NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Diantara pergi dan bertahan

Pukul delapan lewat lima belas, meja arsip di sudut ruangan masih kosong.

Kursi yang biasanya sudah terisi sejak sebelum jam kerja dimulai itu tetap terselip rapi di bawah meja. Komputer belum menyala. Map-map belum tersusun seperti biasa. Tidak ada jejak kehadiran seseorang yang dikenal paling disiplin di antara mereka.

“Bela belum datang?” tanya seorang staf perempuan sambil meletakkan tas di kursinya.

“Belum,” jawab yang lain. “Padahal biasanya dia paling duluan.”

Jam dinding bergerak pelan, namun keganjilan itu makin terasa. Pukul sembilan. Pukul sepuluh. Nama Bela tetap tidak muncul di lorong arsip.

Seorang staf laki-laki membuka ponselnya. “Gue chat aja kali ya.”

Beberapa menit berlalu.

“Dibales?” tanya temannya.

Ia menggeleng. “Centang satu.”

Tidak lama kemudian, pesan lain masuk—dari grup staf kecil yang biasa koordinasi harian.

'Bela izin hari ini nggak ya?'

'Ada yang dapet kabar?'

Tidak ada yang menjawab.

Dimas, yang sejak pagi mondar-mandir tanpa arah jelas, akhirnya ikut menoleh ke meja kosong itu. Kerut di dahinya makin dalam. Ia mengambil ponselnya, mengetik cepat, lalu menunggu.

Tidak ada balasan.

Ia mencoba menelepon.

Nada sambung. Lalu terputus.

“Dimatikan,” gumamnya pelan.

Seorang staf perempuan menoleh. “Kok aneh ya. Biasanya kalau telat pun Bela pasti ngabarin.”

“Iya,” sahut yang lain. “Cuti juga dia selalu bilang. Nggak pernah tiba-tiba ilang gini.”

Dimas menyandarkan tubuhnya ke meja. “Apa dia sakit?”

“Kalau sakit juga biasanya chat,” jawab seseorang cepat. “Atau minimal balas.”

Jam menunjukkan pukul dua belas siang.

Kantor mulai lebih riuh. Beberapa dosen keluar-masuk, staf lain sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi absennya Bela justru semakin mencolok—seperti satu bagian kecil yang hilang dari mekanisme yang biasanya berjalan rapi.

Dimas menghela napas, lalu berkata, setengah ragu, “Masa kita tanya langsung ke Bu Rektor?”

Beberapa pasang mata langsung menoleh padanya.

“Jangan,” jawab seorang staf cepat. “Nggak etis. Beda level.”

“Lagipula,” tambah yang lain, “kalau memang keluarga, pasti sudah ada kabar.”

Dimas terdiam. Ia kembali menatap ponselnya, layar yang gelap karena tidak ada notifikasi baru.

Di sisi lain kota, Bela sama sekali tidak mengetahui kegelisahan yang mulai menyebar di ruang arsip itu.

Ponselnya berada di dalam tas, mode pesawat aktif. Data dimatikan sejak pagi. Ia sengaja tidak ingin melihat layar menyala. Tidak ingin membaca pesan apa pun. Tidak ingin menjawab pertanyaan yang bahkan belum ia siapkan jawabannya.

Apakah ia hanya akan cuti sejenak?

Atau pergi selamanya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak pagi, tanpa jawaban yang berani ia ambil.

Dengan tubuh yang kini tidak lagi hanya miliknya sendiri, Bela tahu satu hal: keputusan apa pun tidak bisa lagi diambil sembarangan. Setiap langkah punya konsekuensi yang lebih panjang dari sekadar hari ini atau besok.

Di kampus, menjelang sore, spekulasi mulai berubah menjadi kekhawatiran.

“Ini nggak biasa,” ujar seorang staf pelan.

“Bela tuh… terlalu bertanggung jawab buat ngilang tanpa kabar.”

Dimas menekan rahangnya. “Iya.”

Ia tidak melanjutkan kalimat itu. Ada sesuatu di dadanya yang mengganjal—bukan rasa kehilangan, bukan pula penyesalan, melainkan kegelisahan yang tak bisa ia beri nama.

Sementara itu, di jalan yang semakin menjauh dari pusat kota, Bela duduk diam di dalam mobil. Pemandangan di luar jendela berganti pelan. Ia memeluk tasnya erat, seolah di dalamnya tersimpan satu-satunya pegangan yang ia miliki.

Ia tidak tahu sampai kapan ia akan menghilang dari rutinitas yang selama ini membentuk hidupnya.

Yang ia tahu, hari ini—

ia tidak sanggup muncul sebagai Bela yang biasa mereka kenal.

Dan untuk sementara waktu, menghilang terasa seperti satu-satunya cara untuk bertahan.

Sementara itu, Bela berada jauh dari rutinitas yang selama ini ia kenal.

Mobil yang ia tumpangi melaju pelan melewati jalanan yang semakin sempit, meninggalkan pusat kota. Rumah-rumah besar berganti bangunan lama, pepohonan tumbuh lebih rapat, dan udara terasa berbeda. Lebih lembap, lebih sunyi.

Bela menatap keluar jendela, menyerap pemandangan yang perlahan terasa asing sekaligus akrab.

Ia sudah lama tidak ke sini.

Bahkan ketika dewasa, kakinya nyaris tak pernah menginjak wilayah ini lagi. Bukan karena benci, melainkan karena ada jarak yang sengaja diciptakan oleh orang-orang dewasa di masa lalu—jarak yang tak pernah dijelaskan, hanya dibiarkan tumbuh menjadi kebiasaan.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah satu lantai bercat krem pucat. Halamannya tidak luas, tapi terawat. Pohon mangga tua berdiri di sudut, daunnya rimbun, meneduhi sebagian teras.

Bela menelan ludah.

Di sinilah ia pernah berlari tanpa takut. Pernah tertawa tanpa beban. Pernah merasa aman—sebelum semuanya berubah.

Ia turun dari mobil, ransel tergantung di pundaknya. Langkahnya ragu saat mendekati pagar. Jemarinya sempat berhenti di udara sebelum akhirnya menekan bel rumah.

Tidak lama, pintu terbuka.

Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya menua dengan cara yang lembut namun menyimpan garis-garis lelah yang dalam. Matanya terbelalak sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.

“Bela?” suaranya pelan, nyaris tak percaya.

Bela menunduk sedikit. “Tante…”

Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Waktu seolah menggantung di antara mereka—dipenuhi oleh kata-kata yang tidak pernah terucap selama bertahun-tahun.

Lalu, perempuan itu melangkah maju dan memeluk Bela.

Pelukan itu tidak erat, tidak pula canggung. Hangat. Nyata. Membuat dada Bela yang sejak pagi terasa sesak akhirnya runtuh.

“Astaga,” gumam tantenya. “Masuk. Masuk dulu.”

Bela mengangguk, mengikuti langkah perempuan itu ke dalam rumah.

Interior rumah itu hampir tidak berubah. Sofa lama masih di tempat yang sama. Lemari kayu di sudut ruang tamu tetap menyimpan foto-foto lama—beberapa tertutup debu tipis. Bau rumah itu membawa kembali kenangan yang tidak ia sadari masih ia simpan.

Bela duduk di sofa, meletakkan ranselnya di lantai. Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar.

Tantenya menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya. “Minum dulu.”

“Terima kasih, Tante,” ucap Bela pelan.

Perempuan itu duduk di hadapannya, menatap Bela lekat-lekat. “Kamu kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi Bela tahu, di baliknya ada kekhawatiran yang tidak dibuat-buat.

“Aku… aku nggak masuk kerja hari ini,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

Bela menunduk. Kata-kata itu berat. Ia sudah memikirkan banyak alasan di perjalanan, tapi semuanya terasa rapuh ketika harus diucapkan.

“Aku butuh tempat buat diam sebentar,” katanya jujur. “Dan… cuma di sini yang aku kepikiran.”

Tantenya tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri. “Kamu bisa tinggal di sini. Selama yang kamu butuhkan.”

Kalimat itu seperti pintu yang terbuka.

Bela mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak mau ngerepotin.”

“Kamu bukan tamu,” jawab tantenya tegas, tapi lembut. “Kamu keluarga.”

Kata keluarga itu terasa asing dan menenangkan di saat yang sama.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!