrian dengan suara rendah yang sangat cemas.
Setelah beberapa saat Aurora memuntahkan cairan bening dan asam dari perutnya, ia terduduk lemas di tepi wastafel. Adrian dengan sigap mengambil tisu, membasahinya sedikit, lalu membersihkan sisa-sisa muntahan di sudut bibir Aurora dengan sangat lembut.
Ia bahkan membersihkan percikan yang mengenai tangan Aurora seolah itu adalah hal paling alami yang harus ia lakukan.
"Bisa jalan?" tanya Adrian pelan.
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik lengan Aurora dan memapahnya, membiarkan tubuh ramping wanita itu bersandar pada bahunya.
Saat mereka berjalan pelan menuju parkiran mobil, langkah mereka terhenti oleh seorang pria tinggi dengan wajah maskulin yang sangat mencolok—perpaduan eksotis antara blasteran Indonesia, Arab, dan Inggris.
Pria itu mengenakan kemeja linen yang santai namun mahal.
"Aurora?" sapa pria itu dengan suara berat yang penuh perhatian.
"Ya Tuhan, kamu kambuh lagi?"
Pria itu adalah Firan, rekan bisnis strategis Aurora saat ia masih menetap di Singapura.
Firan tampak sudah sangat mengenal kondisi kesehatan Aurora. Tanpa memedulikan kehadiran Adrian, Firan mendekat dan memeriksa suhu kening Aurora dengan punggung tangannya.
"Sudah kubilang, jangan pernah lewatkan sarapan di Medan. Lambungmu itu manja, Ra," ujar Firan sambil menyerahkan sebuah bungkusan plastik hangat yang ternyata berisi bubur ayam kualitas terbaik.
"Ini, kebetulan aku baru beli di depan. Habiskan ya, jangan dibantah. Aku harus pastikan temanku yang paling hebat ini merasa lebih baik."
Aurora tersenyum lemah, ada rasa nyaman yang terlihat jelas saat ia menatap Firan.
"Terima kasih, Firan. Kamu selalu muncul di waktu yang tepat."
Adrian yang masih memapah Aurora merasa dadanya seperti dihantam godam besar. Ada gejolak panas yang membakar—sebuah kombinasi antara rasa tidak terima, cemburu, dan minder yang luar biasa.
Ia melihat bagaimana Firan memperlakukan Aurora dengan cara yang begitu akrab dan protektif, seolah-olah Firan-lah yang memiliki hak atas keselamatan Aurora sekarang.
Adrian menyadari satu hal: dunia Aurora sekarang dikelilingi oleh pria-pria seperti Bram dan Firan—pria-pria yang mapan, tampan, dan tahu persis cara meratukan seorang wanita.
Sementara dirinya? Ia hanya bisa berdiri di sana, memegang lengan Aurora sambil menelan rasa malu di hadapan "saingan" baru yang terlihat jauh lebih sempurna darinya.
Ayah dan Ibu Adrian yang melihat kerumunan kecil di dekat toilet segera bergegas menghampiri.
Wajah Ayah Adrian memucat saat melihat putra tunggalnya sedang memapah Aurora yang lemas, sementara di hadapan mereka berdiri seorang pria asing yang tampak sangat dominan.
"Aurora! Astaga, Nak... kamu kenapa?" seru Ayah Adrian dengan nada panik yang tulus.
Beliau sudah menganggap Aurora seperti anak sendiri, dan melihatnya tak berdaya seperti ini memicu rasa bersalah yang besar.
Adrian baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan, namun Firan dengan gerakan yang sangat sopan dan tenang mendahuluinya.
Pria blasteran itu mengulas senyum tipis yang memancarkan aura kepemimpinan.
"Selamat pagi, Om, Tante. Sepertinya ini keluarga dari Jakarta ya?" sapa Firan dengan nada bicara yang sangat beradab.
"Perkenalkan, saya Firan, rekan bisnis Aurora. Saya rasa saya mengenali kalian dari cerita-cerita Aurora dulu."
Adrian tersentak. Jadi, Aurora masih menceritakan tentang keluarganya pada pria ini?
Firan kembali menatap Aurora dengan tatapan yang sangat dalam sebelum menjelaskan kondisinya kepada orang tua Adrian.
"Aurora ini kalau sedang terlalu lelah dan ada beban pikiran yang mendadak menghantam kepalanya, dia punya kebiasaan buruk: menyembunyikan semuanya dengan sempurna di balik senyumannya. Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Tekanan itu memaksa asam lambungnya terpompa naik, apalagi tadi pagi dia hanya sarapan sedikit. Itu resep sempurna untuk kolaps."
Penjelasan Firan yang begitu detail, seolah ia bisa membaca isi kepala Aurora, membuat Ayah dan Ibu Adrian terdiam seribu bahasa.
Mereka yang merasa paling mengenal Aurora selama enam tahun, kini merasa seperti orang asing di depan pria yang baru mereka temui ini.
"Tapi jangan khawatir, Om," lanjut Firan sambil menyerahkan bungkusan bubur itu ke tangan Adrian dengan gerakan yang seolah memberi instruksi.
"Aurora hanya perlu makan bubur hangat ini dengan banyak taburan lada—dia butuh rasa hangat di lambungnya—lalu minum obat lambung andalannya dan tidur sekitar tiga puluh menit. Dalam satu jam, saya jamin dia akan kembali menjadi Aurora yang tangguh."
Melihat cara Firan memperhatikan detail kecil seperti
"taburan lada", dada Adrian terasa seperti diremas. Namun, yang paling menghujam jantungnya adalah reaksi Aurora.
Saat menatap Firan, Aurora memberikan sebuah senyuman kecil—bukan senyum formal nan elegan seperti saat ia menerima bunga dari Bram pagi tadi, melainkan senyum tulus yang memancarkan rasa nyaman dan trust.
Dia punya perasaan pada pria ini, batin Adrian menjerit.
Ada getaran di mata Aurora yang menunjukkan bahwa Firan bukan sekadar rekan bisnis, tapi seseorang yang punya kunci ke ruang paling rahasia di hati Aurora.
Sherly, yang sejak tadi mengamati dari jauh, merasa dunianya runtuh. Ia melihat kekasihnya kini justru seperti "asisten" yang membawa makanan dari pria yang jauh lebih tampan dan mapan untuk diberikan kepada mantan kekasihnya.
Saat rombongan kembali ke Hiace, Sarah langsung sigap mengambil alih.
"Ayo, Ra. Sini duduk sama Kakak. Mas Adrian, mana buburnya? Sini saya yang suapi."
Sarah melirik Adrian dengan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Lihat kan? Kamu bahkan nggak tahu kalau dia butuh banyak lada.'
Sepanjang perjalanan yang dilanjutkan, kabin Hiace yang mewah itu mendadak sunyi. Adrian duduk di belakang, menatap punggung Aurora yang sedang bersandar lemah sambil disuapi oleh Sarah.
Di sebelahnya, Sherly hanya bisa menggigit bibir, menyadari bahwa taktik "salat Duha"-nya tadi benar-benar terlupakan dan terkubur oleh drama kesehatan Aurora yang justru semakin mendekatkan keluarga Adrian pada sang mantan.
"Sayang..." bisik Sherly lirih, mencoba mencari sisa-sisa perhatian.
"Diam dulu, Sher. Biarkan Aurora istirahat," jawab Adrian dingin tanpa menoleh sedikit pun.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...