NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUJAN AIR MATA DI PAVILIUN MAUT

Kepergian Zhang Liang ke luar kota bersama Chen Yiren meninggalkan kekosongan yang mencekam di kediaman Zhang. Sejak Rolls-Royce hitam itu meluncur keluar dari gerbang, atmosfer rumah besar itu berubah total. Tidak ada lagi kepura-puraan kaku di depan sang tuan rumah. Yang tersisa hanyalah keheningan yang tajam, seperti pisau yang siap menyayat siapa saja yang lengah.

Alya berdiri di balkon kamarnya, menatap rintik hujan yang mulai membasahi aspal. Perutnya yang mulai menonjol terasa sedikit kaku. Mungkin karena stres, atau mungkin karena efek samping dari ramuan penawar yang diberikan Liyun yang sedang bertarung dengan sisa-sisa racun dari Mei Hua di sistem tubuhnya.

"Nyonya Muda, Nyonya Besar Mei Hua memanggil Anda ke paviliun belakang," suara Mei Lin terdengar dari balik pintu. Nada bicaranya kini jauh lebih berani, seolah ia tahu bahwa perlindungan Liang—sekecil apa pun itu—kini sedang tidak ada di tempat.

Alya menghela napas panjang. Ia merogoh saku gaun hamilnya, memastikan alat perekam dari Wei Jun ada di sana. "Baik, Bi. Saya akan segera turun."

Paviliun belakang adalah area paling terisolasi di kediaman Zhang. Tempat itu dikelilingi oleh kolam ikan koi yang dalam dan rumpun bambu yang lebat. Biasanya, tempat ini digunakan Mei Hua untuk bermeditasi, namun hari ini, tempat itu terasa seperti altar eksekusi.

Mei Hua duduk di kursi rotan, mengenakan jubah sutra putih yang membuatnya tampak seperti hantu yang cantik. Di atas meja di depannya, tersedia teko teh dan beberapa botol obat tanpa label.

"Duduklah, Alya," ucap Mei Hua tanpa menoleh.

Alya duduk dengan kaku. "Ada apa, Kak? Mengapa kita tidak bicara di dalam rumah saja? Di sini dingin."

Mei Hua akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, ia tidak memakai topeng senyum manisnya. Matanya yang sayu kini dipenuhi dengan kegelapan yang murni. "Di dalam rumah banyak telinga, Alya. Terutama adik Liang, Liyun. Aku tahu dia sering masuk ke kamarmu tengah malam. Kau pikir aku bodoh?"

Jantung Alya berdegup kencang. Dia tahu.

"Aku tahu segalanya," lanjut Mei Hua sambil menuangkan teh. "Aku tahu tentang obat penawar itu. Aku tahu tentang Wei Jun yang memberikanmu perhatian lebih. Dan aku tahu... bahwa kau mulai berpikir kau bisa menjadi Nyonya Zhang yang sesungguhnya jika kau melahirkan kedua putra itu."

"Itu tidak benar, Kak! Saya hanya ingin menyelesaikan kontrak ini dan pulang!" seru Alya.

Prak!

Mei Hua menampar meja dengan keras. "Pulang? Setelah kau meracuni pikiran suamiku dengan wajah lugumu itu? Liang mulai menanyakan kesehatanmu secara detail. Dia mulai melihatmu bukan sebagai alat, tapi sebagai manusia. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Mei Hua berdiri, langkahnya yang biasanya gontai kini tampak stabil dan penuh ancaman. Ia mengeluarkan sebuah jarum suntik dari balik jubahnya. "Dr. Kelvin bilang, jika kita merangsang kontraksi sekarang, bayi-bayi itu bisa lahir prematur. Mereka akan masuk inkubator, dan kau... kau akan mengalami pendarahan hebat yang tak tertolong. Sebuah tragedi yang sempurna bagi istri kedua yang malang."

Alya mundur hingga punggungnya membentur pagar pembatas paviliun. "Kak, tolong... mereka masih terlalu kecil. Jangan sakiti mereka!"

"Mereka adalah milikku! Darah mereka adalah darah Zhang, tapi mereka akan memanggilku Ibu, bukan kau!" Mei Hua menerjang dengan kegilaan yang tak terduga.

Alya mencoba menghindar, namun Mei Lin, sang perawat, muncul dari balik pilar dan memegangi lengan Alya dengan kuat. Alya meronta, tenaganya sebagai gadis desa yang pernah bekerja keras muncul ke permukaan. Ia menendang kaki Mei Lin hingga wanita itu mengaduh.

"Lari, Alya!" sebuah suara teriakan terdengar.

Itu adalah Zhang Liyun. Ia muncul dengan membawa sebuah payung besar, langsung memukul bahu Mei Hua sebelum jarum suntik itu menyentuh kulit Alya.

"Liyun! Apa yang kau lakukan?! Kau mengkhianati kakakmu sendiri?!" teriak Mei Hua histeris.

"Aku tidak mengkhianati Liang! Aku menyelamatkannya dari menjadi pembunuh karena ulahmu, Mei Hua!" balas Liyun. Ia menarik tangan Alya. "Ayo, Alya! Kita harus keluar dari sini!"

Mereka berlari menembus hujan lebat menuju gerbang belakang. Namun, Mei Hua telah mengantisipasi ini. Beberapa pengawal pribadi yang dibayar khusus oleh keluarga Lin—bukan pengawal Zhang—sudah menutup jalan.

"Tangkap mereka! Jangan biarkan Alya keluar hidup-hidup!" perintah Mei Hua yang kini benar-benar kehilangan kewarasannya.

Di luar gerbang, sebuah mobil SUV hitam melaju kencang dan mengerem mendadak hingga menimbulkan suara decitan ban yang memilukan. Pintu mobil terbuka, dan Luo Cheng melompat keluar dengan wajah merah padam karena amarah. Di belakangnya, Wei Jun turun dengan ponsel di telinga, terus berkoordinasi dengan Han Zhihao.

"Dobrak gerbangnya!" teriak Luo Cheng pada anak buahnya.

"Sabar, Cheng! Kita tidak bisa membuat keributan yang akan masuk berita utama!" cegah Wei Jun.

"Persetan dengan berita! Alya sedang di dalam dengan wanita gila itu!" Luo Cheng mengambil sebuah linggis dari bagasi mobil dan mulai menghantam kunci gerbang elektronik tersebut.

Sementara itu, melalui satelit dan sistem keamanan yang telah ia retas sepenuhnya, Han Zhihao berteriak lewat earpiece yang dikenakan Wei Jun. "Jun! Mereka di paviliun belakang! Liyun mencoba membawa Alya ke garasi, tapi mereka terkepung! Cepat!"

Di dalam area rumah, Liyun dan Alya terdesak di area taman labirin. Alya merasakan sakit yang luar biasa di perut bawahnya. Tekanan stres dan pengejaran ini mulai memengaruhi kandungannya.

"Liyun... perutku sakit sekali..." rintih Alya, wajahnya sepucat kertas.

"Tahan, Alya. Sedikit lagi," bisik Liyun. Ia menyembunyikan Alya di balik rumpun bambu yang lebat. "Dengar, aku akan memancing mereka ke arah kolam renang. Kau lari ke arah gerbang samping, Wei Jun dan Luo Cheng sudah ada di sana."

"Tapi kau..."

"Aku adiknya Liang, mereka tidak akan berani membunuhku. Tapi kau... kau sasaran utama mereka. Pergi!"

Liyun berlari keluar dari persembunyian sambil berteriak, memancing para pengawal dan Mei Hua menjauh dari Alya. Alya, dengan sisa tenaganya, merangkak di antara semak-semak. Bajunya robek, lututnya berdarah, dan air hujan terus mengguyurnya.

Alya sampai di gerbang samping tepat saat Luo Cheng berhasil merobohkan pintu besi itu. Saat gerbang terbuka, Alya jatuh tersungkur di aspal.

"ALYA!" Luo Cheng berlari dan menangkap tubuh Alya sebelum kepalanya menghantam tanah. Ia melepaskan jaketnya dan membungkus tubuh gadis itu yang menggigil hebat.

Wei Jun mendekat, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam. "Zhihao, panggil ambulans ke koordinat rahasia! Jangan gunakan rumah sakit umum!"

"Sudah dilakukan. Temui Xu Ming di persimpangan jalan masuk," suara Zhihao terdengar bergetar di seberang sana.

Saat mereka hendak memasukkan Alya ke mobil, Mei Hua muncul di gerbang dengan rambut berantakan dan tatapan mata yang kosong. Ia memegang sebilah pisau kecil yang biasanya digunakan untuk memotong bunga.

"Kembalikan dia... kembalikan bayiku..." gumam Mei Hua.

Luo Cheng berdiri di depan Alya, menatap Mei Hua dengan jijik. "Kau sudah selesai, Mei Hua. Saat Liang pulang dan melihat rekaman yang dikumpulkan Zhihao, bahkan cinta butanya tidak akan bisa menyelamatkanmu."

"Liang tidak akan pernah percaya pada kalian! Dia mencintaiku!" teriak Mei Hua histeris.

Wei Jun maju selangkah. "Dia mencintai bayangan yang kau ciptakan, bukan iblis yang berdiri di depanku sekarang. Pergilah, sebelum aku sendiri yang menyeretmu ke kantor polisi."

Mobil SUV itu meluncur pergi, membawa Alya yang setengah sadar. Di dalam mobil, Wei Jun menggenggam tangan Alya yang dingin.

"Kau aman sekarang, Alya. Aku janji," bisik Wei Jun.

Alya membuka matanya sedikit, menatap Wei Jun dengan tatapan yang sangat memilukan. "Tuan... tolong selamatkan anak-anak saya... jangan biarkan mereka mengambilnya..."

"Tidak akan ada yang mengambilnya darimu lagi," ucap Wei Jun dengan nada sumpah yang sangat berat.

Tiga jam kemudian, Zhang Liang mendarat di Jakarta. Ia menerima telepon dari Liyun yang sedang menangis di rumah sakit, menceritakan segala kegilaan yang terjadi. Liang segera menuju rumah sakit rahasia milik keluarga Wei.

Di depan ruang perawatan, ia dihadang oleh Luo Cheng yang langsung mendaratkan satu pukulan keras di wajah Liang. Bugh!

Liang tersungkur, sudut bibirnya berdarah. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap sahabatnya itu dengan bingung dan penuh rasa bersalah.

"Kau pria paling bodoh yang pernah kukenal, Liang!" teriak Luo Cheng. "Istri kesayanganmu hampir membunuh ibu dari anak-anakmu malam ini!"

Wei Jun keluar dari ruangan, wajahnya dingin. Ia menyerahkan sebuah tablet kepada Liang. "Lihat ini. Ini rekaman suara dari alat yang kupasang pada Alya. Dan ini data medis asli Mei Hua yang diretas Zhihao. Dia tidak pernah menderita kanker, Liang. Itu semua hanya kebohongan untuk mengikatmu."

Liang gemetar saat mendengarkan rekaman suara Mei Hua yang mengancam Alya di paviliun. Suara yang biasanya lembut dan penuh cinta itu kini terdengar seperti suara monster. Dunianya yang selama ini ia bangun di atas dasar rasa bersalah terhadap Mei Hua runtuh seketika.

Ia masuk ke dalam kamar perawatan Alya. Di sana, Alya terbaring dengan berbagai selang medis. Wajahnya begitu tenang namun rapuh. Liang duduk di kursi di samping tempat tidur, menatap tangan Alya yang dibalut perban.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Zhang Liang menangis. Bukan karena Mei Hua yang "sakit", tapi karena ia menyadari bahwa ia telah menjadi algojo bagi wanita paling tulus yang pernah masuk ke hidupnya.

"Maafkan aku, Alya..." bisiknya, mencium punggung tangan Alya yang dingin.

Namun, di luar ruangan, Chen Yiren berdiri di kegelapan koridor, menatap pemandangan itu dengan mata menyipit. Rencananya dengan Mei Hua mungkin gagal, tapi ia masih punya satu kartu as. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Lakukan sekarang. Hilangkan jejak Dr. Kelvin, dan pastikan Alya tidak pernah bisa membuktikan siapa dalang sebenarnya di balik kontrak itu. Kita akan membuat ini seolah-olah Wei Jun-lah yang mencoba menculik Alya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!