NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Ini

Hari kesepuluh, jam 6 pagi. Dewa berdiri di depan Apartemen Anggrek dengan motor bututnya, helm cadangan di tangan kanan. Jantungnya memompa secara tidak wajar, wajahnya pucat, bibirnya gemetar dan ada sesuatu kejadian ' Aneh' yang membuatnya susah tidur mengenang, sesuatu lembut menempel di punggungnya.

Perempuan itu keluar memakai blazer hitam, Dewa tercekat melihatnya, apakah bajunya cuma blazer ? Atau blazer adalah pakaian kesukaannya? rambutnya di kuncir kaku, tas kerja penuh dengan buku, berkas berkas dan catatan misteri yang tidak bisa tebak isinya.

"Bu, banyak buku hari ini?"

"Penelitian," jawabnya singkat.

" Silahkan Bu."Dewa mempersilahkan.

Ia naik motor dengan kaku — tangan di pangku, tas di pangku, jarak 5 cm dari punggungnya jarak yang dapat membawa " Oyen" kucing birahi kesukaan Dewa duduk di tengah.

Tapi ada yang berbeda dari pada sebelumnya, ia tidak menggenggam tas erat seperti kemarin, bahunya sedikit — rileks.

" Bu apa agenda Ibu setelah pulang kuliah ?"

"'Perpustakaan."

" Perpustakaan lagi ?"

" Kamu mau mengantar saya apa tidak ?"

" Eh...ia, Bu siap."

" Atau kamu ada agenda malam ?"

" Tidak ada, Bu," Dewa menggigit bibirnya, tidak bisa berharap lebih

 

Jam 9 malam, perpustakaan nasional.

Meja pojok yang sama. 20 buku yang sama, Tapi kali ini Dewa sadar — 7 buah buku sudah dibuka benar-benar dibuka, ada penanda halaman dan catatan kecil di margin.

Ibu dosen serius bekerja malam ini. Dewa yang seharusnya membantu malah sibuk memperhatikannya menulis cepat, presisi, tanpa coretan, membaca dengan mata bergerak kiri-kanan, tidak berkedip, sesekali — mengusap cincin memastikan masih ada disana yang dapat menenangkan jiwanya.

Sebenarnya ia ingin bertanya. "Bu, menurut ibu siapa yang kirim cincin itu?" Tapi ia tidak berani sekarang dan mungkin tidak akan pernah kalimat itu keluar.

 

Jam 10 malam, waktu pulang.

Dian mengemas buku 20 buah menyusunnya masuk kedalam tas besar. Dewa ikut membantu tanpa sadar tangan mereka bersentuhan di tumpukan buku, panas, cepat dan terlalu cepat.

"Maaf, Bu."

Ia tidak menjawab hanya menatap tangannya sejenak — lalu cincinnya sendiri seperti membandingkan. "Anda... Apakah Anda pernah mengirim sesuatu kepada seseorang?"

Dewa terhenyak, pertanyaan ini tiba-tiba datang, apakah ibu dosen sudah tahu dan mengorek?

"Maksud Ibu mengirim sesuatu?"

"Surat, bunga, atau..." Ia berhenti sejenak tidak melanjutkan. Merah — merah samar — di pipinya. "Tidak apa-apa, lupakan saja."

Tapi laki laki tidak bisa melupakan tanpa bisa menjelaskan, ia hanya mengangguk kecil membawa buku ke atas motor "Saya antar, Bu seperti biasa."

--+

Perjalanan pulang.

Dewa mengendarai sepeda motor hati hati Bawaan motor berat daripada biasanya — 20 buah buku di dalam tas — tapi terasa membawa anak gajah. Apa yang lebih berat?ia tidak tahu.

Dan kejadian sebelum nya kembali terjadi, entah mata Dewa yang kabur atau memang sengaja menabrak lubang di jalan. Ia dengan refleks mengerem mendadak, perempuan itu terhuyung ke depan — tangannya terbang dan kali ini tidak ke stang motor, tapi menyentuh punggungnya sejenak, untung tidak kena dadanya seperti malam kemarin

Ia cepat-cepat mundur, mukanya merah padam, rasa malu dan hampir tidak dapat ia tanggung.

"Maaf, Bu," kata Dewa dengan gagap muka memerah.

Dian tidak menjawab hanya — Dewa yakin, yakin sekali —ia tersenyum kecil di kegelapan, senyum yang dia sembunyikan dengan cepat, dengan gengsi.

 

Di Apartemen Anggrek, Dian turun tidak langsung masuk berdiri menatap Dewa dengan buku-buku di tangan dan rasa malu tidak biasanya.

"Terima kasih," katanya pendek seperti hari sebelumnya. "Besok... besok tidak usah jemput saya pukul 6."

Dewa membeku, dibatalkan? Apakah dia gagal? terlalu dekat? Tadi, di jalan, tangannya—

"Saya... saya ada rapat pagi," lanjutnya cepat, hampir defensif. "Jam 8 saja ke kampus. Anda... Anda bisa tidur lebih lama."

Bukan pembatalan, kegagalan. Tapi... perhatian? Ia mengangguk seakan tidak percaya. "Baik, Bu. Jam 8."

Ibu dosen masuk cepat terlalu cepat seperti takut kalau pelan-pelan, dia akan... akan apa?

Di dalam, di balik pintu, ia menatap cincin, mengusapnya, mengingat sentuhan tadi — punggung hangat, nyata — dan merasa...malu, sangat malu. Dosen 38 tahun, menyentuh punggung mahasiswa 22 tahun. Apa yang dia pikirkan?

Tapi juga — dia akui, hanya pada cincin — merasa rindu, rindu akan sentuhan itu, keberanian dan rindu... dari apa yang tidak dia punya selama 15 tahun.

"Tidak," katanya pada bayangan di cermin. "Saya tidak akan cerita tidak akan ungkapkan. Saya... saya tunggu dia dulu."

Tapi tunggu apa? Dia tidak tahu. Hanya tahu: besok, jam 8, dia akan melihatnya lagi. Dan itu — itu — sudah cukup untuk malam ini.

Di luar, Dewa menatap pintu menatap tangan kanannya — yang tadi disentuh dengan cincin dan kehangatan.

"Gue gak bisa terus-terusan begini," pikirnya "Gue harus jelasin. Harus. Tapi... tapi kalau dia marah? Kalau dia malu? Kalau... kalau dia nangis?"

Dewa tidak bisa membayangkan perempuan umur 38 tahun menangis, tidak dapat menceritakan Dosen Killer menangis karena cincin murah dan salah paham.

Jadi dia — penakut, pengecut, tapi berharap — memutuskan: besok. Jam 8. Dia akan lihat. Lihat dulu. Pastikan Ibu Dian... Dian apa?

Ia tidak tahu dan hanya tahu: tidak mau kehilangan ini, kehangatan, keberanian pada pukul delapan 8 pagi nanti.

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!