NovelToon NovelToon
Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandi Wabaswara

Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Rahasia di Balik Kepergian

Malam terasa semakin dingin saat mobil Arga melaju perlahan meninggalkan kawasan industri. Alya duduk diam di sampingnya, selimut tipis melingkari tubuhnya. Wajahnya masih pucat, trauma kejadian tadi belum sepenuhnya hilang. Di kursi belakang, ayah Arga menatap keluar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Tak ada yang berbicara. Keheningan menggantung, berat, seolah penuh dengan kata-kata yang tak terucap.

Sesampainya di rumah, Arga membantu Alya turun dari mobil. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat, seakan ingin memastikan Alya benar-benar ada di sisinya. Alya membalas genggaman itu, mencoba tersenyum meski dadanya masih sesak.

Mereka masuk ke dalam rumah. Lampu dinyalakan, memecah gelap yang sejak tadi menyelimuti. Arga mempersilakan ayahnya duduk di ruang tamu, lalu mengambilkan segelas air.

“Ayah pasti lelah,” ujar Arga datar.

Pria itu mengangguk. “Terima kasih.”

Alya duduk di sisi Arga, diam-diam memperhatikan wajah ayah mertuanya. Ada banyak pertanyaan di benaknya, namun ia memilih menunggu.

Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Arga memecah keheningan.

“Ayah menghilang bertahun-tahun tanpa kabar. Sekarang muncul begitu saja, lalu berkata ingin melindungiku dari jauh. Ayah pikir itu cukup?” suara Arga bergetar, antara marah dan kecewa.

Ayahnya menunduk. “Ayah tahu ayah salah.”

“Lalu kenapa ayah pergi?” tanya Arga tegas.

Pria itu menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. “Karena Rayhan.”

Nama itu kembali membuat Alya dan Arga menegang.

“Rayhan dulunya adalah anak buah ayah,” lanjut pria itu. “Kami terlibat dalam bisnis yang... kelam. Ayah ingin keluar dan memulai hidup baru. Tapi Rayhan menentang.”

Alya membelalakkan mata. “Jadi, semua ini karena masa lalu ayah?”

Pria itu mengangguk pelan. “Rayhan merasa dikhianati. Ia menganggap ayah telah menghancurkan hidupnya.”

“Dan karena itu, dia mengincarku?” suara Arga nyaris berbisik.

“Awalnya tidak,” jawab ayahnya. “Tapi saat ia tahu ayah masih hidup dan memiliki keluarga, kemarahannya berubah menjadi dendam.”

Arga mengepalkan tangan. “Kenapa ayah tidak pernah memperingatkanku?”

“Ayah takut,” ucap pria itu lirih. “Takut masa lalu ayah akan menghancurkan masa depanmu. Ayah memilih menghilang, berharap Rayhan tak pernah menemukanmu.”

Alya terisak kecil. “Tapi justru itu yang membuat kami hampir kehilangan segalanya.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Rasa bersalah jelas tergambar di wajah pria itu.

“Maafkan ayah,” katanya. “Ayah ingin menebus semuanya. Ayah akan memastikan Rayhan tidak bisa menyentuh kalian lagi.”

Arga menatap ayahnya lama. Dalam dadanya, amarah, rindu, dan kecewa berbaur menjadi satu.

“Kita bicarakan ini nanti,” ujarnya akhirnya. “Sekarang, Alya butuh istirahat.”

Alya mengangguk lemah. Arga mengantarnya ke kamar, membantu merebahkan tubuh istrinya.

“Kamu aman sekarang,” bisik Arga, mengecup kening Alya lembut.

Alya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. “Aku takut, Ga.”

“Aku di sini,” jawab Arga mantap. “Aku janji, tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”

Namun di tempat lain, Rayhan duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan sepi. Wajahnya penuh luka, napasnya tersengal. Tangannya mengepal di atas kemudi.

“Arga...” gumamnya penuh kebencian.

Ingatan masa lalunya kembali berputar.

Dulu, Rayhan hanyalah seorang pemuda yang percaya penuh pada ayah Arga. Ia menganggap pria itu sebagai mentor, bahkan sosok ayah. Namun ketika pria itu memutuskan pergi, meninggalkan bisnis gelap mereka dan menyerahkan Rayhan kepada situasi kacau, hidup Rayhan runtuh.

Ia kehilangan segalanya.

Sejak saat itu, satu tujuan hidupnya hanya tersisa: balas dendam.

“Ini belum selesai,” bisiknya dingin.

Rayhan menyalakan mesin mobil, melaju menuju tujuan berikutnya yang telah ia siapkan.

Keesokan harinya, Arga terbangun dengan perasaan gelisah. Ia menoleh ke arah Alya yang masih terlelap. Wajah istrinya tampak damai, namun Arga tahu luka batin itu belum sepenuhnya sembuh.

Ia bangkit perlahan, keluar kamar. Di ruang tamu, ayahnya sudah duduk, menyesap kopi.

“Kita harus melapor ke polisi,” kata Arga tanpa basa-basi.

Ayahnya mengangguk. “Ayah setuju.”

Namun sebelum mereka sempat melangkah keluar, ponsel Arga bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jika ingin keluargamu selamat, datang sendiri. Jangan bawa siapa pun.

Napas Arga tertahan.

“Ada apa?” tanya ayahnya cemas.

Arga menunjukkan layar ponselnya.

“Rayhan,” ucap ayahnya pelan.

Arga menutup mata sejenak. “Dia belum menyerah.”

“Jangan datang,” tegas ayahnya. “Ini jebakan.”

“Tapi kalau aku tidak datang, dia bisa menyakiti Alya,” balas Arga.

Ketegangan memenuhi ruangan.

“Ayah yang akan menghadapinya,” ujar pria itu mantap. “Ini kesalahan ayah. Biarkan ayah yang menyelesaikan.”

Arga menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan bersembunyi lagi.”

Di balik pintu, Alya berdiri terpaku. Ia mendengar semua percakapan itu.

“Ga, jangan,” ucap Alya dengan suara gemetar. “Aku tidak mau kehilanganmu.”

Arga mendekat, memeluk Alya erat. “Aku akan kembali. Percayalah.”

Air mata Alya jatuh di bahu Arga. “Tolong...”

Arga menghela napas panjang. Dalam hatinya, ia tahu ini adalah pertarungan yang tak bisa dihindari.

“Ayah jaga Alya,” kata Arga menatap ayahnya. “Apa pun yang terjadi.”

Pria itu mengangguk, matanya berkaca-kaca.

Arga melangkah keluar, masuk ke dalam mobil, dan melaju menuju alamat yang dikirim Rayhan.

Di jalan, pikirannya dipenuhi bayangan buruk. Namun tekadnya bulat.

Apa pun yang terjadi, aku harus mengakhiri semua ini.

Sementara itu, Rayhan berdiri di sebuah gedung tua, menatap langit mendung.

“Datanglah, Arga,” gumamnya. “Akhir cerita kita sudah dekat.”

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Maulana Hasanudin
cerita sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!